SENJA TERLUKA

SENJA TERLUKA
EPILOG


__ADS_3

[1 Tahun Kemudian]


Aktivitas berjalan seperti biasa sejak dua perempuan luar biasa berhasil menangkap Pembunuh berantai yang dibantu oleh IPDA Abram—Kawan mereka. Karena itu juga Abram mendapat penghargaan dari Kepolisian Negara dan diangkat jabatannya menjadi IPTU. Aurel tahu dari berita televisi yang seharian membahas kenaikan pangkatnya.


Aurel berusaha menjadi mahasiswi biasa yang tekun belajar, ia tak ingin masalah yang telah lalu terjadi di kemudian hari. Jujur saja ia masih takut dengan kejadian beruntun sampai menewaskan tiga orang. Diberi semangat oleh orang terdekatnya membuat dia berani melanjutkan hidup saat Damar dan Juli tiada.


Hubungan Nabila dan Bintang sepertinya sulit dipisahkan. Mereka sudah tunangan dan mungkin tahun depan akan menggelar pernikahan. Itu semua mereka lakukan karena takut ditinggal pergi. Aurel yang dengar alasan mereka hanya bisa tertawa garing, lantas dia yang ditinggal mati bagaimana?


Rumah Aurel tambah ramai karena Bara berhasil membawa Ranu, atas izin orangtuanya selama mereka tinggal di Portugal untuk bisnis. Sudah lama tidak bertemu, tiba-tiba saja Ranu tambah tinggi dan pintar.


“Kamu mau jadi Dokter gak?”


“Gak mau.”


“Kenapa gak mau?”


“Kalo Ranu jadi Dokter kayak Ayah, nanti pasiennya lari semua, takut liat muka serem aku.” Bara mendatarkan wajahnya membuat Ranu berkata, “Tuh liat, dibilang gitu aja udah serem mukanya. Kenapa? Ayah marah?”


“Terus kamu mau jadi apa?”


“Kenapa juga aku harus kasih tau Ayah?” Rubrik yang semula dimainkan Ranu kini berhenti bergerak.


Aurel duduk tak jauh dari tempat mereka mengobrol, dia menahan tawa. Kalau saja Bara sudah berubah, Aurel akan tertawa sekencang-kencangnya.


“Kok gitu?"


“Ayah juga gak pernah mau cari pacar,” jawab Ranu. “Kata Kakak Cantik, Ayah udah tua... tapi kok belum nikah? Jangan bikin Ranu malu..” Ia melanjutkan menyelesaikan warna sama pada rubriknya.


Bara tersenyum tanpa ia sadari, “Ayah yang belum nikah, kenapa kamu yang malu?”


“Ya malu lah. Kak Bintang sama Kak Nabila aja udah tunangan.”


“Kamu belajar yang rajin aja, Nu. Jangan mikirin hubungan Ayah kamu,” sahut Aurel.


Ranu melirik Bara, Bara melirik Aurel. “Gampang... Ayah bisa aja kok nikahin Kak Aurel.” Dia hanya bercanda.


Aurel tahu itu. “Jangan ngimpi kamu, Bar. Tempat di hati aku itu udah penuh sama—“


“Siapa, Kak?” beo Ranu begitu Aurel tidak melanjutkan ucapannya.


Bara bergegas mengalihkan perhatian Ranu. “Ayo, waktunya tidur. Jangan kemalaman tidurnya, bisa kesiangan, nanti gak bisa main futsal.” Ia menggendong Ranu ke punggungnya dan pergi ke kamar untuk istirahat.


Aurel bergeming, jantungnya berdebar tatkala hendak menyebutkan nama pria yang selama 1 tahun pergi. Rasa rindu di hatinya menyebar begitu saja, akhirnya, Aurel memutuskan untuk pergi ke Pemakaman Juli dan Damar sebelum kelas siang dimulai.


●●


Keesokan paginya, keluarga kecil mereka sarapan bersama dengan lauk sederhana. Disambi perbincangan membuat suasana tidak datar, untung saja mood Bara sedang baik karena masih pagi. Dia kelihatan normal kalau masih pagi, masih suka tebar senyum sampai kedua matanya menyipit. Tapi kalau sudah ngajar di Kelas, malas deh liatnya sumpah. Muka datar, jelasinnya singkat, jawab soal tapi lisan, pulangnya korupsi waktu setengah jam. Harusnya pulang jam 2, malah pulang jam setengah 3. Tapi maklum, Bara seperti itu karena lelah. Paginya mengajar, sorenya mengurus Klinik membantu Alatas mengurus pasien.


“Ayah sama Kak Aurel berangkat dulu. Jangan main jauh-jauh, atau gak ikut Papa ke Klinik.” Bara pamitan pada Ranu begitu selesai makan.

__ADS_1


“Aku udah besar. Lebih suka di rumah, belajar. Daripada main gak bermanfaat,” ujar Ranu sok bijak.


Alatas tertawa tanpa suara. “Kamu jangan ikutin jejak sifat Ayah kamu, Nu. Bahaya, rumah udah beku nanti tambah beku.”


Alya mengatakan, “Boleh aja nurunin sifat Ayah. Tapi pinternya aja, jangan cueknya. Ya?”


Bara menegur orangtuanya, “Ayah... Ibu... Aku emang sifatnya begini dari lahir. Cepetan, Rel.”


Aurel mengunyah makanan terakhir dengan pelan agar tidak tersedak. Setelah minum air putih, dia menyalami orangtuanya dan berangkat bersama Bara ke Kampus.


“Jadwal kelas kamu kan jam 1, kenapa ikut berangkat pagi?” tanya Bara setelah masuk dan menutup pintu mobil bagian mengemudi.


Aurel duduk di samping Bara dan menutup pintu mobil juga. “Aku mau ke Pemakaman Bapak sama Juli,” katanya jujur.


“Kamu gak lupa ini tepat setahun mereka pergi...” gumam Bara sudah mengira. “Aku harus buru-buru ke Kampus, nanti kamu ke Kampusnya naik taksi aja, ya? Maaf sebelumnya.”


Aurel tidak pa-pa berangkat ke Kampus sendiri selagi punya uang untuk bayar taksi. Lebih bagus lagi ia bisa mampir ke toko roti untuk makan siang. “Iya, Aku nanti ke Kampus sendiri.”


Kurang lebih 30 menit sampai Pemakaman, hanya Aurel yang keluar dari mobil. “Senyum sama orang di Kampus, Bar. Lebih menawan, jadi banyak yang suka.”


“Ngapain harus gitu?” Bara rasa kurang kerjaan.


“Biar gak dibilang killer lagi,” ujar Aurel.


“You leave me, i killed you!” tunjuk Bara diselingi kekehan.


“But I love you, My Brother.”


Nabila adalah salah satu dari mereka yang melihat Bara tebar senyum manis di Koridor. “Dia gak waras, apa kesambet setan?” tangan kanannya tergerak merogoh ponsel untuk menghubungi Aurel.


“Rel, Abang lo kudu dibawa ke Rumah Sakit buat ronsen otak!”


“Dia senyum-senyum sendiri kayak orang beg*. Lo gak khawatir dia gila karena tekanan banyak kerjaan?”


“Gue berangkat sama Bintang, makanya berangkat pagi, itung-itung main ke Lapangan Basket liat cogan.” Dia masih melihat Bara, "Masih gue liatin kewarasan lo, Bar. Merinding gue. Ihhh, pergi ah."


Bara tidak sadar ada beberapa perempuan yang pingsan sampai teriak bak orang gila hanya karena senyum manisnya. Pantas Aurel selalu memaksa untuk murah senyum, opininya berubah 360 derajat. Ternyata, dengan senyum, cara orang memandang kita itu berbeda.



Aurel tidak jadi bertemu Damar ataupun Juli karena ada Shiren disana. Sahabatnya yang dulu rapuh dan tersiksa, sekarang sudah berubah menjadi perempuan tabah. Biasanya kalau Juli terluka sedikit saja dia sudah nangis dan menyalahkan banyak orang. Tapi hari ini, Shiren sama sekali tidak menangis frustasi, hanya berkaca-kaca.


“Shiren.” Aurel memegang pundak kanan Shiren.


Rupanya Shiren agak terkejut, “Eh-- kamu, Rel. Kirain siapa.”


“Iya, ini aku. Boleh kita ngobrol sebentar di luar?”


Shiren mengikuti Aurel sampai gapura depan yang terdapat kursi kayu biasa untuk duduk. “Juli pasti bahagia kamu datang kesini, Rel.”

__ADS_1


“Dia lebih bahagia liat kamu disini. Gimana kabar kamu?”


“Ya beginilah,” jawab Shiren apa adanya. “Rehabilitasi aku berjalan baik sampai sekarang. Itu berkat dukungan kalian semua, maaf, dulu sempat nyalahin kamu. Aku dengar, kamu sama Nabila berusaha keras buat nangkap pelakunya.”


“Iya kah? Sebenarnya aku gak begitu banyak bantu. Emang Nabila yang berani ambil resiko karena dia bisa berantem. Itu juga karena bantuan Polisi,” ujar Aurel.


“Tetap aja, kenyataan kalau kalian yang buat pelakunya keluar dari tempat harus diacungi jempol.”


“Disisi lain aku bersyukur. Aku mau masuk lagi, kamu mau?”


“Aku harus kerja,” selanya. Melihat Aurel menyatukan alis, Shiren menjelaskan secara singkat. “Aku kerja di Restoran Seafood buat ngatur keuangan rumah. Aku kembali ke titik Nol karena aset Ayah diambil bank untuk bayar pinjaman.”


“Ohh, kalo gitu, aku coba tanya Skala, barangkali ada posisi buat kamu. Mau ya?”


“Makasih, nanti aku pikirin lagi. Dah, Rel.” Shiren melambaikan tangan, ternyata taksi yang berhenti di depannya menunggu Shiren kembali.


“Hati-hati di jalan yaaa!” Aurel juga melambaikan tangan setengah lengan.



Saat semuanya sudah berkumpul di markas baru, kini gantian Bintang yang berdiri di depan sebagai moderator untuk mengucapkan perpisahaan dengan kamera mengarah ke dinding yang sudah dihias cantik sebagai video kenangan nantinya.


“Gue sama Nabila bakal nikah tahun depan. Harapan gue, semoga yang merasa tua disini cepet nyusul!” –Bintang- Dia langsung dihadiahi toyoran oleh Skala dan Bara di kanan dan kiri kepalanya.


“Mohon, jangan percaya omongan Bintang. Jangan deketin gue, gue itu hacker amatir yang berpengalaman. Sebelum lo jatuh cinta, gue bisa lacak hati lo.” –Ghaisan-


“Selagi gue punya sodara kembar, mohon maaf kalo selama ini kita banyak salah. Gue tau sering nyusahin kalian.” –Fina-


“Terima kasih atas dukungannya.” –Bara-


Kawan-kawannya langsung protes.


“Ngomong agak panjangan coba,” pinta Bintang.


“Saya Cuma mau ngomong itu, beneran.”


“Yaudah, turun-turun.”


Gantian Nabila yang bicara. “Harapan gue untuk sekarang dan nanti, semoga kita gak akan terpecah belah. Gue sayang kalian semua, tetap bahagia sampai kita kerja nanti. Semangat!”


“Jangan takut untuk melangkah, saya akan selalu disamping kamu. Semangat untuk terus mencari pengalaman hidup walaupun sering ada pahitnya. Kita Cuma manusia yang sewaktu-waktu bisa lemah. Tapi nanti, akan ada waktunya kita bahagia sampai lupa deretan kesedihan yang kita alami.” –Skala-


“Udah.. ini bukan pidato,” ujar Bintang menyuruh Skala turun. Skala tertawa bingung lalu turun, padahal masih banyak yang ingin ia sampaikan pada yang melihat video itu nanti.


Kini giliran Aurel yang bicara. “Aku disini mewakili mendiang Juli juga. Aku Cuma menyampaikan, lawan orang-orang yang bisa menghalangi cita-cita kamu. Kamu berhak bahagia dengan cara kamu, terima kasih.”


Terakhir, mereka berdiri saling sejajar agar masuk satu frame kamera dan mengucapkan kalimat dengan kompak. “Terima kasih sudah mendengar cerita kami...! Sampai jumpa...!”


Itulah akhir yang cukup membahagiakan untuk mereka. Memang benar, jika awalnya Senja terluka, namun sekarang yang ada hanya kebahagiaan menanti tiap harapan mereka. Satu hal yang Aurel dapat pastikan, bahwa terluka di umurnya yang sekarang tidak terlalu buruk. Ia akan mengalami hal yang lebih tidak mengenakkan di tahun berikutnya. Justru karena masalah ini, ia dan teman-temannya mampu menyelesaikan masalah dengan cermat. Disisi lain, kehilangan Damar, Juli, dan Rumi merupakan takdir yang tidak bisa mereka tunda. Kepergian mereka membawa duka, untuk mereka agar saling menguatkan hati.

__ADS_1


...-Terima Kasih Sudah Membaca Sampai Ending-...


__ADS_2