SENJA TERLUKA

SENJA TERLUKA
Skala Mana?


__ADS_3

Alatas memperhatikan pesan tertulis di ponsel Aurel semacam ancaman. "Orang iseng kali." Dia lanjut mengecek administrasi klinik.


Aurel meletakkan ponselnya di meja, "Bisa jadi." Ia menaruh kedua tangan di meja kerja Ayahnya sambil tiduran. "Juli udah pindah, cepet banget perasaan."


"Namanya juga hidup, gak mungkin kan disitu aja."


"Iya, Ayah betul. Ternyata gini ya ditinggal pergi sahabat. Rindunya banyak."


"Juli nanti ge-er kalo tau kamu kangenin dia." Alatas tertawa kecil. "Ayah udah kasih tau kamu belum?"


"Apa?"


"Ibu punya rencana mau tinggal di rumah Ayah. Rumah ini mau dijual aja katanya."


"Gak bisa! Ini kan punya Bapak!" sahut Aurel tiba-tiba marah.


Alatas mengelus dadanya saking terkejut. "Pak Damar bilang gapapa dijual aja. Kamu gak tau juga kalo Pak Damar mau pindah ke Sumatra? Bapak kamu kan asli sana."


"Tetep gak bisa! Apaan sih, main jual seenaknya!" Aurel masih marah. Dia mengorbankan uang saku sekolah tiap hari untuk bayar listrik tanpa bantuan sedikitpun dari Skala walaupun pria itu memberinya uang berjuta-juta. Tapi sekarang mau dijual? Oh tidak bisa.


Alya yang baru masuk ruang kerja suaminya kebingungan melihat Aurel seperti marah karena berdiri di sudut sambil bersidekap dada dan buang muka. "Ada apa toh?"


"Ibu kok gak bilang mau jual rumah ini?" tanya Aurel.


"Kamu sibuk tiap hari, Nduk. Pagi main sama Juli, siang main ke rumah Nabila, sore main sama Bara, malemnya tidur. Gimana mau tanya pendapat kamu?"Alya geleng-geleng kepala melihat Aurel yang masih sama kalau tidak diikut-sertakan dalam rapat dadakan.


Aurel diam menandakan ia tidak setuju. Alya mengimbuh, "Yaudah, Yah. Gak usah dijual, Aurel gak setuju."


"Gak bisa, Al. Kamu gak bisa gitu mendidik Aurel. Jangan langsung berikan apa yang dia mau. Nanti sampai besar dia terus begitu, kita yang capek ngalah," ujar Alatas sambil duduk tegak menatap mereka bergantian. "Lagian kan uang hasil penjualan rumah ini buat bangun kamar Aurel sama balkon."


Mereka tertuju pada Bara yang datang dan menutup pintu. "Berisik banget sih, ada apa?"


"Tanya sama mereka!" jawab Aurel.


"Kamu kenapa? Lagi marahan?" kekeh Bara. Dia baru tahu kalau Aurel bisa ngambek.


Alatas menjawab, "Soal rumah ini yang mau dijual, Kak."


"Ohh, makanya jangan main terus jadi gak tau kemarin musyawarah bareng," sindir Bara.


"Hus! Bara, jangan gitu," tegur Alya.


Aurel menangis tanpa isakan. Dia marah pada dirinya sendiri yang selalu seperti ini.


"Aurel ke luar dulu," pamit Aurel pada mereka.


Alatas jadi orang pertama yang mengejar anaknya disusul Alya. Bara hanya tidak mengerti kenapa Aurel bersikukuh tidak setuju kalau rumah dijual.

__ADS_1


Aurel terkejut kala ia membuka pintu dan Rumi sudah ada disana dengan raut marah. "Kamu sembunyiin Skala dimana?" tanyanya sambil mendorong kedua bahu Aurel tiba-tiba.


Jelas Aurel terjatuh membuat Alatas dan Alya membantunya berdiri. Alatas langsung memarahi Rumi, "Anak saya dengan Skala udah gak ada hubungan apa-apa lagi. Ngapain kamu cari dia disini?!"


Alya menyuruh Aurel masuk namun anaknya enggan. Dia ingin tahu kenapa Rumi menyimpulkan kalau Skala ada di rumahnya.


"Maaf, Om. Saya kesini bertanya ke Aurel." Rumi menarik kerah kaos Aurel.


Alatas menepis tangan itu cukup kasar, "Jangan sentuh anak saya!"


"Aurel, jawab! Skala mana?!"


"Aku gak tau Skala dimana," jawab Aurel jujur. "Dan aku gak mau tau."


Alatas menyembunyikan Aurel dibalik punggungnya. "Kamu yang udah lama kenal Skala, harusnya tau dimana dia."


Bara datang, "Jam segini biasanya Skala ngajak Aurel ke tempat tertentu. Dia gak pulang berapa hari?"


"3 hari."


"Wow. Rekor terbaru." Bara berdiri di depan Rumi, "Lo harus pergi dulu, habis itu Skala bakal pulang. Gimana?"


Alatas menarik Alya untuk masuk saja membiarkan mereka menyelesaikannya sendiri.


Aurel menggeser tubuh Bara lalu menatap Rumi, "Kamu... gak ingat apa yang kamu lakuin ke Bara? Ini yang aku rasain waktu itu, Rum. Khawatir, ketakutan, sedih. Skala pergi karena kamu ganggu dia terus."


"Mobil kamu ngebut terus bikin mobil Bara jatuh dari jembatan. Bukannya minta maaf, justru kamu lari dari masalah. Kamu juga manfaatin Skala supaya dia nurut sama kamu." Aurel mendorong bahu Rumi juga, "Sadar, Rumi. Kamu banyak kesalahan, tapi kamu anggap semua gak berarti. Skala manusia, dia bisa lelah kapan aja."


Aurel menarik Bara lalu menutup pintu, masabodo Rumi gedor-gedor. Paling dia bisa disiram tetangga karena membuat kebisingan.


"Biarin aja, Kak. Ngurusin orang gak penting, buang-buang tenaga kita."


"Kamu makin dewasa ya," puji Bara.


"Kamu gak marah, apalagi aku."


Bara memeluk Aurel dan tiba-tiba saja meneteskan air mata. "Rel, maaf kita belum berhasil jadi keluarga kamu."


"Nggak kok. Kalian berhasil."


"Kamu tumbuh dewasa sebelum waktunya karena banyak kejadian buruk," ujar Bara.


"Baguslah..."


"Jangan pernah berpikir buat nyerah di tengah jalan. Masih ada Ibu, Ayah, sama Aku."


Aurel melepaskan pelukan Bara, "Tapi dimana Skala? Kok dia pergi?"

__ADS_1


"Gak tau... mungkin dia butuh istirahat."


"Kira-kira dimana ya? Kasihan, Rumi." Tapi yang jelas Aurel menertawakan nasib Rumi yang ditinggal Skala. "Dia cinta mati sama Skala, tapi ditinggal."


"Dimana Skala, kamu pasti tau."


"Hm?"


...***...


Ucapan Bara ada benarnya. Dia mencari Skala ke kantornya. Secara langsung pria itu memang tak ada di ruang kerjanya, namun mereka tak tahu kalau rooftop sudah diubah menjadi...


Tempat kemah dadakan.


Ia dan Skala pernah membangun tenda sebelum keadaan memanas seperti sekarang.


Ia menghampiri tenda yang ditutup resleting, "Skala."


Terdengar suara buru-buru membuka tenda, "Aurel? Nga— Kok kesini?" Kepala Skala muncul dengan tampang cengo. "Aku lagi semedi."


Aurel geleng-geleng kepala, "Semedi kok bukain tenda. Yang namanya semedi itu mau ada gempa pun diam di tempat."


Skala keluar memakai sandal jepitnya. "Kamu kok tau aku disini, Rel?"


Aurel duduk di atas tikar bersama Skala. "Rencananya kamu mau minggat kemana lagi?"


Skala menggaruk kepalanya bingung mau jawab apa, "Aku gak minggat... cuma butuh menyendiri." Dia sering memikirkan hal gila, mungkin itu sebab otaknya terbalik. "Aku sampai kapan nih jaga jarak sama kamu?"


"Kapan kamu bisa begitu?" ledek Aurel.


Skala tertawa mendengarnya, "Belum jawab pertanyaan. Kamu ngapain kesini?"


"Cepat pulang, Skala. Rumi kasian cari kamu terus."


"Yahhh, kirain kamu yang cari aku." Skala cukup kecewa mendengarnya. "Tapi kamu kesini. Artinya kamu juga cari aku."


Tuhkan... Dia memang percaya dirinya sudah kronis.


"Tapi gapapa kalo gak ngaku— Tunggu, ngapain aku pulang? Kantor ini kan punya aku." Dia baru sadar rupanya. Konyol.


"Pulang ke rumah, Skala..."


"Okay. Aku pulang, sama kamu!"


"Wani piro?"


Bersambung ...

__ADS_1


Aurel nyebelin yak :)


__ADS_2