Pernikahan 50 Juta

Pernikahan 50 Juta
Part 2


__ADS_3

Sadar dengan kelakuannya, Nina langsung menutup kedua telinga Renand dengan telapak tangannya. Nina yakin lengkingannya barusan pasti membuat memekakkan telinga mantan bosnya.


Sesaat mereka saling terdiam, sampai pada akhirnya suara Renand memecah keheningan.


" Kalau kau terus seperti ini, terus membuatku semakin gila dan tergila-gila padamu.. " Sejenak pria itu menyempatkan diri untuk menghela nafasnya " Terpaksa.. terpaksa aku akan menggunakan cara licik untuk mendapatkanmu " Ancam Renand dengan menggerakkan telapaknya, menangkub telapak tangan Nina yang bersarang dikedua telinganya.


Seorang Nina, perempuan yang mampu sampai membuat Renand tak waras dan berbuat nekad hanya demi untuk mendapatkannya hanya bisa terdiam menatap sorot mata mantan bosnya.


Bagaimana tidak? perempuan yang setipe dengan kakak iparnya mampu membuat Renand menjatuhkan cinta pertamanya. Tapi sial untuknya, rupanya Renand tak seberuntung Ray yang dengan sangat mudah saat berusaha untuk mendapatkan Veln.


Kali ini Renand harus sedikit berjuang untuk bisa memiliki Nina. Pasalnya mesti terlihat jelas dari sorot mata perempuan itu, sama-sama saling menginginkan tapi entah mengapa sebabnya dengan sangat keras hati Nina memilih menolak keras untuk dapat lebih dekat dengan Renand.


" Bos, menyerah lah " Mohon Nina dengan penuh memelas.


" Tidak akan, aku akan memanfaatkan kontrak kerja yang kau langgar "


" Maksudmu kau akan meminta ganti rugi? dan memasukkanku kesel jika aku tidak dapat membayarkan pinaltinya? "


" Tepat sekali " Untuk perempuan satu ini, Renand memang sengaja membuat jebakan melalui kontrak kerja untuk menjerat Nina manakala suatu saat dibutuhkan seperti yang sedang terjadi saat ini.


Renand melerai telapak tangan perempuan dihadapannya, dia berjalan menuju arah pintu dan segera memutar kunciannya.


" Kau bisa pergi sekarang " Renand mendudukkan tubuhnya diatas sofa. " Tindakanmu, akan mempengaruhi keputusan yang kuambil untuk keberlangsungan hidupmu "


Nina menghela nafasnya berat dan dengan berani menuju arah pintu keluar. " Bos, jika itu membuatmu senang dan puas maka lakukanlah " Setelah dengan yakin menantang mantan bosnya, perempuan itu lalu menunjukan kekesalannya dengan membuka lebar pintu ruangan kebesaran Renand dan berlalu tanpa menutupnya kembali.


" Aku juga sudah membuat Ayahmu terlilit banyak hutang " Ucapan Renand yang penuh seringai sempat menghentikan langkah Nina sejenak. " Dan.. Saat kalian berdua merasakan ruangan dingin didalam tahanan, aku akan melempar adikmu kepanti asuhan " Lanjut Renand yang mampu membuat langkah Fenina terhenti.


Fenina berbalik arah dan kembali mendekat kearah Renand.


" Kurasa aku cukup berbaik hati padamu, karena sudah mau membantu untuk mengamankan adikmu " Suara Renand yang dibarengi dengan gaya duduk santainya semakin membuat Nina tertarik untuk mendekat kearahnya.


Tangan perempuan itu menarik cepat daun pintu, dan dengan satu tendangan dari kakinya mampu membuat ruang kerja Renand kembali tertutup rapat.


Bluuuuuug..


Nina seolah sedang menunjukkan luapan emosinya yang sudah berada diubun-ubun, namun apalah dayanya perempuan itu hanya mampu berdiri mematung dengan wajah kesal dan air mata yang sengaja dia tahan agar tak menetes.

__ADS_1


Renand mendekati wanita incarannya, lalu dengan tanpa rasa bersalah tepat dihadapan Nina, dia menyengir kuda dan menjulurkan telapaknya untuk mengusap puncak kepala wanita itu.


Kemudian dirinya menggiring perempuan itu untuk duduk diatas sofa, sementara Renand lebih memilih untuk berdiri dihadapannya.


" Tidak sulit, hanya tinggal bilang bersedia semuanya akan baik-baik saja "


" Huuuuufffftt " Terdengar hembusan nafas lelah dari Fenina. " Semoga kau tidak menyesal karena telah memilihku untuk dijadikan wanitamu "


Renand berjongkok, mensejajarkan wajahnya kearah Nina. " Tidak akan pernah " Seulas senyum manis pun lepas mengakhiri ucapannya.


" Jangan menggodaku, bos. Kau tau senyumanmu itu selalu mengganggu penglihatanku " Renand tertawa spontan mendengar pengakuan Nina yang terdengar blak-blakan. Lalu dia mendenguskan wajahnya kearah Nina, membuat perempuan itu seketika serasa sulit untuk bernafas dengan benar.


" Kerja yang benar ditempat barumu " Suara Renand lembut seperti seseorang yang sedang berbisik. " Aku pastikan semuanya akan aman dan baik-baik saja "


Cukup mengangguk dan menurut akan lebih baik untuknya sekarang, karena rasa-rasanya dia sudah cukup lelah untuk berfikir apalagi untuk memulai debat kembali dengan laki-laki dihadapannya.


" Aku akan mengantarmu, sekalian aku akan menjemput keponakanku. Aku sudah janji untuk mengajaknya makan ice cream "


○○○


Diperjalanan, Nina hanya diam tak bersuara.. beruntung saat ini Renand tak mengganggunya, Laki-laki tampan itu tengah sibuk dengan kemudinya.


Namun sedetik kemudian, Nina membuang nafasnya berat yang membuat Renand tertarik untuk meliriknya sebentar dan membiarkan perempuan itu kembali dalam lamunannya.


○○○


Setengah tahun yang lalu kehidupan Nina dan keluarganya masih terlihat normal, bahagia dan penuh kehangatan.


Sampai suatu hari bisnis mini market yang dimiliki Ayah tirinya bangkrut karena penipuan yang dilakukan teman Ayah tirinya, mereka terpaksa menggulung tikar beberapa mini market sumber penghasilan utama keluarga tersebut.


Dari semenjak itu, Ayah sambungnya berubah hampir tiga ratus enam puluh derajat. Pria itu kini lebih sering menghabiskan waktunya untuk mabuk-mabukan dan berjudi dengan bermodalkan hutang kesana-kemari, termasuk kerentenir-rentenir yang sangat suka memasang bunga tinggi.


Keadaan tersebut membuat Ibu kandung Fenina sedih dan tertekan batinnya, hingga perempuan tua itu harus merasakan sakit-sakitan. Sampai pada akhirnya dengan begitu tega menghembuskan nafas terakhirnya meninggalkan Fenina dan adik perempuannya yang masih duduk dibangku sekolah menengah pertama, seorang adik hasil pernikahan Ibu Nina bersama Ayah tirinya.


Sebenarnya meski Ayah sambungnya berubah jadi seorang tua yang urakan, namun tak pernah sedikit pun menyakiti atau memperlakukan Nina dengan tidak baik.


Hanya saja seseorang yang satu-satunya tempat untuk menyandarkan hidupnya kini tak pernah lagi perhatian terhadap dirinya.

__ADS_1


Pria tua itu kini terkesan cuek tak memperdulikan dirinya, dia hanya akan tertarik terhadap Nina ketika mendengar ada seseorang yang menginginkan dekat dengan putri sambungnya.


Tujuannya tak lain hanya untuk membuktikan seberapa banyak uang yang bisa didapatkannya dari pria yang sudah dengan berani mendekati putri sambungnya? karena selain jadi penjudi dan pemabuk berat, pria tua ini juga kini menjadi seorang yang matre.


Dengan tidak tau malunya Ayah sambung Nina akan terus menerus memintai uang kepada siapa pun yang menginginkan dekat dengan putrinya, apalagi jika yang terlihat berdompet tebal. Dengan dalih untuk memulai usaha baru, yang sebenarnya malah digunakan untuk modal berjudinya.


Alasan itulah yang membuat Fenina malu untuk tidak menerima siapa pun yang ingin lebih dekat dengannya, termasuk Renand pria yang mampu menyentuh kedalam hatinya. Karena Nina tidak ingin Ayah sambungnya yang kini menggilai uang terus-terusan meneror dan memeras pria yang disayanginya.


Namun, alih-alih menghilang dari Renand.. Fenina justru salah tempat memilih kabur, dengan tanpa disengaja dirinya malah terdampar ditoko bunga milik kakak ipar dari pria yang sangat ingin dihindarinya.


Bagaimana pun Renand bisa digolongkan masuk jajaran mangsa empuk Ayah sambung Nina, karena pria semuda itu telah mapan dan sukses dalam bisnisnya.


Cafe n Resto yang dijalaninya memiliki banyak pelanggan, belum lagi usaha bengkel dan toko sparepart yang sudah lama digelutinya semakin berkembang maju. Ditambah lagi usaha srintilan-srintilan lainnya yang semakin membuat pundi-pundi pendapatannya semakin mengembang.


Memang begitulah keinginan Om ganteng itu, lebih nyaman mengelola usaha kecil-kecilannya yang lebih banyak memberinya waktu luang dibandingkan mengikuti jejak kakaknya yang tiap hari harus bergelut dengan berkas perusahaan.


○○○


" Ehem.. Masih betah didalam mobil hem? sampai tidak ada niatan untuk turun? " Nina spontan terjingkat kaget saat Renand menyembulkan tubuhnya dari luar pintu mobil sampingnya yang sudah terbuka.


Nampaknya, Nina begitu terlarut dalam lamunannya sampai dirinya tak menyadari akan roda empat yang ditumpanginya telah terparkir apik didepan Baby Florist.


" Sudah sampai " Mata Nina memastikan dengan memandang menelisik kearah luar.


" Menurutmu? "


" Jangan seperti ini, bos. Kau membuat jantungku berdetak lebih kencang " Rupanya niat Renand yang mendenguskan tubuhnya kearah Nina dengan tujuan ingin membantu melepaskan sabuk pengaman disalah artikan oleh perempuan itu.


" Kenapa? deg-degan? " Wajah Renand penuh dengan seringai jahil.


" Sedikit " Aku Nina jujur.


Renand semakin mendenguskan wajahnya kearah Nina. " Baru kaya gini aja kamu udah kalang kabut? gimana kalau aku cium? kamu langsung spot jantung kali ya? " Goda Renand yang membuat Fenina spontan melakukan gerakan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. " Cepat turun " Perintah Renand setelah melepas kaitan sabuk pengaman ditubuh Nina. Kemudian pria itu pun menyembulkan seluruh tubuhnya keluar setelah sebagian tubuhnya sempat terbenam didalam mobil.


.


.

__ADS_1


.


Hii.. baca juga novel karya author yang kedua dengan judul Menggoda, tinggalkan like dan comentnya juga ya. Tks 😙.


__ADS_2