
Tentu disaat seperti ini Kantor diliburkan selama 1 minggu untuk dijadikan olah TKP oleh Divisi Kriminal Tingkat 3 karena diduga adalah pembunuhan berencana.
Ketua Divisi diperintah oleh Pimpian Pusat untuk menyelidiki, namun bawahan mereka tidak tahu harus siapa yang harus dijadikan saksi karena ketiganya meninggal di hari yang sama. Jelas sulit, tadinya para penyidik akan menunggu Juli pulih karena Damar dan terduga Pelaku sudah tewas. Hanya ia saksi yang diharapkan namun tidak lama operasi berjalan dia juga tewas karena luka tusuk merusak organ dalam hingga pendarahan.
Situasinya makin rumit ketika Pengacara yang ditunjuk Skala untuk menangani kasus, mengajukan Aurel selaku anak kandung korban inisial D sebagai saksi.
Aurel bahkan menutup seluruh pintu dan jendela rumah karena setiap hari wartawan yang meliput tragedi pembunuhan terus datang bergantian. Ia menolak diwawancara karena mereka kira, sebagai anak, ia tahu semua rentetan kejadian.
Skala harus segera mengusut tuntas dalam 1 minggu karena kalau tidak, kasus akan dibekukan karena minim saksi.
Bingung juga ya kan, kasus dibawa ke pengadilan tapi gak ada saksi, korban udah mati. Terus siapa yang hadir? Jaksa sama pengacara doang gitu? Kan kagak mungkin mereka yang udah gak bernafas jadi saksi, yang ada lu dikira gila.
Forensik tidak menemukan sidik jari di gagang pisau selain milik Juli. Darah yang ada di pisau juga sudah fix milik Juli.
Beralih pada TKP Damar terbunuh, anehnya, ada dua sidik jari namun milik kedua korban yang tak lain milik Damar dan Juli.
Penyidik tidak bisa menyimpulkan kasus dengan mudah karena Bina Atlas memiliki lisensi pengacara terbaik di Negara ini. Mereka mempunyai banyak pelindung dan akan diserang jika melakukan sedikit kesalahan jika mencemarkan nama baik Perusahaan.
Skala mendengar penjelasan Ketua Divisi dan langsung protes untuk hal yang disimpulkan sementara.
"Jadi maksud Anda, karena sidik jari di pisau tersebut hanya milik Pak Damar dan Juli. Anda menduga kalau Juli yang sudah menusuk Pak Damar, lalu karena tidak ingin disalahkan Juli akhirnya menusuk dirinya sendiri? Begitu?"
Mereka diam sejenak karena Skala hendak melanjutkan perkataannya.
"Anda semua gak lihat kalau pelaku sebenarnya yang lompat dari gedung saya? Dia yang memulai semuanya. Tapi— dia mengakhiri dengan mudah."
Ketua Divisi menjawab, "Di Pengadilan, kami akan menyerahkan bukti yang ditemukan, bukan berdasarkan opini anda atau lainnya. Mereka butuh bukti langsung, Pak. Kalau begini, Pengadilan akan menjadikan Juli pelaku karena bisa saja dia mengancam orang yang sudah mengambil data perusahaan anda karena melihat apa yang dia perbuat. Bukankah itu masuk akal juga?"
Skala terbungkam. Minimnya saksi dan banyaknya dugaan membuat ia frustasi ingin mati juga. Tapi ending-nya, bukankah sudah jelas jika orang yang lompat adalah pelaku yang ingin mengakhiri semua tanpa persidangan?
"Sebelum kasus ini terjadi, anda bilang ke Pengacara anda jika saat data itu diambil, anda meminta bantuan ke orang lain? Pak, bukankah ini bisa menjadi jalan kita untuk mencari tahu pelaku dengan menjadikan mereka saksi?"
Skala mendongak, "Iya, ada tiga, mereka sahabat saya."
"Apakah kami diizinkan untuk mewawancarai mereka setelah olah TKP hari ini selesai?"
"Saya akan bicarakan ini dengan mereka," ujar Skala hampir putus asa.
...ΩΩΩΩ...
Bintang terus mengawasi Ghaisan yang mengotak-atik 2 komputer dengan 2 keyboard di meja. Dia takjub, selain handal merayu perempuan, Ghaisan juga handal mencari informasi melalui internet.
"Kira-kira gue selesai pulihin CCTV seharian, Tang."
Bintang yang sedang melihat berita di ponselnya langsung mendongak, "Hm? Bukannya kata Polisi yang nanganin kasus bilang, rekaman CCTV 3 hari kebelakang keformat?"
"Keformat bukan berarti CCTV-nya rusak kan?"
Fina yang entah sedang mendownload apa juga sibuk makan chiki sambil berputar di kursinya. "Lo gak ada niatan nemenin Aurel? Dia pasti terpukul banget. Lo gak lupa kan pas Juli ilang di sungai, dia marahnya gimana? Dia—"
"Cukup, Vin. Lo juga jangan buka luka kita dong..." tegur Ghaisan melihat Bintang menunduk hening.
"Oke, maaf."
Bintang beranjak, "Kita semua salah. Kita yang gak peka kalo sebelum kejadian ini Aurel sempet ngehindarin kita."
__ADS_1
Bintang menghela nafas, "Kalo aja Aurel ngomong, kita pasti bakal bantu."
Fina hendak melayangkan mouse-nya, "Kita yang gak nanya ke dia, oon. Mana mau Aurel nyusahin kita."
"Kasih tau gue kalo ada kemajuan. Gue mau ke Kampus."
"Lo mau ke Kampus?" tanya Fina agak ragu. "Lo tau kan situasi lagi kacau, lo yakin bisa ngatasin orang-orang?"
"Selagi mereka gak bawa nama Aurel sama Nabila, gue yakin bisa atasin mereka."
Ghaisan menimpali, "Oke. Nanti gue hubungin kalo pemulihan datanya selesai."
"Yaudah, thanks ya."
Bintang ada harapan bersama mereka karena mereka bisa memulihkan data pada CCTV yang ada di Ruang Kerja Skala yang tak lain adalah TKP.
Untuk memulihkan rekaman, mereka harus menunggu 24 jam lebih karena CCTV diformat sejak 3 hari sebelum tragedi penusukan.
Bintang tahu tidak ada kasus yang tidak ada bukti kalau mau mencari. Ia yakin, sepandai-pandainya pembunuh, dia pasti melakukan kesalahan untuk menutupinya. Walaupun memori pada CCTV tersebut diformat/dinyatakan tidak berfungsi oleh Pihak Divisi, ia tak tinggal diam dan menyuruh Ghaisan dan Fina mengatasinya.
Bintang akan menemukan siapa yang telah membunuh Damar dan Juli, juga akan tahu sebab pelaku bunuh diri di Kantor Skala.
Begitu pelaku sesungguhnya tertangkap, Bintang akan mengajukan hukuman seumur hidup untuknya... atau paling kejam hukuman mati.
[Nada Dering Ponsel]
Bintang menepikan mobilnya dan menjawab panggilan dari Skala.
"Kenapa?"
"Kenapa, Bapak Skala yang terhormat?"
"Pengacara saya ngajuin kamu, Nabila, sama Aurel buat jadi saksi kasus peretasan data perusahaan."
"Bukan kasus pembunuhan ini?"
"Nanti kalau ada titik terang dari kasus pertama, keterangan kalian bakal jadi kunci di kasus ini."
"Saya gak masalah."
"Nabila mau?"
"Tanya aja sendiri, dia lagi gak mau ngobrol sama saya."
"Gitu... yaudah nanti saya yang ngobrol."
"Oke.."
"Kamu ngerencanain apa, Tang?"
"Saya? Saya gak rencanain apa-apa... saya cuma mau orang yang merasa bersalah disini jadi tenang."
"Maksud kam—"
"Saya lagi nyetir, saya tutup ya, Pak."
__ADS_1
Hhh, percuma kalau ia kasih tahu, nantinya akan dihalang-halangi pihak ketiga yang justru mengacaukan semuanya.
Omong-omong soal Nabila. Harusnya dari kemarin ia katakan, kalau banyak tugas yang harus ia kerjakan bersama. "Tapi kan PMM lagi gak aktif, apa mending gue samperin aja ke rumah kali ya?" Yasudah lah, daripada waktunya terbuang tidak berguna lebih baik ia ke rumah Nabila sekaligus menghiburnya.
Bintang bersiul saat keluar mobil menghampiri Nabila yang sedang membaca buku di teras sendirian. "Lo kenapa?" tanya Bintang.
"Gue? Lagi baca," jawab Nabila.
"Syukurlah lo mulai rajin baca buku," ujar Bintang sambil duduk disampingnya.
"Gue diteter supaya nilainya maksimal semester ini. Lo tau kan IPK gue masih rata-rata."
"Iya... gue tau. Makanya lo harus rajin belajar dan kejar nilai yang kurang."
"Gue iri sama lo."
"Kok gitu?"
"Lo masih bisa hibur orang lain, walaupun keadaannya lagi rumit begini."
Bintang tersenyum, "Gue cuma mau lo sama Aurel bahagia."
"Aurel?"
Bintang mengangguk. "Hem. Lo tau kan kita bertiga dari dulu sahabatan? Gue mau kita bahagia bareng-bareng, gak cuma gue."
"Tumben. Biasanya lo egois."
"Dasar... coba gue liat lo baca apaan sih." Bintang merebut buku yang dibaca Nabila. "Hukum Tata Pidana? Lo tertarik beginian?"
"Seenggaknya gue harus tau apa yang bakal gue tuntut nanti buat perusahaan pelakunya. Kan lumayan bisa nambah denda."
"Denda?"
"Kalo bener dia pelakunya, pasti perusahaan disuruh bayar denda atau paling maksimal ditutup. Tapi kalo ada komplotan, hukumannya bisa ditawar ke Jaksa kan?"
"Lo mau mereka dihukum berapa tahun?"
"Seumur hidup," ujarnya serius. "Gue gak mau kalo pelakunya dihukum mati. Gue mau dia sengsara lebih lama."
"Lo emang kejam dari dulu, Bil. Gue takut."
"Takut kenapa?"
"Jangan-jangan lo psikopat yang nyamar jadi cewek cakep," cerca Bintang sambil menarik hidung kekasihnya.
Nabila tertawa dan memukul tangan Bintang. "Kalo gue psikopat, udah gue mutilasi orang-orang."
"Eh, gue mau... setelah kasus ini disidang, kita refreshing, sekaligus gue mau ngomong sesuatu ke orangtua lo."
Nabila menelan salivanya. "Eh? Mau ngomong apa lo?"
"Ngomong soal......."
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Cuma mereka yang tau ya! Kita taunya nanti ekekek. Sabar sabarin aja sampe kasusnya selesai. Oke? Kalo kita udah nemu pelakunya ntar kita hajar onlen..😬