SENJA TERLUKA

SENJA TERLUKA
Menuju "Bulan Angkasa"


__ADS_3

Aurel mencari file di lemari arsip milik Skala yang menjulang tinggi di sudut ruangan. Dia membuka satu per satu untuk arsip "BU2" yang artinya Bina University 2.


"Kamu rencananya di BU 1 atau 2, Rel?"


"1 lah."


"Kenapa gak disini aja, kan deket."


"Males, ada kamu."


"Lah? Bocah..."


"Lagian Dina juga gak berangkat-berangkat. Makin males."


Skala menopang dagunya dengan satu tangan, "Temenku yang mau kesini bener-bener ajib ilmu agamanya."


"Ya terus aku harus gimana?"


"Ya tolong pakaian kamu lebih tertutup kalau dia datang... gak enak diliat juga."


Aurel menggaruk kepalanya, "Iya sih.. Emang kapan kesininya?"


"Nanti malam sampai."


"Di rumah kamu?" Aurel menemukan arsipnya dan memberikan pada Skala.


Skala mengangguk sembari menerima dokumen, "Makasih ya."


"Sama-sama."


"50 Juta!"


"Ogah!"


Pria itu menepuk jidatnya sendiri lalu tertawa, "Bercanda." Setelah itu dia membuka lembar berkas berisi pengajuan ke dinas setempat untuk Kampus yang dia bangun. "oh iya. Kemarin aku sempet liat Alatas keluar dari komplek kamu. Kamu ngundang dia?"


Aurel ragu kalau ditanya begitu. Dia kan bisa setengah hari ada di sekolah hanya untuk membaca buku dan mengerjakan soal. Jadi, tidak tahu jelas. "Jam berapa?"


"Sekitar jam sebelas siang."


"Ngapain jam sebelas ke rumah? Aku kan kemarin pulang sore sama Fina, ngerjain soal." Dia bingung sendiri. "coba nanti aku tanya Ibu."


"Rencananya di BU mau aku bikin kolam renang. Biayanya mungkin 30 juta kali ya?"


Aurel tertawa ngakak, "Kamu kira kolam ikan!" sahutnya rada kesal. "bikin kolam renang minimal 70 juta, Skala Ganteng tapi boong."


Skala manggut-manggut sesekali terkekeh, "Iya, soalnya kan buat ini olahraga juga. Tapi mau aku pagar, biar gak ada yang ngintip."


"Dibatasin pakai tembok aja yang awet."


"Iya ya. Rencana itu belakang BU mau buat rumah lagi, yang sekarang mau dijual aja."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Ya karena banyak yang mau rumah itu."


"Loh kok gitu?"


"Kan ada lift, ada perpusnya, ada ruang rahasia juga."


"Kamu aja dari kemarin aku minta tolong bikinin perpustakaan, mana? Gak dibikin-bikin."


"Lah aku kira udah bikin."


"Belum lah. Baru aku pesen rak kayu sama bukunya ngambil dari kamu."


"Kamar kamu kan luas ya. Atapnya kan masih tinggi lagi, nah kamu renovasi aja bikin tingkat. Yang atas buat perpus."


"Emang bisa?"


"Bisa kalo niat. Lagian uangnya daripada gak kepake mending digunain."


"Iya sih..."


Mereka spontan menoleh ke pintu yang terbuka. Aurel berdiri dan menghampiri mereka. Begitu mengejutkan karena Ranu dan Bara ke kantor Skala.


"Halo, Ranu....!" sapa Aurel dengan ceria.


Ranu menyalami Aurel dan Skala. "Hai, Kak...! Kangen aku gak?"


"Ranu sehat, Kak."


Skala mengajak Bara bicara masalah pengajar di Bina University 2.


"Gimana, Bara? Kira-kira bisa gak?"


"Gak bisa, Pak. Dokter Alatas bilang, lebih baik saya urus klinik sendiri supaya tau hasilnya baik apa nggak," kata Bara formal.


"Yaudah gapapa," jawab Bara. Itu artinya dia ada PR mencari Dokter kompeten untuk mengajar di Kampusnya. "padahal tangan kamu terampil banget."


Ranu mendongak melihat Ayahnya, "Ayah, ayo pulang. Katanya mau ke Ragunan? Ayo!"


"Sebentar.. kan baru sampai sini, belum duduk juga, masa mau langsung pergi? Gak sopan, Ranu." Bara menasehati bocahnya yang buru-buru.


"Ranu mau liat apa sih? Disana kan bau kotoran binatang," ujar Aurel.


"Kata Ayah ada dinosaurusnya."


Aurel dan Skala tergelak.


"Hahaha, Ranu, mau aja kamu ditipu Ayah kamu. Dinosaurus itu udah punah. Kalo sekarang adanya DINA-SAURUS!" sahut Skala kembali tergelak.


Aurel memukul lengan Skala, "Jangan gitu. Aku ngakak. Bara, kamu ngajarin Ranu yang bener dong, kalo nanti dia disana beneran minta dinosaurus gimana?"

__ADS_1


"Iya, lagipula kan gak ada," sambar Skala.


"Ayah bohong. Dosa tau!" sungut Ranu sambil menyilangkan tangan di dada dan membuang muka.


"Ya lagian anak kecil bawel amat," ujar Bara geleng-geleng kepala.


"Bukan aku yang bawel, tapi Ayah terlalu cuek!" cetus Ranu yang lagi-lagi membuat Skala dan Aurel tergelak.


Kalau detik itu juga Aurel bisa bicara disela-sela tawanya, maka dia akan bicara, IYA BETUL! AYAHMU KELEWAT CUEK!


"Kak Aurel mau ikut gak?" tawar Ranu menggiurkan.


Aurel sih mau saja diajak ke Ragunan, tapi sudah ada janji untuk bertemu calon pengajar di Bina University 2 nanti sore, Aurel menolak tawaran Ranu. "Maaf ya, kapan-kapan nanti Kakak ikut kamu sama Ayah Bara. Kalau sekarang ada janji sama Om Skala."


"Berhenti panggil Om..." ancam Skala geram.


Aurel terkikik dan meralat ucapannya, "Ayah Skala, maksudnya."


Jadi Skala dan Bara dipanggil Ayah. Alatas dipanggil Papa. Perbedaannya begitu saja.


Skala dengan pede menunjuk dirinya sendiri saat Ranu memicing ke arahnya. "Biasanya ada Mas Juli?"


Ingin sekali mereka tertawa. Tapi terlalu banyak tertawa bisa mati mendadak. Jadi mereka terkekeh pelan sebagai respon atas panggilan Ranu ke Juli.


"Juli lagi ngurus bukunya di atas," jawab Skala santai.


"Yaudah, keburu siang juga. Ayo, Nu, berangkat sekarang aja." Bara menggendong Ranu di punggungnya.


"Ayo! Dadah Ayah Skala! Dadah Kak Aurel yang cantik!" Bara melambaikan tangannya sebelum keluar dari ruangan Skala.


Aurel tersenyum, "Aku emang cantik."


Skala yang mendengarnya hendak muntah, "Di mata anak kecil mungkin kamu cantik."


"Iri bilang ya."


"Aku gak cantik dan gak iri."


"Lah terus?"


"Terus nabrak!"


"Untung gak amnesia."


"Itu kamu."


"Enak aja."


*


Dah dulu ya😂😂

__ADS_1


besok banyak kejutan. ok?


__ADS_2