SENJA TERLUKA

SENJA TERLUKA
Rencana (a)


__ADS_3

Nabila tampak lesu, wajahnya pucat setelah mengerjakan simulasi mapel matematika. Aurel tahu jika Nabila tidak begitu mahir menghafal rumus matematika, tapi dia sangat mahir dalam pemahaman biologi.


Walaupun pipinya sudah ditempel air dingin dari Bintang, juga tidak menambah semangatnya.


"Lo tau gak sih.. gue ngerjain di Lab sampe kebelet boker," ujar Nabila terang-terangan.


Bintang dan Aurel saling lihat menahan tawa. Iya mungkin saking butuh konsentrasi penuh, Nabila jadi kebelet BAB.


"Yaudah BAB sekarang aja, Bil." Aurel menyarankan sekarang, daripada ditunda.


"Udah gak napsu gue boker sekarang. Gue laper. Bintang, pesenin gue nasgor komplit, kwetiau, sama seblak ceker."


Mereka terbelalak, "Banyak amat." Bintang bergumam dalam hati.


"Buruan, Tang... gue laper."


"Iya bentar."


Entah sudah berapa kali Aurel mendengar hembusan nafas malas dari Nabila. Dia seperti kehilangan ion dalam tubuh karena mengerjakan soal matematika yang kurang lebih waktunya 2 jam di sesi kedua.


"Lo abis ini ada acara ya?" tanya Nabila dengan pipi yang ia tempelkan ke meja makan kantin.


"Ada. Mau pergi sama Bara," ujar Aurel jujur. Dia ingin menemani Bara menemui Sofia dan Andre jika berniat kemari mengambil Ranu.


"Bara mulu perasaan," gumamnya bosan. "lo lagian ada urusan apa sih?"


"Darurat intinya. Gak bisa diganggu gugat," canda Aurel diselingi kekehan.


"Kita mau ke Skala padahal."


"Ngapain?"


"Bakar rumahnya sampe angus," jawab Nabila ngasal. "daripada gue bakar orangnya. Kegantengan."


Aurel yang melihat Bintang kesulitan membawa nampan berisi pesanan Nabila langsung inisiatif membantunya.

__ADS_1


"Thanks ya."


Aurel mengangguk saja sambil menaruh mangkuk-mangkuk di atas meja. Nabila meringis saat kepalanya diketuk sendok oleh Bintang.


"Makan noh, sampe badan lo melar." Bintang menarik kursinya dan duduk melanjutkan sesi makannya yang tertunda tadi.


Nabila mendengus, "Iya!"


Aurel terkikik sebentar, "Rencana kalian mau kuliah atau langsung tunangan nih?"


"Kuliah lah!" sahut mereka kompak.


"Bagus deh."


"Lo sendiri, Rel?" tanya Bintang kepo.


"Ibu bilang sih harus, Skala udah biayain juga di ATM itu," jawabnya sedikit malas.


"Wagelasih.. hemat pengeluaran lo sampe nikah sama Skala," kata Bintang betul juga.


*


Alatas melihat siapa yang datang ke kliniknya sampai menyita perhatian pasien dan perawat lain. Alatas menundukkan kepala lalu mengusap wajahnya pelan.


Segeralah dia menghampiri perempuan, yang tak lain adalah Aurel. "Aurel? Kok disini? Kamu sakit?"


Aurel menggeleng, "Nggak kok. Aku mau ketemu Bara."


Alatas lantas melirik pintu ruang kerja Bara yang terbuka. Bara masih lengkap dengan snelli dan di satu tangannya membawa jaket parka warna hitam. Aurel melambaikan tangan dari kejauhan dengan senang, sedangkan Bara menatapnya seperti biasa, datar.


"Ranu gak ikut ya kalo Bara praktik?" tanya Aurel pada Alatas.


"Ada, lagi main di ruang kerja saya," ujar Alatas menunjuk ruang kerjanya di sebelah ruang kerja Bara.


Bara melirik Aurel dari atas sampai bawah. Gadis dihadapannya ini apa syarafnya benar putus setelah amnesia?, "Kamu apa-apaan kesini pake pakaian begini?"

__ADS_1


Alatas menoleh, "Gapapa, ini Ayah tutupin." Makanya dia daritadi berdiri di hadapan Aurel.


Bara menggeser Alatas sedikit, "Jangan-jangan. Ini nih harus ditegur. Ke Rumah Sakit harus pakai pakaian yang sopan."


"Bara, ini tuh udah sopan tau," kata Aurel melihat penampilannya sendiri.


Bara segera memberikan jaketnya, "Pake nih! Dasar, ABG. Disini dilarang pakai rok pendek. Minimal dibawah lutut, kalo bisa semata kaki."


"Ini namanya fashion." Aurel bergaya dengan pedenya di depan Bara dan Alatas.


Alatas tertawa kecil, "Iya, maklum aja. Dia ngikut fashion."


"Pake jaketnya di pinggang, cepet."


Aurel mendesis sebal. Kalau bukan mengejar waktu ke rumah Skala untuk bertanya, dia akan berdebat dengan Bara yang mempermasalahkan pakaiannya. Dengan kesal ia mengikat jaket Bara di pinggangnya. "Udah. Puas?"


"Saya panggil Ranu dulu." Bara melangkah memasuki ruang kerja Alatas.


"Bara emang gitu. Gak betah liat perempuan pake rok. Apalagi kamu kan mau pergi sama dia," ujar Alatas.


"Iya kali." Atau memang, di mata Bara Aurel selalu salah. Bahkan panjang rok sekolahnya sama kok dengan panjang roknya sekarang.


"YEAYY! Ada Kakak Cantik." Ranu berhamburan memeluk kaki Aurel. "ini kan jaket Ayah. Ya kan, Yah?"


Bara mengangguk acuh, "Iya, daripada pamer."


APA DIA BILANG? PAMER APA? AUREL TIDAK BERNIAT PAMER! APALAGI KAKINYA YANG MEMANG JENJANG! WAH, MINTA DIGAMPLONG MEMANG SI BARA!


Aurel mencerca Bara dalam hati. Alatas yang tahu Aurel kesal, hanya tertawa saja.


**



Ya maklum aja kalo Bara protes...wkwk

__ADS_1


Jangan dihujat ya mereka. kasian.😅😆😍


__ADS_2