
Aurel berjalan disamping Skala sepanjang koridor untuk menjenguk Sadira karena hari ini libur ke kantor. Tak sengaja dia bertemu Bara di depan gerbang khusus rawat inap, ia langsung minta izin ke Skala.
“Skala. Aku mau ke Bara.”
Skala langsung berhenti membuat Aurel menubruk punggungnya.
“Ngapain ke dia?” tanya Skala masuk akal. Bara itu ekspresinya datar, tidak ada yang kuat berhadapan dengan es gabungan kutub utara dan kutub selatan.
“Aku mau nagih janjinya.”
“Janji apaan?”
“Ada deh. Kamu kesana aja dulu.”
Skala didorong-dorong Aurel agar masuk duluan ke rawat inap kelas 1. Setelah itu Aurel menghampiri Bara yang sedang mengobrol dengan perawat.
Ia menepuk pelan punggung Bara. “Dokter muda Bara,” panggilnya lengkap.
“Bara aja,” ralatnya lalu membalikkan badan.
“Iya, Bara.” Aurel memang ceria, jadi Bara sudah tidak heran kalau dia senyum-senyum walaupun wajahnya datar. “aku mau nagih janji.”
Bara melirik sekitar yang nampak lengang lalu mengajak duduk di bangku panjang.
“Janji apa?”
Aurel berdecak, “Katanya kalo kita ketemu, kamu mau kasih susu kotak lagi.”
“Gak bawa.”
Kaki Aurel menghentak kesal, “Yahh, kok gak dibawa?”
“Lupa.”
Tetap saja Aurel kecewa.
“Temen kamu mana?”
“Udah masuk.”
“Kamu?”
“Nyamperin Bara.”
“Demi susu kotak?”
Aurel mengangguk lemah.
“Hari ini shift pagi pulang jam 1. Mau nunggu?”
“Mau, mau!”
Sekarang Bara tidak tahu lagi dengan orang disampingnya. Dia… unik.
“Iya, soalnya Ayah saya pulang.”
Aurel agak terkejut. “Wah, aku mau kenalan sama Ayah kamu dong.” mau tau juga apa Bapaknya sama datar kayak dia gak? Andai saja dia bisa melanjutkam ucapannya. Sebenarnya Aurel iri. Damar tidak pernah mau lihat dirinya, seakan kotoran yang harus dibuang. Sebisa mungkin dia tersenyum diatas luka masa lalunya.
Bara tersenyum juga, “Iya nanti.” Kalo tau palingan gumoh. Karena kan udah kenal.
“Saya mau ke depan, beli bubur sama sate ayam.”
Skala juga tidak kunjung datang, akhirnya dia menahan snelli Bara yang baru berdiri hendak pergi.
“Kalau mau ikut ayo.” Bara sudah tahu maksudnya.
Aurel mengikuti Bara, “Bara, ini mau dibangun juga?” tanyanya saat melewati gedung yang sedang dibangun.
“Iya, rencana mau dibuat ruang operasi.” Bara berjalan menatap lurus ke depan, berbeda dengan Aurel yang tengok kanan-kiri melihat pembangunan. Tidak sengaja ia melihat Skala keluar dengan Sadira yang duduk di kursi roda di koridor berbeda yang dibatasi gedung pembangunan.
“Kalau mau beli, beli sendiri makan sendiri.”
Bara langsung berbalik saat dibelakangnya hening. Dia ternyata jalan cukup jauh karena Aurel berjarak 2 meter darinya. Melihat apa yang Aurel lihat, Bara bilang, “Dia cemburu.”
Tunggu. Bara mendengar sesuatu yang aneh. Ia mencari-cari asal suara. Setelah menoleh ke atas, tepat Aurel berdiri, diatasnya ada papan penunjuk arah yang kaitannya hampir lepas. Bara meneriakinya agar menghindar, “AUREL! MUNDUR!”
Aurel bergeming. Tapi Skala dan Sadira dengar, bahkan menoleh. Aihh, Bara mau tak mau harus menolongnya lagi dengan cara yang sama, yaitu memeluknya dan jatuh bersama tersungkur ke lantai.
BRAKK
Papan penunjuk arah baru saja jatuh menindih kaki Bara. Aurel yang berada dipelukan Bara jelas terkejut. “Bara. Bara, maaf.”
__ADS_1
“Gapapa, gapapa.” Setidaknya lebih baik ketiban papan daripada batu bata atau tembok yang beratnya jauh beda.
Perawat dan dokter yang kebetulan lewat langsung membantu mengangkat papan ke tepi.
“Dokter Bara, anda tidak pa-pa?” tanya rekannya yang khawatir.
Bara berdiri dibantu rekan sesama koas. “Gapapa. Makasih ya.”
“Syukurlah. Lain kali hati-hati ya, Dok. Disini emang rawan,” katanya memberitahu.
Skala sampai meninggalkan Sadira ditempat karena mengkhawatirkan Aurel.
“Kamu gapapa?” tanya Bara dan Skala kompak. Bara dihadapannya, Skaka disampingnya. Mereka terlihat khawatir.
“A-aku gapapa,” jawab Aurel.
“Udah sering dibilangin, kalo jalan itu liat kanan kiri, Rel,” tegur Skala. “kalo tadi gak ada dokter kutub ini, kamu bisa kenapa-kenapa.”
Melihat dan mendengar Aurel diomeli Skala, Bara langsung bertindak dengan berdiri didepan Aurel seakan melindunginya.
“Pak Skala yang terhormat. Mohon maaf, sahabat anda hampir celaka. Anda harusnya memastikan dia baik-baik saja, bukan justru memarahi.” Bara tidak habis pikir.
Jelas Skala marah. Lagi-lagi dia yang nolong Aurel. Mana momen pas sekali, jadi Bara bisa memeluk Aurel tanpa izin.
Sadira datang, “Skala. Kok kamu ninggalin aku tadi?”
Bara menatap malas Sadira sebentar walaupun tidak kenal. Ia menatap Skala lagi. “Dia gak lihat jalan, karena fokus liat Anda.” Baru Bara melirik Sadira, “sama dia.”
Raut wajah Skala berubah jadi pias. Jadi, Aurel hampir celaka karena melihatnya dengan Sadira tadi?
“Tadi kamu bilang mau beli bubur. Ayo.” Aurel mengalihkan pembicaraan dan menarik tangan Bara pergi dari sana. Skala yang tidak tahan melihat mereka langsung menghadang Aurel dan menarik tangan satunya.
Sadira terpaku melihat Aurel diperebutkan oleh dua pria tajir. “Pake pelet apa dia?” gumamnya tanpa sadar.
“Skala, lepas,” ujar Aurel melirik tangan Skala. “aku udah janji mau beli sama Bara. Kamu juga janji mau nemenin Sadira. Jadi tepati janji masing-masing.”
Skala teringat ucapannya kalau janji harus ditepati. Ia melepas tangannya membiarkan mereka pergi.
“Mereka cocok ya.”
“Nggak,” cuek Skala sambil mendorong kursi rodanya lagi.
***
Aurel menelan buburnya, “Nggak. Aku keinget pas dirawat aja.”
Walaupun tidak percaya, tidak ada salahnya mengiyakan ucapan perempuan.
“Bara, cerita dong kenapa kamu sempet berpikir bunuh diri.”
“Nanti.”
“Nanti terus. Sekarang ya?”
“Bingung mulai dari mana.”
“Bara. Kamu terlalu banyak masalah ya sampe gak senyum gitu?” Aurel menarik dua sudut bibir Bara sampai membentuk senyuman terpaksa. “nah, gini kan ganteng, ntar banyak yang suka.” Bara benar-benar tidak suka senyum. Tiap kali senyum, para hawa langsung jingkrak-jingkrak seperti dapat undian lotre.
“Kamu ngingetin aku yang dulu. Aku juga gitu, ragu buat senyum karena mereka gak pernah mau liat yang sebenarnya. Mereka terlalu banyak menghina,” sambung Aurel melompat ke masa lalu. “Bapak sama Ibu cerai. Tapi Bapak tiap dateng selalu ngamuk. Aku juga sering kena pukul. Sakit.” Tanpa sadar dia mengadu pada Bara yang jelas baru dikenal. Rasanya bicara pada orang yang sama merasakan pahitnya hidup lebih baik ketimbang bicara pada orang yang merasa hidupnya lebih baik.
“Orangtua saya juga cerai. Cerai mati.”
Aurel terkejut, “Ibu kamu udah— maaf, Bara.”
“Gapapa, itu udah lama.”
“Tapi kamu bisa sukses sekarang.”
“Semoga aja. Ayah juga dokter, dia spesialis saraf.”
“Kamu mau ambil spesialis apa kalo koas udah selesai?”
“THT.”
“Sekarang cerita dong, Bara.”
“Sama. Saya emang begini, cuek. Jarang orang kayak kamu yang kuat deket saya. Saya… dulu depresi berat karena Ibu meninggal pas SMA. Saya gak sekolah 1 tahun karena pengobatan. Habis itu saya sadar, waktu berjalan, roda dunia berputar kalau kita optimis percaya keadaan.”
“Aku gak tau pernah depresi atau nggak. Intinya, pas itu aku merasa gak ada harapan hidup.”
“Gejala depresi salah satunya merasa putus asa.”
__ADS_1
“Iya sih…”
“Kamu kan lompat ke sungai. Terus gimana?”
“Skala yang nolong,” ujarnya polos.
Bara paham sekarang. “Jadi kamu sama Skala kenal karena itu.” Aurel mengedipkan mata sekali. “terus sekarang hubungan kalian bertiga?”
“Kamu harus banget ya nanya itu?”
“Nggak juga.” Bara tertawa renyah.
***
Sambil menunggu Bara berkemas. Aurel duduk di pinggir gerbang rumah sakit. Ia sudah bilang ke Skala akan pulang nanti sore jika acara perginya selesai.
Bara keluar dengan mobilnya dan membuka pintu dari dalam. Aurel masuk ke mobil dan pakai sabuk pengaman. Aurel suka sekali mendengarkan radio di ponsel sambil pakai earphone. Lebih baik begini, daripada membahas yang tidak penting kecuali Bara berniat memberinya susu kotak satu dus.
Sampai di rumahnya, mereka keluar dan Bara mengetuk pintu.
“Ayahhhh,” panggil seorang anak yang melompat minta digendong Bara, padahal pintu baru dibuka.
Aurel tertegun. Ayah? Jadi Bara sudah menikah? Ia mengerjap tidak percaya.
“Kamu udah makan belum?” tanya Bara sambil memeluknya gemas.
Wah, Bara beda sekali memperlakukan anaknya dengan orang lain. Dia ini punya kepribadian ganda atau apa ya.
“Udah dong, Ayah. Aku makan sendiri tadi.”
“Turun ya.” Bara menurunkan anaknya. “Ayah mau masuk dulu sama teman Ayah. Kamu mau main atau masuk juga?”
“Aku main aja deh.” Dia menyalami Bara dan Aurel lalu berlari mendekati kawan-kawannya.
Aurel masuk dengan seribu pertanyaan. “Tadi anak kamu?”
“Begitulah.”
“Istri kamu mana?”
“Belum punya.”
Aurel sontak terkejut, “Terus tadi?” ia lantas duduk di kursi sedangkan Bara membuka kulkas mengambil susu kotak berbagai varian untuk Aurel.
“Dia korban kecelakaan. Jadi saya yang adopsi.”
“Kamu udah hubungin orangtuanya?”
“Udah, gak ada jawaban.”
Aurel melihat dia bermain lompat tali dari jendela. “Namanya siapa?”
“Ranu.”
Aurel meminum susu kotaknya. “Ayah kamu belum dateng?”
“Sebentar lagi.”
TOK TOK TOK
Aurel terkekeh, “Kamu bakat jadi cenayang ya.”
Bara berlalu untuk membuka pintu. “Ayah apa kabar?” Mereka berpelukan.
“Baik. Kamu apa kabar?”
“Baik, Yah.”
“Sidang skripsi kapan, Kak?”
“Minggu depan.”
Bara menyuruh Ayahnya masuk untuk bertemu Aurel.
“Ini teman Bara.”
Saat Aurel menoleh, ia tersedak sampai memukul dadanya karena sesak.
“Dokter Alatas?!”
***
__ADS_1