SENJA TERLUKA

SENJA TERLUKA
Kebahagiaan Terletak Pada Sumbernya


__ADS_3

Aurel terkunci di kelas yang kosong dan berdebu. Tidak, lebih tepatnya ada yang mengunci dari luar setelah ia mendengar ada suara dari dalam. Seberkas cahaya masuk menyilaukan kornea matanya, disana tidak ada lampu atau kipas untuk sekedar memberi oksigen.


Hening.


Pengap.


Itulah yang Aurel rasakan sejak 5 menit yang lalu.


Awalnya ia ke Kampus untuk mengeksplor kelasnya. Tanpa ia duga, ada yang menjebaknya sampai seperti ini. Baterai ponselnya sudah habis dan keringat sudah berjatuhan dari wajahnya. Ia jelas kepanasan berada di kelas yang jendelanya tertutup rapat dan debu ada dimana-mana.


Nafasnya sudah tak beraturan. Aurel cepat-cepat merobek kertas yang ia bawa dan mulai menulis.


Tolong buka pintunya...


Makasih...


Aurel menyelipkan kertas lewat celah bawah pintu. Ia yakin akan ada orang yang lewat membaca kertasnya. Kalau tidak, maka hidupnya akan berakhir sia-sia sebelum memperbaiki semuanya.


Cklek'


Suara pintu yang dibuka menggunakan kunci tidak dihiraukan Aurel karena sudah lemas.


Angkasa menopang kepala Aurel yang hampir terantuk lantai dengan bukunya. "Aurel? Kamu Aurel kan? Ngapain disini?" Ia melihat gembok yang barusan ia buka. "Maaf saya gak bisa apa-apa. Sebentar, kamu bertahan sebentar." Dia menghubungi Skala selaku sahabat Aurel.


Dia ingin sekali membantu, namun menyentuh sejengkal perempuan selain istrinya, Angkasa tidak berani.


"Saya udah telfon Skala, sebentar lagi dia kesini. Kamu bisa berdiri?" tanya Angkasa.


Aurel menggeleng.


Angkasa melepas tasnya dan mengambil sisa air mineral miliknya. "Minum dulu, kamu pasti kekurangan oksigen disini." Aurel pun minum cukup banyak.


"Sa, ngapa— Ya Allah! Aurel kamu apain?!" Bulan tiba-tiba menghampiri sambil menjewer telinga Angkasa.


Angkasa terkejut, "Astagfirullah, Bulan. Saya juga gak tau. Tadi saya lewat terus nginjak kertas, terus saya buka pintunya yang digembok, ternyata ada Aurel."


Aurel berusaha bicara walaupun terbata-bata, "Kak Angkasa ga—k bo—hong, Kak." Ia merangkak keluar dari kelas penuh debu seperti orang mabuk.


Bulan membantu Aurel berdiri, "Kita keluar ya supaya kamu dapat oksigen lagi. Aku bantu."


Angkasa bertugas menjaga mereka dari belakang jaga-jaga mereka jatuh karena tidak seimbang.


"Ya Zaujaty, kamu kuat juga ya." Angkasa memuji Bulan.


"Thank you," balas Bulan ngasal. Dia kuat karena menahan tubuh Aurel sepenuhnya, kalau tidak mereka bisa jatuh bersama.


Setelah sampai di depan kampus, mereka duduk menunggu Skala yang tak kunjung datang.


"Mana sih dia.." Angkasa benar-benar khawatir karena dia tidak bawa mobil ke Kampus. "Umi, saya pesen taksi aja kali ya, daripada kelamaan nunggu Skala, keburu Aurelnya gak kuat."


Bulan membiarkan kepala Aurel bersandar di bahunya sambil bertanya, "Kira-kira kamu kuat gak nunggu Skala? Kata Angkasa, dia emang gak peka. Jadi sabar ya."


Angkasa cengo. "Umi, kita bahas kondisi Aurel, bukan hubungan dia sama Skala." Dia menepuk jidatnya sendiri.


"Abi ngomongnya kurang spesifik, salah siapa?"


Aurel terkekeh mendengar mereka. Lucu sekali bertengkarnya. "Aku langsung kuat denger kalian bercanda."

__ADS_1


Bulan menatapnya kagum, "Gak mudah buat kamu lewatin ini semua pasti." Dia mengusap bahu Aurel untuk menguatkannya.


Aurel menatap Angkasa, "Makasih, Kak. Tapi... kamu liat ada orang lain gak disana? Karena aku dikunci dari luar."


Bulan dan Angkasa saling mengerjap. Akhirnya Bulan yang menjawab lebih dulu, "Kita gak liat. Tapi Kakak usahain kita periksa CCTV besok."


Aurel menggeleng, "Gak usah, Kak. Aku udah lupain kok."


Angkasa melihat ada sesuatu yang berbeda dari Aurel jika dibandingkan dengan anak muda lain. "Kamu udah biasa sekuat ini dibanding orang lain."


Bulan berkacak pinggang menghampirinya, "Seseorang lebih kuat kalo dikasih ujian berat. Gimana sih kamu? Aurel pasti pernah ngalamin hal sulit makanya bisa sabar, gak marah sama pelakunya."


"Kamu belum tentu bisa begitu," ujar Angkasa.


"Oohh, gitu. Yaudah, Abi tidur di luar nanti," ancam Bulan.


"Dosa kamu menelantarkan suami," bela Angkasa.


"Ini nih, Aurel. Gak berlaku status perempuan selalu benar. Buktinya tiap kita debat, Angkasa yang menang." Ceritanya Bulan mengadukan sifat Angkasa padanya.


"Untung masih sore," imbuh Angkasa. Coba bayangkan kalau malam, bisa nginap disana Aurel tanpa lampu atau kipas. Tidak ada yang berjaga juga kalau malam, jadi Angkasa dan Bulan bersyukur bisa menyelamatkan sahabatnya.


Tidak lama, Angkasa datang menggunakan mobilnya dan keluar menghampiri Aurel. "Dia kenapa, Sa?" tanyanya pada Angkasa sambil melepas jaket dan menaruhnya di punggung Aurel.


Angkasa mengangkat bahunya, "Kurang jelas sih. Pas mau pulang, saya gak sengaja injak kertas tulisannya minta tolong bukain pintunya. Pas dibuka, ternyata Aurel yang ada di dalam."


Jelas Skala terlintas satu nama jahannam itu.


"Makasih ya," ujar Skala seraya tersenyum.


Skala yang menarik pelan tangan Aurel entah kenapa merasa kasihan. "Kamu baik-baik aja kan?"


"Duduk sebentar, Skala.. Aku masih capek," ujar Aurel sambil duduk selonjor di aspal.


"Ini pasti Rumi," ujar Skala dengan yakin.


"Ngapain dia ngunciin aku?," tanya Aurel tidak percaya.


Skala menjawab, "Salah kamu deket sama orang tajir, ganteng, keren, kayak aku."


"Berhenti muji diri sendiri," tegur Aurel yang kadang kesal.


"Malah duduk di aspal... ayo pulang, Rel." Skala menarik kedua tangan Aurel untuk bangun.


"Kalo aku tau orangnya, liat aja nanti."


"Lah? Telat kamu marahnya," ketus Skala.


"Maksudnya liat aja nanti, aku comblangin sama kamu," kekeh Aurel.


"Asal mirip kamu."


"Gak ada."


"Ada."


"Siapa?"

__ADS_1


"Bayangan kamu," tawa Skala. Dia suka sekali melihat tampang Aurel kebingungan seperti salah alamat.


"Dua hari lagi masuk kuliah, sering istirahat, Rel. Kamu gak bakal bisa sering main kayak dulu," ujar Skala mensejajarkan langkahnya disamping gadis itu.


"Aku kan satu Prodi sama Nabila," sanggah Aurel.


"Di Bina sistem pembelajarannya lebih ketat dibanding kampus lain walaupun swasta," ujar Skala sambil menggulung lengan kemejanya sampai siku.


"Kamu mau bikin anak orang stress karena non-stop belajar?" tanya Aurel dengan miris.


"Kamu pikir, yang masuk Bina itu orang leye-leye? Gak kan?"


"Seenggaknya biarin kita belajar sampai siang aja," usul Aurel.


"Hmm, gimana ya? Gak bisa. Lagipula kan ada sesi 1, 2, 3. Kalian bisa pilih salah satu."


"Tapi kan tetap aja—"


Skala mendatarkan wajahnya, "Jangan males. Minta dirukyah?" Aurel hanya berdecak membuat Skala melanjutkan ucapannya, "Tapi tipe belajar kamu kan anti-mainstream. Kamu gapapa di kampus sampai malam?"


"Iya lah."


"Tumben gak takut apapun." Skala merasa ada yang aneh.


"Itu kan kampus kamu. Jadi, kalo ada apa-apa aku bisa telfon kamu, terus kamu bakal dateng deh."


Wahh, Skala tidak tahu lagi cara bekerja otak Aurel. Dia tahu kalau Skala tidak mungkin menolak teleponnya apalagi disaat genting.


Aurel menyenggol lengan Skala, "Tapi kan Juli udah pindah. Apa lagi yang kamu khawatirin?"


"Ghaisan, Bintang, Duo Nyai Rombeng. Kamu pikir mereka gak bisa bunuh aku kalo kamu kenapa-kenapa?" sarkas Skala.


"Makanya berusaha supaya mereka gak bunuh kamu," canda Aurel.


Skala menunjuk Aurel dengan raut kesal, "Kamu bicara seolah aku cepet dibunuh mereka."


"Mereka bukan psikopat, jadi kamu gak akan dibunuh."


"Rel, kamu beneran gapapa kan?" Skala tetap khawatir dengan Aurel.


"Gak pa-pa kok. Gak perlu cari tau siapa pelakunya," ujar Aurel sambil mengacungkan dua jempolnya. "Kamu banyak makan ya akhir-akhir ini." Ia berjinjit untuk mencubit kedua pipi Skala dengan gemas. Pipi pria itu terlihat berisi sekarang karena sering bersamanya.


Jadi mereka emang tukang makan.


"Hampir setahun, kamu tingginya naik berapa centi?" ledek Skala. "Masih aja jinjit."


"Perempuan bagusnya jangan tinggi-tinggi. Kayak aku nih."


"Ha? Kamu? Kamu itu se-bahu aku, pendek banget."


"Kamu yang keterlaluan tingginya!"


"Iya, Tuan Puteri..." Skala membungkuk mengalah. Kenapa masalah selalu buat kita menjauh walaupun nantinya kita bakal bahagia sama-sama, Rel? Dia bertanya dalam hati. Selamat, Rel. Kamu makin dewasa karena bisa mengambil jalan keluar tiap masalah sendirian. Selamat juga kamu jadi mahasiswi di kampus. Semoga, kamu terus rajin belajar supaya aku bisa pamer ke orang lain kalau kamu itu yang terbaik.


SAMPAI JUMPA DI EPISODE SELANJUTNYA YA GUYS😄😍


JULI GAK AKAN HILANG TOTAL KOK. SEMENTARA DIA MAU ISTIRAHAT DULU... :)

__ADS_1


__ADS_2