
"Berita hari ini. Seorang siswi nekat menceburkan diri ke sungai. Kondisi korban kini sedang dirawat di rumah sakit terdekat. Diketahui korban bernama Shiren Damayanti."
Aurel yang sedang menonton berita di televisi langsung beranjak dari kursi mengambil tas selempang dan mengganti sandalnya dengan sneakers. Dia ketar-ketir melihat berita mengenai sahabatnya yang sudah lama tidak ada kabar. Shiren sudah lama tidak masuk sekolah, sukar dihubungi, sulit ditemukan. Baru hari ini dia dapat kabar mengejutkan bahwa... Shiren bunuh diri. Seperti dirinya dahulu.
Setelah berlari ke depan gang dan menyetop taksi. Aurel segera menghubungi kawan-kawannya lewat GC. Setelah sampai di rumah sakit tempat dirinya dirawat dulu, dia bertemu Bara sedang menginterupsi kawan-kawannya untuk masuk IGD.
Aurel hendak memanggil Bara, tapi ia tahan karena takut menganggu. Akhirnya Aurel menunggu di depan IGD sambil berdoa.
Beberapa menit kemudian, Alatas yang hendak masuk IGD melihat Aurel sedang melamun. "Aurel?"
Aurel berdiri, "Dokter. Shiren ada disini gak?"
Alatas menghembuskan nafas pelan, "Ada. Dia di rawat inap atas. Kamu naik aja. Dia gak mau cerita ke saya, tapi siapa tau mau cerita sama kamu."
Aurel mengangguk paham, "Makasih, Dok." Dia naik dahulu karena tidak sabar ingin melihat kondisi Shiren. Semoga saja dia tidak pa-pa.
Aurel membuka pintu bangsal dan melihat Shiren sedang duduk di kasur dengan air mata yang terus mengalir.
"Shiren," panggil Aurel lemah. Dia menghampiri Shiren yang sama sekali tidak menjawab sapanya atau bahkan menoleh. "kamu kenapa begini?" tanya Aurel sambil menggeret satu kursi untuk duduk di sisinya. "Shiren. Maaf, aku gak ada di samping kamu sebelumnya."
"Harusnya bukan kamu yang minta maaf."
"Kenapa kamu ngelakuin hal bodoh yang aku lakuin juga, Shiren? Gimana kalo kamu ngalamin apa yang aku alamin?" tanyanya khawatir.
"Aku kalut, Rel."
"Siapa... yang buat kamu kayak gini, Shiren?"
"Orang yang kamu anggap sahabat."
Deg'
"Siapa?" Aurel merasa tercekik dengan ucapan Shiren.
"Mereka."
"Mereka siapa?"
"Juli... Dina... Mereka berdua yang hancurin hidup aku." Disetiap ucapan Shiren mengandung penekanan. Shiren tidak mungkin berbohong, dia perempuan jujur selama yang Aurel kenal.
Tapi kenapa Juli terseret?
"Juli?" Aurel bertanya-tanya.
"Juli itu... kakak tiri aku."
"Apa? Kakak tiri?"
Shiren mengangguk. "Sejak kedok Nabila dibongkar Pak Skala.. Juli mulai ngancam aku supaya gak dekat-dekat kamu. Dia takut, identitas kakak tirinya terbongkar."
"Kenapa Juli begitu?"
__ADS_1
Shiren menggeleng, "Mungkin dia malu punya adik tiri kayak aku. Aku itu banyak kekurangan, Rel. Wajar aja Juli begitu."
"Aku gak nyangka."
"Awalnya begitu. Yang paling parah, kemarin dia ngancam bakal pisahin aku sama Ayahnya."
"Nanti aku tanya Juli ya. Kamu baik-baik disini. Dokter yang nanganin kamu, Dokter Bara kan?"
"Iya."
"Nanti aku kesini lagi." Aurel segera pergi dari rumah sakit menuju rumah Juli. Pantas saja orang itu tidak muncul di GC. Biasanya dia paling berisik kalau ada pembahasan ringan. Apa yang Aurel dengar dari Shiren, tidak bisa dipercaya seluruhnya. Dia takut keliru dan akan jadi salah paham.
Tapi saat taksi berhenti depan komplek, supir taksi sempat mencegahnya masuk.
"Mbak. Hati-hati ya, disini rawan begal. Soalnya jarak rumah jauh-jauh semua."
Aurel menelan saliva begitu berjalan menyusuri jalan. Sepi sih memang. Saat berhenti di papan nomor rumah 76C, Aurel membuka kunci pagar dan menggesernya pelan. "Assalamu'alaikum, Juli!" serunya agak keras.
Gadis itu terlonjak karena pundak kanannya ditepuk seseorang. Ada tiga pria dengan seringaian lebar membuat Aurel kalangkabut mengetuk pintu rumah Juli berharap pemilik rumah keluar.
"Lo temen yang punya rumah ini ya?" tanya salah satunya menunjuk Aurel.
"JULI!!" teriaknya agak kencang memecah kesunyian. Traumanya atas kekerasan belum sembuh membuat kepanikannya bertambah. Deru nafasnya tidak teratur. "jangan deket-deket ya!"
Mereka tertawa. "Kalo temen yang punya rumah ini, berarti banyak duit juga dong!"
Aurel melihat tumpukan batu bata dan mengambil satu untuk jadi senjata. "Jangan deket-deket!"
"Hajar aja.. biar yang punya rumah keluar. Habis itu kita ambil barang-barang yang di dalam!"
Aurel terbelalak. "Jangan ambil barang apapun dari rumah ini!"
Bugh'
Perut Aurel dibogem mentah sampai gadis itu terjatuh di tanah. Dia menangis. Rasanya sakit sekali.
"Yahh, segitu doang aja lo nangis!"
"Kurang seru."
Aurel berusaha berdiri. "BANCI! Beraninya sama perempuan!" tukasnya kesal. Dia berteriak di hadapan wajah tiga pria tadi.
Satu kawannya lagi menarik Aurel dan melempar tubuhnya ke pagar sampai pagar yang terbuat dari besi mengeluarkan bunyi berisik. Aurel meringis. Sekarang dia harus kabur. Ya, HARUS!
Ada secercah harapan saat Juli datang dari pagar. Plastik yang ada di tangannya langsung ia jatuhkan sampai isinya berceceran begitu melihat Aurel tersungkur.
"Lo nyakitin dia. Abis sama gue."
Juli menyeret mereka satu per satu untuk keluar dari halaman rumahnya. Perkelahian tidak dapat dipisahkan karena Aurel mual dan muntah darah. Gadis itu segera mengelap mulutnya dengan tisu lalu bergerak membantu Juli untuk kabur dari sana.
Setelah ada celah, barulah Aurel menarik Juli dan berlari ke jalan tikus untuk sampai ke jalan besar.
__ADS_1
*
"Rel, lo gapapa? Memar-memar gitu.. maaf gue tadi abis belanja bulanan."
"Iya gapapa. Belanjaan kamu ketinggalan disana tadi. Gimana?"
"Gapapa. Gue bisa beli lagi." Juli menepuk bahu Aurel pelan.
Mereka sudah ada di dalam taksi menuju rumah sakit tanpa sepengetahuan Juli.
Tiba-tiba Juli bingung karena Aurel hendak muntah. Untungnya ada kresek hitam di selipan bangku penumpang. Aurel memuntahkan isi perutnya yang terasa nyeri.
"Lo berdarah, Rel!"
Juli membulat sempurna saat di sisi mulut Aurel ada darah.
"Masa sih?" Aurel mengusap mulutnya dan benar saja. Langsung dia lap pakai tisu dan minum air mineral banyak.
"Lo muntah darah kenapa?"
"Gak tau."
"Kita ke rumah sakit dulu aja."
Bagus. Setidaknya rencana Aurel lebih dipermudah untuk mempertemukan Shiren dengan Juli.
*
Bara menunjuk bahu Aurel dengan telunjuknya, "Jatuh lagi?"
Aurel tersenyum, "Iya."
Juli yang menunggu Aurel di dalam ikut mendengar apa yang Bara tanya.
"Maaf ya, sebentar." Bara melihat Aurel mengangguk. Dia menekan pelan perut Aurel, namun Aurel justru memegang perutnya sambil meringis. "kok kayak memar?"
Aurel heran, padahal Bara belum lihat perutnya, tapi kok bisa nebak-nebak ya?
"Coba, Sus. Dilihat perutnya." Bara menyuruh Juli untuk menutup mata selagi perawat melihat perut Aurel.
"Seperti kena pukulan di dekat lambungnya. Mungkin itu penyebab muntah darahya, Dok."
Bara manggut-manggut, "Benar diagnosa saya."
"Tapi udah gak muntah lagi kan?" tanya Bara.
"Nggak sih.. cuma tadi di taksi dia muntah," ujar Juli. "tapi sampe muntah darah begitu, gapapa, Dok?"
"Itu karena cedera. Nanti saya kasih pereda nyeri."
**
__ADS_1
Dah yaaa. besok lagi ketemu Bara dkk. 😁