
Sebelum keluar dari restaurant, diunjung pintu Veln menengokkan kepalanya sebentar dan mendapati Ray masih berdiri tegap ditempatnya dengan mata menatap lekat kearah dirinya, begitu juga dengan dua orang yang lainnya.
Selain sibuk menatapinya, Yas juga sibuk melingkarkan tangannya kelengan kekar Ray dengan menyenderkan kepala manja dan mengeluarkan senyum jahatnya. Membuat Veln melangkahkan kakinya dua kali lebih cepat meninggalkan tempat itu.
Aku mengerti Ray.. mungkin sekarang kau itu sedang meluapkan amarah mu kepada ku, tapi haruskah seperti ini kau memperlakukan ku?!! membiarkan ku melihat perempuan itu menempel terus-menerus kepada mu?Bukankah itu memalukan untuk kalian berdua yang sama-sama sudah memiliki pasangan!!!
Pasangan.. satu kata itu mengingatkan Veln kepada seorang pria yang meminta maaf atas kesalahan pacarnya yang menabraknya waktu itu, pria yang merupakan suami Yas.
Pikirannya mulai menerka-nerka.. bagaimana dengan nasib pernikahan Yas? dan dimana sekarang keberadaan dari pria itu? apa dia benar-benar meninggalkan Yas demi perempuan yang sempat menabraknya?
○○○
Didalam mobil Ray terlihat sibuk memakaikan seatbelt untuk Yas, dan kembali keposisinya dibelakang kemudi bersiap-siap menyalakan mesin kendaraan roda empatnya.
" Kak Ray, kau tidak benar-benar menikahi perempuan itu kan? " Ray langsung mengalihkan pandangannya dari jalanan kearah Yas sebentar.
" Maksud ku, kak Ray terpaksa menikahinya hanya untuk pelarian kan? " Dengan mendenguskan wajahnya kearah Ray menunggu jawaban.
" Tentu saja tidak " Ray menjawab singkat namun jelas.
" Kau bohong, mana mungkin kak Ray langsung mendapatkan pengganti ku secepat itu " Jawaban Ray tidak membuat Yas percaya begitu saja.
" Bahkan untuk merencanakan pernikahan ku saja membutuhkan waktu tiga bulan lamanya, tapi tiba-tiba kita bertemu disini dengan sama-sama melakukan bulan madu yang berantakan " Ray mengacak-acak kepala Yas dengan sayang.
" Kau tau sebenarnya ini sedikit tidak adil untuk V.. Aku berada disini sebenarnya bukan untuk berbulan madu tapi untuk perjalanan bisnis, karena pernikahan yang mendadak jadi Sam belum menjadwalkan kami untuk berbulan madu " Kata-kata Ray membuat bibir Yas sedikit manyun merasa tidak suka.
" Benarkan kak Ray tidak menyukainya, kau hanya menjadikan V sebagai pelarian. Bahkan kak Ray sendiri barusan mengakuinya kalau pernikahan mu dilakukan secara mendadak " Yas masih berusaha menyangkal atas kebenaran yang Ray tuturkan secara tidak langsung.
flashback
Beberapa tahun yang lalu seorang anak laki-laki yang begitu gagah, tampan, cerdas dan berwibawa sedari kecil kini nampak jadi lebih pendiam dan tertutup sepeninggal ibunya. Si kecil Ryu Saka Wiratama jadi lebih tampak murung dan seperti tidak bersemangat untuk menjalani hidupnya setelah kepergian ibunda tercinta akibat sakit yang dideritanya.
Ray kecil benar-benar kehilangan sosok ibunya yang setiap hari bahkan setiap saat waktunya hampir dihabiskan bersama ibunya. Kini Ray kecil tidak dapat lagi berbagi cerita dan bermanja-manja seperti biasanya, Ray seolah benar-benar kehilangan pembimbing, pendamping sekaligus teman tak tergantikan dalam hidupnya.
Ditambah lagi dengan kesibukan ayahnya yang bertumpuk-tumpuk, membuat Ray kecil merasa ditelantarkan.
Meski Nenek Lusiana, Tante Susan dan Om Aldo sempat mengambil alih untuk mengasuhnya namun itu tidak membuat perubahan apapun dengan keadaan Ray kecil pada saat itu. Sampai membuat semua orang frustasi dibuatnya, terutama ayahnya Rendra Wiratama.
Ray kecil sampai harus melakukan konsultasi dengan psikolog, sampai akhirnya ditemukan titik temu. Ayahnya tuan Rendra Wiratama memutuskan untuk menikah kembali untuk mencari pengganti sesosok ibu baru untuk putranya. Namun itu justru membuat Ray semakin tidak bisa mengendalikan emosinya, selain jadi pendiam dan pemurung, Ray juga jadi pemarah.
Dan suatu hari terlihat tuan Ben yang tak lain sekertaris dari ayah Ray, karena rasa prihatin terhadap kondisi dari putra majikannya menawarkan diri untuk sementara mencoba merawat Ray dirumahnya.
¤ dikediaman tuan Ben
Tuan Ben dan Ray kecil sampai disebuah rumah yang tak sebesar dan semewah rumah tuan Rendra.
Disana terlihat Nyonya Ben dan putri kecilnya Yasmine yang tersenyum ramah dan terlihat antusias menyambut kedatangan mereka.
"Hallo Kak, aku Yas.." Yasmine mengulurkan t angannya ramah namun tak disambut oleh Ray kecil, Ray hanya menyalami Nyonya Ben dan berlalu masuk meninggalkan Yas.
" Kakaaak.. tunggu " Yas mengejar Ray masuk kedalam, namun tetap masih tidak dihiraukan oleh Ray.
" Paman dimana kamar ku? " Ray menghentikan langkahnya seketika merasa bingung mau memasuki kamar yang mana?
" Ayo kak, aku antar kekamar mu " Dengan centil dan gaya sok akrabnya Yas langsung menggandeng lengan Ray bermaksud menunjukan kamar yang akan ditempati Ray membuat tuan dan nyonya Ben tersenyum melihat tingkah pola anaknya.
__ADS_1
" Lepaskan.. dan berhenti memanggil ku kakak, aku bukan kakak mu!!! " Ray melepaskan tangan Yas dengan kasar. Membuat semua orang yang ada disitu hanya bisa diam tanpa berkata apa-apa.
" Kak, kenapa kau kasar sekali? apalagi terhadap ku yang seorang perempuan? " Ray menatap sinis dengan mata elangnya kearah Yas.
" Dan aku tidak akan berhenti memanggil mu kakak, karena jelas usia ku kan lebih muda dari mu. Tidak mungkinkan aku memanggil mu dik?! " Dengan ngototnya ucapan Yas membuat telinga Ray merasa panas.
" Cerewet sekali.. " Tukas Ray kesal, seketika pikiran jahilnya muncul diotaknya.
" Paman.. Bibi, aku mau ambil alih kamarnya " Dengan senyum sinis menatap gadis kecil dihadapannya. Mata Yas otomatis membulat sempurna.
" Silakan saja kalau kakak mau menempati kamar yang berdinding warna pink " Yas mencoba mempertahankan miliknya dengan caranya sendiri.
" Sudah putri ku, berhenti menggoda tuan muda Ray " Nyonya Hanita berusaha menengahi situasi yang hampir memanas ini.
" Tidak masalah, aku akan meminta Paman dan Bibi mengganti warnanya nanti " Kata-kata Ray sudah membuat Yas hilang kesabaran.
" Kau ini ya.. sudah numpang, sombong pula " Yas bersiap-siap hendak menendang Ray, namun gerakannya kalah cepat karena keburu ditarik oleh ayahnya.
" Lepasin Pa.. lepas, kesabaran ku habis untuk menghadapi tuan muda ini " Kedua kaki Yas menggantung diudara meronta-ronta karena dibopong paksa oleh ayahnya menuju taman depan.
" Untung saja kau tampan, kalau tidak, mungkin seumur hidup ku, aku tidak akan mau mengenal mu lagiiiii " Teriakan Yas yang dari kejauhan masih terdengar jelas ditelinga Ray.
Cih, bagaimana mungkin gadis kecil seusianya sudah bisa merasakan aura ketampanan ku, sepertinya putri Paman Ben itu tumbuh dewasa sebelum waktunya.
○○○
Nyonya Hanita tengah sibuk hendak mengantarkan sarapan untuk Ray dikamar Yas, karena dihari ketiga ini seperti biasa Ray masih betah mengurung diri dikamar tersebut.
Seperti permintaan Ray, tuan muda itu kini menempati kamar Yas yang bernuansa pink dan berornamen serba hello kitty.
" Nak, ayo sarapan dulu " Suara nyonya Hanita lembut sembari mengelus ujung kepala Ray yang sedang berdiri menghadap jendela setelah menaruh tampannya diatas meja.
" Terima kasih Bibi, nanti akan aku makan sarapannya " Ray mendongakkan wajahnya kearah nyonya Hanita dengan tatapan seolah menginginkan pelukan hangat dari perempuan itu.
Tanpa ragu nyonya Hanita pun merengkuh tubuh anak laki-laki yang baru berusia 10 tahun tersebut dengan hangat. Dibelainya lembut kepala Ray seperti yang biasa ibundanya lakukan terhadapnya, dan entah mengapa Ray begitu merasa hangat dan nyaman berada dipelukan nyonya Hanita. Seakan telah menemukan sesuatu yang sudah lama hilang.
" Nak, perlakukanlah aku sama seperti kau memperlakukan ibu mu. Aku tidak akan keberatan, walaupun aku tidak akan bisa sama seperti ibu mu setidaknya kita sama-sama memiliki kasih sayang terhadap mu " Ray mengangguk pelan dan mengeratkan pelukannya terhadap nyonya hanita.
" Menangislah jika kau ingin menangis, tidak apa-apa " Lanjut Nyonya Hanita, dibelakang Yas hanya berdiri tak bergeming memperhatikan mereka berdua.
" Tidak Bibi. Mama bilang anak laki-laki tidak boleh menangis, harus kuat " Ray berkata sembari melepaskan pelukannya dan mendongak kearah nyonya Hanita dengan tatapan tegarnya.
" Bagus, karena itu kau harus makan yang banyak agar jadi anak laki-laki yang paling kuat dari yang terkuat " Dengan menunjukkan kedua jempol tangannya dan menyunggingkan senyuman terhangat.
" Emm.." Ray mengangguk dengan bersemangat.
" Aku akan makan sarapan ku " Lanjutnya lagi.
" Apa perlu Bibi temani? " Sembari menuntun Ray mendekati kearah nampan yang Hanita taroh diatas meja.
" Tidak usah Bibi, terima kasih " Ray menolak halus, membuat Hanita harus keluar dari ruangan itu dengan mengajak serta putrinya yang masih setia mematung. Namun Yas bukannya ikut serta keluar dengan ibunya, dia malah mendekatkan diri menghampiri Ray.
Ray mulai menyantap sarapannya tanpa memperdulikan Yas, dengan lahapnya Ray memakan makanannya.
" Kak, aku boleh duduk disamping mu? " Tanpa menunggu jawaban Yas langsung mendudukkan diri membuat Ray melirik tajam kearahnya dan kembali menikmati sarapannya.
__ADS_1
" Apa kau betah tinggal disini? " Yas kembali bertanya dengan memiringkan kepalanya dan masih tidak dihiraukan oleh Ray.
" Kak, kapan kau akan kembali bersekolah? " Brondongan pertanyaan Yas membuat Ray kesal.
" Dasar perempuan, cerewet sekali. Keluar dari kamar ku " Ray mengusir Yas meluapkan kekesalannya.
" Ahahahaaa.. sejak kapan ini jadi kamar mu?ini kamar ku kak, kau yang numpang dikamar ku " Dengan nyengir kuda Yas mengingatkan Ray.
Ray beranjak dari duduknya dan menarik Yas paksa lalu mendorongnya.
" Keluar.." Yas terjerembab kelantai, mulutnya meringis menahan sakit dengan mata yang berkaca-kaca menahan tangis.
" Kak Ray, kenapa kau jahat sekali pada ku? " Air matanya mengalir begitu saja sudah tak terbendung lagi.
" Memang aku pernah jahat pada mu? tidak bukan! salah kah jika aku ingin dekat dengan mu? " Kedua pipinya basah kuyup karena air mata yang menderas membuat Ray merasakan bersalah atas perlakuannya terhadap Yas.
" Baiklah, aku tidak akan mengganggu mu lagi " Tegas Yas dengan memandang sinis mata Ray yang sepertinya sedikit melunak mulai mempertimbangkan kehadiran Yas.
" Tapi jangan harap aku akan berbagi Mami ku dengan mu, huh " Yas melengos dan bergegas untuk pergi dari ruangan tersebut.
" Tunggu.. " Perrkataan Ray menghentikan langkah Yas seketika.
" Kau boleh memanggil ku kakak, tapi ada syaratnya " Pikiran usil Ray kembali datang.
" Apa? " Yas begitu antusias mendengarkan.
" Kau harus rela berbagi Mami mu dengan ku " Dengan cepat Yas menganggukkan kepalanya menyetujui.
" Tentu " Mengangkat jempolnya kearah Ray dengan menyunggingkan senyum centilnya.
" Yang kedua.. " Terjeda sebentar.
" Kemarilah " Ray mengibaskan telapak tangannya menyuruh Yas untuk mendekat. Dan dengan polosnya Yas menurut saja perintah Ray. Tanpa babibu tiba-tiba Ray menarik sebelah kuncir Yas dengan gemas, saat itu memang rambut Yas dalam posisi dikuncir dua.
" Auuuu " Ray masih mencengkeram sebelah kuncir Yas, tanpa memperdulikan rintihan mulut gadis kecil itu yang merasakan sakit.
" Awas kau kalau sampai membosankan aku pecat kau jadi adik ku " Ray melepaskan rambut Yas.
" Ahahaaa.. tidak apa-apa, gagal jadi adik mu nanti tinggal aku ajukan meminta untuk jadi pacar mu kak " Kembali Yas nyengir kuda dengan tangan mengelus kuncir menghilangkan rasa pedas bekas jambakan tuan muda Ray.
Pletak..
Ray mejitak jidak Yas.
" Kau ini mesum sekali, gadis kecil seperti mu belum waktunya memikirkan pacar-pacaran. Kalau masih mau jadi adik ku jaga kelakuan mu, jangan sampai dewasa sebelum waktunya " Yas mengangguk dengan mengelus dan meringis menahan sakit dijidatnya.
○○○
Maaf ya kali ini author slow update.. author lagi ada sesuatu yang lain yang harus dikerjain nih.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian donk.. dengan like dan comentnya 😊.
Dan semoga kita selalu diberikan kesehatan dan perlindungan oleh Nya.Amin.
Bersambung..
__ADS_1