
Saat ini mereka berdua masih tiduran diatas sofa denga posisi tubuh Veln memunggungi Ray.. Ray pun masih memeluk istrinya namun tidak seerat barusan, Ray mengendurkan sedikit pelukannya untuk memberi ruang istrinya agar sedikit dapat bergerak dan lebih leluasa untuk bernafas.
Tangan Ray yang melingkar dipinggang Veln sibuk mengelus perut rata wanitanya dengan wajah mengusel dan sesekali menciumi tengkuk leher Veln, membuat mata perempuan cantik itu kini terlelap dengan pulasnya akibat belaian tangan Ray.
Ray beranjak dari tidurnya dengan penuh kehati-hatian, karena takut membangunkan tidur perempuan yang sedari tadi dipeluknya. Tangan Ray membenarkan baju atasan Veln yang tersingkap akibat ulahnya mengelus perut rata istrinya. Ray meraih gelas diatas meja dan menuangkan air putih kedalamnya, meneguknya hingga kandas. Gelasnya dia letakkan kembali diatas meja lalu bergegas mengangkat tubuh Veln dengan pelan dan memindahkan dikasur king sizenya.
Lama Ray memandangi Veln yang kini terbaring diranjang dengan begitu lelapnya.. senyum tipis tercetak disudut bibirnya, ada perasaan senang didalam sana karena bisa memiliki perempuan ini.
Setelah puas menatapi perempuan ayu itu, Ray bergegas kekamar mandi untuk menyegarkan diri.
○○○
Waktu makan malam tiba, terdengar ketukan dari arah pintu kamar. Pintu pun terbuka setelah terdengar suara Ray yang memerintah seseorang untuk masuk.
" Tuan, dudah waktunya makan malam. Apa anda akan turun untuk makan dibawah atau memilih untuk makan disini? " Suara bibi Stela terdengar memberikan dua pilihan.
Ray masih terdiam, belum memberikan jawaban.
Masih dengan posisinya berdiri bersandar ditembok dengan tangan bersidakep didepan dadanya, sibuk memandangi tubuh Veln yang terlihat masih hanyut dalam mimpinya.
Ray melirik sebentar kearah bibi Stela, hanya untuk menunjukan senyum tipisnya, lalu matanya kembali tertuju keperempuan yang berbaring dikasurnya.
" Perempuan ku masih lelap dengan tidurnya, aku tidak mau mengganggu mimpinya " Tanpa matanya mengalihkan pandang kearah bibi Stela.
" Bibi dan yang lainnya makan duluan saja, aku akan menunggu istriku bangun dari tidurnya " Lanjut Ray kemudian.
" Baiklah, rerimakasih tuan muda " Bibi Stela pun pamit keluar. Bibi Stela merasa senang dan beruntung dapat bekerja disini. Pasalnya walau Ray begitu tegas, disiplin dan sedikit galak namun tetap disegani karena hal sepele dan sekecil apapun kalau berhubungan dengan mendzolimi orang lain dia akan berpikir dua kali terkecuali pada Veln, tapi kalau menyangkut perempuan satu ini lebih tepatnya buka didzolimi melainkan menjahili. Contohnya saja dengan makan malam hari ini, Ray tidak akan membiarkan yang lainnya sampai telat makan hanya karena dia mengundur jadwal makan malamnya.
○○○
Ray menghampiri kasur tidurnya, sedikit menjongkokkan tubuhnya dan berbisik ditelinga Veln.
" V.." Memanggil nama istrinya beberapa kali dengan begitu lembut namun tak ada respon. Ray memutuskan untuk mencoba membangunkan Veln, karena sudah lewat tiga puluh menit lamanya dari semenjak kedatangan bibi Stela masih belum ada pergerakan dari wanita yang begitu pulas berbaring diatas tempat tidurnya. Ray mengkhawatirkan kondisi perut Veln yang belum terisi apapun dari semenjak turun dari pesawat. Seingatnya terakhir Veln makan didalam pesawat dan itu pun sudah beberapa jam yang lalu.
" V.." Kembali Ray mencoba membangunkan Veln dan tetap masih belum ada pergerakan disana. Akhirnya Ray menyerah dan memilih untuk ikut berbaring disana tentu dengan memeluk wanitanya. Sepertinya mengusel dan menciumi tengkuk leher Veln kini menjadi hoby barunya, karena sekarang Ray kembali melakukan hal itu yang membuat Veln melakukan pergerakan kecil.. yaitu menggeliatkan tubuhnya dengan mata masih tertutup sempurna.
" Kau lapar? " Ray mendengar suara gemerucuk yang berasal dari perut Veln.
" Hemmmm " Dengan mengangguk pelan dan mata masih terpejam Veln menjawab pertanyaan Ray.
" Kau juga masih mengantuk? " Mendapati Veln yang terlihat enggan membuka kedua kelopak matanya.
" Hemmmm " Menggeliat kecil mencari posisi ternyamannya.
" Mau makan tidak? "
" Hemmm "
" Atau masih mau melanjutkan mimpi? "
" Hemmm " Jawaban Veln yang hanya hemm dan hemm membuat Ray tertawa merasa gemas.
Untung saja iman ju cukup kuat, kalau tidak sudah kulahap kau saat ini juga tanpa peduli dengan tamu bulanan mu.
Ray mencium kening Veln lalu beranjak dari tidurnya dan berdiri dengan berkacak pinggang, kembali menatapi wanitanya yang begitu menggemaskan dimatanya.
__ADS_1
"Jangan mencari ku.. Aku akan turun kebawah untuk menikmati makanan bibi Stela yang enak dan lezat " Goda Ray dengan senyum-senyum sendiri.
Spontan Veln langsung membuka matanya dengan paksa, mendudukan diri dengan otak dipenuhi dengan berbagai jenis hidangan makanan karena efek lapar. Terlihat sedikit senyum mengembang disudut bibirnya mendapati Ray yang masih berdiri ditempatnya tak bergeming.
Tingkahnya sukses membuat senyum Ray tercetak disudut bibirnya.
Dengan masih sempoyongan dan kelopak mata yang belum terbuka sempurna Veln turun dari kasur empuknya menuju kearah Ray, melingkarkan lengannya kelengan Ray dan menyandarkan kepalanya.
" Duduklah.. Aku akan meminta pelayan untuk mengantarkan makanan kesini " Ray merasa tidak tega kalau harus turun kebawah karena melihat Veln yang masih begitu mengantuk dan ingin melanjutkan tidurnya.
"Jangan " Dengan ucapan yang kurang jelas karena berbicara berbarengan dengan menguap, namun dimengerti oleh Ray.
"Jadi? " Memperjelas larangan istrinya.
" Kita turun saja kebawah " Veln memaksakan diri memilih turun kebawah berharap agar kantuknya hilang saat tubuhnya digerakkan.
Tanpa penolakan Ray mengiyakan saja, dengan mulut yang terus menerus menguap menahan kantuk dan kepala masih bersandar begitu juga tangannya masih melingkar dilengan Ray Veln melangkahkan kakinya. Menurut saja langkahnya mengikuti langkah Ray. Sampai disuatu ruangan Veln sedikit membulatkan matanya dengan bersusah payah.
" Ray.. Aku laparrr, kenapa malah dibawa kekamar mandi? " Ray tersenyum tipis dan mengusap kedua ujung kelopak mata Veln yang berair karena menguap.
" Cuci muka mu dulu V.. agar berkurang rasa kantuk mu " Ray mengusapkan telapak tangannya yang basah kewajah Veln.
" Bagaimana? "
" Dingin " Bukannya memberi tau kondisi kantuknya apa sudah berkurang atau belum, Ray malah mendapatkan jawaban yang membuatnya senyum-senyum sendiri.
○○○
Veln masih bergelayut dan menyandarkan kepalanya dilengan kekar Ray.
" Hem "
" Aku gendong saja ya? "
" Tidak usah "
" Yakin? " Memastikan.
" Hem "
" Kalau aku cium tidak apa-apa? "
" Hemm " Dengan telaten Ray membantu Veln yang dalam keadaan mengantuk menuruni tangga tentu dengan sedikit menjahilinya.
Cup.. satu kecupan dikening Veln.
" Cium lagi boleh? "
" Hemm "
Cup.. disalah satu pipi Veln.
" Tambah lagi.. boleh? " Senyum menyeringai keluar dari bibir Ray.
" Hemm "
__ADS_1
Cup.. dibibir merah Veln.
" Terimakasih V.. tidak apa-apa kan kalau para pelayan melihat kita berciuman? " Veln membuka matanya dengan lebar, seakan rasa kantuk yang begitu berat telah sirna seketika. Matanya mendapati dua orang pelayan yang melintas membuat kedua pipinya bersemu merah.
" Ray.. Kau benar-benar mencium ku? " Dengan berbisik-bisik ditelinga Ray.
" Hem, memang kau tidak merasakannya? "
" Didepan mereka? " Suara Veln masih terdengar pelan dengan menunjuk kearah dua pelayan yang melintas.
" Hem "
" Ray!!! " Veln mengencangkan suaranya membuat Ray cengengesan bukannya merasa takut.
" Kau membuat ku terlihat murahan didepan mereka, kenapa kau lakukan itu " Lanjutnya lagi dengan kesal dan memukul-mukul lengan Ray.
" Ini sepenuhnya bukan salah ku, tapi salah mu juga yang mengijinkannya " Ray menghindari pukulan Veln dengan berlari kebawah mendahului Veln dan tawa yang menggema.
" Dasar mesum " Veln menghentakkan salah satu kakinya diudara untuk meluapkan sedikit kekesalanya.
Sebenarnya kejadiannya tidak seperti yang Veln pikirkan, sewaktu Ray menciumi anggota wajahnya tak ada orang lain disana.. hanya saja begitu pas sekali ketika mata Veln terbuka tiba-tiba muncul dua orang pelayan yang berjalan entah hendak menuju kemana.
Diatas meja makan besar itu sudah tersaji beberapa menu makanan. Ray mengabari terlebih dahulu lewat sambungan telfon rumah yang berada didalam kamarnya bahwa dia dan Veln hendak turun kebawah untuk makan malam.
Ray duduk disalah satu kursi meja makan, kursi favorite yang selalu dia duduki ketika makan.. Veln berjalan mendekat kearah meja makan dengan malas dan masih sesekali terlihat menguap. Kantuknya masih belum seluruhnya sirna, namun cacing yang berada didalam perutnya sudah tidak bisa ditoleransi lagi ingin segera minta diisi.
" Pelan-pelan V.." Mendapati istrinya yang makan begitu cepat dan terburu-buru.
" Selesai " Menunjukkan piring kosongnya dengan senyum mengembang diujung bibirnya. Lalu tiba-tiba Veln menangkubkan wajahnya diatas meja makan beberapa detik dan kembali duduk tegap tak lupa dengan menunjukan senyumnya.. namun kali ini senyum manisnya bukan ditunjukkan untuk Ray, melainkan untuk beberapa pelayan yang berdiri menunggui mereka makan.
Setelah Ray pun menyelesaikan makannya mereka kembali menuju kamar, dalam perjalanan menuju kamar Veln terlihat buru-buru dengan menarik tangan Ray. Begitu sudah berada didalam kamar, Veln langsung menutup rapat pintu kamar dan menguncinya lalu menahan langkah Ray yang sepertinya hendak menuju kamar mandi.
" Ray apa mereka? maksud ku pelayan dirumahmu selalu begitu? menunggui saat kita sedang makan? "
" Hemm "
" Ah.. kenapa aku sampai tidak menyadari keberadaan mereka "
" Kenapa kau tidak memberitahukanku?setidaknya kau memperingatkan ku untuk tidak makan serakus itu " Lanjut Veln lagi.
" Aku sudah memperingatkan mu.. pelan-pelan V.. Kau saja yang tidak mendengarkan ku "
" Aku malu Ray.. Aku benar-benar merasa malu, sia-sia pertahanan ku untuk menahan agar tidak katro n ndeso begitu menginjakkan kaki dirumah mu kini ternodai dengan cara makan ku yang tidak ada elegan-elegannya "
" Tidak apa-apa, meskipun begitu kau masih tetap terlihat cantik. Hanya mata mu saja yang mungkin harus diperiksa karena tidak melihat orang yang sebesar dan segede mereka " Dengan senyum melebar Ray yang tersungging.
" Huft.." Veln menghembuskan nafas panjang " Pasti mereka berfikiran kau yang setampan, keren dan cool ini tidak beruntung karena mendapatkan perempuan seperti aku "
" Padahal tadi itu pengecualian.. Aku benar-benar masih merasa ngantuk namun sekaligus lapar, maka dari itu aku buru-buru menyelesaikan makan ku karena ingin segera melanjutkan tidur "
" Hemmm.. jadi aku tampan, keren dan Cool? " Ray mengembangkan senyumnya kembali. Kedua pipi Veln memerah menahan malu untuk kedua kalinya. Kali ini Veln memilih menangkubkan wajahnya diatas sofa diruang tv kamarnya berbeda dengan sewaktu berada diruang makan setelah menghabiskan makan malamnya dengan bar-bar ketika menyadari ada beberapa pelayan disana Veln lebih memilih menangkubkan wajahnya untuk menahan malu diatas meja makan.
Bersambung...
Author ucapin terimakasih yach buat para readernya yang sudah mau meluangkan waktunya untuk membaca novel pertama Ku.. jangan lupa tinggalkan like n comentnya.. Aku semangat loh tiap kali baca coment kalian,bikin Aku suka senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
Jaga kesehatan ya semuanya.. muach.