
Selesai dari bank, Aurel menuju klinik untuk menemui Bara karena pria itu memintanya kesana.
Katanya, ia mau dipertemukan dengan pacar baru Bara. Pantas saja dari kemarin pria itu uring-uringan di kamar. Bahkan Aurel memergoki Bara sedang jungkir balik di kasur sambil menjambaki rambutnya dan berakhir pria itu masuk kamar mandi karena malu.
●
Bara menelpon Aurel.
"Dimana, Rel?"
"Di jalan. 5 menit lagi sampai, Kak."
"Ohh, iya."
TUT
Dia menoleh ke Wulan -pacarnya. "Kenapa?"
"Antusias banget," katanya seraya tersenyum dan berdiri disamping Bara.
Bara jelas membalas senyumannya. "Mau mempertemukan bidadari. Aku ke luar sebentar jemput Aurel ya. Kamu tunggu disini."
Wulan menunggu di ruang kerja Bara yang bernuansa abu-abu. Ia sudah dengar cerita kalau Aurel adalah adik tiri kekasihnya. Namun ia tidak pernah tahu kalau Bara segitu perhatian padanya. Ditambah Bara pernah menyukai Aurel. Wulan takut Bara masih ada perasaan dengan Aurel yang sekarang jadi adiknya.
Alatas masuk ke ruang kerja Bara dan tidak sengaja bertemu Wulan. "Eh, Wulan."
Wulan menyalami Alatas, "Iya, Om."
"Bara mana? Kok gak ada?" tanya Alatas heran.
"Lagi jemput Aurel di depan."
Alatas awalnya tersenyum. Namun ia mendengar Wulan nampak sedih, jadi ia jelaskan sedikit. "Bara emang selalu meng-istimewakan Aurel. Dia dari dulu pengen punya adik. Sekarang udah punya ya tambah seneng."
"Iya, Om. Saya cukup ngerti kok." Wulan kembali ceria.
"Dia itu malaikatnya Bara. Dulu cueknya minta ampun. Sekarang sih sama, tapi mending."
Wulan terkekeh, "Iya emang masih cuek."
"Iya kan. Aurel itu istimewa buat Bara. Tapi kamu spesial kok."
Wulan tertegun. Dia benar. Tidak seharusnya ia cemburu dengan adik kekasihnya.
"Saya keluar dulu."
Wulan mengacak rambutnya sendiri dan bicara dalam hati, "Masa cemburu sama anak kecil? Udah gila lo, Wulan."
Selang setelah Alatas keluar. Bara membukakan pintu untuk Aurel masuk.
"Hai." Mereka berjabat tangan.
"Siapa namanya?" tanya Aurel.
"Wulan," jawab Bara.
Wulan mengangguk. Pantas saja Bara suka, Aurel itu cantik dan lemah lembut. Wulan jadi yakin kalau dirinya ada di bawah Aurel walaupun umurnya lebih muda.
__ADS_1
"Maaf ya, Kak." Aurel mengambil kuncir rambut dari slingbag-nya. Lalu ia gunakan untuk menguncir rambut Wulan yang nampak sedikit berantakan dengan telaten.
Selesai menguncir rambut Wulan. Aurel bertanya pada Kakaknya, "Kita mau kemana, Kak?"
"Disini aja," jawab Bara enteng.
"Apa?" Wulan terkejut.
Aurel memegang pundak Wulan, "Biar aku yang bicara sama Kakak." Ia pun meminta Bara untuk peka. "Kak. Gak mungkin disini aja. Kasian Kak Wulan gak betah. Dia bukan pasien."
Bara sedikit penat karena semalam begadang mengurus administrasi klinik. "Nunggu jam istirahat."
"Aku mau ke Ayah sebentar," ujar Aurel izin pada keduanya. Ia keluar lalu berpapasan dengan Alatas di lobi. "Ayah. Mau bicara sebentar."
"Disini aja ya. Mau ke Radiologi," katanya buru-buru.
Aurel mengangguk sebelum menjelaskan maksud kedatangannya. "Aku udah kembaliin ATM Skala. Tadi ke bank buat rekening baru."
"Skala marah gak?"
"Dia keliatan tenang. Heran sih, tapi memang sekarang berubah."
"Katanya gimana?"
"Katanya, yaudah sini, tapi yang dulu gak usah dikembaliin. Gitu."
Alatas mengusap kepala anaknya, "Anak baik."
"Udah itu doang. Ayah buru-buru, aku juga mau ke Kakak lagi."
"Nggak. Aku ada janji sama temen."
"Temen yang mana?" ledek Alatas.
"Si kembar." Aurel menyalami Alatas lalu kembali masuk menemui Bara untuk izin pergi. "Kak, maaf aku ada janji sama kembar. Lain kali kita jalan-jalan bareng."
Bara terlihat kecewa. "Gapapa."
"Kak Wulan. Aku pamit dulu. Maaf gak bisa lama." Aurel jadi tak enak hati.
"Sayang banget..."
●●
Aurel melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 13.47, fix ia telat 15 menit karena menunggu ojol.
"Lo lama banget. Dari mana sih?" tanya Fina agak kesal.
"Maaf, tadi ojolnya lama. Abis dari Bara juga." Aurel menjelaskan alasannya telat.
"Ngapain? Lo sakit?" tanya Ghaisan.
"Nggak. Aku ketemu sama pacarnya Bara," kata Aurel.
Fina menyedihkan raut wajahnya, "Prince Bara udah punya pacar? NO WAY!" Dia bersembunyi di punggung Ghaisan. "Gak bisa hidup bahagia kalo gini."
"Lebay!" sahut Ghaisan. "Masih ada Juli, susah amat hidup lo."
__ADS_1
"Ogah. Ntar segala sesuatu yang gue lakuin dibuat novel," ujar Fina.
"Juli itu setia lho." Aurel membela sahabatnya.
"Setia sama naskah," sambung Ghaisan.
"Juli perhatian banget sama Shiren. Ih, gue mah takut-takut suka kalo jadi dia," komen Fina beralih topik ghibah.
"Menurut gue maklum aja sih. Shiren kan adik tirinya Juli. Banyak kok, contohnya di depan kita nih. Bara aja ngelindungin penuh Aurel walaupun cuma adik tiri," ujar Ghaisan.
"Kalo lo adik tiri gue. Gue siksa lo, San." Fina memang suka lihat Ghaisan menderita.
Betapa kejamnya dirimu atas diriku... —Ghaisan.
"Kita mau kemana sih?" tanya Aurel pada akhirnya.
"Gak kemana-mana. Cuma di rumah doang, mainan." Ghaisan nyengir.
"Ish, aku kira mau kemana." Aurel menghentakkan kakinya kesal dan duduk di sebelah Ghaisan. "Yaudah main apa?"
"Kita mau ke BU nyari cogan," ujar Fina.
"Eumm.. bukannya disana cuma ada Skala, Bara, sama Angkasa?" tanya Aurel heran. Memangnya laki-laki disana ada berapa? Kalau MABA kan baru sedikit dan belum mulai masuk kuliah.
"Ya itu maksud gue, Aurel! Si Angkasa, kan cogan!" sahut Fina menggebu-gebu.
"Hus! Mata keranjang lo! Ustadz udah punya istri kayak bidadari gak mungkin ngelirik lo. Jalan aja nunduk terus." Ghaisan jadi orang pertama yang demo pakai spanduk.
Fina mengerucutkan mulutnya, "Idih.. gue mah menerima rejeki cogan dimanapun dan kapanpun."
"Gue cogan aja bosen liat lo," ujar Ghaisan diakhiri ledakan tawa.
Fina mengambil bapao di meja untuk menyumpal mulut Ghaisan mumpung lagi tertawa. "Makan tuh!"
Ghaisan terbatuk-batuk, "Laknatullah."
"Ghaisan. Fina." Aurel memanggilnya serius.
Mereka menoleh bingung.
"Kalian gak kangen orangtua kalian? Gak mau minta mereka buat pulang sebentar aja, seenggaknya nengokin kalian," ujar Aurel hati-hati dengan kelembutan.
Fina dan Ghaisan tidak pernah tersinggung jika ditanyakan tentang keberadaan orangtua mereka. Menurutnya, nasib mereka lebih baik ketimbang Aurel, Nabila, dan Bintang.
"Gak pernah sih. Gue maklumin mereka sibuk." Ghaisan setuju dengan Fina.
Pertama, Fina tahu betul Aurel pernah berselisih dengan Damar sampai mengalami kekerasan. Kedua, Nabila juga anak angkat, bukan anak kandung orangtuanya yang sekarang. Ketiga, Bintang diuji orangtuanya yang bercerai dan tidak ada yang mau mengasuhnya. Keempat, Ayah Juli menikah siri dengan Mama Shiren. Kehidupan teman-teman yang lain lebih mengenaskan ketimbang dirinya yang hanya ditinggal ke luar pulau.
"Lain kali harus bicara kalau kalian rindu mereka," ujar Aurel diangguki keduanya. "Aku juga pengen keluarga kita ngadain acara makan malam."
"Nanti gue bicarain deh ke Ortu," ujar Ghaisan tertarik dengan ajakan Aurel.
"Iya, aku cuma takut... nanti kalian canggung sama orangtua sendiri."
Memang, keadaan lah yang membuat suasana canggung. Fina dan Ghaisan mengakui dengan benar ucapan Aurel.
Bersambung...
__ADS_1