
Yuan melihat Aurel dan Nabila sedang berdiri di depan kelas dengan satu kaki diangkat dan tangan memegang telinga.
Nabila meneriaki Yuan, "Temen bangsul, Lo! Telpon yang punya Kampus dong. Masa gue diginiin, gak terima nih gue!"
Suaranya memekakkan telinga hingga Yuan langsung menghubungi Skala. Masalahnya dia saja telat hadir di kelas dan kemungkinan dihukum juga.
"Halo, Pak."
"Iya nih pada berisik."
"Yaudah, iya."
Yuan menutup panggilan, "Yang punya Kampus nyuruh kita bolos."
Nabila tersenyum sumringah, "BAGOS!" Dia menarik tangan Aurel untuk ikut dengannya.
Yuan berjalan lebih dulu. "Ayo buruan, ntar keburu keliatan orang."
Setiap mereka lewat kelas yang masih KBM, mereka harus menunduk supaya tidak kelihatan dosen atau mahasiswa lain.
HAP'
Aurel melotot ketika tangannya dicekal Bara yang habis keluar dari toilet.
"Rel, ternyata seru juga yak bolos." Nabila rupanya belum menyadari kalau Aurel sudah menjadi tahanan Bara dibelakang sana.
Yuan terkekeh, "Mamvus gak ada yang jawab."
"Aurel emang rada budek," cetus Nabila.
"Gak mungkin budek kayak lo," ujar Yuan. Keduanya balik badan secara serentak dan melihat Aurel tersenyum sedih karena Bara melihat aksi kemalasan mereka.
Daripada nanti jadi ribet, Aurel menyuruh mereka untuk pergi duluan.
"Kak. Marah ya?" tanya Aurel agak takut. Lebih takut lagi kalau Bara bilang ke orangtuanya.
Bara menghela nafas. "Iya."
Ternyata Bara mengajak Aurel ke Pantai yang agak jauh. Perjalanannya saja memakan waktu hampir 1 jam.
"Ngapain kesini?" Aurel tidak mengerti kenapa Bara mengajaknya ke Pantai dan masih menggandeng tangannya padahal tidak mau nyebrang.
"Jalan-jalan."
"Aku pikir, kamu marah beneran."
"Kamu pikir, aku bercanda marahnya?"
"Ya nggak sih." Aurel membenarkan rambutnya yang terhembus angin.
Mereka duduk di pasir sambil berbincang.
"Mau sampai kapan kamu baik, Rel?"
"Sampai semua orang tau, kalo berbuat baik itu menyenangkan."
"Kenapa bolos?"
"Gatau. Di kelas, aku ngobrol sama Nabila terus dihukum dosen berdiri di depan kelas 1 jam. Belum ada 10 menit, Yuan datang terus disuruh Nabila telfon Skala. Kata Yuan, bolos aja daripada nanggung dihukum."
__ADS_1
"Baguslah."
Hening sejenak untuk menikmati desiran angin dan ombak di siang hari.
"Ayah sama Ibu tetap mau jual rumah, Rel. Kamu gapapa?"
Aurel sudah tidak kaget lagi mendengarnya walaupun baru tahu kalau mereka tidak berubah pikiran. "Terserah mereka mau ngapain. Dari dulu emang aku gak suka berpendapat, ya gitu, diabaikan."
Bara tertohok karena Aurel sangat santai. Ia khawatir kalau sewaktu-waktu Aurel dapat masalah, maka semua bisa meledak dan tambah tidak karuan.
"Bapak, Ayah, Ibu, kamu, bilang setuju. 4 lawan 1, aku gak bisa apa-apa, Bar."
Bara menelan ludahnya. "Iya juga."
"Untuk hari ini aku gak mau marah-marah sama kalian cuma karena masalah rumah. Aku... udah cukup capek."
"Kenapa?"
"Aku juga gak tau."
"Kamu kurang istirahat, Rel."
"Iya. Aku terlalu sibuk mikirin kalian ketimbang aku sendiri."
Bara menoleh cepat. Kalau gini, dia takut menyakiti Aurel. Perasaannya mulai tidak karuan.
"Gak ada yang bisa ngerubah kamu supaya egois."
Aurel tertawa kecil, "Aku selalu bilang, tahan, tahan, Rel. Semua bisa bahagia kalau udah waktunya. Tapi betul kata Skala, manusia gak bisa hidup dengan prinsip kayak gitu. Harusnya, aku bahagiain diri sendiri terus menyalurkan ke orang lain. Bukan aku yang bahagiain orang lain, tapi aku sendiri tertekan."
"Ini pasti titik terendah kamu, Rel."
"Bukan. Ini gak ada apa-apanya sebelum kita jadi keluarga, Bar."
"Makasih udah mau dengerin aku," kekeh Aurel.
"Aku sekarang Kakak kamu. Jadi apapun keluhan kamu, bisa kasih tau aku."
Di tempat yang berbeda. Yuan dan Nabila dihadapkan dengan fakta buruk, yaitu disidang oleh Rektor mereka yang tak lain adalah.... ya Skala. Siapa lagi yekan.
Skala menatap mereka, "Ini cuma buat pencitraan ya. Pak Seno lapor ke saya kalau kalian bertiga kabur dari hukuman, tapi—"
"Tapi yang nyuruh kita kabur itu Pak Skala," sambung Yuan dengan pintar.
"Ya itu maksud saya. Makanya kan saya bilang ini cuma pencitraan supaya Pak Seno gak berisik nyuruh saya ngehukum kalian," ujar Skala.
Ya Tuhan. Apa dunia ini sudah gila? Skala anggap ini pencitraan karena tidak ingin si Seno mobat-mabit nyuruh dia kasih hukuman ke mereka lebih berat.
"Tapi kita gak akan dihukum kan?" tanya Nabila sangat percaya diri.
Yuan menabok tangan Nabila, "Gak akan lah. Mana bisa Skala ngehukum kita sedangkan Tuan Seno dosen baru itu mintanya kita ber-ti-ga yang dihukum."
"Bener. Kata bertiga itu di dalamnya ada Aurel."
Skala mengangguk pasrah, "Saya gak akan ngehukum kalian untuk sekarang."
"Gue harus berterima kasih sama Aurel ntar," ujar Yuan.
"Gue juga ah," timpal Nabila.
__ADS_1
"Kalian gak mau terima kasih sama saya?" tanya Skala menunjuk dirinya dengan polos.
Mereka membungkuk 45 derajat dan mengatakan dengan kompak, "Terima kasih..."
"Tapi, Aurel kemana ya sama Bara.." gumam Skala.
Yuan menjawab, "Tenang aja. Mereka palingan jalan-jalan. Seorang Bara impossible marah sama Aurel, kecuali menyangkut Anda. Wekaweka."
Nabila berdiri, "Yaudah lah. Gue mau pulang dulu, Yu. Lo balik sama siapa?"
"Sama mobil gue."
PLAK'
Tas Nabila tidak sengaja menabok wajah Yuan. "RUSAK MUKA GUE KENA TAS LO!"
Skala memejamkan mata, "Pelankan intonasi kamu, Yuan."
Nabila cengengesan, "Gak sengaja elah."
Yuan memastikan postur wajahnya tidak berubah, "Gue masih mirip Jinyoung GOT7 kan?"
"Gue tabok lagi muka lo ntar, Yu. Jangankan Jinyoung, lo sama Bara aja jelas—"
"Gantengan gue kan?" Yuan mengedipkan matanya beberapa kali berharap jawabannya adalah "iya".
"Ganteng Dokter Alatas lah, Bapaknya Aurel udah tua tapi berasa 18 tahun. Lah muka lo 18 tahun berasa 50 tahun."
"Astagfirullah, Dedek tersakiti disini." Yuan memegang dadanya seolah sakit hati.
Skala geleng-geleng kepala melihat kekonyolan mereka. Yang ia lakukan adalah lanjut memeriksa laporan dosen.
"Sakitan mana lo sama Aurel yang suka Skala, hah?" Yuan memelototi Nabila hingga ia mingkem rapat.
Lo keceplosan segala, beg*.
Skala menatap Nabila yang salah tingkah, "Kamu bilang apa tadi?"
"Bilang apa? Saya bilang toilet disini bersih banget."
Yuan memejamkan mata melihat akting Nabila yang sangat, sangat buruk.
Yuan akhirnya angkat bicara, "Yee, si Bapak. Itu kan cuma perumpaaan. Walaupun ada peluang Aurel suka sama Bapak, tapi pasti sedikitttt."
"Kenapa begitu?" tanya Skala.
"Yeilah, Situ suka ngaku-ngaku pacarnya. Ya Aurel gak suka lah." Yuan berdiri, "Cepet, Bil. Lo tadi ngajak gue pulang kan? Nah, kita pulang sekarang."
Nabila mengangguk cepat dan pamit keluar dengan Yuan.
Setelah menutup pintu ruang Rektor yang mungkin sekarang lagi jingkrak-jingkrak di mejanya. Yuan memaki Nabila, "Mulut lo boleh sablak, tapi jangan keceplosan juga, Kambing..."
"Lo sih tadi mendramatisir keadaan. Jadi gue keceplosan."
"Mulut lo yang ngomong, gue yang disalahin."
^@&@*@*##^@%!^#($($&&@&!&
Mereka terus berdebat hingga kesal sendiri dan bubar ke arah yang berbeda.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
Dasar mereka. Salah bareng, tapi gak ada yang ngaku😚