SENJA TERLUKA

SENJA TERLUKA
Angin,


__ADS_3

"Rencana... Ibu mau menikah lagi."


"Sama?"


"Dokter kamu."


Itu adalah mimpi terburuk Aurel. Ia harus kembali ke alam sadarnya untuk menjawab pertanyaan Alya. Ya, dia harus sadar karena ini bukan mimpi.


"Dokter Alatas?"


Alya mengangguk. Sekarang datang lagi masalah yang mengaduk situasi hatinya.


"Ibu gak sayang sama Bapak?"


Alya terkejut dengan pertanyaan anaknya. "Bukan begitu juga, Aurel. Ibu sama Bapak kan wes cerai..."


"Bu. Apapun kenyataannya, Bapak tetap orangtua kandung Aurel. Aurel gak mau punya Ayah tiri. Apalagi Dokter Alatas." Ogah juga punya kakak tiri kayak Bara, batinnya melanjutkan.


"Aurel. Kami sudah bicara dari jauh-jauh hari."


"Ibu minta persetujuan aku kan? Jawaban aku, gak setuju."


"Aurel, Ibu gak ngerti lagi harus izin gimana sama kamu. Dokter Alatas itu lebih baik dari Bapakmu. Dia bisa menata masa depan kamu, iso nggawe awakmu bahagia toh.."


"Bu. Aurel sering bilang kan, satu kebaikan akan menang walaupun orang itu punya seribu kesalahan. Bukan sebaliknya."


"Nduk, Ibu cuma pingin kamu bahagia.. kamu butuh seorang Bapak..." Alya menunduk menahan air matanya. Walaupun Aurel tidak mengeluh selama ini, Alya tahu bahwa putrinya merindukan sosok Bapak untuk membimbing dan memberi semangat untuknya. Sudah saatnya juga, Alya melupakan Damar dan ia rasa Alatas cocok menjadi Bapak Aurel.


"Ibu aja udah buat Aurel bahagia.. cukup Ibu disamping Aurel." Aurel tidak bisa menahan air matanya. Ia emosional dan tidak bisa meninggikan nadanya jika bicara dengan Alya.


"Assalamu'alaikum." Dari pintu depan terlihat Bara datang bersama Alatas dengan raut terkejut.


"Wa'alaikumsalam," jawab Alya sambil menoleh.


Aurel menjawab salam dalam hati lalu bicara pada Alya, "Jangan pernah, Bu. Aku gak mau." Ia melewati dua pria yang merasa tidak enak menjadi penyebab masalah ini.


Bara menunduk sebentar lalu minta izin untuk mengejar Aurel, takut-takut terjadi hal yang tidak diinginkan. Alatas dan Alya setuju.

__ADS_1


Aurel berbalik membuat Bara mengerem langkahnya, "Ngapain ngikut?!" sahutnya marah.


Bara melihat ke atas, "Ini... kok daunnya pada jatuh ya? Padahal di Indonesia kan gak ada musim gugur."


Aurel menghela nafas, "Kamu setuju, Bara?"


Bara ikut pasrah dan menghampiri Aurel, "Awalnya nggak." Mereka duduk di trotoar dengan jarak. "Tapi karena mereka udah kenal lama... terus juga saling membutuhkan, kenapa enggak?"


Aurel rasanya tidak terima kalau Damar sampai tahu Alya menikah lagi. Walaupun mereka sudah cerai, Aurel masih berharap Damar menjadi baik saat keluar jeruji.


"Cuma kamu, Rel, yang punya prinsip aneh begitu." Bara tertawa meremehkan. Zaman sekarang masih ada gadis yang berpikirnya sangat tulus seperti Aurel.


Wajah Aurel tetap datar. "Kalo mereka nikah. Aku ikut Bapak... Gimana?


Bara menoleh terkejut.


*


Skala yang diceritakan kronologis masalahnya oleh Bara juga terkejut. "Songong banget mau ikut Bapaknya. Dia mau mati muda? Dia dengan gaya cool-nya duduk di atas meja dengan satu kaki naik di kursi.


Bara duduk lantai sambil makan kacang kulit. "Mungkin." Secara gadis itu punya prinsip 'satu kebaikan mengalahkan seribu keburukan'.


"Bukan gak waras," sela Bara. "Dia berbakti sama orangtuanya." Selesai makan kacang dan membuang kulitnya di tempat sampah, dia berdiri lalu mengambil sapu.


"Ngapain?" tanya Skala.


"Nyapu lah!"


"Terus ngapain gue nyewa OB disini, Bar-bar?"


"Gue yang makan, kenapa OB yang sapu?" tanya Bara sinis. Tangan kanan ia gunakan menyapu lantai, sedangkan tangan kirinya memegang pengki.


Skala berpikir ke masalah lain. Ini tidak bisa dibiarkan. "Gini aja, nanti gue ke Bapaknya Aurel."


"Ngapain?" tanya Bara sambil menaruh sapu di ujung ruangan.


"Dia setuju gak kalo Bu Alya nikah lagi. Kalo dia setuju, Aurel pasti setuju."

__ADS_1


"Kalo gak?"


Skala hendak melempar agendanya ke arah Bara namun tidak jadi. "Optimis!"


"Iya-in." Bara ikut keputusan Alatas. Toh dia yang ingin menikah lagi, dia tidak mau ikut campur terlalu dalam karena takut tidak sesuai harapan seperti dulu. Rumah tangga Alatas berantakan karena perbedaan pendapat. Mungkin sudah saatnya ia pegang prinsip Aurel. Itupun kalau gak lupa.


Dari luar ada Juli yang mengetuk pintu.


"Masuk aja!" sahut Skala.


Juli masuk dengan kikuk karena tidak tahu ada Bara disana. Apalagi melihat Skala —Pak Bos-nya berwajah suntuk dengan rambut sembrawut sedang duduk di atas meja.


"Maaf, Pak. Saya mau nyerahin naskah doang. Permisi, maaf ganggu." daripada gue diinterogasi macan jantan, mending kabur. Lanjutnya dalam hati sambil balik badan.


"Jul, kamu gak liat saya lagi apa?" tanya Skala menatap datar ke arahnya.


Juli tidak jadi balik badan, "Kenapa, Pak?"


"Kamu, gak, liat, saya, lagi, apa?"


"Duduk santai kek di warteg," jawab Juli diselingi lelucon.


"Tuh tau, ngapain naruh naskah?"


Juli menatap naskahnya yang ada di pegang Skala. "Loh? Kan Bapak bilang hari ini tenggang waktu penyerahan."


Bola mata Skala keatas menandakan ia sedang mengingat-ingat, "Oh iya ya."


"Maklum... dah tua kagak nikah-nikah." Batin Juli lagi.


Bara duduk sambil mengetuk pulpen di meja, "Jul, kamu suka ngehalu ya?"


Juli mengangkat dagunya, "Ha?"


"Halu kamu bermanfaat ya. Bisa jadi uang," ujar Bara sambil tersenyum. "terusin halu kamu. Jadi jutawan entar."


Juli nyengir, "Aamiin, Ya Allah!" teriaknya semangat. "saya gak halu, saya itu dapat inspirasi dari drama manteman."

__ADS_1


Skala mencebik, "Iya, tanpa ijin lagi."


Mereka tertawa.


__ADS_2