
Ghaisan dan Fina sedang pura-pura membaca di perpustakaan untuk menguping pembicaraan Nabila dan Bintang. Mereka merasa masih punya hutang untuk Skala walaupun Skala bilang hentikan saja misi ini.
"Eh, San, masih lama gak sih?" Fina sudah bosan karena bau khas kertas menyeruak disini.
"Gatau, mereka ngobrolnya yang gak penting." Ghaisan sungguh merasa waktunya terbuang.
"Sabar aja dulu..."
"Heleh."
"Bintang, gimana lo sama Aurel?"
Ghaisan mengode Fina, "Denger gak?"
"Ssst, ssst, jangan berisik," bisiknya tetap tenang.
"Baik, lo seneng kan?"
Lalu Nabila tertawa, "Seneng lah."
"Bil, lo gak bakal kalah, kalo lo bersyukur."
"*Kenapa? Lo nyesel sekarang?"
"Nggak juga." Bintang diam, tidak berdebat karena pasti akan kalah*.
Ghaisan menyuruh Fina untuk keluar dengan hati-hati. "Buru, keluar.
Fina mengangguk dan mengendap-endap keluar perpustakaan. Mereka berhasil menguping obrolan ambigu dari pasangan ter-aneh di sekolah.
"Harus lapor, Pak Skala, nih gue." Saat Fina hendak menggeser lockscreen ponselnya, ia terkejut tiba-tiba Aurel datang memegang ponselnya. "Uhh, ngagetin gue aja lo!"
Ghaisan menoleh, "Kenapa, Rel?"
Aurel sempat melirik layar ponsel Fina yang terdapat kontak Skala. "Aku gak jadi ujian kenaikan kelas. Lebih baik bareng kalian aja." Ia tersenyum tulus.
"Yahh, kok gak jadi?" Ghaisan yang menyesal.
"Gapapa. Oh iya, kalian sibuk gak hari ini?"
"Gak sih. Lo, San?" tanya Fina pada adiknya.
"Gue bukan orang kantoran," jawab Ghaisan.
Aurel melihat Nabila dan Bintang keluar juga dari perpustakaan. Ia melihat si kembar yang salah tingkah. "Kalian abis nguping ya?"
"Enggak lah, sori, kita berkelas," bela Fina.
Ghaisan setuju.
__ADS_1
"Kalo gak sibuk kalian mau anter aku gak?" Aurel mengedipkan matanya tiga kali seperti merayu.
Ghaisan mengelus rahangnya, "Kemana dulu?"
"Ke rumah Skala. Aku mau ajak Bintang sama Nabila juga."
"Ha? Dalam rangka apaan?" beo Fina.
"Kumpul biasa. Skala pulang cepet, karna kursi buat makan masih sisa lebih baik diisi biar rame."
Mereka ngangguk-ngangguk.
Aurel berbalik dan tersenyum. Rencana hampir berhasil.
***
dr. Alatas menemui Skala di kantornya karena ada hal yang ingin disampaikan perihal Aurel, lagi.
"Jadi gimana?" Alatas menegakkan punggungnya.
"Nanti malam mereka datang."
Alatas paham. "Kamu yang undang?"
"Bukan, saya cuma memanfaatkan situasi."
Aurel yang kebetulan mengajak Nabila dan Bintang ke rumah langsung diterima oleh Skala untuk mewawancarai mereka nanti. Ini adalah kesempatan emas untuk mengetahui semuanya.
Skala melempar pelan buku bersampul abu-abu bertuliskan Notes from Me.
"Punya siapa?" tanya Alatas lalu membuka lembar demi lembar buku itu.
Skala tersenyum. Buku itu tak sengaja ditemukan karena Aurel kabur dari rumahnya pagi-pagi. Kalian ingat?
Betul! Skala yang hendak keluar kamarnya tak sengaja melihat buku itu tergeletak di meja belajar. Jiwa bar-barnya bergejolak, ia pun membukanya dan menemukan sesuatu yang menakjubkan.
Alatas memandang Skala, "Bagus."
***
Gadis berambut sebahu warna coklat bersenandung riang karena nanti malam rumah Skala akan ramai oleh teman-temannya. Sepanjang koridor dari kantin ke kelas, ia sampai dipandang aneh karena senyam-senyum sendiri.
Merasa melewatkan sesuatu, Aurel mundur 3 langkah dan menoleh ke koridor sebelah kiri. "Shiren? Kenapa lagi dia?" Kedua kalinya ia melihat Shiren dibentak-bentak Nabila. Walaupun ada Bintang disampingnya, dia tetap diam seakan suasananya tenang.
Aurel mendekati mereka. "Nabila, kenapa lagi?" Ia melihat Shiren sebentar.
"Dia nabrak gue sampe bukunya jatoh! Mana buru-buru!" sahutnya kesal.
Aurel menatap Shiren, "Udah minta maaf?"
__ADS_1
"Udah tadi."
"Minta maaf lagi coba," pinta Aurel.
Shiren tidak sungkan mengulanginya, "Aku minta maaf, Kak Nabila."
Setelah itu Aurel melepas headset Bintang dengan kasar dan berganti menatap Nabila. "Shiren udah minta maaf kesekian kali. Kenapa malah dibentak juga?"
Bintang mengalungkan headsetnya yang tadi hampir jatuh ke lantai karena ditarik Aurel.
"Kamu juga. Udah dikasih telinga buat denger orang lain malah tuli," ketusnya.
"Bisa gak, sekarang berubah? Masalah bisa selesai karena kata maaf. Shiren minta maaf, harusnya kamu maafin trus ambil bukunya."
Shiren sontak memunguti buku yang jatuh ke lantai satu per satu.
"Siniin." Aurel menerima tumpukan buku dari Shiren. "aku yang bawa ke ruang guru."
Baru beberapa langkah pergi, Aurel kembali lagi. "Apa semua masalah bisa selesai pake kekuasaan, uang, atau... gengsi?"
Nabila melotot terkejut. Bintang berdehem sambil melirik pacarnya yaitu Nabila.
"Semua orang setiap hari berubah. Termasuk aku."
Shiren mengikuti Aurel yang hendak ke ruang guru untuk mengembalikan buku.
"Kamu gak takut sama dia?" Untungnya di UKS tidak ada orang, jadi mereka bisa mampir sebentar untuk bicara.
"Nggak."
"Dia gak akan ngelepasin orang-orang kayak aku. Makanya aku diem doang."
"Harusnya kamu lawan, pake kalimat aja. Dia tadi diem tuh."
Shiren tampak mengangguk. "Aku denger katanya ada yang pernah bunuh diri gara-gara mereka."
Aurel menatap langit-langit UKS, "Iya, ada. Tapi untungnya selamat."
"Kalo aku lemah, aku udah begitu kali ya." Shiren tertawa kecil.
Iya, aku lemah. Tapi itu dulu.
"Mungkin saat itu dia lemah. Tapi sekarang dia udah kuat karna banyak orang yang dukung dia."
"Kamu tau gak siapa namanya?"
"Aurel."
***
__ADS_1