
Sore hari setelah kesalah pahaman yang menimbulkan kegaduhan berlalu, seluruh penghuni rumah utama Wiratama berkumpul dipekarangan rumah belakang. Mereka asik menikmati kopi dan teh beserta tak lupa berbagai camilannya.
Seorang pelayan mendekat dan mengatakan sesuatu.
" Permisi tuan, keluarga nona Veln sudah sampai. Sekarang mereka berada diruang depan " Veln sedikit kaget dan menatap kearah Ray, kemudian langsung menetralkan kembali raut wajahnya mengingat apa sih yang tidak bisa dilakukan tuan muda dihadapannya.
" Berterimakasihlah terhadap Sam, dia yang melakukan itu " Ray seolah paham dengan tatapan istrinya.
Benar, memang rencana mendatangkan keluarga Veln itu adalah ide Sam. Sam fikir moment ini adalah waktu yang tepat selain untuk bertakjiah juga bisa sekaligus digunakan untuk mengenalkan diri seluruh keluarga tuannya terhadap keluarga besan.
○○○
Delina dan Virina berdiri ditengah-tengah ruang tamu, mulutnya menganga dengan kepala sedikit mendongak dan berputar dengan mata jelalatan menatapi tiap sudut ruangan yang terlihat mewah. Tingkah mereka udik, persis seperti orang kampung yang memasuki ibu kota.
Mereka datang dengan diantar transportasi hotel cabang milik Ray, yang berada dikota tempat mereka tinggal. Tentu atas perintah dari Sam.
" Wah sepupumu benar-benar pandai memilih suami. Pantas saja dia tendang mentah-mentah jurakan Seno, secara calon mertua mu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan suaminya sekarang " Masih dengan tingkah kampungan dan noraknya.
" Ibu, apa aku relakan saja mas Rega dan meminta Veln untuk mencarikan gantinya. Tentunya yang kekayaannya harus setara dengan siganteng tajir itu, kalau bisa yang diatasnya juga aku tidak menolak "
" Ibu tidak yakin. Ibu meragukan kemampuan mu, kau menaklukhan Rega yang sama-sama dari kampung saja tidak bisa. Apalagi menalukhan pria kota, takutnya bukannya dijadikan istri kamu malah dijadikan pembantu oleh mereka " Delina tertawa mengejek membuat Virina merasa kesal dibuatnya.
" Mbak Del, Virina " Suara Veln memecahkan obrolan mereka.
" Nak " Mbak Del menengok kearah Veln " Berhenti memanggil ku mbak, panggil aku bibi. Bagaimanapun aku kan bibi mu " Meskipun Delina notabennya adalah bibi dari Veln karena merupakan istri dari pamannya, namun karena atas perintah Delina sendiri yang tidak mau dipanggil bibi jadi terpaksa Veln memanggil istri dari pamannya dengan sebutan mbak. Alasannya sudah jelas kenapa Delina tidak mau dipanggil bibi oleh Veln, karena Delina tidak menyukai Veln dan sama sekali tidak pernah menganggap Veln sebagai ponakannya. Tapi itu dulu, kalau sekarang tentu beda lagi.
" Iya mbak Del "
" Bibi " Delina kembali mengingatkan dan diangguki Veln tanda setuju.
Lalu datanglah seorang pelayan dengan membawa minuman diatas nampan.
" Bibi membawakan minuman non, mau diletakkan disini atau bagaimana? " Tanya bibi ragu, karena yang bertamu masih berstatus keluarga takutnya akan pindah masuk lebih dalam keruangan yang lainnya.
" Sini, sini bawa kesini saja " Delina memerintah cepat, karena kebetulan saat ini dia sedang benar-benar merasakan kering ditenggorokan dan ingin segera meneguk air yang berada didalam gelas tersebut.
Bibi pun undur diri, kembali masuk kedalam yang sebelumnya mendapatkan ucapan terimakasih dari bibir Veln.
" Hahahaa " Tiba-tiba Virina tertawa terbahak-bahak dengan gelas ditangannya.
" Hust, kamu kesambet? " Delina menghentikan tegukannya, merasa heran dengan putrinya yang tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.
" Habisnya, Ibu bodoh sekali. Kenapa juga mau dipanggil bibi? disamakan dengan pembantu tadi " Kembali Virina mengeluarkan tawanya.
Delina sedikit berfikir dan " Nak, untuk saat ini dan seterusnya tetap panggil aku dengan sebutan mbak. Tidak jadi diganti ya " Veln hanya bisa mengangguk lalu menggelengkan kepalanya atas tingkah kedua orang itu.
" Sepupuku, aku mau suami yang kaya seperti suamimu. Carikan satu untukku ya? " Virina merengek sembari mendekati Veln, tanpa Veln menggubrisnya.
" Paman_ "
" Pamanmu tidak bisa ikut, karena belum jatahnya untuk pulang " Delina langsung mengerti maksud Veln.
" Sebaiknya kalian istirahat saja dulu, pasti lelah akibat perjalanan tadi " Tawar Veln yang disetujui dua orang itu.
__ADS_1
Sebelum masuk menuju kamar tamu, Veln membawa keluarganya kepekarangan belakang untuk diperkenalkan keseluruh keluarga suaminya terlebih dahulu.
Delina dan Virina pun tak lupa mengucapkan turut berduka cita kepada Ray dan seluruh keluarga besarnya.
Sesudah itu mereka masuk kekamar yang sudah disediakan oleh pelayan untuk beristirahat.
○○○
Keesokan harinya mereka semua sudah berkumpul untuk melakukan sarapan, mereka memilih sarapan dengan gaya lesehan. Maklum, dikarenakan saat ini terlalu banyak anggota yang hadir sehingga meja makan tidak cukup untuk mereka melakukan makan pagi.
" Anggaplah dirumah sendiri jeng Del, tidak usah malu-malu " Ucap tante Susan ramah seperti biasanya.
" Iya jeng, kitakan sudah menjadi keluarga " Timpal Mami Rosa.
" I- i-ya jeng "Ucap mbak Del terbata.
" O iya sepertinya kita seumuran ya? " Ujar Rosi " Aku, kamu dan kakak ipar " Tambah Rosi dengan menunjukkan jarinya kearah dirinya, Virina dan juga Veln.
" Benar " Jawab Virina canggung.
" Tapi tetap kita harus hormat terhadap kakak ipar, karena dia merupakan pemegang kendali kekuasaan tertinggi dikerajaan ini " Rosi mengedipkan matanya kearah Ray dan Veln lalu terkekeh geli diikuti tawa sebagian orang yang ada disitu.
" Kamu jangan kurang ajar ya, mau aku nikahkan besok pagi dengan Sam " Ancam Ray tak serius.
" Mau kak, Rosi mau banget " Rosi malah antusias dengan ancaman Ray. Membuat yang lain menghela nafas panjang terutama Mami Rosa.
" Sepertinya kau benar-benar sudah gatal ya kak, sudah tidak sabar minta digaruk " Ray otomatis melayangkan garpunya kearah Renand. Tidak habis pikir dengan mulut cablaknya.
" Wah satu lagi nih dateng cewek gatel " Gumam Danis yang didengar jelas oleh semua orang. Kali ini sama, Danis pun mendapat lemparan garpu seperti Renand tapi langsung dari dua orang sekaligus yaitu Denis kakaknya dan juga Om Aldo papanya.
" Sini sayang, kita sarapan bareng. Kamu pasti belum sarapankan? " Ajak Mami Rosa.
" Em " Yas segera ambil posisi dan bergabung dengan mereka. " Tante, anak tante pasti tergolong jomblo abadi " Ujar Yas manja terhadap Tante Susan.
" Kok tau " Om Aldo dan Tante Susan kompak.
" Keliatan soalnya, keliatan pengen cepet-cepet dinikahkan " Yas terkekeh sendiri " Iya, biasanya orang yang suka sewot-sewot itu jomblo yang kepengen kawin tapi bingung karena belum ada pasangannya " Spontan tawa dari seluruh yang ada diruangan itu menyeruak tentu minus Danis.
" Dasar jamud, kak bisa-bisanya kau ikut tertawa sementara jiwa kejombloan kita dicabik-cabik oleh jamud "
" Apaan tuh jamud? " Tanya Denis dengan masih menyelesaikan tawanya. Tentu jawaban Danis sangat ditunggu-tunggu semuanya, karena merasa penasaran dengan julukan yang disematkan untuk Yas.
" Janda muda kegatelan " Jawab Danis ketus.
" Ya ampun siapa yang mengajari mu berkata sekasar itu? " Tante Susan hendak bangkit dari duduknya dan ingin rasanya menabok mulut comel putra bungsunya.
" Tahan ma, biar nanti dia kena batunya. Pasti tidak lama lagi tau-tau minta dinikahkan sama nak Yas "
" Wueeeek " Danis langsung pura-pura mual, mendengar itu Yas langsung kembali beraksi.
" Tante dan Om jangan khawatir biar aku janda, tapi aku masih muda dan cantik. Masih segel pula, suer belum tersentuh. Masih sama-sama belajar nanti buat malam pertama " Jarinya membentuk huruf V dan mengedip-ngedipkan matanya kearah Danis seolah sedang menggoda.
" Benarkan, dia sudah kegatelan. Cepat-cepat kak, kau nikahi dia " Danis melempar permasalahannya kearah Denis.
__ADS_1
" Aku sih mau-mau aja kalau Yas juga mau " Jawab Denis santai tak serius.
" Bukannya aku nggak mau kak, cuma aku maunya yang sudah menyentuh dadaku secara langsung kemarin ya orang itulah yang harus bertanggung jawab " Dengan polosnya Yas berucap.
Rosi yang berada dekat dengan Yas langsung membekap mulut Yas yang sama cablaknya dengan Renand.
" Sepertinya kita harus menikahkan mereka secara masal Ray " Kata Om Aldo sedikit gerah dengan pembahasan anak-anak muda itu.
" Sebenarnya aku sih maunya mereka selesaikan dulu pendidikannya, baru boleh menikah " Ray melontarkan keberatan dari mulutnya.
" Dih, kak Ray nggak asik " Protes Rosi. " Kak Ray sendiri pasti maksa buat nikahin kak V yang mau tidak mau harus menelantarkan pendidikannya, benarkan kak V? " Rosi mencari pembelaan.
" Rosi jaga ucapan mu " Sergah Mami Rosa.
" Kakak ipar mu sudah menyelesaikan pendidikannya dengan baik sebagai ahli madya, meski tidak setinggi pendidikanmu " Ray mencoba memberi penjelasan terhadap Rosi. " Kalaupun, dia mau melanjutkan ke yang lebih tinggi dengan senang hati aku akan memperbolehkannya "
" Hee, maaf " Rosi nyengir kuda. " Tapi Rosi janji kak, Rosi akan menyelesaikan pendidikan Rosi dengan baik sekalipun Rosi dinikahkan dengan Sam " Rosi tak berhenti berharap.
" Kita lihat saja, apa Sam juga sependapat dengan mu " Rosi menghela nafas kecewa, sudah jelaslah Sam tidak akan sependapat dengannya. Sudah pasti Sam akan cari aman menuruti apa kata tuannya.
" Lagi pula Mami nggak yakin kalau sekertaris Sam naksir sama anak Mami, yang ada juga kamunya yang nguber-nguber dia " Perkataan Mami Rosa membuat down nyali Rosi.
" Mau tidak mau Rosi akan paksa Sam, minta pertanggung jawaban Sam karena udah peluk-peluk Rosi kemaren. Sama seperti Yas yang minta tanggung jawab dari Danis "
" Astaga.. kenapa lari ke aku lagi " Danis mengumpat kesal " Kemarin itu aku yang diperkosa, kenapa aku yang dimintai pertanggung jawaban " Sontak ruangan itu kembali ramai akibat tawa yang keluar dari mulut mereka karena mendengar pernyataan konyol Danis.
" Bagaimana menurut mu, V? apa kita harus benar-benar menikahkan mereka secara masal seperti yang dikatakan Om Aldo? "
" Ide bagus Ray " Dengan tanpa beban Veln mengiyakan.
" Ck, kak daripada kau kulangkahi lebih baik kau ambil alih perempuan tengil itu untuk kau jadikan istri " dengan berdecak kesal.
" Sepertinya kita harus melakukan rapat mendadak untuk membahas hal ini lebih serius pa " Ujar Tante Susan. " Setuju kan jeng Rosa? "
" Benar jeng Susan "
" Bagaimana menurut mu Ray? " Om Aldo meminta pendapat.
" Bisa diatur Om " Jawab Ray enteng. " Ayo sayang " Ray mengajak Veln untuk beranjak dari ruangan tersebut.
" Mau kemana kak? " Tanya Renand serius.
" Mau melakukan rapat penting, berdua saja.. dikamar "
" Sial kau Ray " Umpat Denis " Bilang saja mau melakukan perbuatan mesum "
" Bukan perbuatan mesum, tapi kegiatan yang sudah dihalalkan " Ray tersenyum mengejek. " Sepertinya batas waktu mu menjomblo sudah habis, secepatnya kau cari mempelai wanita untuk kau nikahi sebelum kau dilangkahi oleh adik mu " Ray tertawa puas mengskakmat sepupunya.
Mendengar itu Denis hanya bisa berdecih kesal, apalagi yang lainnya ikut menertawakannya. Sementara Virina merasa mendapat angin segar tatkala mengetahui masih ada satu yang jomblo belum termiliki siapa pun.
*Bersambung..
Salam sehat selalu 😙*
__ADS_1