SENJA TERLUKA

SENJA TERLUKA
Lagi-lagi


__ADS_3

Bara dan Skala menoleh ke arah yang sama saat suara seseorang menginterupsi mereka untuk berhenti.


"Jangan ngobrol disini, Ranu bisa denger," ujar Aurel dingin. Dia menatap horor keduanya karena mengungkap satu kebenaran.


Jika Ranu adalah....


Ranu adalah anak dari Sofia dan Andre yang tak lain kakak ipar dan kakak kandung dari Skala.


"Kenapa baru bilang? Ranu selama ini nyari orangtua kandungnya?! Gila kamu ya."


"Ini juga baru tau karna liat foto di HP Bang Andre. Sebelumnya kan mereka gak di rumah Bokap yang di Bandung. Gue juga kaget!"


"Udah bilang ke mereka kalo Ranu masih hidup?"


"Mereka emang gak suka sama Ranu, bahkan sebelum Ranu lahir. Mbak Sofi hamil di luar nikah sama Bang Andre."


"Wahh, pantesan..."


"Jangan diterusin." Aurel mendengar semuanya.


Kita kembali ke cerita sebelumnya.


Aurel menghampiri mereka dengan tatapan tajam. "Besok kita ke Bandung, tunggu aku pulang sekolah. Kita selesaiin semuanya."


"Tap-"


"Aku kecewa sama kamu, Skala." Aurel menjeda ucapannya sejenak. "kamu tinggal sama mereka, tapi baru tau sekarang? Atau jangan-jangan kamu sebenarnya udah tau dari awal?"


"Aurel. Aku serius untuk masalah ini."


"Susah percaya lagi sama kamu, Skala. Kamu... selalu begini."

__ADS_1


Rahang Skala mengeras, tangannya terkepal. "TERSERAH!"


"Skala, turunin intonasi kamu." Bara menyuruhnya agar tidak sampai terdengar Ranu.


"Dulu aja harusnya aku biarin kamu mati disana! Daripada begini terus. Kamu pikir, cuma aku yang merasa tersakiti, hah!"


"Skala, turunin intonasi kamu. SEKARANG!" bentak Bara diakhir kata.


Seolah tidak menganggap Bara ada, Skala tetap memaki Aurel seolah dialah yang paling salah disini.


"KAMU KIRA, KAMU GAK SALAH?! KAMU JUGA SALAH! Dari dulu sampai sekarang, kamu selalu mikirin orang lain daripada diri kamu sendiri."


"SKALA, STOP!"


Aurel mengangkat satu tangannya, "Biarin aja. Biar mulutnya sampe berbusa pun, orang-orang tau siapa yang salah!" Dia berbalik kesal dan pergi.


Giliran Bara yang bicara dengan Skala. "Pastiin mereka datang ke saya," jedanya beberapa detik. "atau Saya yang datang ke mereka." Setelah itu dia pergi, merasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi.


"Bara, Bara!" panggil Aurel saat melihat Bara melewatinya dengan buru-buru.


Bara berhenti dan menoleh, "Ya?"


Aurel sedikit menghampiri Skala, "Kita ke Bandung kapan?"


"Mau ikut?"


"Iya, mau!" sahutnya cepat.


"Saya mau kumpulin berkas selama Ranu dirawat pasca kecelakaan. Habis itu kita ke Bandung."


"Kira-kira berapa hari?"

__ADS_1


"1 hari cukup."


"Berarti pas hari sabtu kita kesana."


"Iya, kalo mereka gak kesini." Bara mengangguk pelan. Dia menatap Aurel, "kenapa? Kok gelisah?"


"Kok kamu tau?" tanya Aurel selidik. "kamu bukan cenayang kan?"


Bara terkekeh, cenayang apanya. Dia lantas mengusap pelipis Aurel yang sedikit berkeringat. "Lah itu, keringat dingin."


Aurel tertegun dan mengusap pelipisnya juga. "Kamu gak jijik? Tangan kamu kena keringet aku lho."


Bara menunjukkan tangannya, "Gak. Justru bangga. Skala gak pernah gitu kan?"


Wajah Aurel menekuk, dia ingin sekali menyembur Bara jika di mulutnya ada air. "Gak mempan ya!"


"Ya perlahan," kata Bara tersenyum jahil.


Wah. Kalau gini caranya, mereka bukan teman lagi. Tapi saingan.


"Aku pulang deh, ada tugas juga." Aurel hampir lupa kalau besok hari terakhir simulasi pertama menjelang UNBK.


"Mau dianterin gak?"


"Gak usah. Aku naik ojol aja."


"Yaudah, hati-hati."


Aurel melambaikan tangannya, "Dah, Bara..."


Bara hanya mengangguk seraya tersenyum. "Maaf, kesetnya keinjek," lirihnya pelan supaya Aurel tidak dengar.

__ADS_1


**


__ADS_2