
Sehari sebelum akad Alatas dan Alya, Aurel justru sibuk mengerjakan soal-soal untuk UN nanti. Urusan dekorasi ditangani oleh Bara dan WO. Toh semuanya ingin akad sederhana walaupun Alatas orang berada.
"Ku menangissss... membayangkan...."
Aurel menatap seorang pria yang duduk diseberang meja sambil memegang pel dan menyanyi seperti meratapi nasib. Siapa lagi kalau bukan Juli.
Yang lainnya sibuk mendekor, dia justru sibuk mengepel di satu tempat dan tidak selesai pula. "Kegiatan banyak yang berguna, Jul."
Juli tetap mengepel sambil duduk di kursi, "Ya Allah, Rel.. gue dihujat sono-sini gegara Sad Ending.. buset dah. Kan gue niatnya bikin spin off, eh malah dibully duluan."
Aurel tertawa kecil, "Justru mereka menghujat kamu karena kebawa perasaan tokoh novel kamu. Nikmatin aja kali."
Juli tidak terpikir sampai kesana. "Lo bener juga."
"Sejak kapan Aurel salah?" tanya Skala yang sedang naik ke kursi untuk memasang lampu hias.
"Sejak deket kamu," jawab Bara yang langsung membuat semuanya menyemburkan tawa.
Fina menimpali, "Diantara mereka. Skala yang salah, Aurel yang minta maaf."
"Judulnya kek Suara Hati Istri, tersakiti pun tetep bertahan. Sabarnyaaaa... Masya Allah!" sahut Bintang.
"Bully aja terus," kata Skala pasrah. Selesai memasang lampu, dia turun. "Saya mau mandi sebentar."
"Jam segini mau mandi, Pak?" tanya Nabila terkejut. "ntar rematik lho."
"Udah rematik," lirih Skala.
"Iya ini udah jam 9 malem padahal," sambung Fina.
Ghaisan tertawa, "Belum tua udah rematik, gak ada yang mau sama orang encok, Pak, Pak."
Skala mengusap dadanya. "Astagfirullah..."
"Makasih ya udah bantu dekor," ujar Aurel untuk mereka.
Mereka hanya tersenyum karena masih sibuk menempeli hiasan di dinding.
__ADS_1
"Sebagai Kakak, nanti nyari adik ipar yang cocok buat adiknya. Ya gak?" Bara menyunggingkan senyuman.
Aurel menanggapinya dengan santai. Berbeda dengan mereka yang menoleh ke Skala yang baru hendak melangkah.
"Kakak tiri aja bangga."
"Bangga lah. Sebagai Kakak, punya kewajiban melindungi adiknya dari laki-laki kayak kamu yang plin-plan."
"Hareudang!" sahut Bintang merasa gerah.
"Apalagi ngelindungin Aurel dari kamu. Wajib."
"Bodoamat, gak denger." Skala melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan badan.
"Orang kayak Skala gak betah ada setetes keringet nempel di baju kali ya?" tanya Ghaisan.
Walaupun terdengar lebay, Aurel mengakui, "Skala itu sehari bisa mandi 5 kali."
"Lah banyak bener. Gue aja kadang sehari sekali doang," ujar Ghaisan.
Sebagai Kakak, Fina jijik mendengar pengakuan kembarannya, "Iya! Jorok banget sumpah! Ketemu gue aja cuma pake parfum! Lo sering nyuci mobil, tapi jarang mandi. Gak pernah bayar PAM juga."
Ghaisan nemplok ke tembok, "Teraniaya gue disini."
Aurel meletakkan pulpennya di atas buku lalu mengambil pel dari tangan Juli. "Ngepel gak selesai-selesai!" Ia menuju kamar mandi untuk menaruh pel.
Juli senyum-senyum, "Ngapunten.."
(Saya minta maaf)
"Sejak kapan lo belajar bahasa jawa? Mau nyalon jadi adek iparnya Dokter Bara?" tanya Nabila.
"Gue deketin Emaknya lah. Ngapain deketin Abang tirinya.. bisa diospek tiga malem gue."
Bara yang mendengar itu langsung menyahut, "Kulo mboten kados niku."
(Saya gak seperti itu)
__ADS_1
Ghaisan tergelak, "Mam*pus lo! Abangnya udah bisa bahasa jawa juga. Siap-siap lo beli kamus indo-jawa kalo mau jadi menantu Emaknya Aurel."
Fina ikut tergelak, "Walaupun kejam, lo bener juga, San.
Selesai mendekorasi ruangan. Mereka istirahat dengan es jeruk dan camilan seadanya dari Alya.
Bara menelepon Alatas disamping Aurel.
"Ayah nanti kesini gak?"
"Ohh, yaudah gapapa. Berarti aku langsung pulang aja ya."
"Di klinik banyak pasien?"
"Oh yaudah, habis ini aku kesana bantu Ayah."
"Kenapa, Bar?" tanya Aurel.
"Gapapa. Di klinik emang lagi banyak pasien, aku langsung kesana ya?"
"Yaudah, titip salam buat Dokter Alatas ya."
Bara mengangguk dan pamit pada Alya dan lainnya.
"Salut lo gue. Gitu-gitu Dokter Bara berbakti sama Bapaknya, walaupun dulu sempet gak baik keadaannya," ujar Ghaisan.
"Iya. Lo aja yang gak berbakti sama gue. Gue kan Kakak lo!" sahut Fina.
"Ih, sensi amat. Abis ini cek tensi mau gak?"
"Ogah."
"Nanti giliran Fina kita comblangin sama Dokter Bara," ucap Bintang menggoda Fina.
"Bisa tuh," ujar Nabila.
Skala yang baru selesai mandi dan sedang menggosok rambutnya dengan handuk langsung berhenti dan menjawab, "Bara itu suka sama Aurel. Susah."
__ADS_1
Semuanya terkejut.
Bersambung...