SENJA TERLUKA

SENJA TERLUKA
Nyusul Mereka


__ADS_3

Juli, Ghaisan, Fina, Bintang, dan Nabila tengah berkumpul di Kafe untuk membahas rencana kunjungan ke Bandung, lebih tepatnya ke Bina Atlas untuk berkunjung ke kantor Skala.


Juli sibuk menulis alamat kantor Skala yang di Bandung lewat Google dan alamat rumah Skala lewat sekretarisnya yang pernah rapat mengenai novelnya. Nabila dan Fina sibuk mengabsen makanan serta jajanan untuk perjalanan kesana. Ghaisan sedang mencuci mobilnya di steam belakang rumah. Sedangkan Bintang memperhatikan google maps supaya tidak kesasar.


“Dah selesai.” Juli berdiri lalu menunjukkan kertas berisi dua alamat berkat kecerdasannya pernah terlibat di kantor Skala.


“Sini gue belum liat cuy,” ujar Bintang menghentikan kesombongan Juli. Juli menggaruk kepalanya dan malu, ia lantas duduk lagi dan membiarkan Bintang mencocokkan alamat tulisannya dengan google maps.


“Wagelasih… INI BANYAK BANGETT!” Fina dan Nabila dengan bahagianya tos saat melihat berbagai jajanan di lantai.


Nabila senang, “Gue suka semuanya.”


“Lo berdua yang ngabisin kalo gitu,” sahut Juli. “gue dibeliin gak?”


“Beli lah, kan buat semuanya,” ucap Fina. “Ghaisan nyuci mobil apa nyuci rumah, kok lama banget?” Pfftt, aneh rasanya kalau kembarannya tidak ada.


“Bentar lagi juga pulang,” ujar Bintang tenang. Ia sedikit pusing, “Ini muternya ke kanan apa ke kiri dah? Susah amat.” Ia sampai memutar-mutar ponselnya karena bingung.


“Ini kita serius gak usah ngasih tau mereka?” tanya Fina ragu.


“Iya. Kalo kita sampe sana terus diusir, siapa yang tanggung jawab nahan malu?” sambar Nabila.


“Juli-lah. Kan dia yang ngajak,” tukas Bintang.


“Somplak amat mulut lo berdua,” ujar Juli dramatis. “tenang, kita gak diusir. Paling disuruh pergi.”


Juli disoraki teman-temannya.


“Sama ae bambanggg, gue lempar juga lo ke comberan depan rumah,” sahut Bintang.


“Jul, bisa gak sih kalo misal kita diusir, lo kasih aja tanda tangan plus novel best seller lo?” tanya Nabila ada benarnya.


“Iya bener. Lo kan udah jadi penulis terkenal,” sambung Fina sambil menaruh jajanan ke plastik jumbo.


“Terkenal pala lo,” kata Juli. “kalo gue kasih mereka gratis, gue dapet untung dari mana?”


“Lo pelit amat,” ujar Bintang sambil mual.


“Iri bilang sahabat.”


TIN TIN


Ghaisan sudah selesai mencuci mobilnya. Ia masuk mengucap salam sambil memainkan kunci mobil dan bersiul.


“Gaes… mobil gue udah wangi.”


Mereka sibuk masing-masing merasa ucapan Ghaisan tidak penting.


“Astagfirullah, dikacangin.” Ya sudahlah. Ia duduk saja sambil melihat kesibukan mereka.


“Wangi melati bukan?” tanya Bintang merasa kasihan ketimbang Ghaisan dicueki. Wkwk.


“Lo naek ambulans aja sono,” jawab Ghaisan.


“Kita mau berangkat besok ya?” tanya Juli.


“Gue kangen Aurel,” kata Nabila.

__ADS_1


“Iya sih.. pas lo pulang terapi dia udah berangkat ya.” Fina mah ikut-ikut saja sekalian jalan-jalan.


Ada satu kejutan dimana Bintang dan Nabila sudah resmi pacaran. Horeeee.


“Ntar malem kalian jangan begadang ya guys.” Juli mau tidak ada yang kesiangan.


“Dateng ke rumah gue jam 9 aja, mungkin diantara kalian ada yang kudu nyuci baju apa beberes rumah.” Ghaisan cukup kenal kawan-kawannya.


Mereka cukup mengerti.


***


Sepulang dari rumah Ghaisan dan Fina, Bintang dan Nabila mampir ke toko boneka. Bintang bilang, dia ingin membelikan boneka yang sempat diinginkan Aurel, namun sudah tidak dibahas. Ia jadi ingin belikan.


“Menurut lo bagus gak?” tanya Bintang menunjuk dumbo besar di dalam kaca.


“Bagus kok.” Nabila memang suka boneka ukuran jumbo, untuk teman tidur kalau sedang hujan.


“Gue bayar dulu ya.”


Sementara Bintang membayar boneka dumbo untuk Aurel. Nabila melihat boneka yang cantik-cantik. Ia tertarik membeli boneka kucing diatas rak. Kalau bilang, Bintang mau tidak ya membelikan yang itu.


Bintang tidak sengaja melihat Nabila mendongak melihat boneka kucing. Dia tersenyum, “Sekalian sama boneka kucing yang di atas, Mbak.”


“Tang, aku keluar ya cari angin.” Nabila keluar dari toko.


.


“Nabila…” Bintang memeluk dua boneka sampai wajahnya tidak kelihatan.


“Iya lah, lo liat bonekanya sampe mangap di dalam tadi.”


“Eh, enak aja.” Nabila tidak memalukan seperti itu juga.


Mereka memasukkan bonekanya ke bagasi mobil dan pulang.


“Bintang, thanks ya masih tetap disamping gue.”


“Iya sama-sama.”


“Gue kangen Aurel.. dia disana bahagia banget pasti.”


“Ya jelas lah, sama Skala.”


“Gue gak pernah jadi alasan Aurel ketawa ya, Tang?”


“Coba aja Aurel liat ekspresi lo di toko boneka tadi, dia pasti ketawa.”


Nabila memukul lengan Bintang. Dibahas lagi. “Au ah, lo mah bahas itu mulu.”


“Tapi serius deh gue ngerasa gitu.”


Melihat Nabila cemberut, Bintang ada ide untuk membuatnya kembali bahagia.


“Aurel pernah ketawa karena lo kok.”


“Kapan? Kok gue gak inget?”

__ADS_1


“Pas lo nyungsep di BumPer.”


“Kurangajar. Itu kan gegara akar pohonnya gede, jadi kesandung.” Kalau itu Nabila ingat. Ia jadi tertawa lagi. “kalo gue inget lagi, lucu ya.”


“Nah.. Aurel pernah ketawa kan.”


“Iya, ngetawain gue lebih tepatnya. Daya ingat lo kuat ternyata.” Ia tidak sangka.


“Mana mungkin gue lupa, Bil. Tiap detik gue sama lo, Aurel. Gak akan lepas dari otak gue. Gimanapun, kalian itu penyemangat gue. Keluarga gue aja gak nganggep gue, cuma kalian.”


Nabila mengambil tangan Bintang lalu menggenggamnya erat. “Lo jangan lupa kalo gue sama Aurel selalu nyemangatin lo, Tang. Gue yakin nanti keluarga lo bakal luluh dan baik lagi.”


Bintang mengangguk dan mendadak matanya memanas kalau bahas keluarganya yang konyol. Orangtuanya bercerai karena tidak percaya satu sama lain, lalu Bintang saling lempar hak asuh saat di pengadilan. Akhirnya hak asuh jatuh ke tangan Ibunya, tapi sampai sekarang, Ibunya sibuk membahagiakan anak dari suami barunya alias ayah tirinya. Mobil bekas ini dia dapat dari hasil penjualan furniture dan rumah di market place yang tentu tidak mudah atas bimbingan Skala selama 3 bulan. Ya lumayan… satu bulan bisa dapat income 50-75 juta sesuai kemampuan bahasanya menjual barang. Terkadang Skala memberinya bonus 5 juta sendiri kalau dia bisa menjual 5 furniture. Padahal perusahaan memberi bonus juga 2 juta. Jadi sebenarnya Bintang sudah mampu menjadi pegawai pemasaran di Skala Atlas. Ia ingin, habis lulus SMA, langsung kuliah jurusan manajemen di BINA UNIVERSITY, Bandung, karena dijamin bekerja di perusahaan Skala, katanya. Beruntung ia kenal Skala yang tidak pelit mengenai cara sukses diusia muda. Bintang sempat mikir, gaji pemasaran sepertinya saja lumayan. Apalagi kalau Aurel jadi isterinya, ya tinggal meni-pedi duduk manis di rumah. Ya kan?


“Lo rencananya mau kuliah di Bina?” tanya Nabila.


“Iya. Lo sendiri?”


“Sama deh kayaknya. Tapi gue ambil IT.”


“Hebat! Semoga.. kita bisa masuk, terus kuliah bareng.”


“Semoga aja.”


***


Keesokan paginya mereka berkumpul di depan rumah Ghaisan dan Fina untuk memasukkan barang-barang di dua mobil. Satu mobil milik Ghaisan, satu lagi milik-


TIN…


Juli berlari mendorong gerbang supaya mobilnya masuk. Ternyata Alatas ikut juga untuk mengunjungi anaknya di Bandung, mungkin bisa dibilang ia hanya mampir di rumah Skala.


Melihat penampilan Alatas yang biasanya pakai jas putih dokter, Fina jadi melongo. Ternyata tampan juga kalau pakai baju biasa.


“Inget, Fin. Dia udah punya anak, masa lo suka sama duda,” batin Fina teriak. Kenapa Tuhan menciptakan duda setampan Alatas? Oh tidak. Otaknya sudah miring.


“Maaf telat,” ucap Alatas setelah keluar dari mobil.


“Gak kok, kita juga baru selesai masukin koper.”


Nabila memeluk dumbo milik Aurel, “Dokter.. tolong dong. Masukin di bagasi Dokter aja ya? Di mobil Ghaisan udah penuh.”


Dengan watadosnya Nabila memberikan dumbo ke Alatas langsung. Alatas mengangguk, “Iya gapapa.”


“Saya, Ghaisan, sama Nabila. Sisanya sama Dokter Alatas, gimana?” usul Juli.


“Gue mau sama Ghaisan, boleh gak? Kalo jauh rasanya gimana gitu,” pinta Fina.


“Berarti Juli, Ghaisan, sama Fina. Saya, Nabila, sama Bintang,” Alatas menyipitkan mata karena sinar matahari cukup silau.


Mereka bergegas masuk mobil dipimpin Ghaisan yang jalan duluan.


***


*pict dr. Alatas (Mantan gue) *Haluu😂😂


__ADS_1


__ADS_2