
Ray keluar dari ruangan kerjanya, keinginannya yang sedari tadi berusaha dia abaikan sudah tidak dapat dia tahan lagi.
Ray berjalan tergesa-gesa dan sedikit meninggikan suaranya memanggil nama bibi Stela alias bi Ana.
" Bi "
" Iya tuan " Bibi pun dengan tergesa-gesa menghampiri majikannya.
" Bi buatkan aku minuman coklat yang biasa V minum "
Bi Ana melongo, sedikit terkejut. Tidak biasanya tuan mudanya meminta dibuatkan minuman coklat.
" Bibi mendengar ku kan? " Ray meragukan pendengaran pelayannya, karena tidak langsung melakukan perintahnya.
" I_iya tuan "
" Kalau begitu, tolong cepat buatkan untuk ku "
" Baik tuan muda "
" Tunggu bi, stoknya masih ada kan? " Seketika Ray mengingat perintahnya yang dahulu yaitu perintah untuk melenyapkan semua makanan dan minuman yang mengandung coklat, demi hanya untuk membuat Veln tidak bahagia.
" Masih ada tuan, bibi masih menyimpan banyak stoknya dirumah belakang " Rumah belakang, rumah khusus yang ditempati para pelayan untuk tidur dan beristirahat.
Bi Ana datang dengan satu kantung coklat bubuk yang dia ambil dari rumah belakang, bi Ana kembali terkejut saat mendapati tuan mudanya yang menungguinya didalam dapur. Perempuan tua itu menyunggingkan senyumnya, lalu cepat melaksanakan tugas yang diberikan tuan mudanya.
Ray terlihat antusias dan setia memperhatikan proses pembuatan minuman coklat hangatnya.
Begitu bi Ana selesai membuatnya, Ray langsung menyaut gelasnya dengan tidak sabaran. Menghirup aroma manis yang begitu menggoda dan menyeruputnya sedikit dengan penuh nikmat sembari berjalan menuju ruang kerjanya.
○○○
Sementara itu disalah satu kamar hotel setelah sepanjang hari Veln menangisi keadaannya sendiri, kini sedang memulai merencanakan sesuatu.
Dengan duduk diatas sofa dan memandang jalanan ibu kota dari balik jendela kamar hotelnya, Veln memulai memikirkan dan merencanakan bagaimana dirinya akan hidup untuk kedepannya.
Memang bukan hal yang sulit untuk dirinya ketika harus menerima kenyataan bahwa faktanya, dirinya kini telah benar-benar dibuang dan terbuang. Karena bagaimana pun perempuan itu sudah lebih dulu pernah diperlakukan seperti itu oleh keluarga pamannya.
Namun, karena yang kedua kalinya adalah sosok Ray yang memperlakukannya seperti ini jadi wajar untuknya, untuk sementara membiarkan dan mengijinkan dirinya hanyut dan larut dalam sedihnya.
Sampai begitu terdengar suara pintu kamar hotelnya diketuk, Veln terpaksa menghentikan semua aktifitas difikirannya.
" Sekertaris Sam "
" Selamat sore nona, saya kesini untuk menjemput anda " Veln menatap Sam penuh tanya. " Saya sudah menyiapkan tempat untuk nona tinggal sementara " Veln pun tersenyum mengerti.
○○○
Seperti biasa, Veln pun menurut dan patuh atas intruksi sekertaris Sam. Untuk sementara mungkin dia akan tetap memilih berlindung dibalik Ray lewat sekertaris Sam.
Sampai menunggu waktu yang tepat, baru dia akan lari dan pergi sejauh mungkin dari kehidupan Ray. Sekalian dia mungkin akan menghilang seumur hidupnya dari hadapan Ray.
Sam membawanya disalah satu pintu unit apartemen, Sam memberi tahukan kode sandi apartemen tersebut dengan sekaligus mempraktekannya.
Begitu pintu terbuka, Sam dengan telaten menunjukan tiap bagian apartemen tersebut. Sampai pada salah satu kamar terlihat ada seorang perempuan paroh baya yang terlihat hampir usai membereskan beberapa barang milik Veln diruangan tersebut.
" Tuan " Bu Ani langsung berdiri dengan benar dan menyapa sekertaris Sam.
" Bu Ani, mulai hari ini ibu akan bekerja melayani nona muda Veln " Sam mengenalkan nona mudanya pada pengurus rumah tangga apartemen ini. " Jaga nona Veln dengan baik, tentu dengan saya pun akan tetap memantau kalian dari kejauhan " Bu ani pun mengangguk paham dan tersenyum kearah Veln, dan dibalas senyum pula oleh perempuan ayu itu.
Setelah Sam menerangkan dengan panjang lebar, dan memastikan barang-barang yang diperlukan nona mudanya tidak ada lagi yang tertinggal Sam pun pamit undur diri. Namun sebelum itu, Sam tak lupa memberikan dua kartu unlimited tanpa batas untuk Veln. Veln mengambilnya dengan terpaksa karena paksaan dari sekertaris Sam, dan meletakkan begitu saja didalam laci. Setelah itu Veln beranjak masuk kekamar mandi, untuk menghilangkan rasa lengket ditubuhnya. Apalagi memang seharian ini dia sama sekali belum membersihkan diri.
Seusai mandi, Veln menuju kearah dapur. " Bu, aku mau masak sup untuk makan malam nanti tapi didalam sana tidak ditemukan apapun " Veln menunjuk kulkas yang berdiri tegak didapur sana. " Sepertinya terpaksa kita harus belanja terlebih dahulu " Ajak Veln terhadap bu Ani.
" Maafkan saya non, sebenarnya tuan Sam tadi sudah meminta saya untuk belanja tapi karena belum sempat jadi saya belum membeli apa pun "
__ADS_1
" Tidak apa-apa, kalau bu Ani tidak lelah bisakah bu Ani menemani saya belanja? "
" Saya sama sekali tidak lelah non, saya akan temani non untuk berbelanja "
Veln mengambil dompetnya, lalu mereka pun mulai melangkah menuju super market terdekat dikawasan itu.
Beruntunglah, setidaknya Veln masih memiliki uang dalam dompet dan saldo tabungannya. Setidaknya uang yang dia miliki bisa untuknya bertahan hidup hingga satu bulan kedepan tanpa harus menggunakan uang milik tuan muda itu. Tinggal memikirkan misi utamanya yaitu mencari solusi untuk dirinya bertahan hidup kedepannya tanpa pendampingan siapapun.
○○○
Setelah semua bahan dan tambahan beberapa barang yang mungkin akan dibutuhkan sudah masuk kedalam keranjang belanjaan, Veln dan bu Ani bersiap menuju kasir. Membayarkan semua belanjaan yang dibelinya. Lalu mereka pun langsung kembali menuju apartemen, tanpa mampir-mampir ketempat yang lainnya.
Begitu sampai diapartemen, Veln langsung memilih dan mengambil beberapa bahan yang dibutuhkan untuk membuat sup yang dirinya inginkan.
Sementara bu Ani sibuk membereskan barang yang lainnya, memasukkan sebagian kedalam kulkas dan sisanya kedalam lemari penyimpan makanan.
Memang saat ini bu Ani diminta untuk tidak memasak, karena Veln akan mengerjakannya sendiri untuk makan malam yang dia inginkan.
Sampai tiga puluh menit berlalu akhirnya sup buatannya siap dan matang.
" Selamat makan bu " Veln mengajak bu Ani makan malam bersama.
" Supnya enak non " Bu Ani memuji masakan majikannya, yang memang benar terasa enak dilidah setelah memastikan cita rasanya dengan menyendokkan sesuap sup kedalam mulutnya.
" Terimkasih bu " Veln merasa malu mendapatkan lontaran pujian dari bu Ani.
" Saya tidak bohong non, memang benar-benar enak " Veln tersenyum senang dan merasa puas dengan hasil masakannya.
" Makan kentangnya lebih banyak bu, biar perut kita kenyang " Lalu dia terkekeh.
Veln memang mengganti nasi dengan kentang sebagai pengganti karbohidratnya.
Setelah mereka selesai, mereka pun membersihkan dan membereskan piring, gelas dan alat-alat bekas pakai memasak tadi. Begitu dapur sudah terlihat rapih Veln berpamitan kepada bu Ani untuk masuk menuju kamarnya, Veln pun tidak lupa untuk meminta bu Ani beristirahat juga.
○○○
Veln juga mencari tau lebih lanjut tentang daerah dan tempat-tempat yang direkomendasikan oleh bu Ani. Sewaktu makan malam tadi Veln menyempatkan mengobrol dan bertanya lebih dalam tentang ibu kota yang saat ini sedang dia tinggali.
Veln yang memang sama sekali belum mengenal kota besar itu, terpaksa harus mencari tau lebih untuk mengenal kota tersebut. Dan salah satunya lewat bu Ani yang memang semenjak perempuan tua itu menikah terpaksa harus ikut tinggal bersama suaminya yang lahir dan menetap dikota ini. Suatu keberuntungan memang untuk Veln dapat bertemu dengan ibu Ani.
Dengan Ray, jangan ditanya.. dia masih sibuk menekuri berkas-berkasnya. Belakangan dia memilih kerja dan terus bekerja, dengan sengaja menyibukkan diri terbenam dalam lembaran kertas dan layar laptopnya.
Bisa jadi itu mungkin caranya untuk melupakan sesuatu yang mengganjal hati, pikiran dan emosinya.
Untuk kesekian kalinya dia bangun dari kursi pencetak uangnya, menuju keluar untuk memenuhi sesuatu yang sedang dia inginkan.
" Hey, kamu.. kemarilah " Ray memanggil seorang pelayan yang kebetulan lewat saat dirinya hendak menuju dapur. " Buatkan aku segelas coklat hangat " Pelayan itu pun mengangguk mengerti. " Pakai gelas yang ukurannya paling besar yang ada didapur " Mata pelayan itu sedikit membola mendengar perintah majikannya. " Dan, tolong belikan aku kaki ayam pedas yang biasa V makan "
Setelah kepergian Veln, entah dengan sadar atau apa Ray selalu menyebut nama Veln dengan mulutnya dan semua jenis makanan dan minuman yang Veln suka sepanjang hari ini dia minum dan dia memakannya. " Em, satu lagi kue bolu coklat, aku juga mau itu " Pelayan tersebut mengangguk kembali dan segera melaksanakan perintah majikannya.
Kurang dari satu jam, semua pesanan Ray siap untuk dihidangkan. Dua pesanan Ray didapat lewat layanan pesan antar online terkecuali minuman coklat yang dibuatkan langsung didapur.
Bi Ana dibantu dengan seorang pelayan muda membawakan semuanya keruang kerja Ray.
" Silakan tuan muda " Bi Ana mempersilahkan setelah menaruh minum dan semua makanan diatas meja.
" Terimakasih bi " Dengan senyum dan mata berbinar senang Ray menatapnya. " Aku rasa ada yang salah dengan cake coklatnya " Bi Ana dan salah satu pelayan muda itu mengernyitkan kening. " Tidak seperti yang biasa V makan " Terdengar sedikit protes.
Bi Ana tersenyum kearah Ray dan berkata " Kue coklat yang biasa nona makan, merupakan hasil buatan tangan nona sendiri "
" Apa? " Wajah Ray tercengang.
" Kalau tuan muda Ray mau, bibi akan membuatkannya yang mirip seperti yang biasa nona buat "
" Lakukan bi, aku mau seperti yang biasa V makan. Kalau bisa besok pagi aku mau sarapan dengan cake coklat itu "
__ADS_1
Bi Ana mengangguk tanpa berani membantah, sepertinya akan ada yang lembur malam ini untuk memenuhi keinginan tuannya.
Pukul satu dini hari, Ray masih bergulang-guling diatas kasurnya. Sampai pada akhirnya dia menyerah dan beranjak bangun menuju ruang ganti.
Disana Ray membuka salah satu pintu lemari yang menampakkan sebagian isinya telah terangkut ketempat lain.
Dan menemukan selimut berwana pink dengan motif girly yang biasa Veln gunakan ketika tiduran disofa sembari menonton acara kesukaannya.
Ray meraih dan membawa kekasurnya, dia gunakan selimut itu untuk menutupi tubuhnya. Dan tak lama kemudian Ray pun lelap dalam tidurnya, setelah mengenakan selimut yang biasa Veln pakai, Ray seolah merasa telah menemukan sesuatu yang telah lama hilang.
○○○
Esok paginya, Veln terbangun ketika jam menunjukan pukul setengah enam pagi.
Dia langsung keluar menuju kearah dapur, pagi ini perutnya benar-benar merasa sangat lapar.
Veln tersenyum kearah bu Ani yang sedang bersih-bersih lalu duduk diatas meja makan, meraih dua lembar roti dan mengolesnya dengan selai kacang.
" Masih sepagi ini, non benar-benar sudah lapar ya? " Bu Ani bertanya sedikit heran.
" hee, iya bu. Mungkin efek karena kemarin malam tidak makan nasi "
" Kalau begitu akan secepatnya saya memasakan sesuatu "
" Nasi goreng bu. Cukup nasi goreng, pagi ini saya lagi pengen makan nasi goreng "
" Akan saya buatkan non, nasi goreng spesial " Bu Ani tersenyum dan dibalas senyum pula oleh Veln.
Veln menyuapkan suapan terakhir roti selai kacang kedalam mulutnya, namun ternyata perutnya masih terdengar berontak minta diisi. Akhirnya sembari menunggu nasi goreng buatan bu Ani matang, Veln mengambil kembali dua lembar roti yang hendak dia olesi dengan menggunakan selai coklat.
Hoek hoek hoek..
Veln merasa mual saat mencium wangi selai coklat yang hendak dia oleskan kedalam rotinya.
" Kenapa non? " Bu Ani yang sedang sibuk membuat nasi goreng langsung berpaling kearah Veln.
" Tidak apa bu, tiba-tiba saya merasa mual saat mencium wangi selai coklat ini " Veln menunjuk wadah selai coklat yang berada diatas meja makannya.
Akhirnya Veln kembali memilih selai kacang untuk roti babak keduanya, dan memakan dengan lahap sembari menunggu nasi goreng buatan bu Ani.
Begitu nasi goreng matang, Veln langsung memakannya dengan lahap.
" Non, tidak takut gendut menghabiskan sarapan sebanyak itu? " Bu Ani merasa tidak habis pikir ketika melihat Veln yang berhasil menghabiskan semua sarapannya.
" Hee, tidak bu. Entah lah sepertinya nafsu makan ku belakangan ini sedikit meningkat " Veln cengengesan menahan malu kearah bu Ani.
Begitu selesai, Veln membantu bu Ani membereskan meja makan dan mencuci barang-barang kotornya. Dia hendak beranjak menuju kamar untuk mandi, namun baru beberapa langkah tiba-tiba tubuhnya sedikit goyah dengan kepala berdenyut pusing.
Dan..
Brugh, Veln pingsan diatas lantai.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Hee, maaf ya upnya kurang greget, lagi nggak konsen nih.
Salam sehat selalu 😙