
Veln terlihat begitu anggun, ayu dan mempesona. Baju kebaya putih yang menjuntai dan mengekor panjang dibelakang dipadu padankan dengan kain batik bermotif sawat pengantin keemasan dan make up yang begitu luar biasa membuat wajahnya terlihat lebih cantik dari biasanya. Manglingi. Bahkan muka kurang tidurnya sama sekali tak terlihat, nampak begitu cerah dan segar seperti buah yang baru dipetik dari pohonnya.
Semalam Veln hanya tidur beberapa jam, menjelang pagi baru Dia bisa terlelap. Tidak lama datang beberapa orang menjemput untuk bersiap-siap mengatur segala sesuatunya untuk keperluan mempelai perempuan dari mulai make up dan sebagainya.
Sampai pada waktu yang sudah ditentukan, akhirnya Veln resmi menjadi Nyonya Ray tepat pada pukul 09.00 wib setelah Ray mengucapkan ijab kabul dengan begitu lantang dan lancar dengan satu hembusan nafas digedung hotel bintang lima dikota itu. Di RV hotel yang tak lain merupakan salah satu hotel cabang miliknya sendiri. RV hotel yang merupakan gabungan dari nama almarhumah kedua orang tua Ray yaitu Rendra dan Vania, dan sangat kebetulan pula kini Ray berjodoh dengan Veln.
Kini suasana resepsi disibukkan dengan berfoto-foto ria setelah semua orang mendoakan dan memberikan ucapan selamat termasuk para tetangga dekat dan keluarga pak Rt yang ikut diundang untuk menyaksikan acara pernikahan Veln oleh Paman Rian, cekrak cekrek kesana kemari bermaksud untuk menjadikan sebuah kenang-kenangan kelak untuk diperlihatkan keanak cucu nanti. Dengan serasi mereka mengenakan pakaian yang sudah disiapkan oleh pihak yang bersangkutan termasuk Liana dan kawan-kawannya selaku bridesmaid dengan anggun mengenakan gaun berwarna coklat muda dengan kombinasi bahan tile.
Dengan diam-diam tanpa sepengetahuan Denis dan Veln, mereka seluruh karyawan Manja diukur setiap jengkal tubuhnya dengan alibi untuk pembuatan seragam baru. Rupanya pernikahan dua minggu itu selain membuat jasa wedding sibuk ternyata sekertaris Sam juga dibuat lebih kalang kabut, salah langkah sedikit saja bisa membuat rencana berantakan. Untung semuanya dapat berjalan lancar sesuai yang diinginkan.
Setelah sesi bersua foto selesai, kini giliran mereka semua menikmati hidangan yang sudah disiapkan. Kedua keluarga inti duduk dalam satu meja bundar, bertujuan untuk sekalian memperkenalkan diri. Selain keluarga kecil dari Paman Veln terlihat Om Aldo, Tante Susan dan juga Nenek Lusiana seperti yang dijanjikan Ray hadir.
" Baiklah Ray dan semuanya, saya nitip keponakan saya agar supaya dijaga dengan baik. Sebelumnya saya juga meminta maaf jikalau ada kekurangan dalam didikan keluarga kami, mohon bimbingannya untuk Veln agar dia bisa menjadi pribadi yang lebih santun dan lebih baik lagi " Ucap Paman Rian menitipkan keponakan satu-satunya kepada keluarga Ray.
" Tenang saja Nak, jangan mengkhawatirkan cucu menantuku. Dia akan hidup dengan baik dikeluarga kami " Suara Nenek Lusiana menenangkan kekhawatiran Paman Rian, sedangkan yang lainnya hanya ikut menganggukkan kepalanya.
" Kalau sampai Ray berani menyakiti keponakanmu, aku yang akan pertama kali menghukum cucuku dengan memasukkan tubuhnya kemulut ikan arwana " Mendengar perkataan Nenek Lusiana semuanya tertawa merasa lucu, menghilangkan rasa canggung diantara mereka.
○○○
Setelah semuanya selesai seluruh keluarga Veln dan tetangga-tetangga dekatnya diantarkan kembali kerumah masing-masing dengan mobil yang sudah disediakan sesuai perintah sekertaris Sam.
Sementara seluruh keluarga Ray termasuk Veln berlalu meninggalkan tempat resepsi menuju lantai atas, menuju presidential suite room hotel.
Disebuah ruang tamu presidential suite room hotel mereka berkumpul, mendekatkan diri dengan kedatangan keluarga barunya. Mengobrol-ngobrol ringan memperkenalkan diri lebih dekat, sementara Ray terlihat masuk menuju salah satu kamar yang diikuti Denis dan Danis.
Ray terlihat melepas bajunya dan masuk menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, sementara dua kakak adik itu setia menunggu sembari berdiri didepan kamar mandi bak seorang polisi yang tidak mau kehilangan buronannya.
" Tok tok tok " Danis mengetuk pintu kamar mandi tidak sabaran menunggu Ray keluar, sementara tak terdengar suara sama sekali dari dalam kamar mandi.
" Kak, kaaak.. Kak Ray, ayo buka pintunya " Danis semakin tidak sabaran, sementara Denis hanya memperhatikan tingkah adiknya dengan bersidakep dan menyenderkan sebelah tubuhnya ditembok pembatas.
Tak lama pintu kamar mandi pun terbuka, terlihat Ray keluar hanya mengenakan handuk putih menutupi setengah bagian tubuhnya.
" Kalian ini, aku yang menikah kenapa kalian yang sepertinya tidak sabaran buat ML " Melemparkan senyum mengejeknya sembari melangkahkan kakinya menuju lemari pakaian.
" Cih " Denis berdecak kesal sembari mengusap wajah gantengnya, sedangkan Danis mengikuti langkah kaki Ray yang sibuk mengambil baju ganti dari dalam lemari dan mengenakannya.
" Kak, jelaskan padaku bagaimana kau bisa mengenal Veln? " Aktifitas Ray yang sedang memakai baju terhenti karena ulah Danis yang memegang kedua bahunya.
" Istrimu itu? bagaimana kau bisa mengenalnya? " Ray melirikkan pandangannya ke arah Denis. Denis mengangkat kedua bahunya seolah tidak mau turut campur dengan obrolan mereka berdua.
__ADS_1
" Memang kenapa? sepertinya kau begitu penasaran sekali? " Ray balik bertanya. Danis melepaskan kedua tangannya dari bahu Ray dan mendudukkan tubuhnya diatas kasur dengan lemas, sementara Ray melanjutkan aktifitasnya yang sempat tertunda.
Kedua mata Ray dan Denis tak henti menatap kearah Danis yang kala itu terlihat aneh dan tak bersemangat.
" Kak, apa kau akan melakukannya disini?ditempat ini " Danis melirikan pandangnya kearah Ray sebentar lalu memalingkannya keatas kasur besar itu dan menepuk-nepuk kasurnya seolah mengecek tingkat keempukannya. Sementara kedua orang itu semakin dibuat tak mengerti dengan tingkah adik kecilnya itu.
" Kau tau? Aku bahkan dibuat lebih frustasi olehmu kak " Suaranya tertahan sebentar.
" Kau mematahkan hati kami berdua. Aku dan kak Denis. Kami, kedua kakak beradik ini sudah kau hancurkan " Ray semakin dibuat tidak mengerti oleh perkataan Danis, lebih-lebih Denis yang hanya bisa menajamkan pandangnya meminta penjelasan.
" Aku harus rela menjadikan Veln yang aku kejar-kejar dari SMU menjadi kakak iparku " Denis langsung memelototkan matanya dan spontan tertawa lepas.
" Tetap semangat, pepet trus kakak ipar sampai kau terlihat olehnya " Sembari mendekati Danis lalu menepuk-nepuk punggungnya dan tertawa lagi mengejek.
" Sial " Ray mengumpat kesal mendengar sindiran Denis.
" Kalau begitu aku tarik kembali kata-kata ku waktu itu "
" Baiklah, sepertinya kita perlu mengobrol bertiga untuk meluruskan masalah ini sebelum kau benar-benar akan menghabiskan waktumu bersama Nona manis " Denis senyum menyeringai, dan melingkarkan lengannya kebahu Ray. Menggiring tubuh Ray untuk mengikutinya, Danis pun otomatis mengikutinya dari belakang.
Mereka pun keluar dari kamar, diruang tamu mereka sebentar menghentikan langkahnya terlihat Ray mendekati Veln dan memohon pamit kepada istrinya.
" Kau ini bisa-bisanya memikirkan pekerjaan disituasi seperti ini " Nenek Lusiana protes.
" Diam dan duduk disini temani istrimu beristirahat, biarkan Sam yang sementara mengurus segalanya " Tante Susan dan Om Aldo ikut mengiyakan.
" Rilexlah sebentar Ray, setidaknya untuk hari ini. Hari yang menjadi sejarah buat kalian berdua " Om Aldo menimpali.
" Benar lagi pula Tante dan Om akan pulang mengantar Nenek, sudah waktunya Nenek untuk beristirahat " Mereka pun bergantian memeluk Veln berpamitan.
" Beristirahatlah cucu menantuku, kau pasti sangat lelah mengenakan pakaian dan dandanan seperti ini " Sembari mengelus pipi Veln lembut.
" Ia Nek, terimakasih. Nenek juga istirahat dan jaga kesehatan " Lalu Veln mencium punggung tangan perempuan tua itu sopan.
" Kami tinggal ya sayang " Ucap Tante Susan. Mereka pun segera beranjak menuju pintu keluar, namun ketika Veln hendak mengantar Om Aldo melarangnya.
" Hey.. kalian berdua juga cepat angkat kaki dari sini, jangan mengganggu mereka berdua " Ucap Om Aldo yang mendapati kedua putranya masih berdiam diri diruangan itu tak bergeming.
" Nanti kami menyusul, ada yang harus kami bicarakan sebentar dengan Ray " Mendengar kata-kata Denis Om Aldo pun berlalu meninggalkan putranya.
Ray tak henti-hentinya menatapi Veln dari ujung kaki hingga ujung kepala dan kembali lagi keujung kaki dan diulangnya lagi hingga ujung kepala melihat Veln yang masih lengkap menggunakan pakaian dan riasan pengantinnya, membuat Veln merasa risih dan malu. Danis pun diam-diam melakukan hal yang sama.
__ADS_1
" Ehem " Denis berdehem ketika menyadari apa yang dilakukan Ray.
" Nona, aku ucapkan selamat ya untukmu " Veln melemparkan senyum manisnya kearah Denis.
" Maaf ya Nona, aku harus rela melepaskan mu. Karena ternyata gerakan Ray lebih gesit sepuluh kalilipat didepanku " Ray hanya bisa menggelengkan kepalanya, sementara Veln tertawa kecil mendengar perkataan Denis. Seketika tawanya terhenti ketika matanya beradu pandang dengan mata Danis.
" Danis " Suara lembut Veln menyapa Danis.
" Apa sekarang aku sudah terlihat olehmu? "
" Tentu, kau kan bukan hantu? dari dulu dari semenjak SMU aku bisa merasakan keberadaanmu " Veln menjawab dengan polosnya.
" Lalu kenapa kau baru menyadarinya sekarang?setelah.. " Belum menyelesaikan ucapannya Denis menarik kerah baju belakangnya, memaksa Danis keluar.
" Kak, lepaskan aku " Danis berontak dengan apa yang dilakukan kakaknya.
" Tutup mulutmu, tidak perlu kau mengutarakan isi hatimu sekarang. Karena semuanya sudah terlambat " Ucap Denis ketika sudah berada diluar pintu presidential suite room.
" Aku tidak perlu lagi mengungkapkan isi hati ku kak, karena Veln sudah tau itu. Aku hanya ingin meminta penjelasan kenapa selama ini dia mengabaikan perasaanku? " Danis kembali ingin membuka paksa pintu kamar hotel tersebut namun dihalangi oleh Denis.
" Sudahlah, sekarang semua itu sudah tidak penting lagi. Relakan. Setidaknya kita bisa tenang menitipkan perempuan yang kita sayang ditangan Ray " Danis membuang nafas sedikit kesal.
Sementara didalam ruangan hotel mata Ray masih sibuk mengamati Veln, membuat Veln semakin tidak nyaman dibuatnya.
" Boss.. " Menelan ludah.
" Kenapa kau menatapku seperti itu? " Ray tak menghiraukan pertanyaan Veln. Ray justru hendak mendekatkan kearah Veln, membuatnya spontan memundurkan langkahnya. Betis kaki Veln tersandung bibir sofa, dengan kain batik yang dia kenakan sekarang tidak mampu menopang keseimbangan membuat Veln terduduk diatasnya. Terlihat Ray senyum menyeringai mendekati Veln, kedua tangannya mengunci tubuh Veln bertumpu pada sandaran sofa dan agak membungkukkan posisi badannya.
" Boooss " Spontan Veln memundurkan posisi duduknya menempel disandaran sofa ketika mendapati kepala Ray yang mendengus kearahnya dengan senyuman seperti hendak memangsanya.
" Jantungku " Tangan Veln menahan dada bidang Ray yang hendak lebih mendekatkan tubuhnnya kearah Veln.
" Ha ha haa " Ray dibuat tertawa dengan apa yang dilakukan Veln. Lalu tangan kanannya menyentuh dagu dan sedikit mendongakkan wajah Veln, menghadapkan kearah wajahnya.
○○○
Buat para readernya yang menyempatkan waktunya buat membaca novel pertama aku, mohon berikan like dan comentnya ya.. Baca juga novel kedua author yang berjudul Menggoda.
Terimakasih sebelumnya.
Bersambung..
__ADS_1