
"Jadi ini memang dijual karena ada defisit banyak," ujar Alatas pada pembeli rumahnya.
"Anak Bapak gapapa kalo rumahnya dijual?" tanya rekannya.
"Gapapa. Paling nangis sebentar," guyon Alatas.
Bara yang tadi duduk langsung beranjak mengampiri Aurel dan Bintang. Mereka pulang agak cepat dari kampus tanpa diduga.
"Bara! Kok sekarang dijualnya!" Aurel mendekati Bara lalu Ayahnya. "Ayah, aku kan gak pernah setuju! Ibu mana? Ibuu!"
Alya keluar dari mobil karena memasukkan barang-barang mereka. "Kenapa, nduk?"
"Ibu gak tanya aku dulu! Malah sekongkol sama Ayah!" kesalnya sambil menangis.
Bintang mengkritik, "Lo gak malu diliatin partner Bokap lo?"
Aurel menatap Bintang, "Ini rumah aku! Mereka jual seenaknya!" Dia hendak pergi ke sembarang arah.
Bara menghadangnya, "Mau kemana kamu? Jangan kabur. Mending ke rumah Ayah sana duluan."
"Rumah aku disini!" tekannya.
Bintang menggaruk kepalanya yang cenat-cenut, "Jalan-jalan deh, ayok." Daripada lama, ia menyeret Aurel masuk ke mobil walaupun gadis itu teriak-teriak tidak terima rumahnya dijual.
Bintang tidak tahu lagi harus bicara apa karena Aurel mendiamkannya.
"Kita mau ke kampus lagi, belajar biar lo gak mikirin masalah di rumah dulu."
Aurel mengusap hidungnya dan buru-buru menyembunyikan tangannya.
"Ngapain lo? Mimisan, hah?" tanya Bintang curiga. Gerak-gerik Aurel dapat dibaca karena mereka bersahabat cukup lama.
"Nggak."
Bintang menarik dua lembar tisu dan memberikan ke Aurel, "Kebiasaan lo kalo mikirin sesuatu pasti mimisan."
Aurel mengelap hidungnya, "Yaudah diem."
"Rel. Gue jujur nih, tapi lo jangan marah."
"Apa?"
"Bara cerita ke gue. Katanya, klinik Bokap lo pendapatannya kurang drastis. Makanya Bara jadi dosen buat nutupin defisit klinik."
"Ayah bangkrut?"
"Bisa dibilang hampir."
...***...
Demi apapun. Nabila akan hajar Bintang kalau lupa membawakan nasi goreng spesial pesanannya. Ia melongok ke jendela dimana ada tangga yang terhubung untuk akses lewat Bintang, daripada nanti rumahnya jadi tempat orangtuanya karaoke— berisik kalau ada Bintang.
Tapi 10 menit kemudian, Nabila sedikit lega karena Dia tidak lupa membawa pesanannya. Tapi kok—
"Lo turun dulu, biar Aurel duluan yang naik. Enak aja lo ninggalin cewek."
Bintang yang baru naik 2 anak tangga langsung turun sambil berdecak. Aurel membawa plastik yang dipegang Bintang dan naik ke kamar Nabila.
Setelah Aurel masuk, barulah Bintang sambil menepuk-nepuk bokongnya.
"Gue mau makan dulu." Nabila sudah menyiapkan sendok rupanya. Dia duduk di meja belajarnya sambil makan dan mengerjakan tugas.
"Aku udah kirim file lewat email. Belum dibuka?"
__ADS_1
"Oh ya?? Makasih." Nabila tersenyum lebar lantas membuka pesan masuk email-nya.
"Lo tadi gak PMM?" tanya Bintang sambil duduk di mejanya.
Nabila mengangguk, "Gue rada puyeng."
Bintang memaklumi. "Besok gimana?"
"Ikut kok," jawab Nabila. "Ternyata ada untungnya gue ikut PMM. Jadi gak dengerin omelan Bonyok." Lalu dia memutar kursinya ke Aurel, "Lo kenapa? Ada masalah?"
Bintang kedip satu kali dan Nabila langsung tahu. "Lo baru tau Klinik Bokap lo ada defisit banyak?"
"Yaaa begitulah. Dia kekeh gak mau rumahnya dijual. Susehhh emang," dengus Bintang sambil melihat tembok.
Aurel juga tidak tahu kalau masalahnya separah itu.
"Mereka gak cerita apa-apa. Mana aku tau," bela Aurel.
"Salah mereka juga sih kurang komunikasi sama lo," sambung Nabila menghadap laptopnya lagi. "Tapi lo pikir, Skala bakal diem aja kalo tau semuanya?"
"Hem?"
"Dia pasti ngasih investasi buat Klinik Bokap lo lah," cetus Nabila.
Bintang menggeleng, "Gue kira, Skala gak tau masalah ini."
"Gue justru berpikir gitu udah lama. Kalo nggak, Dokter Alatas harusnya gak se-tenang ini dong? Kan ini menyangkut kehidupan keluarganya, termasuk Aurel."
Aurel tidak tahu harus bagaimana menyikapi keluarganya yang makin lama, makin aneh.
"Kok bisa-bisanya mereka gak kasih tau aku," gumam Aurel.
"Hadehhh, mana mungkin mereka bisa ngebebanin pikiran lo, Rel." Bintang menunjuk Aurel dengan buku Nabila.
"M*mpusss." Bintang kalakabut tidak tau mau lari kemana.
Aurel juga sama. Dia panik, "Aku harus ngumpet dimana ini?" Mereka mondar-mandir tanpa tujuan bak gosokan baju.
"Bisa tenang gak?"
Mereka berhenti lalu berpikir tenang walaupun tidak bisa.
"Aurel, lo mending ngumpet di lemari gue. Biar Bintang turun ke bawah."
CKLEK
Mereka terkejut.
"Kok rame banget sih?" tanya Ayah Nabila ketika melihat kamar anaknya sepi.
Karena jago akting. Dia pura-pura menonton drama di laptopnya. "Kenapa, Yah?"
"Kamu liat drama kenapa suaranya berisik banget sampe bawah?"
Nabila hanya tersenyum kikuk saat Ayahnya mendekat ikut lihat drama.
"Oh ya pantesan berisik. Kamu ikut ekskul Drama kan ya. Ayah kira ada siapa di kamar kamu," ujarnya terdengar lega. "Kamu kok belum tidur? Katanya tadi pusing."
"Iya, ini juga mau tidur kok."
"Ayah keluar ya. Selamat malam.."
"Malam, Ayah.."
__ADS_1
Setelah Ayah Nabila keluar. Aurel langsung membuka lemari dengan kasar karena kekurangan oksigen.
"Aku langsung pulang aja deh, Bil."
Nabila mendekati sahabatnya, "Sori, sori. Gue gak ada niatan bunuh lo, Rel. Sumpah. Gak ada tempat yang aman selain dalem lemari. Sori ya."
"Iya aku tau," jawab Aurel sambil naik jendela dan turun perlahan.
"Hati-hati yaaa." Nabila melambaikan tangan dari jendela kamarnya.
Setelah mereka masuk mobil, Bintang bertanya karena menurutnya ini hal penting, "Lo mau balik ke rumah? Atau gimana?"
"Aku lebih nyaman di rumah Bapak, Tang."
"Jangan sedih gitu napa. Gue jadi ngerasa gak berguna." Bintang mulai melajukan mobilnya.
"Aku takut Ibu khawatir."
"Yaudah gue anterin lo pulang."
Saat jalan cukup lengang. Lampu mobil Bintang cukup menyorot tepi jalan, ia sadar melihat sesuatu.
"Rel, itu Bokap lo bukan?"
"Mana, Ayah?"
"Bapak lo, oncom. Damar." Bintang memperjelas.
"Hah? Mana?" Aurel membuka kaca jendela dan melihat Damar sedang jalan kaki di trotoar. "Bapak!"
Bintang memberhentikan mobilnya dan mengejar Aurel yang menghampiri Damar.
"Aurel!" Damar memeluk anaknya yang sudah lama belum dilihatnya. "Kamu kok malem-malem masih diluar?" tanyanya heran.
"Aku sama Bintang abis dari rumah Nabila, main sebentar. Bapak udah bebas? Bukannya masih 1 tahun lagi?"
"Ayah dapat keringanan dari Pengadilan."
"Ohh, gitu..." Mereka manggut-manggut.
"Bapak mau kemana? Pulang yuk sama Aku." Aurel hendak menarik Damar namun Bintang menahan tangannya. "Kenapa, Tang?"
"Lo juga punya Dokter Alatas di rumah," ujarnya mengingatkan.
Aurel tahu. Lantas kenapa?
"Bapak kan juga orangtua aku," ujar Aurel.
Damar sadar diri. "Bintang ada benarnya. Bapak gampang cari kontrakan yang deket sama rumah kamu. Tenang aja ya."
"Saya cariin kontrakan buat Pak Damar," ujar Bintang berusaha membantu.
"Makasih, kamu selalu nemenin Aurel sampe sekarang." Damar tersenyum melihat mereka masih dekat.
Mereka bertiga pun masuk mobil untuk pulang dulu.
"Assalamu'alaikum, Ayah.. Ibu.." Aurel sangat bersemangat mempertemukan mereka dengan Damar.
Yang membukakan pintu adalah Bara. "Kok ada dia?" tanyanya saat melihat Damar.
Damar menoleh ke Aurel yang menatap Bara tidak suka. Bintang yakin, ini akan menjadi masalah baru di keluarga mereka.
Bersambung..
__ADS_1
Gimana? Si Damar beneran udah dapet hidayah belom? wkwkwk😂