
Alatas sudah mengobati kaki Juli yang bengkak sejak terbawa arus sungai. Ia memberi vitamin dan antibiotik lewat selang infus.
"Agak infeksi nih, Jul. Jangan kena air dulu, bisa tambah parah nanti." Alatas nampak mewanti-wanti kegiatan Juli.
"Kalo mandi gimana?"
Bara yang selesai mengganti cairan infus Juli menimpali, "Kakinya diangkat kek, atau jangan mandi dulu."
"Jorok," cetus Aurel.
"Cowok yang udah lahir ganteng, mau gak mandi seminggu juga tetep ganteng," balas Bara dengan kepedean tinggi.
"Jangan meracuni pikiran Juli. Dia cinta kebersihan," tegur Alatas. "Kakinya kamu angkat apa gimana sepintar-pintarnya kamu, yang penting jangan sampe basah banget. Soalnya kulit kamu udah kayak Ubi, Jul. Ungu-ungu terus lembek kalo dipegang."
"Maklum aja seharian Juli berendam di sungai," timpal Bara.
Aurel menoleh ke Ayahnya, "Makasih, Ayah."
"Ayah minta maaf buat kemarin," kata Alatas sembari menaruh kotak P3K di dalam lemari.
Juli membeo, "Kenapa?"
"Kepo!" sahut Bara.
"Iya gapapa," jawab Aurel. Toh, ia sudah lupakan perdebatan kemarin pagi. Kalau Juli tahu Aurel dan Alatas bertengkar karena dirinya, maka rasa percaya dirinya akan naik. Jadi lebih baik jangan diberitahu.
Setelah Alatas keluar, Bara mendekati Aurel, "Tadi subuh Skala kesini."
"Hah? Ngapain?"
"Lo kayak ketahuan selingkuh responnya. Hah? Ngapain?," ujar Juli menirukan suara Aurel diakhir kalimat.
"Dia kesini ya alasannya pasti mau ketemu kamu lah," jawab Bara.
"Subuh?" tanya Aurel sekali lagi.
"Iya, Rel. Aku mau ke Klinik."
"Terus siapa yang jaga rumah? Ibu kan lagi ke Pasar," ujar Aurel ngenes. Masalahnya, dia sudah janji dengan Juli untuk menjenguk Shiren.
Juli menaruh tangannya di atas tangan Aurel dan mengerjap pelan.
Aurel melotot, "Aku mau jenguk Shiren juga."
Tidak salah lagi. Bara mengerti dan mengizinkan mereka. "Yaudah. Ada Ayah di rumah. Begitu urusan kalian selesai, langsung pulang."
Aurel mengangguk, "Iya."
Mereka keluar bersama, namun Bara menurunkan mereka di Halte. "Hati-hati. Jul, bisa jaga Aurel, kan?"
Juli melihat kakinya yang masih bengkak, "Semampu gue, Bang."
"Denger kamu jawab gitu, Aurel pasti baik-baik aja." Bara menutup kaca mobilnya dan melaju ke Klinik.
Aurel menasihati Juli untuk berjalan hati-hati sampai di Rumah Sakit. Bahkan saat sampai di ruang isolasi Shiren, Juli tidak memberi kesempatan Aurel untuk masuk. Aurel memahami dan menunggu di luar.
Selagi Juli bicara di dalam, Aurel mendapat telepon dari Bintang.
"Rel. 3 jam lagi, Yuan mau dipindah ke Singapur. Lo dimana?"
"Aku lagi sama Juli. Yuan tambah parah?"
"Kata Nyokapnya, iya. Yuan nunggu lo dateng."
"Tapi aku masih nunggu Juli?"
"Menurut lo yang lebih penting siapa sekarang? Dia kan lagi sama Shiren."
"Mendadak?"
"Emaknya banyak duit, makanya bisa dadakan jadwal terbangnya."
"Aku izin sama Juli dulu ya."
"Lo udah kayak bininya pake izin segala."
"Tunggu sebentar.." Aurel membuka pintu dan bicara pada Juli, "Jul, aku mau ketemu Yuan. Dia mau pergi ke Singapur."
Juli menoleh, "Yuan? Kenapa mendadak?" Ia membantu Shiren berdiri. "Lo bisa kesana sendiri? Gue gak bisa tinggalin Shiren."
"Iya, aku bisa." Ia berjalan buru-buru ke RSUD tempat dimana Yuan dirawat sejak pekan lalu.
Telepon yang masih tersambung, Bintang langsung mencegah Aurel. "Tunggu disana, gue jemput sekarang."
"Gak ada waktu, Tang. Lebih baik kamu ngulur waktu disana supaya Yuan jangan pergi dulu," ujar Aurel cemas.
"Yuan mau ngomong sama lo," ujar Bintang diseberang sana.
Aurel berhenti di perempatan koridor Rumah Sakit walaupun banyak perawat dan pasien lalu lalang.
"Halo?"
"Ya, halo. Yuan?"
"Lo gak perlu kesini... gue... baik-baik aja..."
Mendengar suara lirih itu, air mata Aurel jatuh begitu saja.
"Kamu gak baik-baik aja."
"Lo bakal terlambat kalo kesini, Rel... jangan buang-buang tenaga..."
__ADS_1
"Aku bakal kesana sekarang." Saat Aurel hendak melangkah lagi, Yuan mencegahnya lewat suara.
"Jangan."
"Jangan pergi dulu... aku mohon..."
"Gue gak bisa ganggu lo lagi nanti. Jadiin itu kesempatan buat diri lo bahagia sama yang lain, Rel. Gue gak tau perasaan gue ke lo gimana, yang jelas, gue gak bisa liat lo sedih pas gue pergi tanpa pamit."
"Kamu—"
"Gue pamit, Rel."
"Kamu pamit ke aku?" isak Aurel.
"Iya. Sekaligus pamit karna banyak saingan."
Aurel masih terisak walaupun Yuan tertawa lemah disana.
"Makasih udah nunjukin cinta ke gue yang sebenernya, Rel. Lo pasti bangga kan dicintai orang kaya tujuh turunan kayak gue?"
Dia mengucapkan itu dengan bangga dan sedih.
"Terserah kamu. Nanti siapa yang hibur aku?"
"Ada Bintang."
"Dia kan udah punya pacar."
"Juli."
"Dia wajib hibur Shiren juga."
"Skala."
"Dia sering nyakitin Aku."
"Bara."
"Dia sibuk di Klinik."
"Kalo gitu, gue bakal hadir terus di mimpi lo."
"Kamu... bakal sembuh kan?"
"Terus buat orang lain bahagia, Rel. Tapi jangan lupa bahagiain diri sendiri dulu."
"Iya..."
"Lo selalu lupa yang terakhir."
"Aku selalu doain kamu."
"Begitu gue sembuh, lo harus kasih jawaban buat gue."
"Udah... lo ngobrol mulu, gue jadi kacang obralan." Suara sudah berganti jadi Bintang.
"Bintang. Kamu masih sama Yuan?"
"Iya. Dia mau OTW ke Bandara. Lo gak dibolehin kesini ya?"
"Aku... gak cukup kuat kesana."
"Lo masih disana?"
"Aku mau nyamperin Bara."
"Juli mana?"
Aurel mengakhiri panggilan sepihak. Ia tidak sanggup kehilangan sahabatnya dua kali setelah Juli. Walaupun Juli sudah kembali, rasa takutnya masih ada, ditambah Yuan pamit pergi.
...ΩΩΩ...
Skala sejak tadi menunggu Aurel di halaman rumah walaupun Alatas sudah menyuruh masuk. Ia lega begitu Aurel keluar dari taksi. Namun, ia khawatir karena wajah Aurel sembab.
Aurel melewati Skala begitu saja.
"Aurel.."
Gadis yang sedang hancur hatinya itu membalikkan badan dengan malas. "Apa?"
"Kamu udah tau kalo Yuan—"
Aurel langsung menyela ucapannya. "Udah. Kamu merasa bersalah karena gak ngasih tau aku?"
"Gimana aku mau kasih tau—"
"Kamu takut sama posisi kamu?" Aurel sama sekali tidak berpikir bisa menyingkirkan salah satu dari mereka di hatinya.
"Aku? Kamu akhir-akhir ini yang ngehindar dari aku, Rel. Gimana aku mau cerita?"
"Iya.. kamu gak salah. Aku yang salah," katanya dengan lugas.
"Gak begitu juga, Rel..."
Aurel menarik nafas. "Aku yang salah. Jadi, biarin aku memperbaiki semuanya."
Skala mencekal lengan Aurel. "Kamu mulai merasa bersalah karena Juli hilang, kan?"
Aurel menepisnya. "Iya. Itu karena Rumi, mantan kamu."
"Juli udah ada disini. Ngapain kamu masih merasa bersalah?"
__ADS_1
Aurel diam menatap mata Skala berkaca-kaca.
"Atau.. kamu merasa bersalah karena perasaannya?"
"Iya."
Alatas hadir ditengah-tengah mereka yang dilihat dari cara pandangnya saja menyeramkan.
"Berhenti jadi anak kecil!!"
Gertakan itu tak hanya membuat Aurel terkejut, namun Skala juga.
"Gak ada yang salah. Semua keputusan masing-masing."
Aurel langsung masuk rumah enggan mendengarkan Alatas. Kedua pria itu hanya bisa menghela nafas.
5 hari kemudian...
Setiap pukul 8 malam, Aurel selalu mengirim pesan lewat email untuk Yuan. Walaupun belum dibaca, setidaknya Aurel berusaha menghubungi pria itu karena pesan yang ia kirim lewat Whatsapp tak pernah dilihat.
To : yuan6718@gmail.com
Subject : Jaga kesehatan, ya...
Halo, Yuan. Aku mau denger cerita dari kamu. Disana pemandangannya bagus gak? Kalau bagus, ajak aku kesana ya kapan-kapan. Jangan jalan-jalan sendirian :( Kamu masih jadi mahasiswa di BU 2 lho, jadi.. cepat pulang dan bawa kabar baik buat kita semua. Jaga kesehatan ya, Yuan. Aku mau liat kamu sembuh dari sana.
^^^Send^^^
Walaupun belum ada balasan, Aurel rasa ini wajar karena mungkin disana Yuan sedang menjalani pengobatan intens.
"Rel. Makan dulu," suruh Bara di ambang pintu kamar adik tirinya.
Aurel mengangguk dan keluar kamar, "Kamu udah makan?"
"Nunggu kamu," singkatnya.
"Yaudah, ayo." Aurel berjalan lebih dulu.
Bara berdecak dan masuk kamar Aurel karena melihat layar laptop masih menyala. "Tiap jam segini pasti ngadep laptopppp mulu. Liat apaan sih?" Ia pun kepo menggeser kursor ke bawah. "Wahh, gak ada yang dibales satu pun?" gumamnya tak percaya. Tidak lama ada notifikasi pesan masuk dari akun gmail milik Yuan. "Akhirnya.." Saking senangnya, Bara meninju angin dan memanggil Aurel dari balkon depan kamar. "ADA PESAN MASUK DARI YUAN!"
BRUSSS
Air yang baru diminum Aurel tersembur begitu saja. Ia bergegas mengelap meja dan bertanya, "Serius?"
"IYA SERIUS!"
Aurel berlari ke atas dan masuk bersama Bara untuk melihat pesan.
"Geser dikit," pinta Bara sambil duduk di kursi pojok kamar.
"Mau baca juga?"
"Iya lah," cetus Bara.
From : yuan6718@gmail.com
Subject : -
Hai, Aurel-ku.
Baru membaca kalimat pertama, Bara mendecih, "Aurel-ku... dia siapa kamu emangnya?"
"Ssutt, fokus baca."
Maaf baru bisa bales pesan lo. Lo khawatirin gue banget ya? Pemandangan disini gak terlalu bagus karena gak ada lo. Jadi, lo harus tunggu gue balik kesana kalo mau jalan-jalan. Disini pengobatan gue lancar kok, bilang ke yang lain kalo gue baik-baik aja ya :) Doain gue supaya cepet pulih, gue kangen kalian.
Salam hangat,
Yuan, orang kaya tujuh turunan. hehe
Selesai membaca, Bara tidak merasa terharu layaknya Aurel.
"Liat. Lagi sakit aja dia pamer pake tambahan orang kaya tujuh turunan. Yang kaya kan orangtuanya, bukan dia."
Aurel terlampau senang sampai memeluk Bara yang disampingnya. "Akhirnya... dibales juga, ya ampun..!"
Bara merasa tercekik karena Aurel memeluk lehernya, "Mau bikin, Kakak, mati kamu?!"
"Enggak kok."
"Kamu pilih siapa diantara mereka bertiga, Rel?"
"Siapa?"
"Pasti Yuan, kan..?" selidik Bara.
"Milih apa? Emangnya pemilihan bupati."
"Astagfirullah, Aurel. Dari pertama kita ketemu, sampai detik ini kenapa kepekaan kamu rendah banget. Apa jangan-jangan kamu bukan manusia?"
"Ya Allah, Bara...! Kamu kok malah ngatain aku bukan manusia sih?!" Aurel memukul lengan Bara berkali-kali.
"Bercanda. Tapi... tetap kasih senyum begitu ke orang-orang. Biar semua orang tau, kamu orang paling bahagia di dunia."
"Aku keliatan bahagia?"
"Hem. Bahkan kamu lebih bahagia dari liat Skala, pas ketemu Juli, dan dapat pesan dari Yuan."
"Mungkin karena persahabatan lebih penting daripada cinta, Bar."
"Apa?"
__ADS_1
Bersambung...
Post ulang karna ada yang salah gais pas di tengah cerita... hadehh