
Tok
Tok
Tok
Menjelang pagi terdengar pintu kamar Veln diketuk.
" Iya, Mbak Ris.. tunggu " Veln mengangkat pelan kedua lengan yang berbeda ukuran secara bergantian, yang telah memerangkap tubuhnya.
Setelah itu dia mulai bangkit dengan perlahan agar tidak mengganggu tidur dari ayah dan anak itu. Namun usaha Veln bergerak dengan hati-hati gagal tatkala melihat mata Ley yang membuka dengan sangat terpaksa akibat rasa kantuk yang masih menggelayuti anak tersebut.
" Ssssstttt.. lanjutkan tidur mu boy " Veln menepuk-nepuk tubuh Ley, berusaha untuk menidurkan kembali putranya.
Begitu Ley kembali terlelap, perempuan itu lekas menuju pintu kamar dan membukanya.
" Nyonya.. " Mbak Ris terlihat takut dan khawatir.
" Kenapa? ada apa Mbak? " Veln menyadari ada kepanikan diwajah pengasuh putranya.
" Tuan, tu-an muda kecil menghilang " Terang saja Mbak Ris yang tidur satu kamar dengan Ley dan sama sekali tidak tau menau tentang kejadian semalam langsung panik saat terbangun dari tidurnya tak mendapati anak yang diasuhnya.
Veln tersenyum dan senyumannya berhasil menenangkan kepanikan Mbak Ris.
" Ley ada dikamar saya "
" Syukurlah.. " Riris mengelus dadanya merasa lega. " Saya fikir tuan muda ada didapur menemani Nyonya memasak, tapi ketika saya menuju dapur ternyata ruangan itu masih gelap dari situ saya langsung berfikiran yang aneh-aneh "
" Ris, kaki mu tidak kenapa-kenapa? " Veln menurunkan penglihatannya ketelapak kaki pengasuh putranya saat mengingat kata dapur. Riris menggeleng dengan kening berkerut. " Semalam saya memecahkan sebuah gelas dan belum sempat saya bersihkan " Veln menjawab kebingungan Riris dengan berjalan kearah dapur.
" Benarkah? tapi disana tidak ada serpihan kaca sedikit pun Nyonya " Veln menghentikan langkahnya sejenak dan menoleh ke Riris. " Benar, Nyonya.. dapur terlihat aman dan bersih " Veln melanjutkan langkahnya untuk memastikan dan benar saja lantai dapur sudah terlihat bersih karena serpihan pecahan kaca gelas semalam sudah berpindah tempat ditong sampah.
Tentu, Ray lah yang melakukannya semalam. Begitu memastikan Ibu dan anak itu terlelap, Ray bangun sebentar hanya untuk membersihkan pecahan-pecahan itu.
" Kalau bukan Nyonya? lalu siapa yang membereskan ini? " Riris menunjuk tong sampah dengan perasaan kebingungan.
" Mungkin Papinya Ley " Veln menyungging senyum " Saya mau mandi dulu, habis itu saya akan membuat nasi goreng kesukaan jagoan ku "
Veln pun melangkah menuju kamarnya untuk mandi, begitu pun dengan Riris ikut berlalu dari dapur dengan banyak pertanyaan diotaknya mengenai Papi tuan muda kecilnya alias suami dari Nyonya besarnya yang hampir tiga tahun ini jadi pengasuh Ley namun perdana baru akan dilihatnya wujud dari tuan besarnya.
○○○
Setelah Veln rapih dengan dressnya, dia tak langsung menuju dapur. Perempuan itu sejenak menatap kearah ranjang empuknya yang memperlihatkan Ray nampak masih lelap dengan tidurnya, sementara jagoannya terlihat sudah mulai gelisah tak nyaman dengan tidurnya.
Ley terlihat menggeliat dan perlahan membuka matanya, tiba-tiba anak itu terperanjat duduk ketika melihat hal yang menarik dimatanya.
Ley mengucek sepasang matanya dengan kedua telapak tangan mungil miliknya.
Dan...
" Aaaaaaaaaaaaaa... Maaaaaamiiiiiiiii " Teriak Ley dengan Mata membola dibarengi dengan ekspresi terkejutnya yang lucu dan menggemaskan.
Kontan Ray terkaget, hingga membuatnya terpaksa untuk membuka mata.
__ADS_1
" Astaga boy..menurun dari mana ini? " Ray melihat seluruh tubuh kecil putranya yang terlihat menggemaskan " Kenapa mulut mu berisik sekali " Ray menjulurkan tangannya dan secepat kilat menarik tubuh putranya masuk kedalam dekapannya.
" Aaaaa.. aaaaa... aaaa " Ley tak henti-hentinya berteriak dengan meronta semakin membuat Ray mengeratkan lengannya yang melilit tubuh Ley.
" Lepas.. lepaaaas Papi, Papi.. aaahahaha ahaha hahaa " Tubuh Ley bringsatan dengan mengeluarkan tawanya tatkala Ray menggelitikkan jari jemari tangannya.
Setelah puas membuat putranya tertawa, Ray mengendurkan tangannya. Dan Ley dengan sigap langsung menghujani wajah Papinya dengan ciuman.
Cup " Ley kangen Papi " Cup " Ciuman kangen Ley" Cup " Ciuma kangen Mami " Cup cup cup " Ciuman kangen Mami dan Ley " Cup cup cup, pasrah. Ray cukup memasang wajah pasrah untuk putranya dengan senyum bahagia.
Begitu puas menyerang Papinya, Ley menangkupkan diri diatas dada bidang Papinya yang tentu disambut baik oleh Ray.
Dengan nafas tersengal Ley terlihat tenang dan menikmati berada dipelukan Ayahnya, bagaimana tidak sudah sejak lama dalam lubuk hati bocah laki-laki itu begitu mendambakan kehadiran Ayahnya. Ley begitu ingin seperti teman-temannya berada dekat dengan kedua orang tuanya. Karena itu tanpa rasa canggung meski baru bertemu dengan Papinya bocah itu langsung sanggup mengakrabkan diri. Dan sementara Ley terhanyut didekapan Ayahnya, hal itu membuat mata Ray memiliki kesempatan untuk melirik istrinya yang sedari tadi memperhatikan mereka dengan senyum yang selalu menyungging dibibirnya.
" Boy, lihatlah ada bidadari disana " Dengan wajah polosnya, Ley mengangkat kepalanya dan menoleh kearah jari telunjuk Ray.
" Mami.. muaaach " Ley memberikan kiss byenya. " Ley sudah memberitahukan Papi, kalau Mami kangen Papi juga sama seperti Ley " Wajah Veln yang tertangkap oleh pandangan Ray hanya sanggup tersenyum malu dengan pernyataan putranya.
" Boy, kau tau sebesar apa Mami mu merindukan Papi? " Mata Ray mengerling nakal kearah putranya, Ray berusaha mengorek informasi penting yang dia lewatkan selama tiga tahun ini tentang perempuannya.
" Sebesar Ley kangen sama Papi.. emm tidak, Mami bilang satu tingkat lebih besar dari rasa kangen Ley ke Papi " Dengan meninggikan tangannya, seolah memberi tau besaran rasa rindu yang dimiliki Maminya. " Mami juga bilang, kalau Mami ingin sekali bertemu Papi. Tapi takut Papi marah-marah sama Mami " Pernyataan bocah itu secara tidak langsung benar-benar membuat gengsi Ray semakin menaik, sementara harga diri Veln luluh lantah dihadapan Ray akibat mulut mungil putranya.
" Wah, sepertinya Mami mu begitu malu hingga membuat wajahnya memerah seperti saos sambal " Ray tertawa dengan diiringi kekehan dari Ley yang sepertinya cuma hanya ikut meramaikan ruangan tersebut tanpa tau maksud ucapan Papinya yang mengandung ledekan.
" Ck, apa itu saos sambal? " Veln mencebikkan mulutnya dengan pandangan mata sedikit melotot. " Sepertinya tiga tahun ditinggal oleh ku, melemahkan sisi keromantisan mu "
" Ha ha haa " Ray malah melepas tawanya lagi membuat nampak raut bingung diwajah Ley.
○○○
" Mbak, kamu.. nikmati masa santai mu " Ray menunjuk Riris yang sedang membereskan kursi makan ketempatnya. " Hari ini, Ley full bersamaku " Ucap Ray sembari mengikuti langkah Veln yang berjalan keluar arah dapur.
Riris bengong dan terdiam, tentu dia merasa senang karena ditugas bebaskan dari pekerjaannya. Tapi bukan hanya karena itu saja, penyebab utamanya yaitu diam dan bengongnya karena dirinya saking terpakunya dengan Ayah dari anak yang diasuhnya. Begitu tampan dan mempesona, benar-benar tipikal suami idamanlah. Pantas saja Ley begitu ganteng, benar-benar setara Nyonya besarnya yang cantik dan menarik memiliki seorang suami yang sempurna. Jodoh memang tidak akan pernah nyomplang, pikir Riris masih dengan keterpukauannya.
Ray terus mengekori istrinya menuju Florist Sa yang masuk melalui pintu penghubung antara rumah yang ditempatinya dengan toko bunga tersebut.
Veln nampak bersiap dengan kesibukannya. Tangannya dia angkat keatas dan bergerak menggulung tinggi-tinggi rambut panjangnya, Lalu bersiap bergabung dengan yang lain. Mereka sengaja diperintah Veln untuk datang lebih pagi hari ini, karena ada pekerjaan yang benar-benar harus diselesaikan yaitu merangkai bunga pesanan salah satu pelanggannya untuk acara pesta pernikahan.
Veln mendudukkan tubuhnya dengan berucap " Boy, beritahu Papi mu untuk tidak mengganggu Mami sementara waktu " Lalu perempuan itu tersenyum dengan mengedip nakal matanya.
Tiga orang lainnya yang memandang heran dan terkagum dengan kedatangan Ray yang menggendong Ley seolah terwakili tanda tanya diotak mereka atas ucapan perempuan itu.
" Siiip Mami " Jawab Lay dengan mengacungkan jempolnya kearah Ibunya.
" Bilang pada Mami mu, Papi tidak akan mengganggu.. disini kita hanya akan membantu dan menemani Mami, benarkan boy " Ray ikut mendudukkan diri disamping Veln sembari memangku jagoannya.
" Astaga " Ucap tiga orang pegawai Florist Sa secara bersamaan.
" Kalau seperti ini penglihatan dan pekerjaan kita yang terganggu Bu " Ucap salah satu pegawai Florist Sa.
" Iya, karena sepertinya penglihatan kita tidak bisa berpaling dari ketampanan dewa yunani "
" Bagaimana ini? " Mereka pun terkekeh bersama-sama.
__ADS_1
○○○
Hingga pukul dua siang akhirnya semua pesanan para pelanggan pun terselesaikan. Veln beranjak bangun dan bersiap untuk menuju resto milik orang tua teman Ley yaitu Yura.
Mau tau kah untuk apa? yang jelas bukan untuk makan siang.. karena mereka sudah makan siang bersama yang lainnya di Florist Sa dengan memesan menu deliveri dari restaurant milik orang tua Yura.
Tujuan utama Veln kesana bersama Ray dan putranya yaitu untuk memenuhi keinginan Ley, Ley ingin memamerkan keluarga lengkapnya.. terkhusus lagi memamerkan Papinya kepada temannya.
" Hey, lihat aku membawa Papi ku " Ley begitu bangga dan percaya diri memperkenalkan Papinya kepada salah satu teman mainnya.
" Papi mu lebih tinggi dari Papa ku " Ucap Kinos yang kebetulan juga berada disana bersama orang tuanya. Papanya yang seorang fotografer kebetulan habis melakukan pemotretan disana yang ditemani oleh anak dan istrinya sehingga dengan tanpa sengaja membuat keluarganya ikut terjebak dalam pertemuan kecil itu.
" Wah, Papi mu lebih tampan darimu " Suara centil itu keluar dari mulut Yura yang baru saja keluar dari arah dalam dan langsung berlari saat melihat kedatangan Ley dan orang tuanya.
Dan ucapan Yura yang terdengar seperti bocah yang dewasa sebelum waktunya membuat semuanya tertawa merasakan lucu.
Tiga keluarga itu pun berkumpul saling mengobrol mendekatkan diri, sesekali tawa mereka menyeruak akibat ulah dari anak-anak mereka. Dan jangan ditanya, aura bahagia yang paling terpancar sudah pasti dari wajah Ley dan kedua orang tuanya.
Mereka begitu menikmati kebersamaan yang saat ini sedang berlangsung. Bahkan seusai pertemuan kecil itu, mereka menyempatkan diri bermain dipantai tempat pertemuan pertama mereka.
" Ayo boy, tarik Mami.. tarik kaki Mami " Sepertinya saat ini Veln harus cukup menerima dijadikan barang mainan oleh suami dan putranya.
Pikir saja, saat tubuhnya diangkat tinggi-tinggi oleh Ray ditepi pantai dengan cara mencengkeram pinggangnya seperti waktu itu. Disaat itu pula Ray malah memberikan perintah kepada putranya untuk menarik-narik kakinya. Hingga dengan sangat terpaksa dirinya harus menengkuk kaki jenjangnya dan tangannya berpegangan erat dilengan Ray.
" Hentikan boy, jangan lakukan. " Mohon Veln, namun sang anak tak mempedulikannya. Ley malah menikmati perintah Ray dengan terus-menerus berusaha menarik kaki Maminya yang menengkuk keatas.
" Mami turunkan "
" No "
" Loncat lebih tinggi boy "
" Ok, Papi. Ayo mami turunkan kaki Mami "
" Aaaaa, cukup boy. Mami menyerah "
" Papi, Mami bilang menyerah "
" Ok, bersiaplah aku akan melempar mu "
" No " Veln memelototkan matanya, namun.. Blught. " Au " Nyatanya Ray benar-benar melempar tubuhnya kepinggiran pantai, hingga dirinya mengaduh dan harus rela basah kuyup akibat terkena air pantai.
Sementara suami dan putra kecilnya malah justru sedang menikmati penderitaannya, mereka malah asik terkekeh dengan riangnya. Namun itu justru malah tak membuat Veln marah, karena dia merasakan bahwa kebahagiaan seorang istri terletak pada kebahagiaan anak dan suaminya.
.
.
.
.
Maaf.. lagi slow up date ya.😙
__ADS_1