
Juli manusia biasa. Dia bisa baik, cuek, marah, dan sedih layaknya orang lain. Mood-nya bisa berubah kapan saja tergantung pada siapa dia bicara. Aurel lega, Juli sudah memperbaiki hubungannya dengan Shiren. Tapi dia juga pusing memikirkan Ujian yang beruntun mulai bulan kemarin. Dia akan kuliah bersama mereka. Ya karena sudah bilang hehe.
Alatas yang duduk di sebelah Aurel hanya menunduk dan tersenyum melihat Aurel berkaca-kaca. Bukan sedih, dia terlihat sangat bahagia melihat Juli dan Shiren sedang tertawa bersama.
"Nanti saya izin pamit."
Aurel menoleh, "Ke siapa?"
"Kamu."
"Dokter mau kemana?" tanya Aurel.
"Libur jadi Dokter. Kan udah ada Bara yang ngurus Klinik."
"Tapi janji jangan berhenti jadi teman aku ya?" Aurel mengangkat jari kelingkingnya supaya Alatas berjanji.
Alatas mengaitkan kelingkingnya, "Janji."
"Sampai kapan janjinya?"
"Kapan pun."
Aurel tersenyum. "Berarti Dokter mau ke rumah Bara?"
"Nggak."
"Terus kemana?"
"Tetap disini. Cuma libur jadi Dokter aja."
Aurel teringat ucapan Bara.
"Ayah sempat hampir mengundurkan diri karena merasa gagal. Kamu koma cukup panjang, lalu sadar tapi amnesia. Itu kayak udah jatuh, baru diulurkan tangan, tapi jatuh lagi."
Wajah Alatas memang menyejukkan bagi Aurel. Berbeda dengan Bara, melihatnya saja sudah naik darah.
"Dokter Alatas gak pernah gagal ngerawat aku."
"Kamu salah, Aurel. Saya gagal jadi dokter untuk kamu dan Ayah untuk Bara."
Kalau berhubungan dengan Bara, Aurel hanya bisa diam.
"Bara melukai dirinya sendiri karena saya gagal jadi orangtua. Jadi saya gak mau menyakiti banyak orang lagi."
__ADS_1
Aurel menatap Alatas intens.
"Jangan tatap saya begitu," ujar Alatas risih.
"Harusnya Dokter semangat dong buat memperbaiki kekurangannya. Jangan putus asa! Dulu pas aku bangun disemangatin terus biar sembuh. Sekarang aku ya yang nyemangatin Dokter?" Aurel menangkupkan kedua tangannya di depan Alatas.
Alatas meraih tangan itu lalu menurunkannya, "Gagal deh usaha saya buat libur jadi Dokter. Kamunya gini sih, gak sedih."
Aurel tersenyum, "Bener ya gak jadi?"
"Gak janji."
"Oh iya, tadi janjinya cuma jadi teman." Aurel menggaruk kepalanya, pusing.
Shiren dan Juli menghampiri mereka sambil ketawa-ketiwi.
"Ini gak ada benih cinta diantara kalian kan?" tanya Aurel meledek.
Juli berjongkok di depan Aurel untuk mengambil air minum di tas gadis itu, "Gak lah."
Shiren mendorong Juli yang sedang minum sampai terjatuh di rumput, "Juli, jelek!"
"Ku menangisssss..."
"Sejak kapan kamu jadi korban sinetron, Jul?" tanya Aurel setelah berhenti tertawa.
"Sejak gak mau kehilangan lo," jawab Juli sambil menutup botol mineral.
"Dih, bucin." Shiren memeragakan ekspresi mau muntah.
"Lo lama-lama ngeselin juga ya." Juli berdiri dan memiting leher Shiren.
"Bau ketek sumpah!" maki Shiren bercanda.
"Enak aja. Gue gini-gini mandi empat kali sehari." Juli melepaskan pitingannya lalu berkata sombong.
"Ya pantes tagihan listrik nambah," tawa Shiren.
Lelah juga. Shiren duduk di bawah Alatas yang duduk di sebelah Aurel.
"Capek ya ternyata." Shiren mengibaskan tangannya di samping wajah.
"Besok lagi kalau ketemu saya jangan jadi pasien ya," ujar Alatas memperingati Aurel dan Shiren.
__ADS_1
Yang kesindir hanya cengengesan tanpa rasa bersalah.
"Haha hehe," ledek Juli. "asisten dokter aja bosen, lagi-lagi nama Aurelani yang riwayat dirawat."
Alatas setuju, "Saya juga bosen."
"Tuh kan, Dokter Senior aja setuju sama gue."
"Jantan gaada akhlak," gumam Shiren
*
Skala memutar kursinya saat Gemintang masuk ke ruang kerjanya. "Kamu kapan ke Barcelona? Lama banget." Maksudnya Skala, dia bosan lihat Gemintang wira-wiri di Kantor dan ditambah ada Sadira. Eneg aja gitu.
"Sadira lagi urus paspor, Kak."
"Dia mah kirim aja lewat getek, ilegal juga gak ada yang mau nangkap," cetus Skala.
"Jangan maki Sadira, Kak.."
"Hem. Mau apa kesini?"
"Katanya, teman Kakak yang sebelumnya ikut interview kan lolos seleksi. Nah minggu depan mau kesini,"
"Iya gapapa. Disini kan udah buka pendaftaran MABA, jadi gapapa sambil nunggu ajaran tahun baru."
"Oh iya."
"Namanya Angkasa kan?"
"Iya betul."
"Iya. Dia jebolan Pesantren. Disini kan nanti ada Jurusan Pendidikan Agama Islam, jadi butuh dosen yang pengalaman."
"Bagus deh."
*
**Yuhuuu, bakal ada Bulan dan Angkasa di part selanjutnyaaa.
JANGAN LUPA BACA "BULAN ANGKASA" YA ! ITU NOVEL KEDUA DI @KHARISMAP
Kalo lupa nanti aku suruh Bara yang ngingetin kalianš£**
__ADS_1