SENJA TERLUKA

SENJA TERLUKA
Berita Mencekam [REVISI]


__ADS_3

"Berita terkini. Kasus pembunuhan di Komplek Argo Kemangi yang masih menjadi misteri, kini warga digegerkan dengan penemuan mayat perempuan paruh baya di dekat pohon. Pihak polisi mengatakan sudah melacak pelaku dan bertanya kepada para saksi mengenai identitas korban."


Alatas mematikan televisi, "Kenapa genre-nya berubah jadi thriller..?"


Bara yang duduk di sebelah Ayahnya langsung jawab, "Bosen ketawa mulu. Kali-kali baca cerita tegang."


Aurel lewat di belakang mereka, "Berita apaan sih? Kok dimatiin?"


"Pembunuhan di Komplek sebelah. Masa kamu gak tau," ujar Alatas. "Sekarang waktu main dikurangi jadi jam 7. Kamu PMM gak usah lama-lama di Kampus."


Aurel menolak, "Mana bisa.. UTS sebentar lagi."


"PMM kan bisa di rumah, Rel." Bara memberi nasihat.


Aurel mendesah, "Iya.... misi, Kak." Ia menyuruh Bara geser karena mau duduk di tengah. "Shiren sama Juli mau ke Jakarta, lho."


Alatas mengeryit, "Perasaan belum liburan semester."


"Mereka bilang liburan musim panas."


Bara mendesah, "Disana panas, disini lebih panas."


"Untuk saat ini kalian harus saling jaga kalo pulang malam... jangan kebanyakan bercanda, sekarang musim pembunuhan."


Alatas dilirik kedua anaknya. "Kenapa? Ayah ngomong serius, lho, ini."


Aurel menjawab, "Ayah, pembunuhnya ngincer Komplek sebelah. Jangan khawatir, Bara sama Skala bisa silat kok."


Bara mendecak kesal, "Jangan bandingin aku sama Skala."


"Iya, nggak."


...ΩΩΩ...


Tibalah hari dimana Juli dan Shiren datang ke Jakarta.


"Pak, saya berhenti disini." Shiren mendapati Juli yang bingung disebelahnya.


"Lo mau kemana, Ren?" tanya Juli setelah Shiren keluar dari taksi.


"Ada hal penting yang harus aku bicarain ke Aurel. Kamu ke rumah dulu, gapapa kan?"


"Koper lo?" tanya Juli.


"Aku mau nginap sekalian di rumahnya."


"Oh iya udah. Take care, ya."


Shiren mengangguk lantas melambaikan tangan begitu taksi yang ditumpangi sepupunya pergi. Ia berjalan masuk komplek perumahan Aurel seorang diri karena sudah malam, jarang ada warga yang keluar. Ia tadi juga merunduk melewati portal komplek yang sudah ditutup.


Ia menghubungi Aurel untuk memastikan dia belum tidur.


"Halo, Rel."


"Shiren? Woahh, kamu udah di Jakarta? Di Bandara ya? Aku sama Bara mau jemput kamu."


Shiren tertawa kecil mendengar antusiasnya. "Gak perlu, Rel. Aku lagi jalan di komplek, tinggal belok kanan sampe rumah kamu."


"Apa?"


"Kenapa, Rel?"


"Kamu lari ke rumah aku sekarang!"


"Ada ap- Mmphh!"


PRAK!


Ponsel Shiren terjatuh di tempat.


[3 Jam Sebelum Shiren Datang]


Komplek Argo Sentosa diperingatkan oleh Ketua RT setempat bahwasannya ada warga yang melihat orang seperti buronan kasus pembunuhan di Argo Kemangi.


Mereka memerintah seluruh warga menutup pintu dan portal setiap gang agar tidak ada kendaraan masuk tanpa izin Ketua RT setempat.

__ADS_1


Sontak Alatas geger, menyuruh Bara menjemput Aurel yang sedang PMM di Kampus. RT setempat mengizinkan Bara keluar masuk karena sudah kenal dengan keluarga mereka, setelah itu portal ditutup lagi.


Aurel mengerti kenapa Ayahnya sangat cemas dengan situasi sekarang. Ia berdiam diri di kamar melihat ke luar jendela, barangkali ia melihat pelaku dan menimpuknya dengan kamus ribuan lembar. Tidak lama kemudian, Aurel mendapat telepon dari Shiren.


"Shiren? Woahh, kamu udah di Jakarta? Di Bandara ya? Aku sama Bara mau jemput kamu." Namun setelah Shiren menjawab, Aurel terkejut. "Apa? Kamu lari ke rumah aku sekarang!"


"Ada ap- Mmphh!"


"Shiren! Halo, Shiren?!" Aurel melihat panggilan masih tersambung dan menunjukkan detik ke 30.


Mata Aurel membulat. "Gak mungkin." Ia keluar dari kamar sambil memakai jaket rajut.


Alatas yang sedang terjaga dan melihat jam dinding menunjukkan pukul 01.00 itu semakin tidak karuan. Berita TV mengabarkan, Tim Forensik memberitahu kematian korban sudah 4 jam lalu sedangkan warga menemukan pukul 6 pagi. Jika dianalisis, berarti korban mati pada pukul 2 dini hari.


"1 jam lagi...— AUREL? Mau kemana kamu?" Alatas menghadangnya membuka pintu.


"Ayah. Shiren diculik, tadi aku telfonan sama dia. Terus tiba-tiba Shiren gak jawab, padahal panggilan masih aktif."


"Kamu yakin?"


"Ayah... aku gak punya banyak waktu."


Alatas menahan lengan anaknya, "Ayah ikut ngawasin kamu."


Mereka keluar, Aurel berjalan lebih dulu hingga belokan ke kiri. Ia jalan menunduk dan melihat ponsel yang menyala. Ia mengeluarkan ponselnya yang sambungan teleponnya sama.


"Shiren..." Aurel berbalik dan menunjukkan ponsel Shiren pada Ayahnya. "Ayah, liat, ini HP-nya Shiren."


Alatas mengecek ponsel milik Shiren. "Kita telfon polisi aja."


Bersamaan dengan itu, Aurel mendengar nada pesan pada ponselnya.


Shiren bilang mau ke rumah lo, katanya ada hal yang harus dia omongin. Dia udah sampe sana belum?


Pesan itu dari Juli. Aurel mengusap wajahnya, "Gimana aku jelasinnya." Sebelum Alatas melaporkan pada polisi, Aurel menahannya. "Jangan dulu, Ayah."


"Apa maksud kamu? Shiren diculik, kamu mau dia jadi korban?" Alatas geram dengan ucapan Aurel.


"Ayah lupa apa kata saksi? Saksi bilang, sebelum salah satu keluarganya tewas, pelaku minta uang tebusan. Tapi karena mereka gak bisa kasih uang, akhirnya nyawa jadi jaminan."


Aurel menahan Alatas lagi. "Ayah, dengerin aku. Dia cuma minta uang. Kita bisa temuin Shiren, sekaligus pelakunya."


"Aurel, ini bukan masalah uang. Tapi nyawa teman kamu, teman kamu udah Ayah anggap seperti anak sendiri."


"Aku tau caranya."


Alatas melihat Aurel sedang menulis rencana di papan tulis. Alya dan Bara pasti akan mengamuk kalau tahu apa yang terjadi. Ia berdiri ketika melihat tulisan pertama. "Kamu yakin mau melibatkan mereka?"


Aurel akan memberitahu kepada sahabat-sahabatnya tentang insiden Shiren lewat GC.


...[Pukul 00.01 WIB]...


Sampai bertemu malam lagi, Alatas bingung karena tidak ada yang geger masalah pembunuhan, penculikan, dan semacamnya di sekitar Komplek. Ia mengikuti rapat di ruang tamunya yang sudah ramai.


"Lo yakin rencananya berhasil, Rel?" Bintang sangat ragu.


Aurel mengangguk, "Kita hanya perlu pancing dia supaya muncul."


Skala nimbrung. "Jadi kita ikutin Aurel doang? Seandainya dia dibawa sama pelaku gimana?"


Nabila menggeleng pelan, "Dia bikin Aurel lecet, gue sambit pake golok."


Mereka tahu Nabila tidak main-main kalau masalahnya serius.


Juli sudah pergi, bergerak menjalankan rencana dengan menjaga portal komplek dan memberitahu jika ada orang mencurigakan masuk.


"Masuk, Rel."


Aurel mendengar instruksi Juli. Ia menatap kawan-kawannya dengan yakin, "Jangan khawatirin Aku. Kita harus bawa Shiren pulang, tanpa luka."


Skala dan Bintang mengikuti Aurel dengan jarak aman supaya tidak mencolok.


Aurel memakai earphone yang tersambung telepon dengan Juli.


"Belok kanan."

__ADS_1


Juli mengikuti pria mencurigakan yang tergesa-gesa. Ia berhenti di balik tumpukan kardus bekas karena Dia menoleh.


"Kayaknya Dia tau diikutin. Bentar, gue mau minta tolong Skala— eh, ada dua ya?"


Aurel membulat, "Pelakunya dua?" Ia berhenti melihat sekitar.


Juli memberi pesan Skala agar ikut dengannya. Skala pun memberi kode pada Bintang untuk pergi. Bintang tetap mengawasi Aurel.


"Tang, lo masih ngawasin Aurel kan?"


Bintang berdehem pelan dan melihat- Aurel tidak ada di tempat tadi. "Gue samperin Aurel dulu."


"Aurel kemana?"


"Gue lagi cari!"


"Lo gimana sih?!"


Bintang berlari mencari Aurel di setiap perempatan jalan namun ia tidak menemukannya.


Aurel merasa ada yang mengikutinya. Hawanya beda saat Bintang dan Skala yang mengawasinya. Ia pun memberanikan diri untuk balik badan dan melihat ujung pisau 3cm mendekati lehernya.


Dari belakang pria itu, Nabila mengacungkan pisau juga ke arah kepalanya.


"Se-centi lagi lo deketin pisau ke lehernya. Gue pastiin, lo mati disini."


Pria itu menurunkan pisaunya namun hendak menusuk Nabila. Aurel menendang betis pria itu hingga kakinya tertekuk.


"Kemarin, lo.. berani culik sahabat gue. Sekarang lo berani celakain Dia? Gue gak pernah main-main sama pembunuh amatir kayak lo, B*NGS*T!" Nabila sudah tidak bisa menahan marahnya saat bertatapan dengan pria itu. "Tapi gue gak tega bunuh lo yang udah tua." Nabila menurunkan tangannya.


"Jul, dia ada disini."


"Di belakang lo, siapa, Rel?"


Aurel tidak mengerti mengapa Juli memberitahunya demikian. Ia melihat jeli, ternyata Juli sedang berlari dari arah depan.


Nabila beralih ke Aurel ketika teman pria itu hendak memukul kepala Aurel dengan botol kaca.


Aurel mengerti dan langsung bergeser cepat. "Untung gak kena."


Nabila tidak tahan lagi langsung menghajar dua pria di depannya.


PRAK


Botol jatuh dan pecah karena tangannya ditendang Nabila. Sangar bener ye kan.


Ia melihat Juli datang dari arah depan, Skala dari arah kanan, dan Bintang dari arah kiri.


Nabila mengeluarkan tali dan melempar satunya pada Juli agar membantu mengikat tangan dan kakinya.


Bintang yang geram langsung menyumpal keduanya dengan plastik kresek yang ia ambil asal. "Rasa keju tuh plastiknya! Gemes gue sama elu berdua!"


Skala menepuk tangannya karena selesai menangkap mereka. Ia hendak bertanya namun Nabila menariknya.


"Dimana cewek yang kemarin malem lo culik?" tanya Nabila.


Juli menghembuskan nafas jengah, "Mau gue hajar tapi orang tua.. serba salah."


Kedua pelaku justru melihat Aurel. Skala dan yang lain menoleh, "Lo kenal mereka, Rel?"


"Dia yang nyuruh kita," ungkap salah satu pelaku.


Mereka tertawa. Dan yang sampai air matanya keluar adalah Bintang, saking ngakaknya. "Berarti gue juga nyuruh lo, gitu?" Ia jongkok lalu menelisik wajah keduanya, "Siapa yang nyuruh kalian?"


Aurel mengambil ponsel jadul dari salah satu saku jaket mereka karena terdengar getar cukup lama. Ia tidak tahu nomor siapa karena tidak ada namanya.


[Kalian berhasil kan?]


Aurel meremas ponselnya, "Kamu... dimana sekarang?"


Panggilan diputus oleh pihak seberang. Aurel melempar kembali ke pemiliknya. "Rumi."


BERSAMBUNG...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


dahlah, author pusyeenggg


__ADS_2