SENJA TERLUKA

SENJA TERLUKA
Ratu Hutan


__ADS_3

Nabila tidak habis pikir, bisa-bisanya Dina berani menampakkan wajah jahanamnya di rumah sakit. Apalagi di kanan-kirinya ada Gemintang dan Skala. Idih, dia pasti sok-sok dilindungi tuh sekarang.


Bintang menatap pacarnya curiga. Ini ada bau-bau tidak enak. Bau antara kemarahan dan kebencian. Buset, udah kayak dukun aja.


Tapi serius. Nabila kan gampang ngamuk. Kalau ngamuknya cuma jambak-jambakan mah Bintang selow. Masalahnya, mulutnya itu loh, tajem. Nusuk sampai relung hati, kalau mampu nih, sampai urat hati bisa ditembus pakai kata-katanya Nabila.


Beda sama Aurel. Nabila kalau habis adu mulut, gak ada rasa bersalah, justru katanya ye bodoamat, gue mah gak peduli sama orang gak guna gitu. Kalau Aurel pasti gini dia tersinggung gak ya? Aduh, gimana nih?


Jadi bisa dilihat ya perbedaan keduanya.


Nah kalau Fina, dia suka main tangan langsung. Jambak-jambakan udah gak level, dia nih sampe nyakar dada lho, sumpah. Bukan kaleng-kaleng emang Kakaknya Ghaisan. Ghaisan pernah marahin Fina karena takut orangnya kenapa-kenapa, tapi dia balas gak jauh beda sama Nabila, Lo gak usah ikut-ikutan! Lo cowok maen futsal aja sono! Ngapain ngurusin gue!


Begitu.


Itu kenapa para cowok disini gak berani macam-macam sama Fina dan Nabila. Bisa habis nanti. Tapi kalau mereka bertiga kemari, emosinya pasti meledak-ledak.


Bintang bisa hitung mundur,


3… 2… 1…


“Lo berdua masih berani dateng kesini? Muka lo berapa lapis, hah?”


Bintang mengusap wajahnya frustasi melihat Nabila beranjak menghadang mereka.


Skala terkejut sampai mundur dua langkah. Dia mengusap dadanya, “Ini.. saya ngantar Sadira. Katanya mau ketemu Aurel.”


Kita dengarkan saja mereka guys.


Nabila mendecih ogah-ogahan, “Lo mau jenguk Aurel? Mau bikin dia mual? Diare liat muka lo?”


Sudah, ini sudah tajam sekali. Nabila pasti masih sempat mengasah mulutnya sebelum mampir ke rumah sakit.


“Biarin aja kalo mau jenguk mah.. orang niat baik kita harus welcome,” ujar Bintang sok bijak.


“Lo aja sana jadi keset yang ada tulisan welcome. Gue ogah!”


Tuh kan. Nyablak bener mulutnya. Masa Bintang secerah namanya disamakan dengan keset(?)


“Astagfirullah. Itu mulut atau silet.. buju buset…” Bintang mengelus dadanya agar lebih sabar.


Gemintang tidak tahu terbuat dari besi atau baja hati Bintang. Kuat lho ngadepin Nabila.


YA KUAT KALO CUMA NGADEPIN OMONGAN. NERIMA DITEMPELENG, DIJITAK, DITOYOR, DITENDANG, SAMPE DIJAMBAK NOH YANG SUSAH SABAR.


“Lo kenapa sewot banget liat gue? Kalo gak suka ya minggir!" sahut Sadira kesal.


“Eh, Ropeah, bukan cuma gue yang sewot, semua orang liat muka lo- batang idung lo bahkan nih, ENEG TAU GAK.”


Skala menarik nafas jengah sambil berkacak pinggang. Dia sukar sekali membalas Nabila. Dia perempuan. “Yaudah kita pulang aja. Kita jenguk pas Aurel udah di rumah,” ujarnya pada Sadira dan Gemintang.


“Lebih baik gitu. Daripada kesini, malah diterkam ratu hutan,” gumam Gemintang yang masih dapat didengar Nabila.


Jelas Nabila murka disamakan dengan ratu hutan. “KURANGAJAR LO!”


Bintang langsung sigap menghalang tubuh Nabila yang hendak mencakar mereka bertiga. “Lo bertiga cepet minggat!”


Skala, Sadira, dan Gemintang buru-buru pergi dari sana walaupun sebenarnya ingin sekali melihat Aurel. Apalagi Skala. Dia kan punya janji ingin memperjuangkan cintanya.

__ADS_1


Mengatur nafasnya yang memburu dan menurunkan tensi darahnya yang naik akibat Sadira. Nabila kembali seperti biasa. Dia mengibaskan kedua sisi rambutnya ke belakang, “Di rumah sakit ternyata banyak setan. Bener kata penjaga kamar mayat.”


Bintang ikut duduk setelah Nabila duduk, “Kapan lo nanya ke penjaganya?”


“Ngapain nanya. Gue sering denger mereka gosip depan lobi kalo kamar mayat emang banyak setan.”


“Ya emang. Namanya juga kamar mayat, banyak mayat. Kalo kamar penganten, baru ada kembang mawar di atas sprei.”


Nabila menoleh spontan, “Lo kok tau?! Tau dari mana lo?!”


Bintang merasa diintimidasi lagi, “Eh- bukan. Kan gue sering nonton sinetron.”


“Otak lo lama-lama ikut drama.”


“Lo mau beneran gak kamarnya ada kembang?”


“Mau. Lo yang pesugihan biar kita kaya. Gimana?” Nabila tertawa sesudah menaik turunkan alisnya di depan Bintang yang wajahnya sudah datar.


“Gue jaga lilin. Lo bagian keliling.”


“Dih, ogah.”


“Sama, gue juga ogah.”


Bintang merangkul leher Nabila lalu menarik hidung gadis itu gemas. “Lain kali lo harus belajar cuek dari Aurel. Hemat energi, jangan marah-marah terus sama mereka.”


“Gue kesel, Tang.”


“Iya gue tau. Coba, lo pikir lagi. Siapa yang lebih kesel sama mereka?” Pertanyaan itu membuat Nabila berpikir. “Aurel kan? Tapi dia gak pernah marah sampe ngotot kayak lo.”


“Iya sih… gue kan sebagai sahabatnya gak terima.” Tetap saja Nabila membenci mereka.


“Yang mana?” Bukannya dia lupa. Tapi kata-kata bijak dari Aurel itu banyak.


“Satu kebaikan, ngalahin seribu keburukan.”


“Kayaknya cuma berlaku buat Aurel deh, Tang. Dia doang yang cara mikirnya gitu.” Nabila memainkan kuku-kukunya yang baru meni-pedi.


“Berlaku buat semua orang,” ralat Bintang seraya tersenyum. “lo inget-inget apa yang udah Skala lakuin buat lo..”


Hmm,


Skala itu pernah menggratiskan biaya terapi di psikolognya, pernah menyadarkannya, dan yang paling penting dia pernah menyatukannya dengan Aurel. Terlepas semua itu hanya tipuan untuk menggantikan Sadira untuk Aurel, Skala memang membantunya di tengah kesibukan hidupnya.


“Kalo gue, jujur aja marah pas awal doang,” ujar Bintang apa adanya. “gue kesindir sama Aurel sama kalimat itu. Gimanapun juga, Skala udah bantu gue dari segi persahabatan kita bertiga, terus ekonomi gue. Kalo gak dibantu Skala, sumpah, gak ada yang beliin lo skincare, Bil." candanya di kalimat terakhir.


Nabila mendelik lalu tertawa. “Gak ada yang minta lo beliin gue skincare.”


“Gue mah inisiatif.”


“Iya, iya. Serah lo deh.”


“Gue harap lo buka pintu damai sama Skala.”


***


Satu perempuan setengah baya dan pria berjas dokter tengah duduk menunggu gadis yang sedang menebus obat.

__ADS_1


“Bu, obatnya diusahakan sampai habis,” ujar Bara pada Alya.


Alya mengangguk, “Baik, Dok. Dokter ini, anaknya Dokter Alatas ya?”


“Iya, saya anaknya.”


“Kok sekarang Dokter Alatas jarang kelihatan? Sibuk ya?” Alya memaklumi kalau benar sibuk faktanya.


“Iya, Ayah saya sibuk praktik di Klinik.”


“Biasanya, kalau ada apa-apa sama Aurel. Skala selalu panggil Ayahmu.” Alya sedikit mengenang mereka. “sekarang kan Aurel sama Skala lagi gak baik. Gimana ya… saya khawatir Aurel banyak pikiran.”


Mata Bara tak lepas mengamati Aurel, “Ya memang. Tapi Ibu hibur aja, nanti dia lupa masalahnya."


Alya terkekeh, “Iya ya. Saya yang terlalu khawatir mungkin sama Aurel.”


“Wajar aja, Bu. Anak satu-satunya.” Bara tertawa renyah. “nanti saya usahakan setiap dua minggu sekali ke rumah Ibu, buat cek kondisi Aurel.”


“Ah iya, makasih ya.”


Aurel menghampiri mereka sambil memasukkan plastik biru berisi obat-obatan ke dalam tas selempangnya. “Ayo, Bu.”


“Pamit sama Dokter kamu dong,” ujar Alya mengkode anaknya.


Aurel mengangkat wajah karena sebelumnya menunduk memasukkan obat-obatan, “Oh. Dokter aku cuma satu, Bu. Lagi izin praktik di Klinik lain.”


Dengan tampang menyebalkannya, Aurel tersenyum terpaksa untuk Bara. Alya mencubit pelan anaknya, “Aurel, jangan gitu. Dokter Bara kan udah ngerawat kamu disini.”


Bara tersenyum namun menunduk. Awas saja gadis ini… akan dia cincang, supaya muat di hati.


“Iya, tapi Dokter aku kan, Dokter Alatas. Emang udah ganti?” tanya Aurel pada Bara.


Bara mendongak, “Kata beliau, saya gantiin posisinya buat cek kamu tiap dua minggu sekali.”


Alya menahan malu akibat ucapan Aurel yang mungkin membuat Bara tersinggung. Dia hanya senyum saja.


“Gitu ya? Yaudah, aku sama Ibu pulang dulu.”


Baru dia balik badan, Bara mengatakan, “Obatnya dihabiskan. Kalau dalam dua minggu, obatnya gak berkurang. Saya tambah obat kamu.”


Aurel memutar bola matanya malas, “Iyaaa.” Lalu kembali berjalan beriringan dengan Alya.


Huh, Bara pasti tahu dari Alatas. Aurel yakin itu.


“Kok obatnya cuma berkurang tiga? Perasaan saya kesini seminggu deh.”


“Aurel, kenapa harus dibelah jadi dua? Kan dosis kamu tertera 1 hari 1 tablet.”


“Lho… ini kenapa masih utuhhh??”


“Astagfirullah. Kamu bayar obat mahal-mahal, masa gak diminum, buat pajangan doang.”


Aurel terkikik mengingat saat dulu amnesia. Obat tidak pernah diminum dengan alasan bikin ngantuk. Apalagi sejak masuk sekolah, Aurel selalu skip minum obat.


Celotehan demi celotehan Alatas tidak dihiraukan Aurel. Dia tidak suka obat sebenarnya. Namun dia suka Alatas, yang sudah ia anggap seperti Bapaknya sendiri. Jadi mau tak mau, obatnya dia minum.


Tapi karena sekarang adanya Bara, ya... dia tidak tahu apakah obatnya akan diminum atau tidak.

__ADS_1


***


__ADS_2