
¤ Sehari sebelum melakukan lamaran
Bibi yang terlihat sudah paro baya itu terlihat memasuki ruangan, tepatnya masuk menuju ruang makan yang diikuti Ray dibelakangnya.
Bi Ona rupanya habis membukakan pintu depan rumah, yang sebelumnya terdengar bunyi bel. Dan ternyata tamu yang berdiri tepat didepan teras rumah itu tak lain adalah Ray.
" Pagi Om Aldo, pagi tante Susan " Sapa Ray dengan mencium punggung telapak tangan mereka berdua.
" Pagi Ray, kamu sudah sarapan? " Om Aldo membalas ucapan selamat pagi dari Ray sembari melemparkan pertanyaan kepada Ray.
" Ayo Ray kita sarapan bersama.. mau tante ambilkan roti atau nasi? " Timpal tante Susan.
" Aku mau roti saja tante, biar aku ambil sendiri " Ray pun meraih sebuah piring.
" O ya, kalau om dan tante ada waktu aku mau ngobrol serius nih dan cukup rahasia. Aku mau minta tolong sama kalian " Sembari tangannya meletakkan dua potong roti sandwich diatas piring tadi. Om Aldo dan tante Susan yang sedari tadi pemperhatikan keponakannya kini saling beradu pandang merasa aneh terhadap keponakannya itu.
" Memangnya mau minta tolong apa sampai serius dan rahasia begitu? " Tante Susan kembali melekatkan pandangannya kearah Ray.
" Ray, apa kamu berbuat sesuatu? Apa kamu menghamili seorang perempuan dan hendak menyuruh Om kamu untuk menggugurkannya? " Asumsi tante Susan melebar kemana-mana.
" Benar Ray? " Om Aldo sedikit memelototkan matanya meminta penjelasan.
Om Aldo merupakan seorang spesialis dokter kandungan, dan karena profesinya itu yang membuat pikiran tante Susan ngawur. Karena tidak seperti biasanya yang tiba-tiba Ray meminta tolong dengan serius sampai bilang rahasia segala.
" Biarkan perempuan itu melahirkan anakmu Ray, setidaknya janin yang ada dalam kandungan perempuan yang kamu hamili itu adalah darah dagingmu dan juga mempunyai hak untuk hidup " Om Aldo malah memberikan petuah.
" No!!!. Bukan soal itu, aku tidak seburuk yang kalian pikirkan " Mendapat jawaban Ray, kini hati tante Susan dan Om Aldo menjadi tenang.
" Kalau begitu bagaimana kalau nanti siang saja kita mengobrol, karena pagi ini Om hendak melakukan operasi terlebih dahulu "
" Baiklah, aku akan sarapan dikamar Denis " Ray pun berlalu meninggalkan meja makan menuju kamar Denis dilantai dua. Sementara itu terlihat tante Susan mengintruksikan kepada Bi Ona untuk membawakan minuman untuk Ray, karena terlihat barusan Ray hanya membawa sepiring roti sandwich saja tanpa membawa minum.
○○○
" Heh, bangun " Sembari menggoyangkan bahu Denis.
" Pantas saja kau tidak mau menjadi dokter seperti Papamu, kau lebih memilih jadi wirausahawan karena kau begitu malas dan seenak sendiri " Denis hanya menggeliatksn tubuhnya, mengganti posisi tidurnya yang tadinya telungkup menjadi terlentang.
" Aku akan kekamar Danis, melihatmu seperti itu membuat ku tak berselera untuk sarapan " Ray hendak beranjak dari kamar Denis namun tertahan.
" Danis sedang tidak dirumah, semalam dia tidur dirumah temannya " Denis meladeni Ray dengan terpaksa, dengan posisi tubuhnya yang masih tiduran namun berusaha membuka matanya.
Danis merupakan adik dari Denis, usianya seumuran dengan Veln. Beda dikit dengan Denis dan Ray yang sekarang sudah berumur 25 tahun.
" Ada apa gerangan pagi-pagi datang kemari? mengganggu saja "
" Numpang sarapan " Ray mendudukan tubuhnya ditempat tidur, disamping Denis dan bersiap untuk sarapan.
" Ya ampun Presdir, memang hotelmu tidak menyediakan layanan breakfast? "
" Aku hanya sedang menekan pengeluaran hotel dan memperbanyak pemasukan " Ray mulai menggigit sandwichnya " Dengan numpang sarapan dirumahmu, setidaknya bisa menghemat nol koma sekian persen dari pengeluaran bulanan " Di akhiri dengan tawa bahagianya.
" Sial " Denis berdecak kesal.
" Kapan kau akan kembali ke Ibu kota? "
__ADS_1
" Setelah urusan ku selesai " Mereka pun akhirnya memutuskan untuk berbincang-bincang hingga siang hari.
○○○
Siang itu terasa begitu terik dan panas, Ray terlihat berdiri didepan jendela kamar Denis mengamati suasana luar. Denis meninggalkan Ray dikamarnya menuju Manja Coffe, karena Ray menolaknya saat diajak dengan dalih ingin beristirahat dan menumpang untuk rehat dikamarnya.
Tak lama berselang suara ketukan pintu dari kamar Denis terdengar, membuat Ray menengokkan kepalanya. Ternyata Bi Ona yang datang.
" Den bagus, ditunggu tuan Aldo dan Nyonya Susan diruang tengah "
" Baik, terimakasih Bi " Ray pun bergegas menuju ruang tengah yang diikuti Bi Ona dibelakangnya.
Disofa ruang tengah terlihat Om dan Tante Susan duduk menunggu Ray. Ray pun melemparkan senyumnya kearah mereka, sedangkan sorot mata mereka memperlihatkan beribu pertanyaan tentang keponakannya itu yang hendak mengajaknya mengobrol dengan serius dan rahasia itu.
" Om Aldo tidak mau istirahat dulu?pasti Om lelah sehabis melakukan operasi tadi pagi " Ray mendudukan tubuhnya diatas sofa samping tante Susan.
" Tidak masalah Ray, apalagi tadi pagi operasinya berjalan sangat lancar "
" Jangan khawatirkan Om Aldo, suamiku bahkan memiliki stamina yang setara dengan stamina mu sembari melemparkan senyum dan mengelus pundak suaminya yang duduk bersebelahan dengannya.
" Sekarang yang terpenting itu membahas tentang kamu, ayo Ray cepat katakan apa yang membuatmu mengumpulkan kami disini? " Tante Susan sudah tidak sabaran begitu penasarannya, sedangkan Ray hanya senyum-senyum kecil melihat antusias Tantenya.
" Aku hendak memberikan cucu untuk kalian berdua " Nada bicara Ray terdengar begitu jelas dan serius.
" Sudah aku duga, kau ini ya Ray " Tante Susan langsung beranjak dari duduknya dan hendak memukul Ray, namun diurungkannya karena tangan Suaminya sigap menarik lengan tante Susan meminta agar dia untuk kembali duduk ditempatnya, dan untuk tidak terbawa emosi.
"Jadi benar apa yang tante bilang tadi pagi, kamu menghamili seorang perempuankan? " Dengan nada geram tante Susan mencerca Ray dengan pertanyaan.
" Hahahaaa " Melihat Tante Susan yang emosinya meletup-letup malah membuat Ray tertawa bahagia.
Mungkin Tante Susan sudah memukuli Ray habis-habisan kalau Om Aldo tidak mencegahnya.
" Belum tumbuh om, justru Ray hendak meminta bantuan kepada kalian berdua untuk melamar seorang perempuan karena Ray hendak menanam saham dirahimnya untuk memberikan cucu untuk kalian " Ray terkekeh dengan ucapannya sendiri.
Mendengar perkataan Ray, akhirnya merekapun dapat bernafas dengan lega terutama tante Susan.
" Nenek sudah tau dengan rencanamu? " Sekarang tante Susan sudah bisa berbicara dengan tenang.
" Hem " Sembari menganggukkan kepalanya.
" Tapi karena gadisku berasal dari kota ini, jadi aku ingin kalian yang menguruskan segalanya "
Tanpa merasa keberatan om Aldo dan tante Susan pun menyetujui amanah yang diberikan keponakannya, mereka menggantikan peran kedua orang tua Ray yang sudah meninggal.
Ray pun dengan rinci dan jelas mengutarakan keinginannya menikahi Veln dalam dua minggu kedepan, dan menceritakan semua yang dia tau tentang perempuan yang hendak dinikahinya. Dan meminta om dan tantenya untuk merahasiakannya terhadap putranya, dengan alasan Denis takut mengacaukan rencanannya karena keusilannya dan sekaligus memberikan surprise terhadap Denis dan dalih agar supaya Denis pun segera mengikuti jejaknya untuk segera mengakhiri masa lajangnya.
○○○
¤Sehari setelah melakukan lamaran
Dengan tatapan curiga dari ujung kaki hingga kepala Veln mengamati laki-laki yang berdiri didepan pintu rumahnya, terlihat sekertaris Sam berada dibelakangnya.
Tuan muda Ray!!! kejutan apalagi yang dia bawa hari ini???
" Lama sekali kau membukakan pintu, kau sengaja ya? " Dengan nada sinis Ray memprotes.
__ADS_1
" Maaf, barusan aku habis dari toilet " Veln beralasan.
" Hallo sekertaris Sam " Veln menyapa sekertaris Sam yang membawa sebuket bunga dengan ramah yang dibalas dengan menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Sedangkan mata tajam Ray sibuk mengawasi ruang tamu yang berada dibelakang punggung Veln.
Ray menganggukkan kepalanya dan tersenyum persis seperti yang dilakukan sekertaris Sam kepada Veln, ketika mendapati Paman Rian yang berada didalam ruangan hendak mendekatinya.
" Selamat pagi Paman " Ray mencium punggung tangan Rian dengan sopan.
" Pagi Nak Ray " Paman Rian membalas sapaan selamat pagi Ray.
" Ayo silakan masuk Nak Ray, Nak persilahkan Nak Ray untuk masuk "
" Tidak usah Paman, terimakasih. Ray kesini sudah ada janji dengan keponakan Paman yang lucu ini " Agak sedikit senyum yang dibuat-buat.
" Kita mau nyekar kemakam orang tua Veln, mau meminta restu "
Tuan muda satu ini benar-benar luar biasa, hal-hal yang belum terfikirkan olehku bahkan sudah tercatat didaftar rencananya. Ayah Ibu maaf kan anakmu ini, yang hampir melupakan kalian karena saking terlalu pusingnya memikirkan pernikahan 50 juta ini.
Tanpa berlama-lama mereka bertiga pun berlalu menuju area pemakaman. Tak butuh waktu lama mereka pun sampai diatas pusara kedua orang tua Veln. Sebelumnya mereka berdoa dengan khusuk, mendoakan almarhumah kedua orang tua Veln. Lalu menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan mereka, yaitu meminta restu untuk pernikahan yang dua minggu lagi akan digelar.
Diperjalanan pulang Ray mendapati raut wajah Veln yang sedikit mendung, jari-jari tangannya reflek diselipkan kejari-jari tangan Veln dan menggenggamnya dengan erat membuat mereka berjalan dengan bergandengan.
Dia ini sungguh sangat pengertian sekali. Ayah Ibu kalian sudah tidak usah mengkhawatirkan aku lagi, karena sekarang sudah dipertemukan dengan orang yang tepat. Walaupun tidak begitu banyak mengenalnya tapi sepertinya tuan muda Ray ini orang yang baik, pengertian dan sempurna. Hanya satu kekurangannya yaitu tidak bisa ditebak gerak langkahnya.
" Aku tidak melihat nenek sihir dan putrinya?kemana mereka? " Suara Ray menyadarkan lamunan Veln.
" Maksudnya mbak Del dan Virina? mereka sedang pergi kepasar " Sembari melirikkan matanya kearah Ray.
" Boss, bisa-bisanya kau mengatai mereka nenek sihir "
" Kau tidak terima? rupanya benar darah memang lebih kental dari pada air " Melirik sinis kearah Veln.
" Kalau bukan nenek sihir lalu menurutmu nama apa yang cocok disematkan untuk manusia yang tega menjual perawan secantik kamu keorang yang sudah bangkotan?! " Ucapan Ray terdengar kesal.
" Untung aku menemukanmu, dan menyelamatkanmu dari pernikahan 50 juta itu "
" Bukankah untuk itu juga aku menikahimu, untuk 50 juta.. bukan, malah untuk uang 100 jutamu "
" Kau menyamakan aku dengan mereka semua? " Sembari Ray menghentikan langkahnya.
" Memang begitukan yang sebenarnya " Kata-kata Veln membuat Ray emosi, yang membuat sengaja dia mendorong Veln kebelakang hingga mensejajari posisi sekertaris Sam. Sementara Ray pergi meninggalkan Veln dengan langkah kesal.
Veln memberikan senyum kearah sekertaris Sam, yang sekarang berdiri tepat disamping kanannya.
" Sekertaris Sam, bagaimana kalian bisa tau rumahku? maksudku bagaimana kalian kemarin bisa sampai kealamat rumahku? "
" Kami punya mulut untuk bicara Nona. Tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh untuk bertindak " Mendengar jawaban sekertaris Sam membuat Veln merinding dan ingin segera meranjak meninggalkan sekertaris Sam. Namun dari arah depan terlihat Ray jalan berbalik kearahnya, membuat Veln reflek bersembunyi dibelakang sekertaris Sam.
Ray langsung menarik tangan Veln lalu melingkarkan lengannya kebahu Veln dan menuntunnya berjalan.
" Ganteng kuuuuu" Terdengar suara teriakan yang tidak asing ditelinga Veln. Virina!!!Rupanya karena dia sampai si tuan muda ini berbalik arah menghampiriku.
Virina hendak menggandeng sebelah tangan Ray, namun dicegat oleh sekertaris Sam.
" Maaf Nona, tuan muda tidak suka disentuh oleh sembarang orang " Virina tidak memperdulikan perkataan Sam, dia hendak memaksa ingin menggandeng lengan kanan Ray.
__ADS_1
" Kecuali kalau Nona sudah tidak sayang dengan anggota tubuh anda " Sontak ucapan sekertaris Sam membuat Veln terkejut, begitu juga Virina yang akhirnya sepanjang perjalanan pulang hanya bisa menatap ketampanan Ray, sama seperti yang lainnya.. ya seperti orang-orang yang berpapasan dengan mereka hanya bisa menikmati aura kesempurnaan Ray saja.
Bersambung..