SENJA TERLUKA

SENJA TERLUKA
Ending?


__ADS_3

Liburan sudah usai. Mereka kembali aktivitas di sekolah dengan berbagai pelajaran yang memusingkan. Tapi demi nilai, mereka berlomba-lomba menjadi yang terbaik di sekolah.


Aurel dan Bintang berjalan sepanjang gang menuju gerbang sekolah. Mereka sengaja pakai bus umum karena ingin mengenang masa-masa sahabatan dulu.


Nabila datang tiba-tiba nyempil di tengah mereka sambil menggandeng lengan keduanya.


“Pagi,” sapanya sambil berhenti.


“Pagi juga,” balas Aurel.


“Kata Mak gue ini udah siang lho,” jawab Bintang.


“Itu kalo lo bangun jam setengah tujuh! KESIANGAN.” Nabila akhirnya mengajak Aurel jalan lebih dulu.


Bintang yang tertinggal langsung berlari, “Kurangajar.”


Aurel tertawa, “Tapi Bintang hari ini bangun cepet tau.”


“Ya iya. Awalan aja begitu, ntar juga kumat.”


“Bil, lo galak amat sekarang,” komen Bintang heran. “lo gak PMS tiap hari kan?”


Nabila memukul lengan kekasihnya, “Mana kuat!”


“Coba sekarang tarik nafas…..” Bintang menginterupsi Nabila. Nabila pun menarik nafas pelan. “Terus jangan dibuang.” Habis itu Bintang tertawa jahannam di depan wajah Nabila dan berlari duluan sampai gerbang.


Nabila mengejar Bintang sampai-sampai Aurel ditinggal sendiri. Tidak heran kalau begitu, mau berteman atau pacaran, mereka tetap berselisih. Setidaknya impian Aurel tercapai ; bersahabat dengan mereka lagi.


*


“Hai, Rel.”


Aurel menoleh ke kanan dan terjengat melihat siapa yang memanggilnya. Mereka jalan beriringan.


“Skala. Ngapain?”


“Nemenin kamu.”


“Ngapain?”


“Nemenin kamu.” Lama-lama Skala kesal juga.


“Iya maksudnya ngapain nemenin aku?”


“Pengen.” Skala menaruh kedua tangannya di dalam saku celana. “belum maafin aku ya?”


Aurel sedikit terkejut dengan pertanyaan mendadak dari Skala.


“Belum ya?” Dia tertawa hambar.


“Udah.” daripada ntar ngambek.


“Bener gak?”


“Iya, Skala.”


“Berarti jadi nikah ya?”


Aurel menghadap Skala, “Iya sana sama Sadira!” Dia berjalan menghentak karena kesal.


Skala tertawa, “Nikah sama kamu…”


Dibuat kesal dua kali pagi-pagi, Aurel hendak meninju perut Skala.


*ringtone HP

__ADS_1


Aurel jadi mengambil ponselnya di tas karena ada telepon, ia juga ingin mode diam saja.


“Halo?” / “Ya?” / “Skala? Dia sama aku.”


Aurel memberikan ponselnya pada Skala. Skala menerima dan melihat kontak yang ingin bicara dengannya. Dengan santainya pria itu justru menggeser tombol hijau di layar dan mengembalikan ke Aurel.


“Kok dimatiin?” Padahal kan itu tunangannya alias calon istrinya.


“Gak penting. Di blokir aja.. nyepam HP.”


“Gak boleh gitu…”


“Harus gitu.”


“Terserah deh. Aku masuk dulu.” Aurel melambaikan tangan hendak masuk pagar sekolah.


Skala menyuruh Aurel mendekatinya lagi.


“Kenapa?”


“Nanti ke rumah, ada yang mau aku bicarain.”


“Udah?”


“Kembaliin lima langkah aku,” kata Aurel malas.


Skala tertawa lalu mengusap kepala Aurel, “Belajar yang rajin. Kalau perlu belajar supaya jadi istri yang baik.”


Aurel menendang kaki pria itu, “Gak usah ngaco.”


Skala mengusap-usap kakinya, “Kasar ya kamu, ketularan Nabila.”


“Kamunya minta dikasarin!”


Skala membungkuk dan memegang lututnya supaya tingginya sejajar dengan Aurel.


“Aku tulus nolong sampai cinta dan gak mau kamu digantiin sama siapapun,” ujarnya serius.


Aurel menatap manik coklat Skala, “Ini nih. Suara buaya kejepit pintu WC.” Sangat disayangkan sekali, mau dirayu level savage sekalipun dia tidak akan terpengaruh lagi.


Skala menegakkan tubuhnya. Hanya Aurel yang mampu menjatuhkannya dengan kalimat tidak sopan. Apalagi manusia tertampan se-Jakarta, masa, disamakan dengan buaya kejepit pintu WC.


“Gak sekalian aja aku disamain sama knalpot tossa.”


“Ngaku? HAHAHA.”


Skala menggeleng kepalanya, “Udah, sana masuk.”


“Iya udah.”


Baru saja kakinya melangkah hendak masuk kelas. Juli memanggilnya membuat ia balik badan dan minggir dari depan pintu.


“Kenapa, Jul?”


“Eh, gue ntar temenin ke rumah Pak Skala ya? Mau kasih naskah.”


“Baru selesai liburan, kamu udah selesai aja naskahnya.”


“Iya, kali ini gue coba angkat kisah nyata.”


“Wah, kisahnya siapa nih?”


“Ada deh. Nanti lo tau sendiri.”


“Hemm, bikin penasaran.”

__ADS_1


“Sengaja. Yaudah makasih ya.”


“Iya santai aja.”


*


Brak’


Skala melempar beberapa lembar kertas F4 yang diberi tiga klip di sisi sebelah kiri ke atas meja. Ia mondar-mandir sambil menatap dua orang yang duduk di seberang meja kerjanya.


“Itu true story-nya siapa?” tanya Skala horor sambil membuka kembali lembar per lembar naskah milik Juli. Kali ini Juli ke rumah dengan Aurel sepulang sekolah.


Skala jelas heran dengan naskah yang Juli ajukan. Bukan jelek, masalahnya… ini mirip dengan cerita…


“Kamu angkat kisah saya sama Aurel tanpa izin?”


Waduh.


Juli menepuk kepalanya sendiri. Aurel menoleh ke samping lalu merebut naskah dari tangan Skala. Ia membaca tepat narasi, Memang, laki-laki seperti itu tidak pantas dipertahankan. Gadis itu sungguh kecewa telah dibohongi, ah tidak, bahkan dipermainkan hatinya.


Dalam hati Aurel setuju! IYA EMANG, BUKAN DIPERMAINKAN LAGI, DIKHIANATI! Udah gitu gak ada rasa malu masih temuin Aku!


Skala merebut kembali dan membaca narasi tersebut sambil berdecak geleng-geleng kepala.


“Kamu udah gak izin. Terus buat karakter saya seolah paling salah disini. Saya jadi orang yang harus dihujat karena bohong sama satu perempuan-” Skala menatap Aurel yang menyunggingkan senyuman. “kamu kenapa senyum-senyum gitu? Kesurupan?”


“Nggak, aku suka naskahnya,” kata Aurel berbanding terbalik dengan Skala.


“Cakep, Rel.” Juli mengacungkan jempol bangga.


“Kamu suka karena di naskah ini, kamu dibuat seolah paling tersakiti dari awal sampai ending.”


“Ya emang fakta kan?” tanya Juli keceplosan.


Skala kesal dengan mereka, “Aku juga korban lho, Rel, disini. Korban perasaan. Kamu aja yang selama ini gak peka.”


“Astagfirullah, yang nulis naskah kan saya.. nama kalian juga saya sensor. Kenapa diributin seolah ada adegan dewasanya coba?”


“Diam kamu!” sentak Aurel dan Skala bersama. Mereka kembali adu mulut.


“Iya aku diam,” kata Juli menutup mulutnya.


“Mana endingnya aku nikah sama Mak Lampir.. OGAH. Kamu kan penulis nasional.. masa endingnya begini? Kamu mau malu-maluin saya?” Skala sungguh tidak habis pikir dengan alur cerita Juli.


“Endingnya gak usah ada yang nikah biar greget,” ujar Aurel.


“Oooo tidak bisa. Si Alisa sama Cakra harus nikah dong… biar happy ending,” komen Skala yang dijawab gelengan dari Aurel.


“Yang bikin naskah, Pak Skala aja kalo gitu…” Juli menaik-turunkan alisnya. Dalam hati ia menyerah karena naskahnya jadi bahan perdebatan oleh sosok kedua pemeran utama.


Skala menutup naskah, “Tapi karena banyak request dari pembaca minta kamu bikin true story… saya proses verifikasi.”


Juli bersorak, “Yeuuu, dari tadi debat, tau diterima gue gak nunggu lama.”


“Tapi endingnya Cakra sama Alisa harus nikah, kalo gak, gak saya terima naskahnya,” ujar Skala licik.


Aurel menganga, “Wah, emang licik kamu ya.”


“Yaudah! Kalo bukan demi duit, nyesel gue kesini,” kata Juli dramatis. Mana dia lagi mau perawatan mobil karena sudah tanggalnya. “tapi bonusnya nambah ya, Pak?”


Aurel bersidekap dada menantang. Juli memang pintar dalam hal apapun. Termasuk uang.


Skala megap-megap, sudah nebok royalti, sekarang dia minta bonus penjualan buku. Tapi tidak pa-pa, demi ending sebuah cerita, Skala rela.


“Deal.”

__ADS_1


“Edan,” kata Aurel melenggang pergi. (re: gila)


***


__ADS_2