
"Assalamu'alaikum, Ayah, Ibu." Aurel masuk rumah seusai PMM di Kampus pukul 19.00.
Kepalanya berat karena seminggu ini ia banyak pikiran dan harus dialihkan supaya tidak semakin meledak. Aurel mengalihkannya dengan belajar sendirian.
Kalo gitu mah, gue udah mleduk kepalanya.
Orangtuanya menghadap laptop untuk memperbarui desain rumah milik Alatas. Aurel menyalami mereka lalu melirik sebentar ke layar, selepas itu ya masuk kamar.
Selesai mandi, Aurel membuka laptop untuk berkomunikasi dengan Bintang lewat telegram.
Tang!
^^^Tarek sess...^^^
Aku mau nanya..
^^^Semongko...^^^
Ora waras!
^^^Gue serius nih, udah gak becanda lagi✌^^^
Kamu kan suka jual rumah, kira-kira harganya berapa kalo rumahnya sederhana?
^^^100 juta pas ada sih.. tapi kamarnya satu, kamar mandi satu, gayungnya juga satu hehe😂^^^
Cariin aku rumah ya
^^^Hah? Seriusan lo udah^^^
^^^mau nikah sama Skala?^^^
Gak. Aku mau beli rumah buat sendiri
^^^Bukannya Bokap lo^^^
^^^udah mau renov rumahnya?^^^
Hemm
^^^Lo gak setuju terus mau beli rumah sendiri?^^^
Mungkin
^^^Kata lo gak mau gunain duit Skala..^^^
Iya sih...
^^^Tapi sebagai teman yang baik gue cariin deh ntar^^^
Makasih❤❤
^^^Jangan begitu😳 Ntar gue kesemsem sama lo^^^
Haha. Dah, Tang. Aku mau tidur dulu.
^^^Oke..^^^
*
Setelah menutup laptop, Aurel keluar kamar dan melihat mereka sedang tertawa bersama. Ya. Aurel senang melihat Alya tidak sedih seperti dulu. Tapi kenapa... justru sekarang dirinya yang sering sedih.
__ADS_1
"Aurel, gak jadi tidur?" tanya Bara sembari menatapnya.
Aurel jawab, "Haus."
"Rencananya, Ibu mau bikin kebun di rumah Ayah. Aurel kan suka tanaman, ya kan, Nduk?"
Aurel menghela nafas pelan, "Terserah aja." Dia melangkah ke dapur mengambil air minum.
Alya tersenyum kecut. "Buat aja kebunnya."
Bara mengangguk cepat, "Oke."
Keesokan paginya, Aurel bangun terlambat karena semalam ngebut nonton drakor. Dan sialnya, Bara sudah berangkat ke Kampus karena kesiangan juga.
"Dasar. Dia lupa punya adek disini," gumam Aurel buru-buru menggendong tas kecilnya. Tak ada cara selain minta antar oleh Ayahnya yang masih di rumah.
Matanya melotot ketika Alatas sudah masuk dan hampir menutup pintu mobil. Ia buru-buru teriak, "AYAH, TUNGGUIN AKU."
Alatas menoleh ke dalam rumah. Dia kira Aurel sudah berangkat bersama Bara.
Aurel berlari menghampirinya. Alatas baru ingat, anaknya itu sudah lama tidak mau bicara dengannya karena persoalan rumah. Bahkan saat ia mendekatinya saja Aurel selalu bilang, Aku mau istirahat. Aku capek abis belajar. Aku mau tidur. Oh iya! Ada tugas.
"Telat ya?" tanya Alatas sambil membukakan pintu untuk Aurel dari dalam.
Aurel masuk dan duduk. "Iya. Bara gak kasih tau aku. Ngeselin," ucap Aurel dengan nada kesal. "Pasti nanti dihukum sama Seno."
Alatas melajukan mobilnya dengan kecepatan agak cepat untuk kejar waktu mumpung jalanan lengang.
"Wah, kamu gak pake embel-embel 'Pak' sama dosen sendiri?" tanya Alatas.
"Kata Nabila gak usah. Dia itu ngajak perang, Yah. Masa dikit-dikit kena hukum."
"Kamu sering kena hukum?"
"Belum tau dia, kamu anak siapa, terus pacarnya siapa."
Aurel tersenyum tidak menyangka kalau Alatas antara memuji dan mengejeknya. "Aku bukan pacarnya Skala, Ayah. Kita tuh cuma sahabatan."
"Gak ada yang tau kedepannya, Rel."
Karena hari ini Aurel kemungkinan dihukum oleh dosennya. Alatas akan membantu anaknya agar terlepas dari hukuman.
"Ayah harus kasih hukuman ke Bara. Titik."
"Iya, tenang aja."
Aurel bahkan tidak sadar sudah bicara banyak dengan Alatas yang kemarin-kemarin ia hindari. Ini hanya karena "rumah yang mau dijual", tapi Aurel kalau sudah tidak suka, ya dia akan tetap pada pendiriannya.
Setelah Aurel keluar, Alatas menghubungi Skala supaya bisa diajak kerjasama dengan Si Seno. Bagaimana cara Skala bicara, itu bukan urusannya. Karena Alatas tahu, Skala tidak bisa tega kalau Aurel dihukum ketiga kalinya.
Aurel melihat Bara sedang bicara dengan mahasiswinya di depan gedung fakultas kedokteran. Ia langsung menghampiri Kakak laknatnya, dan memukul bahunya.
"Kamu ninggalin aku, kenapa?"
Bara tersentak dan gugup karena sepasang mata melihatnya aneh. Mereka langsung pergi karena merasa Aurel adalah kekasihnya.
"Kamu gak pernah kesiangan. Jadi aku kira kamu udah berangkat, Rel."
"Kamu gak nanya dulu!"
"Galak banget sih. Iya maaf."
__ADS_1
"Kata Ayah, kamu nanti mau dihukum."
"Dih, hukum apaan?"
"Nyuciin baju aku."
Bara melotot dan mau tertawa, "Seriusan?" Dia tertawa antara kaget dan lucu. "Kamu serius? Aku nanti cuci dal— Aku gak mau ah, takut dosa."
You know kan? Itu lho, pakaian dalam, maksud Bara.
Aurel tercengang, salah dia juga menyuruh Bara cuci bajunya. "Hukumannya gak jadi cuci baju. Ntar aku pikirin lagi."
Jelas pria itu geleng-geleng kepala, "Mending nganter kamu belanja atau jalan-jalan yang jauh sekalian." Bara teringat sesuatu, "Katanya kalo udah lulus mau ndaki gunung. Jadi gak sih?"
"Gak jadi. Setelah aku pikir-pikir, enakan ndaki kasur.. empuk." Aurel rasa akan menyusahkan banyak orang jika ia mendaki gunung.
"Ndaki kasur hobi kamu," celetuk Bara.
"Kak Wulan gimana kabarnya, Kak?"
Bara sempat melihat sekitarnya sepi, "Kamu kalo mau interview mending dipending dulu. Gak liat semua kelas udah masuk? Kamu di fakultas lain loh ini."
Aurel menepuk kedua pipinya karena baru sadar. "Aduh! Kena hukum nih pasti! Kamu sih!"
"Tetap berjalan di belakang aku. Semua bakal baik-baik aja," ujar Bara dengan yakin.
Aurel nurut. Dia berjalan ragu sampai depan kelas yang sudah mulai mata kuliah.
"Permisi," ucap Bara sambil melongok ke dalam kelas.
Tuh kan benar, ini matkul-nya si Seno. Aurel sih tidak berharap banyak pada Bara yang katanya 'ingin membantu'. Tapi ia percaya, kalau Bara akan mencari alasan jenius untuk melindunginya.
"Kenapa, Bara?" tanya Seno lalu melihat Aurel. "Anak ini emang selalu minta dihukum," tunjuk Seno ke Aurel.
Aurel mengumpat di belakang Bara sebelum penggaris kayu besar itu melayang ke tubuhnya.
"Dia udah saya hukum bersihin dua kelas di gedung sebelah. Jadi dia bisa mengikuti pelajaran Anda," ujar Bara yang membuat Nabila terkejut.
"Bara ngehukum Aurel?" tanya Nabila pada Yuan.
Yuan menjawab, "Cuma alesan." Nabila paham, kalau gitu, Bara benar-benar bisa diandalkan.
"Baguslah. Terima kasih, kamu udah kasih hukuman ke dia," ujar Seno sambil tersenyum lega. "Kamu harus jaga sikap selama ikut kelas saya ya," perintah Seno pada Aurel.
"Saya permisi, Pak." Bara balik badan dan mengatakan, "jangan lupa PMM."
Aurel mengerti dan langsung masuk kelas disambut pertanyaan oleh Nabila.
"Kenapa telat?"
"Kesiangan,"
"Lo mah ada-ada aja. Matkul Seno masih aja sempet bangun siang."
"Aku kecapekan," kata Aurel sungguhan.
Yuan hendak memukul Nabila dengan gulungan buku, "Lo jangan gitu sama cewek gue. Mau gue timpuk lo pake donat?"
"Berisik!" geram Nabila yang langsung menghadap ke depan memperhatikan penjelasan Seno.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Tanpa sadar Aurel memperbaiki hubungan sama Ayahnya karena bangun kesiangan. Jadi, gak ada yang gak bermanfaat kalau kita kena masalah gais. Selama kita berpikir positif, kebahagiaan akan berpihak pada kita💞💞