
Aurel menemui Skala di rooftop kantornya untuk bertanya beberapa hal. Ia sudah merangkai kata agar tidak menyinggung Skala atau keluarganya. Ini ia lakukan untuk memperjelas semua rumor yang Yuan katakan di GC. [GC ; Group Chat]
Disana masih ada tulisan tentang impian mereka yang ditulis menggunakan cat semprot berwarna putih. Tulisan itu belum hilang sepenuhnya. Aurel harap, sebelum tulisannya hilang, impian yang ia tulis segera tercapai.
Ia menghampiri pria yang sedang duduk di kursi kayu sendirian menghadap pemandangan dari kejauhan senja.
"Skala," panggil Aurel.
Skala langsung beranjak dan memberikan kursi untuk Aurel duduk.
"Tumben ngajak ketemu duluan," ujar Skala merasa heran.
"Lagi sibuk?" tanya Aurel.
Skala menggeleng. Baginya, Aurel lebih penting dari pekerjaannya. Sesibuk apapun dia, justru kalau Aurel membutuhkannya, dia jadi tidak penat. Hebat ya, gila...
"Kamu berdiri aja?"
"Gapapa. Aku lebih suka berdiri," jawab Skala menolak diberikan kursi pemberiannya.
"Aku cuma mau nanya." Aurel memulainya dengan senyuman supaya Skala tidak canggung.
"Nanya apa?"
"Sebelumnya aku gak akan nuntut kamu buat sama aku terus. Tapi, keluarga kamu... bisa nerima aku?"
Skala juga tidak tahu. Awalnya dia hanya bilang kalau Aurel adalah sahabat. Apakah reaksi Akhza akan sama kalau Skala mengakui keseriusannya dengan Aurel?
"Yang pasti, aku bakal bilang. Soal kapan, aku belum tau. Besok BU peresmian, besoknya lagi pengangkatan dosen."
[BU ; Bina University]
"Gimana kalo minggu depan?" usul Aurel.
"Bisa."
Aurel berdiri di depan Skala. "Skala. Semua orang tau seberapa cinta kamu ke aku. Kalau nanti respon keluarga kamu gak sesuai ekspektasi kita, jangan salahin mereka."
"Aku mah sekuat baja, Rel."
Aurel tertawa, "Iya aku percaya."
"Kamu juga harus percaya, kalo aku gak bisa nyerah gitu aja."
Gadis itu hanya tersenyum dan mengangguk. "Kita harus jaga-jaga kalau sampai harus berpisah. Jangan terlalu cinta, karena bisa nyakitin diri kamu sendiri, Skala."
"Aku rela."
Skala tetaplah Skala. Walaupun keluarga atau bahkan dunia menentang keinginannya. Dia akan berusaha untuk mencapainya dengan caranya sendiri.
Tapi, Aurel, ia mementingkan kebahagiaan orang lain daripada kebahagiaannya sendiri. Menurutnya, kehidupan yang sekarang saja ia sudah bahagia. Kalau disuruh melepaskan salah satu, mungkin akan ia lakukan.
Skala memeluk gadis di depannya yang tidak akan dia lepaskan sampai kapanpun. "Kita berjuang sama-sama."
"Aku usahain."
"Ubah pemikiran kamu, Rel. Kamu juga harus bahagia dengan cara kamu. Bukan dengan cara orang lain yang justru nyakitin kamu."
Aurel terhenyak kemudian mengangguk. "Iya."
__ADS_1
Mereka turun dari rooftoop dan berjalan beriringan sampai depan lobi.
"Skala. Aku pulang dulu," ujar Aurel sambil melepas tangan Skala dari tangannya.
"Iya, kamu udah bisa pulang sendiri. Ya kan?" Skala sudah biasa ditolak Aurel sebelum menawarkan tumpangan pulang.
"Iya. Aku juga mau jalan-jalan."
"Dih, sendirian?"
Tentu saja sendiri. Memangnya siapa yang sedang tidak sibuk selain dirinya? Tidak ada.
"Yaudah hati-hati."
Aurel melambaikan tangan pada Skala lalu naik taksi ke suatu tempat. Sebelum sampai ke tujuan, Aurel melihat Shiren dan Juli sedang duduk di trotoar sambil makan es krim. Kebetulan ia tidak ada teman, akhirnya ia turun disitu dan berlari kecil menghampiri mereka.
"Lah? Lo kok disini?" Juli lumayan terkejut melihat Aurel tiba-tiba datang. "Baru aja gue mikirin lo," sambungnya bercanda.
"Alah, modus doang, Kak!" sergah Shiren.
"Aku tadi mau berhenti di depan sana. Tapi karena liat kalian, jadi berhenti disini buat gabung. Udah lama aku gak ketemu kalian," ujar Aurel semangat.
Juli membungkuk dan meniup tempat duduk di sebelahnya. "Gih, duduk."
Aurel tidak tahu kenapa semua teman-teman prianya selalu bersikap men-spesialkan dirinya. Ia juga tidak minta. Tapi untuk menghargai mereka, Aurel tidak pernah protes. "Makasih."
Juli izin pergi sebentar. Jadi Aurel harus punya bahasan untuk mengobrol dengan Shiren. "Apa kabar, Shiren?"
"Baik, Kak."
"Enak gak tinggal sama Juli?"
"Anehnya?" tanya Aurel.
"Ya beda aja rasanya," kata Shiren. "Kakak sama Kak Bara gimana? Enak gak tinggal serumah?"
"Dienakin sih... walaupun kadang masih dingin. Ternyata dia punya pacar loh, udah tau belum?"
Shiren menggeleng polos. "Sejak kapan?"
"Baru-baru ini kayaknya."
"Ini buat lo," ujar Juli yang sudah kembali membawa satu cup es krim.
"Eh, aku gak minta es krim kenapa dibeliin?"
"Gue yang kasih," balas Juli.
"Enak ya jadi Kak Aurel, disayang semua orang. Pak Skala, Kak Bara, Juli, Ghaisan, Bintang, selalu perhatian ke Kakak."
Aurel memegang pundak Shiren, "Mereka juga sama memperlakukan kamu seperti mereka memperlakukan aku."
Juli manggut-manggut. Menurutnya, apa yang ia lakukan biasa saja. Tidak ada spesial-spesialnya.
"Tiap orang yang liat kamu, pasti langsung kurang bersyukur." Shiren jadi minder.
Juli menyudahi mereka, "Dibalik ini semua ada penderitaan yang udah dia lewatin, Ren."
Shiren menundukkan kepala. Benar, dia kurang mensyukuri keadaan. "Maaf."
Aurel memelototi Juli lalu menenangkan Shiren. "Gapapa. Eh, kalian abis ngapain disini?"
__ADS_1
"Nyari angin aja," kata Juli. "Lo sendiri dari mana?"
"Dari kantornya Skala," ujar Aurel sembari berkaca-kaca. "Aku bahas yang kemarin di grup, soalnya pen—" Ucapan Aurel menggantung karena melihat Alatas —Ayahnya sedang beriringan dengan wanita berjas dokter juga. Kalau diperhatikan, jarak dari taman ke Klinik atau Rumah Sakit tempat Alatas dinas sangat jauh. Kenapa bisa ada disini?
Ditambah lagi Alatas terlihat merapihkan poni wanita itu. Pikiran Aurel jadi ke arah negatif.
Shiren mengibaskan tangannya di depan wajah Aurel, "Kak. Kok ngelamun?" Juli ikut memperhatikan Aurel yang diam saja.
Aurel tersadar kemudian izin pergi. "Maaf, aku pergi duluan ya." Dia berlari menyebrang jalan sembarangan sampai diklakson kendaraan beberapa kali. Juli yang melihat itu ingin sekali menjitak Aurel, namun ia tidak bisa mengejar karena harus menjaga Shiren.
Beralih ke Aurel yang masih mengejar Alatas diantara kerumunan orang. Ia sampai jatuh karena tersandung kakinya sendiri saking buru-buru. Saat mendongak, ia sudah kehilangan jejak Alatas.
"Kemana Ayah? Kok cepet banget perginya?"
Sebelum ia berdiri, ada Yuan yang mengulurkan tangannya.
"Dasar ceroboh!" cetus Yuan sambil menarik Aurel berdiri. "Lo ngejar siapa sih?"
Aurel membenarkan pakaiannya, "Ayah."
"Bokap lo disini? Katanya Dokter. Sejak kapan ada demo praktik di taman?" ledek Yuan.
Aurel hanya mendesis pelan.
"Bercanda. Masih mau nyari Bokap lo?"
Aurel menurunkan masker Yuan sampai pria itu terkejut dan menaikkan maskernya lagi. "Jangan dibuka, bahaya."
Aurel menutup mulutnya tercengang, "Oh iya, lupa. Kamu kan banyak fans."
Yuan tersenyum dibalik maskernya memperlihatkan matanya yang sipit. "Tau juga lo."
"Yuan ya?" sapa seseorang dari belakang Yuan.
Pria itu mengambil ancang-ancang menggandeng tangan Aurel. Aurel yang belum siap langsung diajak kabur Yuan.
Di belakang mereka banyak para gadis yang mengagumi Yuan sampai teriak-teriak minta foto dan tanda tangan. Beberapa dari mereka memotret Yuan yang menggandeng Aurel.
Aurel ngos-ngosan sendiri. Mereka mengumpat dengan masuk ke Toko Emas membelakangi pintu. Setelah mereka melewati Toko, barulah keduanya bisa menghela nafas lega.
"Ayo keluar. Nanti dimarahin yang punya."
"Yang punya itu keluarga gue."
"Ha?" Aurel menggaruk tengkuk lehernya. "Gitu ya." Lalu tak sengaja lagi ia melihat Alatas masih dengan wanita yang sama lewat Toko. Ia pun langsung berlari disusul Yuan.
"A—"
"Saya langsung pulang ya, Yang."
Deg'
Aurel tidak jadi memanggil Alatas. Setelah wanita itu pergi, Yuan menepuk pundak Aurel. Begitu Aurel membalikkan badannya ke Yuan, tanpa disengaja sebenarnya Alatas sempat menoleh ke belakang sebelum akhirnya pergi dari sana.
Aurel tidak ingin salah paham. Tapi mendengar panggilan Alatas terhadap wanita tadi, cukup menyakitkan hatinya.
Bersambung..
AUREL ITU SALAH PAHAM, GUYS.
Tapi tenang aja, untuk sementara aja dia salah paham. Hihi.
__ADS_1