
Bukan untuk Skala dan Aurel, tetapi untuk Alatas dan Alya yang baru satu minggu menikah namun harus terpisah oleh jarak karena tugas dinas. Alya tak mungkin ikut Alatas -Suaminya- karena harus mengurus Aurel. Tidak mungkin juga membiarkan Aurel di rumah dengan Bara juga selaku -Kakak tirinya. Terkadang Bara tinggal di rumah Ayahnya, kadang juga tinggal di rumah Alya. Tapi untuk sekarang, Bara akan lama tinggal di rumah Alya karena Ayahnya dinas di Surabaya.
Aurel tidak pernah βatau bahkan tidak mau membayangkan bisa satu atap dengan Bara. Pria berwajah tembok yang sekarang berstatus kakak tiri. Oh tidak. Kenapa jadi begini?
"Ibu kira kamu ikut Ayahmu, Bara." Alya menyuguhkan es teh tawar beserta kue kering untuk Bara yang habis pulang dari klinik.
"Nggak. Nanti klinik siapa yang handle?" tanya Bara. "Gak mungkin Aurel kan. Yang ada pasien kejang-kejang semua." Dia tertawa hambar.
Aurel yang duduk sila disampingnya langsung bereaksi. "Males juga ngurus Klinik kamu. Kan kamu yang berbakat, masa aku."
"Emang gak percaya. Mana mungkin kamu kuat liat orang kecelakaan, sampai kepalanya ada yang pecah."
"Bara! Jangan dijelasin!" bentak Aurel sudah mual.
"Iya... sok mual. Dulu juga pernah bunuh diri, tapi gagal."
"Jangan diungkit lagi."
Bara tersenyum, "Udah malem banget ya ini?" Dia menoleh ke arah jam dinding. "iya. Jam 11... kamu gak tidur? Besok kan sekolah."
Alya yang hendak ke dapur lagi jadi tertawa, "Bapaknya Aurel jadi tiga ya sekarang. Pak Damar, Ayahmu, terus kamu juga."
"Iya ih, kayak om-om." Aurel memang suka sekali ikut mengejek Bara.
Bara menatapnya datar, "Tidur sana. Besok aku berangkat pagi, sekalian diantar."
"Gak mau. Aku mau sama Bintang aja." Aurel menolak.
Alya sibuk mencari ponselnya. Dia lupa taruh dimana tadi. "Kak, weruh HP-ne Ibu ndak?"
[Kak, lihat HPnya Ibu gak?]
Bara diam tidak menyahut karena tidak tahu artinya. Untuk kali ini tugasnya hanya makan dan menyimak.
"Kakak mau nganggo sedilut. Teros Ibu sing dolanan kok."
[Kakak tadi pakai sebentar. Terus Ibu yang mainan kok]
"Ibu kan miki ngomong, HP-ne gowo mudun. Opo Kakak ora krungu?"
[Ibu kan tadi bilang, HPnya bawa ke bawah. Apa Kakak gak dengar?]
"Kakak ora krungu, mau Ibu iseh nang pawon, Kakak iseh turu."
[Kakak gak dengar, tadi Ibu di dapur, Kakak lagi tidur]
"Hi... aneh. Wong turu kok sadar awake turu."
[Hi... aneh. Orang tidur kok sadar sendirinya tidur]
"Ibu pimen... Kakak ora krungu kok."
[Ibu gimana... Kakak gak dengar kok]
"Lah Kakak kepriben? Mono jupuk nang duwur, koyone nang laci mejo Ayah."
[Lah Kakak gimana? Sana ambil di atas, kayaknya di laci meja Ayah]
__ADS_1
"Kakak wes ape turu kok, Bu. Hehe..."
[Kakak udah mau tidur kok, Bu. Hehe...]
"Kepriben sih, Kak? Mono jupuk ah, Ibu mosok wira-wiri ket mau."
[Gimana sih, Kak? Sana ambil ah, masa Ibu mondar-mandir dari tadi]
"Ibu bae sing klalenan."
[Ibu aja yang sering lupa]
.
Bara bertanya setelah Alya naik tangga ke lantai atas, "Kenapa sih?"
Aurel menjawab, "Nyari HP. Padahal tadi aku kasih lho ke Ibu."
"Ohh, iya mungkin mau telfon Ayah."
"Aku mau ke kamar. Habisin ya kuenya."
"Kurangajar."
Aurel tergelak sampai menutup pintu kamarnya. Bara hanya geleng-geleng kepala dan berkata "sabar" dalam hatinya.
Menjelang pagi, Aurel terbangun karena haus. Ini adalah kebiasaannya dari kecil. Setelah minum ya balik ke kamar lagi untuk tidur. Tapi sebelum ia benar-benar terpejam, Aurel mendengar ada yang mengetuk pintu kamarnya. Dengan langkah gontai ia membuka pintu.
Dari tingginya itu pasti Bara.
"Ngapain, Ra?" tanya Aurel setengah terpejam.
GUBRAK!
Aurel langsung terbelalak. Kebiasaannya lebih baik dari Bara yang lapar tengah malam dan memerintahnya untuk masak nasi goreng.
"Ya ampun, Bara... Ini jam berapa?!" Aurel menunjuk jam dinding dengan geram.
"Jam 3," jawab Bara santai. "Kamu bangunin Ibu, kita solat tahajjud, abis itu kamu masakin nasgor."
Aurel terhenyak. Bara mengajaknya solat tahajjud? Ia mengucek matanya tidak percaya.
"Malah bengong. Atau berdua aja?"
"Gak lah, sama Ibu."
"Yaudah sana panggil."
Sambil menunggu Aurel memanggil Alya. Bara ke bawah duluan untuk wudhu dan menggelar sajadah. Namun, Aurel kembali tanpa Alya. Bara pun bertanya, "Ibu mana?"
"Udah solat duluan."
Bara tersenyum remeh, "Emang kamu doang yang kebangetan gak bangun solat malam. Udah minumnya berdiri..."
"Iya nanti aku minumnya duduk!" kesalnya.
"Yaudah buruan, aku tunggu disini."
__ADS_1
Selesai tahajjud diimami Bara. Aurel sudah tidak tahan dengan syaiton-syaiton yang bergelantungan di kelopak matanya. Sungguh, ngantuk sekali.
Akhirnya karena Bara juga belum selesai berdoa, Aurel tertidur di atas sajadah.
Bara menoleh, "Dasar."
Saat subuh berkumandang, Alya hanya geleng-geleng melihat Aurel masih tidur di atas sajadah dan Bara yang selesai mengaji di tempatnya.
"Aurel memang jarang solat malam. Untung ada kamu, ngingetin dia."
Bara terkekeh, "Keliatan, Bu. Gapapa, besok Bara ajak solat. Tapi sama Ibu ya."
"Iya, boleh. Kalo dulu Ibu bangunin mah boro-boro bangun."
Alya menghampiri sulungnya, "Aurel. Bangun... udah subuh..."
Aurel menggeliat, "Subuh?? Kok cepet banget?"
"Ya iya. Kamu habis solat bukannya berdoa atau ngaji malah tidur."
Aurel duduk, "Aku ngantuk banget, Bu. Bara ngajak solatnya dadakan."
"Daripada mati dadakan. Pilih mana?" tanya Bara sambil menggulung celana panjangnya selutut.
"Ishh, iya."
Alya mengusap kepala Aurel, "Alhamdulillah.. kamu solat sana."
"Jangan lupa nasi gorengnya. Janji harus ditepati," ujar Bara menyindir Aurel.
Aurel menatap kesal Bara. Iya memang, hidupnya dan hidup Bara sangat beda.
Alya tertawa, "Nah, daripada habis solat terus tidur lagi. Bara minta dimasakin kamu."
Aurel menguap dan Bara langsung menggunakan tangan kanannya untuk menutup mulut Aurel. Aurel langsung menutup mulutnya lalu menepis pelan tangan Bara. "Lupa," katanya sambil berdiri menenteng sajadah.
"Bara, Ayahmu satu bulan di Surabaya?" tanya Alya.
"Iya. Kenapa, Bu?"
"Gapapa."
"Pengantin baru udah ditinggal. Jadi kangen pasti."
"Bara, ngeledekin Ibu kamu ya."
"Nggak, aku ngomong fakta."
"Ah udah ah." Alya segera pergi dari hadapan Bara sebelum anak itu meledeknya lagi.
Bersambung...
Yuhuuu, setelah sekian lama akyu datang lagi gais....
Ada yang kangen? Gak yaudah.
Karena emang sibuk banget ngajar sana-sini.
__ADS_1
Doain aja selalu ada ide buat novel disini ya...ππ