
Seorang pria yang kini bertambah dewasa seiring waktu telah menikahi perempuan yang mencintai orang lain. Keputusan tersebut ia lakukan untuk menebus janji pria yang mencintai istrinya sebelum meninggal. Semacam wasiat, namun ia memang mencintainya.
Skala berdiri sambil memejamkan mata di depan foto istrinya yang sudah tiada menemani pria yang dia cintai. Benar, ia sedang berdoa untuk Aurel. Wanitanya sudah bersama dengan pria yang dia cintai.
"Ini sudah 17 tahun ... Tapi rasanya seperti baru kemarin aku liat kamu, Rel." Ucapan demi ucapan Skala lontarkan melalui hatinya.
Skala harap, Aurel pergi tanpa membencinya karena pernikahan yang terkesan dipaksakan oleh janji. Skala juga tak akan membenci Aurel karena mencintai pria lain sesudah menikah, ia cukup sadar diri bahwa cintanya memang sepihak.
Skala juga meminta maaf sebab belum bisa membuat Aurel mencintainya sampai kini. Pernikahan mereka cukup singkat selama 1 tahun 5 bulan, dengan kepergian Aurel, Skala harap ia tidak hidup dalam dosa dan penyesalan karena tidak menolak permintaan Juli.
Berada di antara cinta mereka memang lebih sulit. Harusnya Tuhan mengambil nyawanya saja demi mereka. Skala merasa, ini sebuah hukuman yang ia pikir akan lama menebusnya.
"Papa."
Suara lembut milik sang anak langsung membuat Skala membuka matanya.
"Ya?"
Anaknya sudah cukup besar, bukan? Skala hampir berhasil menjaga Aurel untuk Aurel.
"Aurel berangkat sekolah dulu ya."
Skala tersenyum. Wajah anaknya sangat mirip dengan Aurel. Nama mereka pun sama karena permintaan Aurel. Saat-saat terakhir wanita itu berjuang pendarahan saat melahirkan, Aurel meminta tolong anak mereka dinamai Aurel agar Skala mengingatnya terus dan tidak merasa kesepian.
Skala menangis dengan tangan gemetar memegang Aurel untuk menguatkannya. Mereka di ambang keputus asaan karena dokter mengatakan pendarahan semakin sulit dihentikan.
Wajah Aurel sebelum terlelap damai masih terngiang-ngiang di kepalanya. Wanita itu belum mencintainya, namun masih peduli pada anak mereka. Saat itu hati Skala belum cukup kuat meneruskan kekuatannya untuk Aurel.
__ADS_1
Aurel terlelap di depan matanya. Dia memejamkan mata begitu damai diiringi isak tangis bayi kecil yang berhasil diselamatkan dokter.
"Papa liat aku atau Mama?" Maksudnya, wajah mereka sangat mirip hingga terkadang sang papa memperlakukannya seperti seorang istri. "Aurel berangkat ya, Pah... " Dia meraih tangan Skala dan mencium punggung tangannya.
"Kamu ... Gak mau bicara sama Mama?" tanya Skala sambil melihat foto Aurel yang tersenyum hangat dibingkai besar.
Aurel tersenyum. "Tanpa sepengetahuan Papa, aku sering ngomong sama Mama."
Skala tidak menyangka kalau benar begitu. "Serius? Kamu bicara apa?"
"Aurel minta Mama berdoa sama Tuhan supaya Papa bahagia walaupun Mama udah pergi."
Permintaan sekaligus doa dari Aurel sangat membuat hatinya lega.
"Kamu pasti mau minta sesuatu, kan?" gurau Skala.
Skala mengangguk paham. "Kalau begitu hati-hati di jalan. Kamu selalu nolak kalau Papa nawarin jasa antar jemput."
"Kan ada Faisal," kekehnya.
"Kamu lebih pilih Faisal dibanding Papa?" rengeknya bercanda.
"Papa istirahat di rumah, tunggu aku pulang. Aku sering lapar," kata Aurel.
"Jangan sore-sore pulangnya."
Aurel melambaikan tangan dan pergi ke sekolah bersama Faisal.
__ADS_1
Faisal adalah anak Nabila dan Bintang, usianya seumuran dengan Aurel namun satu bulan kelahirannya lebih dulu Faisal.
Beruntungnya anak itu mendapat sahabat yang baik seperti Faisal. Faisal selalu ada di sisinya dari mereka kecil hingga sekarang.
Saat Skala hendak melangkah, suara Faisal yang memanggilnya membuat ia balik badan.
"Om. Aku izin Aurel diajak makan Mama-Papa."
Skala mengangguk. "Aurel tadi udah bilang sama Om."
"Hm? Tapi tadi Aurel bilang- " Faisal rupanya dikerjai anak Skala.
Skala terkekeh melihat Aurel muncul dari pintu sedang tersenyum merayakan keberhasilannya dalam menjahili Faisal.
"Faisal. Nanti kita kesiangan. Ayo, cepetan!"
Faisal tersenyum kikuk. "Ahaha ... Aurel suka ngerjain aku akhir-akhir ini," gumamnya.
Skala menepuk bahu Faisal. "Gapapa. Kamu langsung berangkat biar gak ngebut di jalan."
"Kita berangkat, Om." Faisal menyalami Skala juga dan langsung keluar. Aurel itu ... Benar-benar sudah akut tingkat keisengannya.
Aurel tengah memakai helm di sebelah motor milik Faisal.
"Lagi?" Faisal menyambar helmnya.
"Maaf ... Sengaja." Aurel naik motor setelah Faisal.
__ADS_1