
Aurel tercenung melihat Hans berkata seolah-olah akan tiada. "Kita masih satu sekolah, tenang aja."
Hans juga sepertinya kurang minum air sejak makan di kantin. Ah iya, dia dan kawan-kawan nakalnya selalu mengganggu guru yang masuk kelas agar tidak menjelaskan materi.
"Hans," panggil Aurel sambil menatap ke bawah. "yang bisa membuat hidup kamu lebih lama itu kamu sendiri. Bukan orang lain," lanjutnya setelah berkaca sendiri. Kalau Aurel tega dengan papanya, ia pasti sudah meninggalkan Skala karena ibunya tiada. Hidup ini memang sulit kalau dilihat dengan hati, namun kalau belum bisa melewati, setidaknya hadapi lebih dahulu.
"Tapi kalau kamu maksa, aku punya syarat."
Hans ragu syarat dari Aurel malah menjadi beban untuk dirinya. "Apa?"
"Kelas kamu harus terima materi dari guru," jawab Aurel.
Hans tercengang dan terbahak-bahak mendengat syarat yang tidak akan bisa dipenuhi kelasnya. "Gue seumur-umur baru denger syarat beginian."
"Kenapa? Menurut kamu gak mungkin?" tanya Aurel bingung.
Hans mengangguk satu kali. "Kalau tadi lo bilang yang bisa bikin hidup gue lebih lama, gue sendiri. Lupain aja syarat lo yang mau bikin kelas gue tambah amburadul." Dia tertawa lagi.
Pantas Faisal tidak suka Hans. Hans mungkin satu dari banyak pria yang sulit diajak pada kebaikan. Namun sejatinya, bagi Aurel ini adalah tantangan. Kelas yang ditempati Hans membuat rata-rata sekolah berpengaruh di tingkat kota. Kalau mereka bisa menaiki sedikit saja nilai, setidaknya rata-rata sekolah akan baik.
"Aurel."
Hans dan Aurel menoleh dan berdiri serempak ketika suara berat Skala memanggil namanya.
Pesona Skala masih kharismatik hingga sekarang. Bayang-bayang saat dia dan Aurel masih muda sangat jelas seperti ada di depan mata. Saat itu Skala menjemput Aurel dan mengambil tasnya untuk dia bawa.
"Hans, gimana, Pah?" Aurel sudah menunda waktu pulang Hans untuk menemaninya mengobrol.
Skala tersenyum. "Ajak makan siang sekalian sama Faisal." Dia sudah mengeluarkan kunci mobil dan hendak membukakan pintu untuk Aurel.
"Gak usah, Om." Hans menolak kalau sudah ada nama Faisal. Ayah Aurel belum tahu persaingan mereka sangat ketat dan menolak perdamaian.
Aurel dan Skala saling pandang mendengar penolakan Hans.
"Rumah saya pas di belakang sekolah. Jadi langsung pulang aja." Hans meyakinkan mereka dengan modal tampang.
"Oh begitu ... Kamu jalan kaki?" tanya Skala.
__ADS_1
"Iya, jalan kaki." Hans melirik Aurel yang terlihat curiga.
"Jalan kaki?" tanya Aurel dalam hati. Baiklah kalau Hans tidak mau ikut, ia tidak akan memaksa. "Hati-hati, Hans."
"Iya... " Suara Hans jadi merendah seakan ramah karena ada ayahnya di sini. "kalian hati-hati juga."
Aurel masuk ke mobil dan Skala menutup pintunya. "Suka sandiwara ternyata," gumamnya tidak menyangka.
Setelah Skala masuk, mereka langsung melaju ke restoran yang tak jauh dari sekolah. Hanya perlu putar arah karena letaknya di seberang.
"Kamu temenan sama Hans karena apa?" tanya Skala.
"Dia butuh aku," jawab Aurel seadanya. Padahal tadi ia yang mengajukan syarat kalau Hans mau Aurel selalu ada di sampingnya. Namun Aurel sudah mengakui Hans di depan Skala.
"Butuh kamu? Maksudnya manfaatin kamu?!" Skala jelas terkejut.
"Bukan ... Dia mau jadi teman aku, Pah. Itu aja," ungkap Aurel agar tidak makin salah paham.
Skala tidak ingin terlalu ingin tahu tentang kawan baru Aurel. Sebelumnya biarkan saja mereka berkawan, kalau Aurel menunjukkan sikap aneh baru akan dia tanya bagaimana pergaulan di sekolah.
Aurel juga tidak pernah menanyakan ibunya karena mungkin masih merasa bersalah atas kelahirannya yang mengakibatkan sang ibu tiada.
Namun Skala sering memberitahu bagaimana hubungan dengan Aurel sewaktu dekat dahulu. Anaknya terlihat semangat dan mendengar sampai selesai.
Aurel hanya tahu, kalau ibunya pernah menjadi korban perundungan oleh orang tua Faisal. Baginya tak masalah selagi mereka enggan mengulangi perbuatan tersebut. Dari ibunya Aurel pun belajar menjadi kuat jika nanti merasakan perundungan. Tapi semoga saja tidak akan pernah.
Ibunya ... Pasti sudah berjuang keras melawan perundungan sampai bertemu sang ayah. Kalau tidak, Aurel akan mudah menyerah. Lantas Aurel mengikuti jejak sang ayah atau ibu? Ia rasa keduanya.
"Ayo turun."
Aurel cepat-cepat membuka pintu mobil terlebih dahulu sebelum Skala.
"Papa gak perlu bukain pintu," ujar Aurel ketika keluar dan melihat Skala heran.
"Hm?" Skala tahu ini sudah menajdi kebiasaan sebelum anaknya lahir. "Iya."
Aurel tersenyum lebar lalu mengaitkan tangannya ke lengan Skala. "Faisal pasti udah nunggu," gumamnya terdengar bahagia.
__ADS_1
"Bukannya Tante Nabila sama Om Bintang juga nungguin kamu?" ledek Skala mengiringi langkah anaknya.
"Nama Faisal kan mewakili keluarganya. Papa kenapa sih... " Aurel melepas kaitan tangannya pura-pura merajuk.
Skala tertawa pelan. "Bercanda."
Aurel melihat Faisal melambaikan tangan dari kursinya. "Itu mereka!" Om Bintang dan Tante Nabila juga melambaikan tangan padanya. Ia menarik tangan ayahnya lagi.
Skala melihat posisi meja yang dipesan sahabatnya. Kenapa suka sekali memojokkan diri? Ini benar-benar sudah kebiasaan sejak muda dan sulit diubah.
"Siang, Tante, Om." Aurel menyapa mereka lalu duduk di sebelah Faisal.
Skala diam sejenak melihat anaknya buru-buru memilih kursi di samping Faisal dibanding seberangnya. "Alih-alih di depan Papa, kamu pilih di sebelah Faisal."
Faisal yang sedang membakar daging di meja langsung tersenyum ke arah Skala. "Mungkin biasa bareng-bareng, Om."
Skala menggeleng sedikit kecewa namun akhirnya duduk di seberang Bintang. "Apa kabar, Tang?" sapanya.
"Baik, Pak." Bintang masih saja memanggil Skala dengan sebutan "Pak" padahal mereka menikah terlebih dahulu.
Skala melihat menu-menu segar depan mata. "Kamu gimana, Bil?" Dia berganti menyapa Nabila.
"Selalu baik," jawab Nabila.
"Tadi saya mau ajak teman baru Aurel. Tapi dia mau pulang, katanya."
Aurel tersenyum, namun ia tidak sengaja lihat wajah Faisal meredup.
"Teman baru?" tanya Nabila baru tahu. Dia kira, kalau Aurel punya teman baru, maka anaknya akan menceritakan juga karena mereka sangat dekat. Tapi melihat anaknya tampak menahan sesuatu, sepertinya ada yang salah.
"Bagus dong." Bintang tersenyum pada Aurel. Senang sekali melihat Aurel terlahir kembali. Sedang menikmati senyum Aurel, dia terkejut lengannya disenggol. "kenap- Heh, Faisal. Muka kamu kenapa gitu?"
Nabila menepuk dahinya. Kalau mau bertanya, tanya saja tapi tidak perlu kesal. "Faisal, something is wrong?" Setidaknya sebagai ibu dia harus bertanya dengan lembut.
Skala melihat mereka berempat bergantian. "Faisal kenapa?" Dia tidak tahu kenapa Nabila dan Bintang menanyai anaknya.
"Jangan bahas dia... "
__ADS_1