SENJA TERLUKA

SENJA TERLUKA
5 Jam Seperti 1 Minggu


__ADS_3

Semua mengerjakan tugasnya masing-masing. Mereka kembali aktivitas sambil mencari petunjuk dimana Shiren. Skala beserta pegawai IT perusahaannya melacak keberadaannya dengan CCTV setiap jalan.


Juli memejamkan mata sambil menyandarkan kepalanya di sofa berpikir cara menemukan persembunyian penculikan Shiren. Ini sudah hampai 2 hari dan tidak ada petunjuk selain menunggu kabar dari Skala.


Enter


Skala mendapat informasi dari layar komputernya. Tanpa berpikir panjang ia langsung memberitahu Aurel yang sedang mengikuti kelas.


"Gimana, Skala?"


"Lokasinya di..." Skala menggantungkan ucapannya karena bingung. "Di sungai yang dulu kamu datangin."


Aurel terkejut. "Jangan bilang kalo—"


"Halo, Rel? Aurel? AUREL!" Skala meletakkan ponselnya dengan kasar di meja. Aurel memutuskan panggilan dan kemungkinan pergi kesana.


Ia berbagi lokasi pada kawan-kawannya lewat GC. Mereka keluar bergiliran agar tidak dicurigai Dosen.


Sekitar 15 menit Aurel sampai di lokasi menggunakan taksi. Ia ada di jembatan sebelah selatan dan melirik ke kanan kiri mencari keberadaan Shiren.


Tidak menemukan apapun yang mencurigakan, Aurel melongok ke bawah jembatan. "Shiren." Ia berlari ke ujung jembatan untuk turun tangga agar bisa ke bawah.


Shiren duduk di pinggir bebatuan sungai dengan keadaan tangan diikat ke belakang dan mulut diikat kain.


"Shiren!" Aurel memanggilnya dengan haru lalu menghampirinya.


Namun bukannya mendapat tatapan bahagia, Aurel bingung karena Shiren teriak-teriak seperti menyuruhnya pergi.


Aurel sudah terlanjur ada di hadapan Shiren dan membantu melepaskan kain di mulutnya. "Kamu gak pa-pa, kan? Ada yang luka? Kamu buat aku khawatir, Shiren."


Shiren menggeleng keras, "Kamu kenapa kesini, Aurel? Kamu lebih baik pergi, mereka ngincar kamu!"


Aurel tidak tahu mengapa Shiren sampai histeris. Ia melihat sekitarnya yang nampak sepi, "Mumpung mereka gak ada, kita bisa pergi sekarang. Ayo," ajaknya memegang kedua lengan Shiren.


"Rumi mau celakain kamu, Rel. Kamu dengerin aku, lebih baik kamu pergi sekarang."


Aurel menghela nafas, "Dia ngincar kita! Gak cuma aku aja. Jadi, aku mohon, kita pergi sama-sama."


"Akhirnya kamu datang, Aurel. Long time no see."


Aurel melihat nafas Shiren tertahan karena sebuah pistol menempel di belakang kepalanya.


Aurel berdiri dan berbalik menjadikan ujung pistol itu menempel di dahinya. "Senang bertemu kamu lagi, Rumi."


Shiren berhasil membuka ikatan di tangannya dan ikut berdiri. "Rumi, jangan celakain Aurel. Please..."


Tidak seperti dulu Aurel yang gemetar saat diancam oleh Dina. Kini Rumi yang dihadapannya, Aurel biasa saja. Toh, kalau dia mati, maka Rumi yang masuk neraka.


"Kamu berharap aku takut?"


"Kamu tau senyum paling serem?"


"Emang ada, Kak?"


"Ada."


"Masa senyum, serem sih? Dimana-mana senyum itu bahagia."

__ADS_1


"Senyumnya psikopat. Kamu pernah liat kan di Drakor-drakor? Nah kayak gitu."


"Aku baru tau."


"Kamu bisa senyum begitu, Rel. Malah sereman kamu, ketimbang psikopat kalo senyumnya begitu."


"Kok bisa?"


"Bisa. Kalo kamu ketemu Rumi, senyum jahat aja seolah-olah kamu mau bunuh dia."


"Jahat banget kayaknya."


"Cuma buat nakut-nakutin."


Aurel memegang tangan Rumi lalu mengarahkan ke atas hingga tembakannya ke udara. Ia membuang pistolnya ke sungai.


Dari belakang, Juli datang bersama Bintang menghampiri Shiren.


"Akhirnya.." Shiren dipeluk Juli saking khawatirnya dia. "Ada yang lain?" bisik Juli.


Shiren menggeleng ketakutan, "Cuma ada Rumi."


Juli mengangguk dan menyuruh Shiren mengikuti Bintang ke mobil. Biar dia yang mengurusi Rumi bersama Aurel.


"Waktu yang pas. Juli, ada yang mau kamu bicarain sama Aurel? Mumpung dia disini loh," ujarnya sambil sedekap dada.


Aurel tidak paham, sungguh. Ia menatap Rumi, "Maksud kamu?"


"Kamu gak sadar? Selama ini Juli suka, loh, sama kamu." Mendengar Rumi terkikik karena ceritanya, Juli jadi ingin menampar bolak-balik wajah perempuan yang sejak dulu enggan tobat.


Bintang datang kembali dan mengatakan, "Shiren udah sama Skala. Aman."


"Ow... satu pahlawan kamu datang lagi," ujar Rumi takjub. "Aku ngelepasin Shiren gitu aja, Rel. Kamu ingat-ingat dulu, siapa.. yang lebih kejam dari aku?"


"Kalau ada," potong Juli.


"Ada dong. Itu dia." Rumi menunjuk Bintang dengan telunjuknya. "Dia nabrak Juli sampai kecelakaan. Sekongkol sama Nabila sampai kamu bunuh diri. Memecah pertemanan cuma karena perasaan. Dan yang lebih parah, Dia nyuruh Juli pindah ke Luar Negeri buat jauhin kamu, Rel."


Mata Bintang sudah berkaca-kaca, beberapa kali ia mengatur nafas karena kecewa dan marah.


"Kenapa Bintang nyuruh Juli pindah?" tanya Aurel pada Rumi.


"Mungkin karena Juli orang baru di pertemanan kalian. Atau karena Bintang gak mau saingan lagi buat dapetin hati kamu. Kan ada Skala juga. Ya ampun, aku kayaknya kejauhan ya kasih tau kamu."


"Kamu siapa berani adu domba aku sama Bintang yang udah sahabatan dari kecil?" geramnya.


"Kamu liat ke bawah, Rel."


Hanya ada arus sungai deras karena pintu air beberapa dibuka. Rumi tahu kelemahan Aurel, yaitu aliran air.


"Dina bilang, setahun yang lalu kamu kesini tapi airnya tenang. Kamu gak mau dua kali? Mumpung airnya deras." Rumi mulai tahu Aurel takut.


Juli berpindah ke depan Aurel, "Jangan nakutin Aurel begitu. Lebih bagus kalo lo yang nyebur."


Bintang mendapat telepon dari Nabila.


"Sori, Tang. Gue sama Yuan gak bisa kesana. Ini Yuan sesak nafas, kayak asma gitu. Gue nganter dia. Lo gimana? Baik-baik aja kan? Gue denger Shiren pulang sama Skala, syukurlah. Lo cepet nyusul ya!"

__ADS_1


Melihat situasinya yang agak rumit, Bintang hanya mampu menjawab, "Everything is fine." Lalu ia mematikan ponselnya.


Rumi berusaha mendorong Aurel agar jatuh ke air namun dihalangi Juli.


"Lo gila ya, Rum!" teriak Juli. Ia menepis tangan Rumi berkali-kali karena dia ingin mendorong Aurel.


Lalu tanpa disengaja ia mendorong Rumi hingga jatuh ke air dan terbawa arus.


"RUMI!!" Lutut Aurel langsung lemas begitu Rumi hilang terbawa arus. Juli hendak menceburkan diri, namun Aurel menahan kakinya, "JANGAN, JUL! KAMU JANGAN CELAKAIN DIRI SENDIRI!"


Bintang menghampiri mereka, "Dia pantes, Rel."


"Lo pikir dia bukan manusia yang mau hidup? Sinting lo lama-lama. Lo boleh benci Rumi. Tapi seenggaknya lo peduli," ujar Juli ngotot. Dia lompat ke sungai dan tidak muncul setelahnya.


"JULI, GAK! JULI!" Aurel meneriakinya sambil meraung.


Ini adalah hari penuh tragedi yang tidak bisa mereka lupakan.


"Keputusannya selalu buat kita kecewa," ujar Bintang ikut menangis.


Aurel mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi polisi dan bantuan lain untuk mencari mereka. Sebab syok berat, Aurel pingsan dan dibawa ke rumah oleh Bintang.


"Fin, gue butuh bantuan lo." Bintang meminta si Kembar untuk datang ke lokasi tadi agar polisi datang tidak kebingungan.


Selesai menceritakan dari awal sampai akhir, baru Bintang melajukan mobilnya.


3 jam setelah kejadian...


Aurel membuka matanya dengan cepat lalu duduk di kasurnya. Alatas memasang infus karena Aurel dehidrasi berat.


"Ayah! Ayah!"


Alatas buru-buru datang ke kamar anaknya. "Kenapa?"


"Aku tadi mimpi ya?" Aurel menepuk kedua pipinya dengan mata berair.


Alatas mengecek tensi darah Aurel, "Polisi lagi cari mereka. Kamu gak boleh begini, Rel. Kamu butuh minum, butuh makan. 2 hari ini kamu lewatin sarapan, ngurung diri di kamar. Yakin kalo mereka bisa ditemukan."


"Aku merasa bersalah, Yah. Shiren ketemu, Juli yang hilang." Aurel menangis lagi tapi tidak se-histeris tadi.


"Skala yang handle semuanya. Jadi Ayah mohon, kamu memulihkan diri dulu di rumah. Ayah gak mau nanti kamu kenapa-kenapa, Rel."


Melihat Alatas sangat memohon sampai meneteskan air mata, Aurel jadi diam. "Ayah kok nangis?" Ia mengusap pipi Ayahnya.


"Ayah sering liat keluarga yang ditinggal pergi pasiennya karena penyakit ringan, Rel. Ayah gak mau itu terjadi keluarga kita."


Aurel menggeleng, "Aku gak pa-pa, Ayah..."


"Jadi, jaga tubuh kamu baik-baik. Ibu sama Ayah nanti kesini lagi." Ia tersenyum dan mengusap kepala anaknya lantas melangkah ke luar.


Aurel melihat Ayahnya yang urung membuka pintu. "Kenapa, Yah?"


"Gapapa." Setelah itu Dia keluar tanpa menoleh.


Bersambung...


clue : ada yang disembunyiin Alatas. Intinya, Aurel belum dibolehin tau.

__ADS_1


__ADS_2