
Karena asma yang dideritanya, Yuan sudah 3 hari dirawat. Berita pencarian Juli dan Rumi akan selesai pukul 12 malam nanti, mereka was-was berdoa semoga mereka ditemukan dalam keadaan selamat.
Alatas memberikan hasil rontgen paru-paru Yuan yang kedua pada orangtuanya. "Sebagian paru-paru Yuan rusak karena terpapar alergi. Kami usahakan membuat surat rujukan ke RSUD supaya dapat terapi intensif."
Mereka tidak paham mengenai rontgen karena hanya warna putih dan hitam. Namun Ayah Yuan bilang, "Kami percaya dengan anda, Dok. Jadi, apapun keputusan anda akan kami terima demi kesembuhan Yuan."
"Ini salah kami jarang mengkontrol Yuan. Dia mungkin tertekan karena orangtuanya juga," kata Ibu Yuan turut menyesal.
"Hari disaat Yuan dibawa ke Klinik, kondisinya buruk. Besoknya dia kembali normal. Dan malamnya, aliran darah di paru-parunya sempat tidak stabil sampai harus di RJP. Jadi lebih baik Yuan terapi di Rumah Sakit besar."
Mereka mengangguk, "Atau Yuan kami bawa ke Singapura saja, Dok? Kami punya kenalan Dokter disana."
Alatas berdehem cukup panjang, "Keputusan kalian bagaimana?"
Leni —Ibu Yuan— melihat Yuan sedang mengobrol bersama Aurel dan Nabila.
"Mama, ada apa?" tanya Yuan kurang semangat. "Papa mana?" Ya... harap maklumi saja karena penyakit asma bukan penyakit ringan seperti demam.
Aurel berdiri dan mempersilahkan Ibunya Yuan duduk.
"Papa masih ngobrol sama Dokter Alatas," katanya.
Nabila menyenggol Aurel mengkode agar keluar atau tidak, takut mengganggu mereka.
"Yuan. Papa sama Mama udah bicara soal penyembuhan kamu ke Dokter Alatas. Papa menyarankan supaya kamu berobat ke Singapura, Dokter Alatas setuju."
Yuan menghembuskan nafas pelan lalu menatap kedua sahabat perempuannya, "Kalian istirahat ya. Makasih udah jenguk gue sampai sekarang."
Nabila menggandeng tangan Aurel, tapi rasanya berat untuk pergi karena Leni membahas pengobatan ke Singapura.
"Nabila, apa itu artinya Yuan bakal pergi juga?"
Nabila menutup pintu bangsal dan melepas tangan Aurel.
"Lo pikir, kita bisa cegah Nyokapnya Yuan? Lo tau kan, Yuan itu sakit parah. Wajar kalo Nyokapnya mau yang terbaik."
"Tapi mereka bakal nunggu sampai Juli ketemu kan, Bil?" tanyanya miris.
"Iya," jawab Nabila merasa tercekik dengan pertanyaan Aurel. "Ayo kita ke Kantor Skala."
"Ngapain?"
"Lemparin bom nuklir! Ya tanya lah ada perkembangan atau nggak."
Mereka segera pergi ke Kantor Skala, namun antara bingung dan penasaran melihat seorang Presdir berlari dari ruangannya ke Parkiran tanpa memerdulikan Aurel tidak seperti biasanya.
"Dia kenapa?" tanya Nabila melihat Skala seperti kipas angin.
"Mana aku tau," acuh Aurel. Ia lantas bertanya pada satpam disana. "Pak, maaf, itu Skala kenapa buru-buru ya keliatannya?"
"Pak Skala mau ke Rumah Sakit. Temannya yang kebawa arus sungai udah ketemu, tapi sayang gak selamat."
Mereka bergegas ke Rumah Sakit.
"Aku telfon Bara dulu." Pasti Bara tahu kabar ini karena Dia sedang menggantikan shift Alatas di RSUD
__ADS_1
"Rel! Jasadnya Rumi udah ditemuin petugas!"
"Jasad kamu bilang?"
"I-iya. Rumi gak selamat. Dia udah meninggal 2 hari yang lalu."
"Terus Juli gimana? Dia baik-baik aja kan?"
"Soal itu... Juli belum ketemu, Rel."
"Gitu ya? Makasih, Kak."
"Kamu gak kesini, Rel? Skala kayaknya terpukul pas tau Rumi meninggal."
"Entah aku jahat atau gimana. Tapi aku rasa, ini lebih baik, Kak." Aurel mematikan ponselnya dan menyuruh driver taksi untuk putar balik.
"Kok tiba-tiba gak jadi?" tanya Nabila.
"Kita cuma mau ketemu Juli, bukan Rumi."
Nabila menghela nafas bimbang. "Menurut lo, Skala baik-baik aja?"
"Dia bakal terbiasa," jawab Aurel melihat ke arah jendela.
"Gue harap, lo gak kayak gue dulu, Rel."
Aurel lega dan sedih bersamaan. Manusia normal pasti merasa lega kalau pembuat masalah hilang. Yang tidak habis pikir adalah, kok bisa Rumi ditemukan sedangkan Juli tidak?
Alya buru-buru menghampiri anaknya yang masuk rumah dengan wajah ditekuk. "Aurel. Kata Ayah, Rumi udah ketemu tapi meninggal? Beneran itu?"
"Kabar baiknya, itu bener, Bu."
"Kabar buruknya Juli belum ketemu."
"Rumi meninggal menurut kamu kabar baik?"
"Iya. Daripada gak ketemu kayak Juli. Keluarganya bisa nerima jasad Rumi. Sedangkan keluarganya Juli? Mereka gak tau keadaan Juli gimana nanti kan, Bu?"
"Kamu harusnya sedih, teman kamu meninggal."
"Teman?" Aurel balik badan dan menanyakan hal itu. Ia melihat jam dinding menunjukkan pukul 8 malam. "4 jam lagi pencarian Juli dihentikan, Bu. Aku lebih kehilangan Juli, tapi kenapa Ibu terus kasihan sama Skala? Apa karena dia dulu sering bantu kita?"
"Skala yang pernah bohongin kita, lebih baik daripada kamu yang bahagia dengar temannya sendiri meninggal."
"Ibu gak pernah diinjak-injak sama Dia. Selama ini Ibu kira aku baik-baik aja?"
"Ada apa sih?" Alatas pulang lebih awal karena kondisi Yuan sudah membaik semenjak makanannya terjaga. Ia tidak tahu kenapa mereka ribut.
Alya dan Aurel saling pandang sengit layaknya mau perang.
"Kamu pergi ke Rumah Sakit, liat kondisi Rumi."
"Gak mau. Punya alasan apa aku liat kondisi dia? Juli bisa lebih parah dari dia, Bu."
Alya mengguncang lengan anaknya, "Siapa yang udah ngerubah anak Ibu? Kenapa kamu, Rel?"
__ADS_1
"Keadaan," jawab Aurel datar. "Juli hanyut, Yuan dirawat, Shiren depresi. Keadaan yang buat hati aku mati, Bu. Aku gak tau harus sedih atau bahagia dengar kabar Rumi ditemukan tapi meninggal. Ibu juga gak bisa maksa aku buat nemuin Dia!"
Alatas berdiri menengahi mereka. "Udah cukup...! Kalian jangan menyalahkan A atau B. Ini belum jelas karena Polisi udah turun tangan."
"Ayah! Shiren depresi karna Rumi! Gimana dia mau kasih kesaksian!" teriaknya kesal.
"Maka dari itu kita tunggu Shiren tenang!" balas Alatas. "Kamu gak bisa nyalahin Rumi sepihak! Juli sendiri yang memutuskan buat loncat! Jadi bukan salah Rumi.. Ayah mohon, udah, Rel."
"Ayah tau apa soal hubungan aku sama Rumi?"
PLAK'
"AYAH!" gertak Alya tidak terima melihat anaknya ditampar. Ia memegang wajah Aurel dan memarahi Alatas, "KAMU GAK BOLEH MUKUL AUREL! SAMA AJA KAMU KAYAK DAMAR, SUKA MUKUL ANAK!" Ia mengusap lengan Aurel menyalurkan ketenangan.
Alatas bukannya meminta maaf justru membuang wajah karena meredam emosi.
Aurel mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. "Nyesel aku pernah setuju kalian nikah!" Ia lantas melangkah pergi dengan kesal.
"Aurel! Mau kemana? Ini udah malem!" teriakan Alya tidak dihiraukan anaknya.
Bara terlihat baru pulang dan sempat menahan lengan Aurel namun ditepis sangat kasar.
"Mau kemana kamu?"
Bara geleng-geleng kepala dan masuk rumah. Mencium bau pertengkaran, Bara memberanikan diri bertanya.
"Kenapa, Yah?"
"Kamu harus minta maaf sama Aurel!" kecam Alya. "Apa-apaan kamu nampar dia? Kamu gak inget dulu sebenci apa dia sama Bapak kandungnya?" Alya ikut pergi namun ke kamar.
Saat Alatas hendak pergi, Bara menahannya, "Ayah nampar Aurel?" tanyanya sendu.
Alatas tidak jadi pergi karena ucapan Bara. "Ayah mau bikin keluarga kita hancur dua kali?" Ia tidak habis pikir.
"Kamu istirahat."
"Mana bisa, Yah. Aurel keluar sendirian." Walaupun dia lelah. Tidak akan rela kalau Aurel keluar sendiri malam-malam.
Hidup yang sangat menyedihkan. Ditampar berkali-kali oleh orang yang berbeda. Dari Nabila, Damar, Dina, Skala, Bara, Rumi, lalu Alatas yang merupakan orang-orang terdekat.
"Juli pasti selamat. Pasti!" Ia merekam kalimat itu ke otaknya supaya berpikir positif.
TIN TIN
Aurel melihat ke belakang. "Pak, stop disini aja." Ia keluar setelah mobil Bara berhenti di belakang taksi tadi.
"Kamu mau kemana?" tanya Bara membukakan pintu mobil.
"Mau jalan aja," ujar Aurel.
"Atas nama Ayah, aku minta maaf."
Aurel tersenyum, "Gimana kalo mereka pisah aja, Bar? Aku lebih suka hidup berdua sama Ibu."
"Gak akan," cetus Bara.
__ADS_1
Bersambung...
Maklum Aurel eror karna kehilangan Juli. Dia ngerasa bersalah karena selama ini gak tau perasaan Juli.