SENJA TERLUKA

SENJA TERLUKA
Bisa apa?


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 13.00, Aurel melihat Skala sibuk menandatangani berkas-berkas yang berhubungan dengan kantornya. Beginilah pekerjaannya, HANYA menunggu. Tidak heran kalau kawan-kawannya bingung kenapa gaji Aurel per bulan bisa 80-100 juta. Padahal ya begini, membosankan kalau boleh jujur.


"Tidur aja kalo ngantuk."


Aurel mengatupkan mulutnya yang hendak menguap. "Yaudah, tapi gak usah digaji."


"Ya tetep lah."


"Apaan," ujar Aurel datar. "Dah lah. Aku pulang aja, mau ke Ghaisan sama Fina."


"Ngapain?"


"Hangout lah."


"Gayamu hangout," cibir Skala.


"Iri bilang boss!" sahutnya agak kesal walaupun hendak tertawa.


Tapi justru Skala yang tertawa. Dia memutar kursinya dan menunjuk Aurel, "Jangan gitu ah."


Aurel lantas tertawa juga, "Lagian beneran hangout malah dibilang gaya."


"Yang katanya mau ndaki gunung jadi gak?" tanya Skala teringat chat di grup beberapa pekan lalu.


"Jadi, kata Juli, pas libur kelulusan."


"Waduh, gimana ya? Aku juga harus rekrut pegawai..." Skala kembali menghadap laptopnya dan mencari file di data flashdisk. "Rel, kamu nanti kuliah disini kan? Sekalian nanti jadi sekretaris aja ya pas ada interview."


Enak banget kalau ngomong, itulah Skala. Memangnya dia pikir, dia ini anak sultan yang lulus SMA bisa diterima HRD jadi sekretaris? Kalau pun bisa, pasti di mimpi.


"Gak ah. Males."


"Gak mau?"


"Gak. Kerjaannya liatin kamu doang sampe mataku bengkak!" sahut Aurel bercanda.


"Ya nanti kalo jadi sekretaris ya ada tugasnya."

__ADS_1


"Gaji?"


"Sesuai prosedur kantor."


Mata Aurel berbinar. Dia memimpikan bekerja di kantor dengan gaji sepadan dengan pegawai biasa. "Serius?"


Skala menarik nafas, "Gak sih." Dia menghembuskan nafas pelan, "aku suka banget ngasih bonus ke karyawan. Apalagi kamu."


Sudah Aurel duga. Orang seperti Skala tidak akan membiarkannya bekerja dengan gaji normal, atau disebut tidak normal. Harusnya gaji Aurel bisa 5-7 Juta, tapi karena Skala, Aurel harus menerima uang senilai puluhan juta seperti orang yang bekerja dibidang IT.


"Ya males kalo gitu mah."


Skala terkekeh sambil menggelengkan kepala. Dia suka sekali membuat Aurel swing mood.


"Yaudah sana, katanya mau ke kembar..."


Aurel menaruh ponselnya di tas, "Ini mau otw."


"Hati-hati. Gak sekalian nunggu Juli?"


"Iya, lagi bagi royalti. Ini kan udah bulan ke-2 novel RELA rilis."


"Pasti banyak tuh," gumam Aurel. Bagaimana bisa tidak laku? Wong yang nulis, penulis gaul, bukunya sering mampir di penerbit swasta, dan sekarang masuk gramedia. Ditambah lagi penerbitnya memang terkenal dan tidak mengecewakan. Ya sukses karir Juli sebagai penulis novel dengan ending yang terkesan.


"Iya, lumayan. Bisa beli motor ninja."


"Serius?"


"Iya, emang."


"Kamu gak takut rugi, dapet bagian 60%?"


"Kerja, semakin banyak berbagi, semakin berkah. Semakin lancar juga bisnisnya."


Aurel mengangguk setuju, "Betul, tapi sayangnya gak semua orang punya kesadaran kayak kamu."


"Udah cocok kan jadi imam rumah tangga?"

__ADS_1


"Aku pamit ya, Skala." Daripada tambah panjang bahas yang tidak penting, lebih baik dia yang meninggalkan kantor supaya obrolan teralihkan.


"Yaudah, hati-hati." Skala tersenyum setelah Aurel menutup pintu ruang kerjanya. Dia berjalan dengan riang sambil bersenandung. Sadar sudah melewati Juli yang sedang bicara dengan wakil direktur disini, Aurel kembali mundur.


"Saya pamit pulang," ujar Juli sambil menunduk sopan.


"Iya, hati-hati. Terima kasih ya."


"Terima kasih kembali."


Setelah Pak Wakil Direktur pergi, Aurel menghampiri Juli dan mendorong bahu kanannya sampai hampir terjungkal ke depan saking terkejutnya.


"Cie.. dapet gaji nih."


"Astagfirullah." Juli mengelus dadanya berniat menambah kesabaran. "bisa, biasa aja gak?"


"Gak bisa."


"Lo gak berniat nikah aja gitu sama Skala?" Juli dan Aurel berjalan beriringan. "gue yakin sih enggak."


Aurel nampak diam, lalu menjawab, "Rahasia."


Juli mengangguk, "Yaudah lah bukan urusan gue juga."


"Gak penting dibahas juga sih," kata Aurel.


"Penting, siapa tau gue bisa."


"Bisa apa?" Aurel tidak paham rupanya.


"Bisa lo undang ntar."


***


Ada yang naruh curiga ke Juli?


😀☝

__ADS_1


__ADS_2