
Kini alex dan keduanya sudah sampai di markas Miami, yang mana para anak buah di sana menyambut dengan hangat kedatangan mereka bertiga di sana.
Sedang kan kini di tempat kediaman santoso yang mana dion yang sedang, berusaha untuk melepaskan sang adik yang masih ada di tangan lawan.
"Dion ...!! ;kamu harus bisa menyelamatkan adik mu.....!! kalo tidak jangan harap kau akan aku akui sebagai anak sulung keluarga santoso....!!! " tekan tuan santoso pada dion .
"Pah jangan seperti itu, dia adalah anak kita juga, kau jangan selalu menyalahkan nya ....!! bukan ya selama ini dia selalu berusaha kamu juga tak usah selalu menakan ya seperti ini " ucap nyonya santoso mencoba menenangkan sangat suami yang sudah tersulit emosi.
"Tak usah sok meme belaku siapa juga yang mengakui mu sebagai ibu ku, jangan harap...! " bentak dion
"Dion......!!!! jaga ucapan mu bagai mana pun dia adalah ibu mu yang merawat mu selama ini.. ! "tuan santoso berkacak pinggang dengan tatapan bengis pada sangat anak.
" Bukanya benar, kalo bukan karena wanita ini mana mungkin ibu akan pergi, dan juga dimas tak akan pergi dari rumah kalian urus saja anak kalian sendiri tak usah menyusahkan ku, aku sudah tak peduli dengan harta santoso......!!!!! "dion bangkit dari duduknya dan pergi.
" Anak sialan, tak tau di untung...!!!! pergi saja kau dari sini dan jangan harap ada sepeser uang yang akan mengalir lagi ke rekening mu dari keluarga Santoso...!!! "balas tuan santoso dengan berteriak kepada dion yang sudah berlalu pergi.
" Pah sudah jangan seperti itu..? bagai mana pun ini memang salahku yang membuat mba tika pergi dari rumah dan dimas juga ikut pergi "ucapnya menenangkan sang suami.
" Sudah kah kau tak usah membelanya lagi, tak usah pedulikan lagi anak tak berbakti itu, sekarang kita cari cara bagai mana caranya menyelamatkan anak kita yang di sandara mafia itu "tuan santoso mulai meluluh dan memikirkan cara untuk menyelamatkan anak mereka.
" Iya pah, apa tidak sebaiknya kita meminta bantuan pada polisi saja agar membantu kita untuk menyelamatkan putra kita pah..?? "saran nyonya santoso pada sang suami.
" Tidak bisa karena mereka pastilah sudah bekerja sama dengan aparat kepolisian, dan aparat kepolisian di sini juga takut akan mafia, mana mungkin mereka akan mau membantu kita "ucap tuan santoso sembari memijat pelipisnya yang serasa berdenyut itu.
" Lalu apa yang harus kita lakukan pah, kasian anak kita di sana pah takutnya dia siksa atau di aniya ya pah..! "nyonya santoso sangat khawatir akan keadaan putranya.
" Diam lah mereka tak akan berani menyakiti wiliam, kamu tak usah menyudutkan ku, biarkan aku berpikir ...! "tuan santoso mulai kesal dengan rengek kan sang istri padanya.
Nyonya santoso terdiam saat setelah mendengar hentakan dari sang suami, dia mulai mengelap bulir bening yang mengalir di pipi nya tersebut.
Nyonya santoso melangkah pergi, meninggalkan ruangan tersebut dia berjalan gontai menuju ke arah kamarnya.
*********
__ADS_1
Sedangkan di tempat alex kini berada, iya sedang melihat-lihat keadaan markas tersebut yang masih dalam tahap renovasi karena sisa pertempuran waktu itu yang menekan sebagian markas.
"Apakah ada tahanan di sana? " tanya alex pada Bob dan bara.
Bara ya g tak tahu dia hanya diam dan melihat lurus kerah yang di tunjuk sang tuan muda.
"Ada tuan, di sana banyak tahanan yang queen, seperti narapidana tingkat atas tuan, dan juga musuh yang tertangkap, tapi semuanya tak pernah queen apa-apa kan hanya saja di tahan di sana " jelas Bob dengan tempat dan pertanyaan yang alex lontar akan barusan.
Alex hanya mengangguk paham dengan apa yang Bob jelaskan barusan, mereka melanjutkan lagi berkeliling. hingga tak terasa kini mereka sampai lagi di lorong penjara.
"Kalian kembali saja duluan aku akan melihat-lihat dulu di sini " perintah alex pada Bob dan bara untuk kembali terlebih dulu.
"Baik tuan, anda berhati-hati lah, kami pamit undur diri " ucap mereka berdua serentak, mereka pun undur diri dan meninggal kan alex sendiri di lorong penjara tersebut.
Alex dengan perlahan melangkah melihat dengan seksama para tahanan yang sedang terlelap tidur itu.
"Sepertinya nyaman sekali meraka hidup di sini.. " decit alex bergumam melihat keadan meraka yang santai dalam penjara.
Alex terus menelusuri semua lorong hingga iya sampai ke ujung lorong, dan melihat ke arah ruang yang berada di sebelah kanan nya, iya melihat orang yang cukup familiar baginya namun iya tak ingat dimana iya pernah bertemu dengan orang tersebut. Dengan perawakan dan dari baju yang dikenakan dia adalah seorang siswa SMA.
"Tuan anda sudah berkeliling nya, kalo sudah sebaiknya anda beristirahat, karena besok kita akan melanjutkan perjalanan ke st.Louis " ucap bara mengingatkan alex.
"Emh... untuk apa secepat itu, aku masih ada urusan di sini..! " ucap alex dengan nada dinginnya.
"Tapi tuan, dari pihak sekolah sudah mengirimkan pesan pada saya jika, tuan tak ada masuk sekolah salam dia hari ke depan Anda akan di keluarkan dari sana.. jika queen mengetahui ini, maka saya tak bisa berbuat apa pun untuk anda tuan " jelas bara pada alex agar segera kembali ke st. Louis.
"Emh baik lah, kita kembali besok aku akan beristirahat sejenak " ucap alex dengan rada kesal dengan ucapan bara yang selalu saja membawa sang kakak.
Bara pergi meninggalkan alex untuk beristirahat, iya kembali menghampiri Bob yang sedang memantau keadaan di sekitar markas di dalam rekaman cctv yang teripang di setiap penjuru markas.
"Apa ada masalah bob?? " tanya bara
"Tidak ada, hanya saja ada sedikit hal janggal, sepertinya tuan dion dia menyerah dalam pergerakan nya, tapi di sini keluarga santoso tak tinggal diam untuk terus berusaha mencari bantuan " jelas Bob sembari sekilas melihat ke arah bara dan kembali berfokus pada layar monitor.
__ADS_1
"Mungkin ini adalah sebuah ancang-ancang dari merak Bob sebaiknya kita jangan lengah, kita harus tetap waspada meski terlihat lawan sepertinya sudah menyerah" ucap bara memberi nasehat sembari iya juga menatap kearah monitor.
"Ya, yang kau katakan benar bara, kita harus waspada dengan pergerakan lawan meski mereka mencoba mundur " Mereka berdua saling berbincang dan mengamati suatu layar monitor tersebut.
"Oh iya Bob, kita mungkin tak bisa lama di sini nanti kita harus melanjutkan perjalanan ke st. Louis sesegera mungkin, karena dari pihak sekolah tuan harus segera masuk kalo tidak dia akan di keluarkan" ucapnya
"Emh baik lah aku akan menyelesaikan sedikit urusan di sini sebelum kita berangkat, apa kamu sudah memberi tahu tuan muda?? " tanya Bob akan keputusan bara tersebut.
"Sudah, dan tuan muda pun sudah setuju untuk segera kembali " jawab bara
"Emh.... bagus lah kalo seperti itu berati kita tak perlu lagi menggunakan paksaan " ucapnya dengan santai.
Alex tak istirahat dia hanya sibuk dengan aktifitas nya yang mengutak-atik komputernya di dalam kamar.
'Tok.... tok.... tok... '
Alex yang mendengar ada ketukan pintu dia bangkit dari kursinya, dan berjalan ke arah pintu untuk membuka pintu nya.
'Cklekkk'
"Ada apa?? " tanya nya pada orang yang ada di depan pintu.
"Tuan semua nya sudah siap, sekarang kita berangkat " Ajak bara yang ada di depan pintu.
"Emh ya sebentar lagi, ini sebentar lagi selesai kau tunggu saja di luar " jawabnya sembari menutup pintu.
Bara pergi keluar untuk menunggunya di pesawat.sedang kan Bob juga masih sibuk dengan pekerjaannya.
Waktu sudah berlalu cukup lama mereka berdua belum juga ada menyusul, untuk naik ke pesawat.
"Mereka kemana?? kok belum juga ada datang kesini?? " tanya bara dalam hati.
Mereka datang bersamaan ke dalam pesawat.
__ADS_1
"Tuan silahkan anda duluan saja saya masih ada yang harus di bicarakan dengan mereka sebentar " ujar Bob mempersilahkan terlebih dulu alex naik ke atas pesawat.
Bob berbicara dengan mereka seperti masalah yang sangat serius, dan tak lama iya pun ikut menyusul masuk ke pesawat dan tak lama pesawat pun lepas landas. Alex yang merasa lelah dia pun terlelap di dalam pesawat. begitu juga dengan Bob, hanya tinggal bara yang terjaga.