Pernikahan 50 Juta

Pernikahan 50 Juta
39.Kecemburuan


__ADS_3

Mulut Veln sibuk mengunyah sarapannya dengan berusaha menetralkan warna pipi yang bersemu merah diwajahnya,Veln harus menahan malu kepada beberapa pelayan karena permintaan Ray yang menggelikan. Pagi ini mereka sarapan ditaman belakang dengan saling suap menyuapi, tentu saja ini semua dilakukan karena atas permintaan tuan muda tampan ini. Semenjak menikah memang banyak sekali kebiasaan baru yang lakukakan oleh seorang Ryu Saka Wiratama untuk dipraktekan.


" Maaf, sudah merepotkan.. sementara kami menghabiskan makanannya, sebaiknya kalian juga kembali kedalam untuk sarapan "


" Sama sekali tidak merepotkan nona " Ucap dua pelayan itu secara bersamaan.


" Tidak apa-apa masuklah " Kedua pelayan itu ragu untuk menuruti perintah nyonyanya, melirik kearah tuannya berharap mendapat persetujuan. Namun Ray justru sibuk hendak menyuapi makanan kemulut istrinya yang tertahan oleh tangan wanitanya.


" Tuan Ray tidak akan marah, masuklah " Memahami yang ada dibenak pelayannya.


" Terimakasih nona, kalau begitu kami permisi " Dua pelayan itu pun bergegas pergi untuk masuk kedalam dengan perasaan yang senang karena mendapatkan nona majikan yang ternyata baik dan tidak banyak mau, tidak seperti perempuan-perempuan yang lain hanya karena merasa dekat dengan tuannya tapi belum apa-apa tingkahnya seperti sudah jadi nyonya rumah saja.


" Ayo.. buka mulut mu " Ray menyodorkan lebih dekat kearah mulut Veln makanan yang sedari tadi ditahan oleh istrinya. Tanpa penolakan kini Veln pun membuka mulutnya dan melahap suapan yang disodorkan suaminya.


" Besok-besok kalau kita makan tidak usah ditungguin mereka ya "


" Kenapa? "


" Aku merasa tidak nyaman dan tidak enak hati, membuat mereka melihati kita yang enak-enakan makan "


" Baiklah, lakukan apapun yang kau suka dan kau mau dirumah ini " Senyum manis mengembang dibibir Veln. Bukan karena apa-apa tapi lebih tepatnya karena dia merasa sudah benar-benar dianggap sebagai istri oleh pemilik rumah ini atas ucapannya itu.


" Kau tinggal bilang sama Bibi setiap kali membutuhkan atau menginginkan sesuatu " Lanjut Ray kemudian yang diangguki Veln tanda mengerti.


" Memang kemarin-kemarin kau tidak merasa risih ketika sarapan dilihati oleh mereka? "


" Tidak " Dengan ibu jarinya sibuk membersihkan ujung bibir Veln.


" Lagi pula mana berani mereka melihati aku, karena akan beresiko tinggi kalau terlalu sering menatapi wajah tampan ku. Aku juga tidak pernah meminta mereka untuk menunggui ku makan "


" Tapi kau membiarkannya kan? artinya sama saja dengan menyuruh mereka untuk menunggui mu makan. Trus, maksudnya apa itu beresiko tinggi? beresiko tinggi untuk jatuh hati padamu?ah.." Veln memutar bola matanya.


" Kenapa tidak sependapat? dan kenapa kau jadi memarahi ku? harusnya bukan aku yang kau marahi tapi Bibi, mereka melakukan itu karena aturan darinya "


"Jangan membela diri, bagaimana pun kau tuannya.. berhak memangkas semua aturan dirumah ini "


"Jangan berdebat denganku, ku tidak ada waktu untuk mengurusi tiap detail rumah ini. Kau kan nonanya, jadi aku serahkan semua urusan rumah ini padamu. Sekarang,diamlah.Habiskan makanannya "


○○○


Diruang depan terlihat sekertaris Sam menganggukan kepalanya sopan kearah tuan dan nonanya yang baru kembali dari taman belakang.


Veln menghentikan langkahnya diruangan yang sama dengan sekertaris Sam berada. Sementara Ray terlihat melanjutkan langkahnya menuju tangga yang diikuti Pak Dim, entah sudah sejak kapan Pak Dim mengekor dibelakang Ray.


" Sekertaris Sam, bagaimana tidurmu semalam? nyenyak? " Veln berbasa-basi untuk menghilangkan kecanggungan.


" Nyenyak, bagaimana dengan anda Nona? "


" Tidurku semalam sedikit terganggu " Sam yang sedari tadi sedang menatap kepergian tuan mudanya langsung mengalihkan pandang kewajah Veln.


" Semua ini karena dirimu sekertaris Sam " Sam langsung membesarkan bola matanya sedikit, merasa bingung atas tuduhan nona mudanya.


" Dia pacarmu? foto gadis yang mengenakan seragam dilayar dekstop laptop Ray itu foto pacarmu? " Sam semakin dibuat bingung oleh perkataan Veln.


" Saya tidak mengerti dengan ucapan anda nona " Kening Sam mengkerut dengan berusaha untuk memahami arah pembicaraan nonanya.


" Foto_ " Veln menggantung ucapannya.

__ADS_1


" Lupakan " Wajah Veln kini terlihat ditekuk dan ada pancaran kesal disana karena merasa dibohongi. Benar, mana mungkin sekertaris Sam yang melakukan itu. Memasang foto gadisnya dilaptop Ray, bukankah kurang masuk diakal. Veln merasa bodoh karena sudah mempercayai Ray. Matanya yang menajam kini lekat menatap kedatangan Ray dengan Pak Dim dibelakangnya yang membantu membawakan tas kerja milik Ray.


" Sam, sebelum kekantor kita drop Veln dulu dirumah Nenek " Sam mengangguk tanpa banyak bicara.


" V tolong rapihkan kemejaku " Menghadap Veln dengan sudah berganti pakaian formil seperti biasanya tanpa jas dan dasi, memang sebenarnya Ray paling tidak suka mengenakan dasi apalagi jas yang menurutnya membuat ribet. Ray berdiri tegap menunggu kemejanya yang sebenarnya sudah rapih untuk dirapihkan ulang oleh istrinya.


Dengan emosi yang masih bisa Veln tahan, dia membenarkan kemeja Ray yang sudah benar. Veln hanya sedikit menyentuh kerah baju Ray dengan kedua tangannya lalu mengibas-ngibaskan telapak tangannya didada bidang Ray dengan keras seolah sedang merapikan kemeja yang sama sekali tidak terlihat kusut disana.


" Apa yang dilakukan Sam sampai membuat mu marah? " Ray menangkap ketidak beresan istrinya lalu melirik kearah Sam yang kini semakin dibuat bingung oleh tuan dan nonanya.


" Sam melakukan sesuatu padamu? " Bukannya menjawab Veln malah mlengos dan hendak memutar balik namun tertahan oleh Ray yang mencekal pergelangan tangannya. Dan sekali lagi Sam hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya tak mengerti.


" Sam " Ray meminta penjelasan dari seseorang yang menurutnya adalah terdakwa dari perubahan mood istrinya. Mendengar namanya dipanggil Sam langsung terkesiap dan menganggukkan kepalanya.


" Tuan_ " Ucapan Sam terhenti ketika secara tiba-tiba Ray menghampirinya, meraih dan mengangkat sebelah tangan Sam.


" Kau mau mati " Ucap Ray terdengar sarkas mendapati gelang rajut benang melingkar disalah satu pergelangan tangan Sam. Dengan geram Ray merampasnya, membuat Sam merasa tak enak hati dan merutuki dirinya sendiri kenapa pagi ini begitu tidak tau malunya menuruti keinginan hati untuk memakai gelang tersebut.


" Pakaikan " Dengan menyodorkan kearah Veln " Kenapa Sam jadi begitu lancang sekali?sampai berani memakai gelangku " Lanjut Ray lagi. Sam hanya bisa tersenyum tipis dengan drama yang masih belum dapat Sam mengerti pagi ini, begitu juga dengan pak Dim yang hanya setia memegangi tas kerja Ray tanpa mau ikut campur didalam obrolan majikannya.


Seolah mendapat bonus, otak Veln langsung menyala seperti bohlam yang baru dinyalakan saklarnya. Veln berfikir ini kesempatannya untuk membalas dendam kebohongan Ray semalam. Dengan senyum tersembunyi Veln mengambil gelang rajut benang dari tangan Ray.


" Kau yang sudah lancang mengambil milik sekertaris Sam " Ray dibuat berfikir dengan perkataan Veln.


" Ambil ini sekertaris Sam " Menyodorkan gelang kearah Sam, yang disambut baik oleh tangan sekertaris suaminya. Dan dengan tanpa sadar itu otomatis akan membuat memperkeruh keadaan.


" V " Ray mengusap kasar wajahnya menahan geram.


" Hem "


" Kau tau apa yang sedang kau lakukan sekarang? "


" Kembalikan Sam " Ray hendak merebut kembali barang yang kini berada ditangan sekertaris Sam namun tertahan karena terhalang oleh Veln.


" Berikan padaku Sam " Menjulurkan tangannya kearah Sam namun ditepis oleh Veln.


"Jangan sekertaris Sam, itu sudah jadi hak milikmu "


" Kalau masih mau hidup, lempar kearah ku Sam " Ancam Ray. Sam yang merasa sudah tidak mau lagi dibawa-bawa kedalam urusan mereka langsung melempar barang yang dimaksud oleh Ray.


" Samsul " Teriak Veln geram dengan menghentakkan kakinya keudara, mendapati gelang yang waktu itu dia beli kini sudah berada ditangan suaminya.


" Tunggu sebentar, sepertinya ada yang tidak beres dengan perempuan ini " Ray membalikkan Veln kearahnya dan diletakkan tubuh istrinya disebelah bahunya. Ray mengangkat Veln selayaknya memanggul karung beras menuju lantai atas.


" Turunkan "


" Turunkan aku.."


Sekertaris Sam dan Pak Dim saling pandang menyaksikan kejadian yang mereka sama sekali tidak tau akar permasalahannya.


" Turunkan " Veln trus meronta-ronta digendongan yang sama sekali tak dihiraukan oleh Ray. Dengan langkah pasti Ray menjajaki tangga menuju keatas.


" Turunkan " Merasa permintaannya diabaikan dengan ganas Veln menggigitkan giginya yang tajam kebahu Ray dan tetap sama sekali tidak merubah posisinya yang berada diatas bahu Ray. Sampai berada dikamarnya Ray menurunkan Veln diatas kasur dengan pelan dan mengunci tubuh istrinya dengan kedua tangannya.


" Diam, jangan bergerak " Ray mengubah posisinya berdiri tegap menghadap Veln dengan bersusah payah mengenakan gelang yang dia rampas dari tangan sekertaris Sam.


Ray kembali memerangkap istrinya dengan membungkukkan badannya dan meletakkan kedua tangannya diantara tubuh Veln yang terlentang dikasur dengan nurut tanpa ada rontaan sedikit pun.

__ADS_1


" Katakan V.. bagaimana bisa gelangku sampai bisa melingkar dilengan Sam? " Ucap Ray lembut namun penuh penekanan. Pertanyaan Ray tidak langsung mendapat jawaban, Veln justru sibuk menatap Ray dengan wajah kesal dan sebalnya.


" Aku yang memberikannya "


" Kali ini aku maafkan, lain kali jangan membuatku cemburu " Ray mengecup puncak kepala Veln, dengan menikmati aroma wangi rambut istrinya yang menguar diujung hidung.


Dia sudah seperti cacing kepanasan hanya karena gelang pemberianku yang sudah dia sia-sia kan aku berikan kesekertaris Sam. Sementara aku harus rela menahan sakit dan hanya disuruh pasra olehnya ketika melihat kedekatannya bersama Yas, dan harus ikhlas mendapati gambar gadis lain dilayar laptopnya.


" Kembalikan Ray " Ray menghentikan gerakannya yang hendak berdiri tegak.


" Sudah ku bilang jangan membuat ku cemburu sakalipun itu terhadap Sam "


" Aku hanya membantu mu agar Kau tidak sampai menjilat ludah mu sendiri " Ray melebarkan matanya.


" Sewaktu direstaurant itu, kau lupa sudah menyia-menyiakan gelang pemberian ku? " Ray pura-pura mengingat kejadian siang itu yang sebenarnya masih sangat jelas diotaknya dan menarik nafasnya panjang.


" Bukan menyia-nyiakan, aku hanya tidak suka dengan cemburu kekanak-kanakanmu " Dengan posisi yang sudah tegak berdiri dengan berkacak pinggang dihadapan Veln yang masih tidur terlentang diatas kasur.


" Cemburu kekanak-kanakan? huh " Veln menghembuskan nafas kesal, lalu beranjak bangun dan berjalan melewati Ray.


" Berhenti " Seketika perempuan yang terlihat manis namun kadang menyebalkan dimata Ray menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Ray.


" Apa? "


" Mau kemana "


" Mau menyuapi sekertaris Sam, sekalipun dia sudah sarapan akan aku paksa untuk makan lagi " Teriak Veln yang membuat Ray membuang nafas kasar. Ray mendekati Veln dan memegang tengkuk lehernya.


" V " Suara Ray berat dan geram.


" Cemburu? sungguh kekanak-kanakan, bukankah aku hanya akan menirukan kelakuan mu saat direstaurant waktu itu " Ray mendenguskan wajahnya kewajah perempuan ayu yang mendongak dihadapannya. Menempelkan keningnya tepat dikening istrinya membuat hidung dan matanya pun kini saling berhadapan dengan intim. Ray mencium bibir Veln lembut dan lama tanpa balasan dan akhirnya melepaskan tautannya, namun tidak dengan satu tangannya yang masih memegang tengkuk leher Veln.


" Aku meminta ampun.. Aku salah "


" Aku ampuni asal kau mau mengembalikan gelangnya kesekertaris Sam "


" Berikan syarat lain "


" Ganti gambar yang ada dilayar desk_" Veln seketika membelalakkan mata dan menutup mulutnya yang menganga dengan kedua telapak tangannya mendapati ada bercak darah segar disalah satu bahu Ray yang menembus hingga kekemeja putih yang Ray kenakan.


" Darah.. Ray bahumu berdarah "


" Tidak apa-apa " Mengecek bahunya sebentar dan kembali mengarahkan pandangnya kearah istrinya " Tidak ada syarat lain? " Lanjut Ray kemudian.


" Ada, membiarkan aku menyuapi sekertaris Sam " Veln dibuat khawatir sekaligus geram oleh pria dihadapannya, karena dua syarat yang menurutnya mudah namun terlihat seperti pilihan yang begitu sangat sulit untuk Ray.





Hallo.. author ucapin banyak terimakasih ya buat reader yang udah baca,coment n like novel aku.


Budayakan like,coment n vote ya setelah membaca novel ku.


Semoga kita selalu diberi kesehatan dan perlindungan oleh Nya.Amin.

__ADS_1


#DirumahAja


Kalau nggak penting-penting banget mending dirumah aja,kalau yang terpaksa dan berat hati harus keluar rumah jaga kebersihan dan jangan lupa berdoa.😙


__ADS_2