SENJA TERLUKA

SENJA TERLUKA
Kehebohan


__ADS_3

Di malam hari saat Skala sedang menerima tamu di rumah, sebenarnya bukan hanya Aurel yang datang, tapi lengkap dengan kawan-kawan dan Gemintang serta Dina. Namun mereka berkumpul di gazebo belakang, tidak ikut ke ruang tamu. Kata Skala, daripada nanti mereka bicara yang tidak-tidak lebih baik mengurung diri dulu karena tamunya menjunjung tinggi tata krama.


Fina yang tatapannya tak lepas dari setiap gerak-gerik Dina langsung komen, "Hihhh, gue males banget gewlaaa. Lo ngapa ngajak gue dah, ngerti disini ada Medusa."


Aurel berdehem, "Medusa siapa?"


Begini, kalau Fina kesal, si Ghaisan kan kembarannya, dia juga ikut kesal. Kayak nyamber gitu loh.


"Udah. Orang lagi diem juga. Lo-nya suka komat-kamit gak jelas," jawab Ghaisan.


"Skala nerima tamu dari mana sih?" tanya Nabila sambil makan keripik singkong balado. Dia kepo karena penampilannya tertutup, beda dengan dirinya yang masih somplak.


"Kalo gak salah dari Wonosobo, dari Pesantren yang mau ngajar di BU buat jurusan PAI," jawab Aurel.


"Yah, pantesan. Minder gue deket-deket orang begitu," ucap Bintang yang diangguki Nabila.


"Tapi adem ya kalo diliat, berasa liat surga," ucap Aurel yang langsung disoraki kawan-kawannya.


"Inget Skala woi," komen Juli yang sedang mengetik naskah.


"Lo liat dia kayak ngeliat surga, dia liat lo kayak liat siput. Loading-nya lama," timpal Ghaisan.


"Astagfirullah ! Gitu amat kamu, San." Aurel geleng-geleng kepala.


Bintang yang melihat lurus ke depan untuk memperhatikan sang tamu hanya bisa melongo. Tiba-tiba wajah Juli ada di depan Bintang.


"He gobl*k!" Bintang terkejut. "gue tampol muka lo kalo gitu lagi."


Juli tertawa ngakak, "Lo liat ceweknya apa cowoknya? Gue colok juga mata lo. Nih, Bil, pacar lo matanya jelalatan."


"Mana? Sini gue copot matanya," jawab Nabila sambil memainkan kukunya.


"Buset, kejem amat sampe dicopot," ujar Juli.


"Shiren gak ikut, Jul?" tanya Fina.


"Gak boleh sama bokap," kata Juli.


"Gue kagum sama Medusa, mulutnya bisa diem sampe 10 menit. Gilaaaa, harus dirayakan." Ghaisan memukul pelan tangan kakaknya.


Gemintang menghela nafas lalu masuk lagi meninggalkan Dina diantara mereka. Dia harus menyiapkan semua barang karena besok pagi akan berangkat ke Barcelona.


"Din, lo gak berniat minta maaf gitu ke kita? Atau gak ke Aurel?" tanya Nabila dengan tenang.


"Ngapain," jawabnya acuh.


"Ya gapapa sih.. dosa lo tanggung sendiri," kata Nabila.


"Aku udah maafin, tinggal kamunya aja gimana, Din." Aurel berlapang dada memaafkan Dina. Toh, tidak ada gunanya membenci orang yang membenci kita.

__ADS_1


Juli memang selalu terpana melihat jiwa pemaaf dari Aurel, sejak dulu. Bahkan teman-temannya diam ketika Aurel bilang begitu seolah mengintruksikan mereka untuk ikut memaafkan.


Ghaisan merubah posisi duduknya, "****** gue gatel sumpah."


Fina bergidik jijik, "Naj*ssss!"


"Lo juga pernah, ngaku lo, tapi pas gue gak ada," jawab Ghaisan.


"Mending bahas kebab, apa gorengan.. lo berdua malah bahas ******..." Bintang mau tertawa tapi sedang malas.


"Kerjaan lo dimana-mana ngetik mulu, Jul! Lo kalo tidur jangan-jangan ngetik juga ya!?" sahut Fina yang seringkali bosan melihat Juli menenteng laptop.


"Gimana caranya, kambing?" tanya Juli. "tidur ya tidur, masa sambil ngetik. Kelainan dong gue."


"Kalian gak curiga kalo Juli nulis naskah kalian?" tanya Dina sambil memejamkan mata dan bersandar di gazebo sebelah.


Mereka menatap horor Juli. Apalagi Aurel, "Bener, Jul? Kamu nulis cerita kita?"


Mereka bukan marah karena Juli menulis kisahnya. Tapi bingung karena Aurel nampak tidak suka.


"Aku gak suka ya, Jul. Jangan ambil cerita temen-temen kamu, apalagi aku. Aku gak mau jadi bulan-bulanan netizen karena novel kamu itu. Apalagi ending-nya."


Juli melirik Dina yang tersenyum dalam pejaman mata. Dasar. Gadis itu memang suka sekali membuat perpecahan. Dia kira diamnya karena tobat. Tapi ternyata, ada udang dibalik nasi -eh batu.


Juli lantas menutup laptopnya, "Udah gak ngetik nih gue." Dia tersenyum.


"Jangan gitu lagi."


Fina berdehem menghanguskan kecanggungan. "Gue kok ngerasa cowok-cowok disini sama Aurel bisa pasraaaaah banget. Giliran sama gue, gue tuh kayak serba salah." Dia mendramatisir dialognya seolah peran paling serba salah.


"Iya emang, Fin. Gue gak tau apa semuanya naksir Aurel, apa gimana." Nabila heran sendiri.


"Bukan gitu, Beb. Disini kan Aurel udah kita anggap kayak sodara sendiri," jawab Bintang. "kalo bisa nih, bintang di langit kalo Aurel suruh ambil, bakal usaha dah gue buat ambil." Bintang terkekeh, "walaupun gak bisa diambil, seenggaknya usaha. Ya gak, Rel?"


Aurel hanya melongo tidak paham.


"Aurel lo kasih bintang, gue dikasih apaan?" tanya Nabila iri.


"Dunia ini gue kasih buat lo," jawab Bintang. Nabila tersanjung lalu memeluk leher Bintang dengan erat sampai pria itu tercekik.


"Mau bikin gue mati?!" kesalnya sambil melepas pelukan pacarnya.


"Iya, biar dunia buat gue doang, nah lo dapet akhiratnya," ucap Nabila nyeleneh.


"Kurangajar," gumam Bintang.


"Ya gimana ya? Gue berasa punya adek walaupun gue adeknya Fina." Ghaisan tidak tahu sih kenapa dia juga tidak bisa menentang ucapan Aurel. Intinya jadi nurut gitu.


Fina manggut-manggut, "Kalo gitu lo angkat aja Aurel jadi adek lo."

__ADS_1


"Aurel jadi adek gue, ntar gue gak bisa bagi waktu main sama lo, Ropeah." Kesal juga ngobrol dengan orang soak macam kakaknya.


"Bilang aja, kalo Aurel itu dimata kalian paling lemah. Jadi gak ada yang berani, pasrah semua deh. Lo percaya, Rel, sama omongan bullshit mereka?" tanya Dina sambil mengayunkan kakinya. "Naif."


"Wah, bener-bener mulut lo kudu dilakban!" sahut Nabila. "bentar, Rel. Gue ijin ngambil lakban!" Nabila tergesa-gesa masuk untuk mencari lakban.


Aurel ikut mengejar, disana kan masih ada tamu. Yang ada nanti Skala marah kalau acaranya diganggu.


Melihat suara grasak-grusuk dari belakangnya, Skala meminta izin pada Angkasa untuk beranjak. "Nabila, kamu ngapain buka laci? Mana gak ditutup lagi." Skala menutup tiga laci yang terbuka.


"Gue mau cari lakban buat ngelakban mulut adek ipar lo," jawab Nabila.


"Ya nanti dulu, saya kan masih ada tamu."


"Gue naik darah. Buruan lo ikut cari!"


Aurel datang dan menarik Nabila pergi. Sebelum itu dia minta maaf pada Skala dan tamunya.


"Nabila, kamu gak boleh asal masuk gitu. Nanti tamunya ngira yang nggak-nggak."


"Yaudah, lo ambil pel terus taroh di mukanya Dina noh!"


Aurel memundurkan wajahnya, "Biasa aja kali, gak usah pake urat."


"Urat apaan sih?"


"Urat leher!" Aurel menertawakan Nabila. Dia menjulurkan lidah meledek. "lucu tau."


Benar kata Bintang. Lo pernah kok bikin Aurel ketawa. Tapi ngetawain!


Setidaknya Aurel tertawa di depannya. Dia sangat tidak menyangka sekaligus terharu.


"Haha hehe, puas lo ya ngetawain gue?"


"Kurang, nanti aku lanjut di rumah aja."


Mulut Nabila menye-menye. "Serah lo aja deh."


"Kita harusnya kasih tau Gemintang, supaya nasihatin Dina biar jaga omongan."


"Alah, gak usah Gemi yang bilang. Nih! Mumpung disini ada Ustadz. Suruh dia aja ceramahin tentang azab perempuan tukang cari ribut!"


"Hus!" Aurel menghentikan ucapan Nabila.


"Biar kena sampe lubuk hatinya. Siapa tau dapet hidayah!"


"Kamu juga sering cari ribut sama mereka. Gimana?" Aurel menarik turunkan alisnya.


"Eh?"

__ADS_1


**


Nah lohhh. Menurut kalian pedesan omongan Dina apa Nabila...😄😁😂


__ADS_2