
Akhirnya, berkat Bintang dan Aurel, Nabila jadi terbiasa PMM satu minggu ini. Ya walaupun sering ngeluh capek atau ngantuk, Bintang bangga.
"Lo bilang mau nurutin apa mau gue... sampe sekarang mana.. gak dibahas lagi," keluh Nabila berjalan malas-malasan.
"Kalo ke Korea ya ntar lah, Bil. Duit dari mana?" Bintang tertawa. "Gaji gue kan sekarang buat lunasin kuliah."
"Gue gak minta ke Korea beneran," ujar Nabila.
"Terus apa dong?" tanya Aurel curiga. Biasanya, Nabila tidak meminta itu, tapi minta yang lebih.
"Ayo ikut gue," ajak Nabila semangat.
DUARR~
Merasa ada sambaran di tubuh mereka begitu Nabila membelikan 6 kaleng minuman soda dan duduk di depan minimarket.
"Maksud lo beli ginian apaan, Bil?" tanya Bintang merasa tidak enak.
Dengan mudahnya ia jawab, "Temenin gue minum softdrink."
"Lo tau kan kita gak bisa minum softdrink?" Bintang hanya mengingatkan.
"Sebentar aja. Ini bukan alkohol kok, gak bikin kalian mabok."
Aurel bilang, "Yaudah, Tang. Lagian kan dia udah full ikut PMM di Kampus."
[Beberapa menit kemudian setelah minum soda]
Nabila semangat, "Seger banget badan gue, anj*y!"
Berbeda dengan reaksi Nabila. Bintang justru merasa perutnya diaduk dan panas, padahal dia minum 1 kaleng saja.
Aurel tidak bisa menahan lagi. Dia sangat mual. Dengan langkah sempoyongan Aurel berhenti di pinggir minimarket dan memuntahkan isi perutnya. "Aku nyerah." Dia kembali muntah sampai sekujur tubuhnya lemas.
Bintang dan Aurel memang sejak dulu tidak pernah minum softdrink karena punya asam lambung. Mereka belum makan sejak sore sampai malam, lalu disuruh minum soda. Gimana gak mual perutnya.
Bintang menyambar plastik dan ikut muntah melihat Aurel muntah.
"Kalian berdua bisa jalan gak?" Nabila jadi merasa bersalah mengajak mereka minum softdrink.
Aurel terduduk di aspal dan menunduk, "Bisa. Tapi kalo nabrak pohon gimana?" Kepalanya pusing sekali ditambah perutnya masih panas.
Bintang mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Bara. "Lo ke minimarket deket Kampus, Bang. Cepetan yak."
Nabila menatap kaleng yang ia habiskan, "Ini kan soda biasa, gak ada alkoholnya. Tapi mereka kok kayak orang mabok ya?" Walaupun disisi lain ia kasihan, Nabila tertawa karena melihat mereka menyelesaikan tantangan.
Aurel tidak sengaja minum soda kaleng lagi karena ia kira air putih. "Ayo kita pulang!" teriaknya sambil mengangkat kedua tangan dan berdiri pelan-pelan.
Bintang berdiri dan berkata, "Gue gak mau lagi liat Aurel begitu. Gue bisa aja tahan, tapi dia gak bisa."
__ADS_1
Aurel tidak sepenuhnya kehilangan kesadaran. Dia merasa sangat pusing dan perutnya seperti dikocok tiap kali bergerak. Bintang membuang kaleng dari tangan Aurel dan memapahnya duduk lagi.
"Mana, Rumi... Dia sama Skala ya..?"
Bintang menepuk pipi Aurel cukup keras supaya gadis itu sadar dengan ucapannya yang mulai ngelantur, "Woi, sadar!"
"Awss! Sakit tau, Bintang jelek."
"Ngomong apa lo barusan?" Bintang berlari ke rerumputan untuk mengeluarkan isi perutnya lagi.
Nabila kembali masuk minimarket untuk beli air mineral.
Bara datang menghampiri Aurel yang sedang memejamkan mata sambil berhitung dengan jarinya. Ia memanggil Bintang, "Pada kenapa sih?"
"Aurel minum 2 softdrink. Dia gak terbiasa makanya kayak orang halusinasi," jelas Bintang.
Bara mengambil kaleng yang ada di meja, "Ini varian yang ada alkoholnya 6%."
BRAK'
Tiba-tiba Aurel menggebrak meja, "Berisik!"
Kadar alkohol rendah, namun Aurel bereaksi sampai segitunya. "Kita pulang, Rel."
Nabila datang membawa air mineral, "Minum dulu, Rel."
Aurel meminumnya lalu menatap Bara dan Bintang. "Kalian... gak laku-laku yaaa." Dia tertawa sangat lepas.
"Gu- gue." Nabila menjawab takut-takut. "Tapi itu softdrink biasa kok, gue juga minum."
Bara membuang semua kaleng yang ada di atas meja lalu memapah Aurel.
"Dadah.. semuanya..."Dia berlagak bodoh sambil melambaikan tangan.
Tidak sengaja kepalanya terantuk atas pintu mobil, Bara justru bilang, "Makanya gak usah banyak tingkah!" Dia pun masuk mobil dan melaju ke rumah.
Bintang menatap Nabila, "Jangan lagi lo minta begini." Dia pergi duluan meninggalkan Nabila.
Nabila jadi merasa bersalah. Ia tidak tahu kalau Aurel sebegitu sengsaranya meminum softdrink yang ada kadar alkoholnya. "Harusnya lo liat dulu variannya, beg*!" Ia merutuki diri sendiri.
Bara geleng-geleng kepala saat Aurel sudah memejamkan mata namun mulutnya sibuk mengoceh. "Twinkle.. twinkle.. little.. star..." Lalu dia tertawa sendiri.
"Nyanyi aja fals, sadar sendiri."
...ΩΩΩ...
Pagi harinya, Aurel terbangun dan merasa tubuhnya segar. Ia mengingat kejadian kemarin dan menyesal. Ia melihat ada segelas air di nakas serta kertas dibawahnya.
Diminum ya, air kelapa bisa netralisir tubuh kamu.
__ADS_1
Ayah
Aurel meminum sampai habis lantas buru-buru keluar untuk bertanya pada Ibunya yang sedang mengobrol dengan Alatas.
"Udah bangun? Mending?" tanya Alatas.
"Bu, gimana dong? Solat aku gak diterima 40 hari dong. Aku kan kemarin— aahh, gara-gara Nabila. Ya ampun, Bu. Terus gimana? Aku gak solat gitu?"
"Yang namanya solat itu wajib. Gak boleh ditinggal. Urusan diterima atau gak ya salah kamu," ujar Alatas.
"Oh gitu ya." Aurel baru mudeng sekarang. "Aku jadi anak nakal udah minum— hisss kesel aku sama Nabila..." Ia menjambaki rambutnya sambil berjalan menuju kamar.
Sebelum masuk kamar, Bara sudah menghadangnya di depan pintu. "Bagus ya kamu udah mabok-mabokan!"
Aurel terlonjak, "Iya, maaf."
"Mentang-mentang udah kuliah, minumnya jadi gak jelas! Mau jadi apa kamu?!"
Gadis itu memejamkan mata kuat-kuat kena semprotan Bara, "Jadi apa ya enaknya?"
"Kamu—"
"Selagi Bara belum nikah... jangan sering emosi ya, nanti darah tinggi terus pacar Bara ikut kena marah," ujar Aurel sambil menepuk lengan Bara. "Permisi, aku mau tidur lagi." Ia menggeser tubuh Bara dan masuk kamar.
Bara melongo, "Sejak kapan dia pinter jawab? Wah, ada perkembangan."
Alatas berkata, "Kamu sekarang yang takut Aurel, Kak."
Alya tertawa, "Biarin mereka. Berantem tiap hari, baikan tiap jam."
Bara menggaruk kepalanya karena bingung, "Gak sia-sia hubungannya ada pelakor."
Bagaimanapun juga, Aurel masihlah yang dulu. Penakut. Hanya saja sekarang ia mencoba menahan rasa takutnya dengan mengingat yang baik-baik.
Terdengar ketukan pintu dari luar, Alatas pun membukanya. "Bintang? Apa kabar?"
"Gak baik, Dok. Aurel lagi ngapain?" tanyanya sambil menyalami Alatas.
"Gak baik kenapa?" tanya Alatas penasaran.
"Saya gak bisa tidur nyenyak mikirin Aurel," jujur Bintang.
"Aurel lagi tidur. Dia gak pa-pa. Justru saya khawatir sama kamu datang kayak rentenir nagih kreditan," candanya.
Bintang mendatarkan wajahnya, "Saya pulang nih."
"Masuk dulu, nanti saya panggil Aurel," ujar Alatas. "Tapi kalo mau pulang ya silahkan." Ia tertawa kembali.
"Teganya..."
__ADS_1
Bersambung...