SENJA TERLUKA

SENJA TERLUKA
1 Jam Debat


__ADS_3

Aurel membuka pintunya sedikit untuk melihat keadaan di ruang tamu lewat celah pintu. Setelah dipastikan aman, barulah ia membuka pintu dengan tangan kiri karena tangan kanannya digunakan menenteng sandal.


Ia sudah bilang pada Juli akan ke rumah Bapak tanpa sepengetahuan Skala karena jam segini pasti sudah tidur.


Hampir ia pegang gagang pintu, tiba-tiba Skala muncul dari belakangnya. "Mau kemana?"


Aurel mengatur detak jantungnya yang berdebar karena kaget. Perlahan ia membalikkan badan sambil nyengir, lalu Skala menunjukkan kunci pintunya. "Gak boleh keluar, udah malem."


Ia membelalak dan mengecek pintunya, ternyata benar dikunci. "Skala, kok dikunci sih?"


"Aurel, kamu gak kapok ya liat Ayah kamu ngamuk gitu? Ibu kamu aja sampe nginep di tempat kerja."


"Aku...- anu."


"Anu apa?"


"Aku mau tanya kenapa Bapak begitu sama aku."


"Trus kalo kamu tau jawabannya?"


"Seenggaknya aku tau."


"Kamu kesana, kamu celaka. Ibu kamu nanti khawatir, aku juga khawatir."


"Aku mau ke Bapak sekarang," ujar Aurel. "aku minta kuncinya." Tangan Aurel sudah menengadah ke atas.


Skala diam sebentar sambil memandang tangan Aurel. Ia paham kalau Aurel penasaran, tapi alangkah baiknya nanti, kalau Damar dalam keadaan sadar/tidak mabuk.


"Aku udah bilang nggak, kan."


"Please..."


"Kamu tidur aja, besok kita ke kantor sampe malem, rapat sama Juli buat kontrak bukunya."


"Buat hari ini aja deh, serius. Aku udah rapih nih." Skala lihat memang iya. Tapi jawabannya tetap tidak.


"Besok, sekalian."


"Aku maunya sekarang."


"Yaudah tunggu aja sampe besok disini."


Aurel mengepalkan kedua tangannya lalu menginjak kaki Skala kuat-kuat.


"Aw aw aw! Sakit, Rel!"


Aurel menangis. "Aku mau ketemu Bapak aja gak boleh. Hiks.. Hiks..." Ia berjalan ke kamarnya kembali, buat apa disana sampai besok kalau ujung-ujungnya tidak dibolehkan Skala.


Skala mendekati Aurel yang menangis bak anak kecil. "Tidur aja sana."


"Gak mau, aku mau ketemu Bapak dulu."


Skala memegang kedua bahu Aurel, "Gini ya, kalo kamu kesana sendiri, nanti ada apa-apa siapa yang tanggung jawab? Aku gak dibolehin ikut, Ibu kamu kan nginep di tempat kerja."


Aurel berjalan lagi sambil menaruh sandalnya depan pintu kamar, "Hiks... aku mogok ngomong sama kamu."


BRAK'


Skala terkekeh saat pintu kamar dibanting, "Dia kira, tuan rumah takut ancaman konyol begitu?" Masabodo, yang penting Aurel tidak jadi keluar. Ia jadi bisa tidur dengan tenang kalau begini.


Baguslah.


***


Aurel duduk di kursi belajarnya sambil main laptop. Ia berusaha mencari sesuatu tentang Bintang atau Nabila melalui sosmed mereka.


Saat membuka instagram Nabila, ada fotonya sedang membaca buku. Caption-nya begini, Kenal buku gak akan dikhianiatin ya :)


Apa maksudnya?


Ah iya, Aurel kan berniat ikut ekskul renang. Lebih baik ia tanyakan ke Skala, pasti didukung.


Percaya diri sekali Anda...


Aurel membuka pintu dan melihat Skala lewat kamarnya hendak ke halaman belakang.


"Kenapa keluar kamar?" tanya Skala.


"Aku mau ngajuin ikut ekskul renang. Kamu yang bilang ke Ibu ya?"


"HP kamu?"


"Lagi dicas."


"Emang bisa berenang?"


"Aku mau belajar."


Sama seperti Juli saat mendengar Aurel ingin ekskul renang, Skala tertawa sampai memegangi perutnya yang sakit.


"Coba kamu renang di belakang, baru nanti aku bilang ke Ibu deh." Skala berhenti tertawa.


"Gak kamu, gak Juli, kenapa sih ngeremehin aku?!"


Dug'


Kesal karena ditertawakan dua kali. Aurel menendang tulang kering Skala dan kembali masuk kamar.


Skala tersenyum, "Kalo tenggelem lagi, ntar semuanya yang nolong kamu, bukan aku aja."


***

__ADS_1


Pagi harinya, Skala mengeryit mendapati Aurel belum datang di meja makan untuk sarapan seperti biasa. Padahal ini sudah jam 6 lewat 15 menit. Artinya, sudah siang.


Tidak sabar, Skala mengetuk pintu kamar Aurel, "Rel... udah siang ini."


Hening...


"Rel...?" Skala membuka pintu dan kosong. Tidak ada Aurel, bahkan sudah rapih. "bener-bener..." Ngeyel sekali dia. Pasti sekarang hampir sampai rumah Damar, kalau tidak dicegah akan bahaya.


Skala mengabaikan sarapan paginya untuk menyusul Aurel. Baru kali ini ia bertindak seperti itu, biasanya ia sangat mencintai tubuhnya.


Kalau benar ada disana, Skala akan memarahi Aurel, lihat saja.


Disisi lain, Aurel baru turun dari angkot yang lewat gang rumahnya. Setelah susah payah kabur lewat jendela kamar karena pintu dikunci Skala, ia harus berhasil mendapatkan info. Setidaknya sebelum Skala datang.


Tok Tok Tok


"Assalamu'alaikum, Bapak... ini Aurel."


Ia sudah tahu kalau Damar tidak akan menjawab salam. Sudah kebiasaan. Akhirnya ia memberanikan diri masuk ke dalam sambil menyingkirkan pecahan botol miras dari jalannya.


Aurel membelalak saat Damar sedang bersama wanita lain. Ia menutup matanya rapat-rapat.


"BAPAK DIA SIAPA?! KOK BISA DISINI?!"


Damar yang baru terlelap langsung terlonjak melihat kedatangan anaknya. "Eh, anak pembawa sial! Ngapain lo kesini lagi! Udah sono lo porotin dulu harta pacar lo, kalo dapet bawa kesini!"


"KAMU SIAPA? KOK ADA DI RUMAH BAPAK?" Aurel melotot sambil menaikkan suaranya.


Damar baru kali ini dihancurkan suasana tenangnya. "Lo brisik banget sih? Biasanya juga diem doang, lo kan biasa liat gue bawa cewek kesini." Damar mencengkram kerah baju anaknya sendiri. "lo pergi gih, daripada kesini ngapain... ngurus Ibu lo yang gak guna?"


Aurel menutup matanya dan merasa de javu dengan apa yang Damar lakukan sekarang.


Persis seperti apa yang dialaminya saat dulu, yang Aurel tahu sekarang, Damar sangat membencinya.


Brak'


"Pak Damar! Lepasin tangan Bapak sekarang!" Skala datang dan tidak tega melihat Aurel tercekik seperti itu.


Damar melempar Aurel begitu mudahnya sampai tubuh gadis itu membentur meja dan telapak tangannya terluka kena pecahan botol kaca.


*


Aurel diam sesekali menyeka air matanya dengan lengan baju karena kedua telapak tangannya diperban saat sampai klinik cabang dimana dr. Alatas bekerja selain di RSUD.


"Gimana? Kapok dateng kesana?"


"Aku gak dapet info apa-apa. Malah liat Bapak lagi sama perempuan lain."


Skala menghela nafas. Ia putar balik menuju kantor. Buat apa ke sekolah kalau tangannya tidak bisa untuk menulis sampai perban dibuka.


Skala sejak tadi hanya diam dan berjalan mendului Aurel yang menunduk dalam.


"Kamu tunggu disini, jangan keluar. Aku ada rapat."


"Nggak."


Aurel mengangguk paham. Ia harus memberi tahu Ghaisan kalau tidak bisa masuk sekolah dengan alasan sakit daripada ditulis A di buku absen.


Aurel menangis lagi. Ia tidak tahu kenapa Damar sangat membencinya. Namun tangisannya terhenti saat menangkap kalimat aneh dari Damar yang intinya ia diam saja walaupun tahu Damar bawa perempuan lain ke rumah? Apa dia seburuk itu dulunya? Ghaisan juga pernah bilang kalau dulunya ia tidak pernah bicara dengan siapapun kecuali Bintang dan Nabila.


Kenapa dia yang dulu sangat sombong?


Kenapa dia yang dulu tidak bicara pada siapapun?


Kenapa dia yang dulu sangat buruk dimata orang-orang?


"Harusnya lo diem aja! Ngapain lo ngadu segala!"


"Gue capek begini, lebih baik semuanya kebongkar, daripada gue sandiwara didepan kalian!"


"Temen gak tau diuntung lo!"


Telinganya berdenging lagi. Dia sedang bicara dengan siapa saat itu? Nabila? Bintang? atau orang lain?


Aurel beranjak membuka gorden jendela. Ia terkejut mendapati kerumunan orang diluar meneriaki seseorang yang ada di atas. Saat Aurel mendongak, ia lebih terkejut lagi karena ada percobaan bunuh diri.


Tanpa ba-bi-bu Aurel mengabaikan perintah Skala dan pergi ke atas dengan lift sendirian disaat semuanya sedang sepi rapat.


*


"Maaf, saya cek sebentar di luar." Skala tidak bisa konsentrasi melanjutkan rapat karena suara bising di luar kantornya. Ia melihat orang-orang menunjuk keatas dan berteriak. Ia mendongak dan melihat juga.


"Maaf, rapat ditunda, nanti akan saya hubungi lagi."


Skala menuju ruangannya untuk memastikan Aurel masih ada namun nihil. Seperti biasanya, dia pasti menuju rooftop.


Sial.


***


Aurel berhenti dadakan karena ada tangan yang sedang pegangan di pembatas rooftop. Ia mengatur nafasnya dan mendekat perlahan lalu memegang tangan perempuan itu.


"Ayo naik!" Aurel meneriakinya. Ia juga berusaha menahan tubuhnya yang condong kedepan agar tidak ikut jatuh.


"Lo ngapain nolong gue?!"


"Kamu masih muda! Jangan sia-sia begini dong!"


"Gue gak diterima dimana-mana! Ngapain gue hidup!"


Aurel sudah berkeringat karena tangannya pegal menahan dia. Kebetulan ada Skala yang ikut membantunya, tapi tatapannya seperti tidak suka. Abaikan saja lah, yang terpenting sekarang adalah nyawa dia.

__ADS_1


"Naik sekarang!!" Skala memerintah sambil menarik tubuhnya ke atas.


"Skala?"


Aurel menoleh ke keduanya yang tampak saling mengenal. Tanpa sengaja Aurel mengendorkan pegangannya sampai Skala teriak, "Aurel, jangan dilepas!"


Aurel kembali menariknya keatas sekuat tenaga. Setelah berhasil membawanya keatas, dia memeluk Skala.


Aurel diam di tempat, bingung mau berbuat apa.


"Kamu gapapa?" tanya Skala tanpa membalas pelukannya. Dengan buliran keringat yang terus menetes, Skala mengatur nafasnya yang belum teratur.


Dia menggeleng, "Aku bingung, Skala... Aku gak kuat ngadepin mereka.."


Aurel mendekati mereka, "Aku pulang dulu, kamu ada janji sama Juli, kan?" Ia tersenyum hambar entah kenapa.


Skala menggeleng, "Tetep disini." Ia melirik tangan Aurel yang perbannya basah karena darah dan nanah karena tergesek kasa. "diganti dulu perbannya."


Aurel menggeleng, "Nanti aku ganti sendiri."


"Skala, ini siapa?" Perempuan tadi menunjuk Aurel. "temen kamu?" tanyanya lagi.


Skala belum sempat jawab karena Aurel memilih pergi begitu saja. Ia beralih ke teman SMA-nya, "Kamu gila hah? Ngapain mau loncat?"


"Aku sebenernya mau liat pemandangan, tapi kepleset karna licin."


Skala mengusap wajahnya frustasi.


"Tapi emang aku berniat loncat karna udah gak ada harapan. Tapi pas aku deket pembatas, kepleset. Sorry, Skal."


"Pulang gih sekarang. Jangan mikir begitu lagi."


***


Tidak ada tujuan selain Rumah Sakit dimana tempat Aurel koma dan terbangun. Aurel harus bertanya pada Alatas selaku dokternya untuk memastikan apa yang ia lihat dan yang ia ingat.


"Ayo naik!"


Saat Aurel mengatakan demikian. Ia mendapat sekelibat bayangan acak tentang dirinya yang sedang memegang pembatas juga namun dibawahnya terdapat sungai yang aliran airnya tenang.


Ia melihat wajah Nabila dan kawannya yang sedang menertawainya karena ia diam saja saat dibully.


"Lo tuh gak pantes ada diantara kita."


Kata-kata yang menusuk relung hatinya. Aurel hanya diam saat itu karena ia tidak punya siapa-siapa selain Nabila dan Bintang.


Bahkan Bintang tidak ada disana untuknya untuk yang kesekian kali.


Semuanya... Aurel sudah ingat.


Bahkan ia ingat wajah orang yang menyelamatkannya. Skala.


Ia ingat siapa teman sekelasnya. Juli, Ghaisan, dan Fina.


Aurel mendongak menatap tulisan ICU disana. Ingatannya satu per satu sudah kembali.


"Lho? Aurel, kok disini?" dr. Alatas yang memang bertugas jaga di ICU tidak sengaja lewat dan melihat Aurel.


Aurel tersenyum, "Bisa tolong ganti perban aku?" Ia menengadahkan tangannya.


dr. Alatas terkejut dan mengajak Aurel duduk, "Kamu tunggu disini, saya ambil kotak P3K dulu."


Tidak lama kemudian dr. Alatas kembali untuk mengganti perban Aurel.


"Dok, udah 2 minggu ya aku gak kesini?"


dr. Alatas menatap Aurel ragu, "Gak ingat sih saya... kayaknya iya. Kenapa?"


"Bisa gak aku inget semuanya dalam waktu 2 minggu?"


dr. Alatas menyimpan kembali obat merah dan kasa ke kotak P3K, "Tergantung seberapa kuat daya ingat kamu."


Aurel lega sekarang. "Aku... bunuh diri?"


Hening.


dr. Alatas menatap Aurel yang barusan bertanya. "Kamu... udah ingat?"


Aurel tersenyum cukup lama, lalu menggeleng, "Nggak. Aku cuma nebak aja, soalnya tadi di kantor Skala ada yang mau jatuh dari rooftop."


"Trus gimana?"


"Dia diselametin Skala."


"Baguslah." Untuk kedua kalinya Skala menyelamatkan orang yang hampir mati sia-sia. "udah selesai, kamu bisa pulang. Lain kali hati-hati ya, jangan sampai luka."


Aurel mengangguk saja.


"Saya permisi dulu, ada pasien."


Baru 3 langkah pergi, dr. Alatas berhenti secara mendadak karena Aurel berkata, "Untuk kedua kalinya Skala nyelametin perempuan. Benar, kan?"


dr. Alatas terkejut membalikkan badan menatap Aurel yang matanya berkaca-kaca. "Jadi— kamu?"


Aurel menghampirinya lagi, "Makasih, Dok, udah mau nunggu Saya bangun."


"Bahasa kamu lebih baku ya sekarang. Wah," dr. Alatas jadi gemas kalau begini.


"Tapi saya minta sesuatu."


"Apa?"

__ADS_1


***


__ADS_2