
Hari ini Aurel dan Nabila kompak pakai headphone ke sekolah, mereka beriringan sampai dibilang anak kembar padahal hanya sahabat lama. Mereka melakukan ini bukan tanpa alasan. Ingat janji kemarin? Mereka akan mengacuhkan Bintang dan Skala. Bahkan sepulang sekolah, Nabila menolak diantar Bintang. Kini giliran Aurel yang menghindari Skala yang sudah stay dekat pos satpam.
“Assalamu’alaikum, Senjakuuuu,” sapa Skala kelewat ekspresif.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Aurel dan Nabila dalam hati. Ingat ya, DALAM HATI.
Senja palalu… ini masih siang… batin Nabila sambil sedekap dada lalu menatap Aurel yang juga menatapnya dan mengangguk.
Merasa dilewati begitu saja, Skala menghadang mereka. “Ya Allah, gak direspon sama sekali,” ujar Skala.
Sontak Aurel dan Nabila mengerem langkahnya.
“Kok kayak ada yang halangin jalan ya?” tanya Nabila matanya mencari-cari sesuatu.
“Udahlah, palingan sosok iseng.” Akhirnya mereka mengambil jalan terpisah karena ada Skala.
Skala menunjuk wajahnya bingung, “Sosok apaan sih???” Ia kembali mengejar Aurel. “kalian kenapa coba?”
Nabila menyerong ke arah Skala, “Alisa capek ngadepin Cakra.”
Skala menatap mereka bergantian dengan heran. Hujan, tidak. Badai, tidak. Kenapa mereka begitu? Batin Skala.
Kalau Nabila bisa dengar isi hati Skala. Maka detik itu juga dia akan teriak di depan wajah Skala, YA LO NGACA DONG, ASTAGFIRULLAH ! JANGAN BIKIN GUE TAMBAH ENEG ! MAU LO PRESDIR ATAU PRESIDEN, KELAKUAN LO TETEP MINUSSS ! Begitu deh. Kalian tahu kan Nabila itu paling nyablak mulutnya.
“Maksud kamu?” Skala kini menghadap Nabila.
Nabila menghendikkan bahunya acuh, “Gak tau juga sih itu ada di paragraf ke berapa dan halaman berapa di novel Juli. Tapi setau saya ada. Ya gak, Rel?”
“Kayaknya,” ujar Aurel ragu.
“Kenapa kamu bilang gitu?” tanya Skala pada Nabila.
“Tanya aja sama Cakra. Kalo perlu tanya penulisnya kenapa Alisa capek ngadepin Cakra,” ucap Nabila panjang lebar. “dah lah, yuk pulang.”
Aurel mengangguk mengikuti Nabila pergi.
Bintang memegangi lututnya karena lelah berlari mengejar dua perempuan yang tanpa diketahui penyebabnya menghindar. Ia mendongak, “Lho? Pak Skala? Ngapain disini?”
“Ya suka-suka saya. Mau beli sekolahnya kek, tanahnya sekalian juga bukan urusan kamu.”
Wuih, sombong amat! batin Bintang bernada.
“Saya penasaran kenapa mereka gitu?”
“Mereka siapa?”
“Aurel sama Nabila. Mereka aneh.”
Membahas mereka, Bintang jadi malas sebenarnya.
“Kalo Nabila marah sama Saya.”
“Kok bisa?”
“Iya, gara-gara Saya jalan sama Sadira.”
“Terus Aurel kenapa?”
“Ya sama, marah.”
“Marah sama kamu?”
“Kita.”
“Saya juga?”
Dengan polosnya Bintang mengangguk. “Aurel bilang, perjanjian buat maafin Sadira dan perbaikin hubungan, dia gak akan mau. Udah terlanjur sakit hati kali.”
“Oh, jadi itu.”
“Iya, gimana ya? Saya juga bingung harus gimana.”
“Coba nanti saya yang ngomong sama Aurel.”
__ADS_1
“Aurel masih nginap di rumah Bapak?”
“Udah jarang, semenjak pulang dari Bandung.”
“Waduh.”
Tamat sudah riwayat mereka. Akhirnya karena penasaran, Skala bergegas pulang untuk bertanya to the point.
**
Baru saja menutup pintu. Aurel dikejutkan dengan adanya Sadira sedang duduk di sofa.
“Gemintang mana?” tanya Aurel mendekati Sadira.
“Tidur,” jawabnya acuh.
“Oh.”
Baru hendak pergi ke kamar, Aurel berhenti karena ucapan Sadira. “Lo berpengaruh banget ya di kehidupan Skala? Sampai-sampai dia batalin acara pertunangan demi lo. Cih, jatuh cinta sama bocah.”
“Seenggaknya cara berpikir aku lebih dewasa daripada kamu,” tukas Aurel.
Sadira beranjak, “Lo! Lebih baik pergi dari kehidupan Skala, sebelum gue yang ngusir lo.”
Aurel tersenyum, “Kamu selalu merasa tersaingi, Dina.”
“Apa lo bilang?” tanya Sadira yang matanya sudah berembun. Rahangnya mengeras karena tidak terima. “lo yang selalu ada dimana-mana. Gue udah mutusin buat pergi jauh, lo malah ada lagi!”
“Tuhan mengatur semuanya, Din. Siapa tau itu pertanda, kamu harus menyesali semuanya.”
Sadira melayangkan tangannya ke arah wajah Aurel, namun Aurel menahan tangannya sampai gadis itu memekik kesakitan. Cengkraman Aurel lumayan kuat sampai Sadira tidak bisa melepaskan tangannya.
Cklek’
“AUREL !” teriak Skala yang baru masuk rumah.
Aurel melepaskan tangan Sadira perlahan, dia tidak akan mengatakan adanya kesalahpahaman, atau ini tidak seperti yang Skala lihat. Plis, ini bukan sinetron.
“Kamu beruntung," ucap Aurel seraya tersenyum.
“Apa-apaan tadi?” Skala berdiri di dekat mereka dan melihat tangan Sadira ada bekas cengkraman. “Aurel, kok kamu gini? Berani nyakitin orang lain?”
Sadira mengusap-usap tangannya, “Gak tau nih. Kasar banget.”
Aurel terkekeh sinis, “Sakit ya?” tanyanya pada Sadira.
Kening Skala mengkerut, “Rel, kamu kenapa sih? Kok jadi gini? Kalo ada masalah, ayo selesaiin baik-baik.” Skala hendak menggandeng tangannya namun Aurel lebih dulu menghindar.
“Masalahnya ada disini.” Aurel melirik tajam Sadira.
Skala yang mengerti maksud Aurel pun mengangguk lemah, “Tapi jangan nyakitin Sadira juga. Tangannya sampai merah gitu.”
Aurel menatap mereka geram.
“Suruh Gemintang obatin tangan kamu, ya,” ujar Skala.
Sadira mengangguk dan pergi dengan langkah kesal. Aurel sudah berani melawan sekarang. Kurangajar.
YA ITU BELOM SEBERAPA, MEDUSA ! LO GAK INGET WUJUD LO KAYAK APA DULU !
Gantian Skala membereskan masalahnya dengan Aurel.
“Ka-”
Baru membuka mulut hendak bicara, Aurel pergi ke kamarnya untuk mengemasi barang-barangnya. Skala berdiri di pintu, “Rel, dengerin dulu… Aku mau ngomong.”
“Ngomong tinggal ngomong.” Aurel sibuk sekarang. Sibuk mengemasi pakaian dan alat tulisnya ke dalam koper dan tas gendong.
“Kamu kenapa sih akhir-akhir ini enteng banget tangannya? Dia kan punya riwayat penyakit, jangan kasar gitu.”
“Hm.”
“Aku serius! Gemintang udah berkorban buat aku! Sadira juga udah biasa aja sekarang! Kamu malah yang susah dimengerti, Rel! Capek aku!”
__ADS_1
Aurel menggeret kopernya lalu menyingkirkan tubuh Skala.
“Rel! Dengerin, aku belum selesai ngomong!” sentak Skala sambil menahan lengan Aurel.
“Lanjutin,” suruh Aurel.
“Alisa emang capek disini, tapi Cakra yang nanggung semuanya,” ujar Skala mohon pengertian.
Aurel menghela nafas kasar, “Apa yang aku lakuin ke Sadira itu belum sebanding sama apa yang dulu dia lakuin ke aku.”
Skala mengusap wajahnya kasar. “Waktu itu kita sepakat buat maafin dia, memperbaiki hubungan lagi kan.”
“Aku gak jawab. Aku gak bisa. Apanya yang harus diperbaiki, Skala?” Aurel menunjuk dirinya, “Aku.. bunuh diri karena Dia! Dia gak cuma ngelukain aku pake kata-kata. Tapi dia mukul aku! MUKUL! Dan kamu marah cuma karena aku buat tangannya lecet?” tanyanya miris. “dia gak cuma injak aku, dia juga injak harga diri keluarga aku! BAHKAN SAMPAI SEKARANG AKU GAK TERIMA, KAMU PENJARAIN BAPAK, SKALA! OTAK KAMU DIMANA, HAH?!” bentaknya emosi.
Wajah Aurel memerah, air matanya sudah kemana-mana. Dia marah! Sangat marah! Bukan hanya karena masa lalunya, tapi mereka juga bertindak seenaknya.
“Kalian berdua itu sama aja! Mentang-mentang punya kekuasaan, nindas orang lemah.”
Skala terdiam.
“Awalnya kamu juga udah tau kan kalau dia nindas aku? Makanya kamu anggap apa yang dia lakuin itu biasa aja. Selama ini aku cuma mau dia minta maaf. Tapi apa? Dia gak ada rasa bersalah, sedikitpun.”
“Rel, aku udah minta maaf kan soal itu. Kenapa kamu bahas lagi?”
“Kenapa? Kamu merasa bersalah?”
“Rel… bisa gak, kamu jangan gini.”
“Terus kamu maunya aku gimana? Terus-terusan dicap bodoh sama orang-orang?! Sadira itu gila! Dia gak sehat!” teriak Aurel pada akhirnya.
“Aurel jaga bicara kamu!” bentak Skala.
“Dia berusaha bunuh aku! Berkali-kali! Aku benci dia!”
Plak’
Tangan Skala memanas dan bergetar setelah menampar wajah Aurel. Aurel menatap Skala, “Sekarang, aku benci kamu.”
Aurel mengambil cat semprot warna putih yang biasa Skala gunakan untuk menutupi baret mobil di nakas lalu mencoret silang tembok Skala yang terdapat lukisan konyol buatannya.
“Maaf, Rel. Maaf…” Skala menahan tangan Aurel agar tidak mencoret lukisannya.
“Lupain tempat itu. Kamu nolong aku juga karena ada niat lain kan.”
Aurel menarik kopernya dan keluar dari rumah Skala. Skala terdiam menatap nanar dindingnya yang tidak bagus lagi karena dicoret Aurel menggunakan cat semprot.
Tempat itu… kenangannya.
Sekarang aku benci kamu !
Tidak boleh. Aurel tidak boleh membencinya. Skala langsung mengejar Aurel yang untungnya belum terlalu jauh dari gang komplek.
“AUREL!”
Aurel berhenti lalu balik badan.
“Maaf,” Aurel dapat membaca gerak bibir Skala. Gadis itu menangis lagi. Sekarang, tidak ada yang perlu diperbaiki.
TINNNNN
“SKALA! AWAS!” Aurel menjatuhkan koper dan tasnya lalu berlari ke arah Skala yang tampaknya melamun ke arahnya.
BRUK’
BUGH’
**
**GUE GAK NGERTI LAGI SAMA KARAKTER AUREL, PADAHAL GUE YANG BUAT SENDIRI ! ITU HATI APA AIR, BUSET ! BENING AMAT
MEDUSA KAYAK SADIRA/DINA EMANG HARUS DIBAKAR IDUP-IDUP.
*maapkeun capslock jebol.
__ADS_1
Huhhh, erosi, eh emosi**.
:)