
SMA Sakti Dharma berbeda dengan sekolah lainnya setelah UN. Kalau sekolah lain ada yang konvoi, coret baju, de-el-el. Maka, jangan harap di Sakti Dharma ada. Jangankan coret baju pakai cat semprot, tulis status whatsapp LULUS saja tidak diperbolehkan -kecuali para guru diprivasi. Sakti Dharma sangat menjunjung tinggi kesopanan dan privasi di dalamnya.
Pasca Ujian Nasional, para murid tetap berada di lingkungan sekolah selama satu minggu BEBAS. Tidak ada KBM dan tidak ada bel, jadi mereka dibebaskan mau kemana asal tidak keluar gerbang.
Murid yang cerdas pasti akan memenuhi perpustakaan untuk mengisi waktu kosong untuk membaca dan menulis, contohnya Juli dan Shiren. Yang suka selfie ya jeprat-jepret sendiri, contohnya Fina dan Nabila. Yang suka tidur biasanya gelar karpet di kelas untuk rebahan bersama, contoh Ghaisan dkk. Yang suka ghibah akan berkumpul di kantin sambil makan.
Lalu dimana Aurel?
Dia duduk di kursi stadion olahraga gedung A. Dengan siapa? Tentu saja sendiri. Ia sudah diterima di Bina University 2 untuk Prodi Manajemen bersama Nabila. Sedangkan Bintang diterima di Prodi Akuntansi. Tidak masalah karena masih satu fakultas, mereka tidak sulit saling temu. Itulah yang Aurel harapkan.
Bara juga bilang, ia sedang magang disana sebagai dosen untuk Jurusan Kedokteran untuk semester 1 dan 2 saja. Dikarenakan gelarnya belum untuk Spesialis, masih Koas, jadi ia tahu ilmunya sampai mana dan untuk siapa. Untuk Alatas, masih cuti.
Orang-orang seperti mereka tidak akan membiarkan Aurel kuliah sendirian. Apalagi Skala dan Bara yang sekarang 'berebut' Aurel.
"Seenggaknya belum ada ospek karena baru dibuka tahun ini," ujar Aurel penuh kemenangan.
Dug... Dug.. Dug..
Aurel mendongak pada seseorang yang sedang bermain basket di tengah lapangan. Ahh, itu adalah cucu pemilik yayasan sekolah yang keren namun jarang berbaur kecuali pada Bintang.
Namun tiba-tiba dia menoleh ke arahnya dan melempar bola basket. Aurel spontan memejamkan mata. Untungnya ada Bintang yang tiga detik lalu ada tidak jauh darinya dan menangkap bola.
Bintang melempar ke arah Yuan, teman sekelasnya. "Awas kalo sampe kena mukanya."
Aurel membuka matanya dan melihat Bintang duduk di sebelahnya sambil membawa pizza satu kotak. Lalu tak lama, Yuan duduk di sebelah Bintang meninggalkan bola basket di tepi lapangan.
"Makan, Rel." Bintang mengambil potongan pizza dan memberikan ke Aurel.
Aurel menerima dan memakannya, "Makasih."
"Satunya lagi kemana?" tanya Yuan melirik Aurel lalu beralih ke Bintang.
"Lagi sibuk foto-foto," ujar Bintang jujur.
"Aurel. Besok gue ada kunjungan ke kantor temen lo," ujar Yuan.
"Siapa? Skala?" Aurel tidak tahu, sungguh.
Yuan mengangguk, "Gue mau investasi saham."
"Wihh, banyak duit lo!" pekik Bintang sambil memukul bahu Yuan yang hanya tertawa malu. "Lain kali main basket tiati lo. Kena Aurel, gue injek-injek lo."
"Cuma iseng," ujar Yuan. Seantero sekolah sudah tahu kalau Aurel dilindungi banyak sahabatnya yang bar-bar.
"Rel. Gue mau ke kelas, mau ikut gak?"
"Aku mau disini dulu."
"Oh, oke." Bintang pergi duluan menyisakan Aurel dan Yuan.
Setelah Bintang pergi, Yuan langsung duduk menyerong untuk bertanya pada Aurel. "Lo sama Skala pacaran?"
Aurel terkejut dengan pertanyaan Yuan. "Bukan." Dia berusaha menjawab tenang. "Yuan. Kamu kuliah dimana nanti?"
__ADS_1
"Udah daftar di Jogja. Lo dimana?"
"Bina University 2."
"Oh, kalo gitu gue pindah aja kesana."
"Loh— kok?" Aurel bingung dengan orang aneh macam dihadapannya.
"Iya, biar bareng." Yuan mengusap kepala Aurel. "Sekalian bangunin macan."
Aurel tidak tahu Yuan kesambet jurig mana. Yang jelas, dia anehnya melebihi Skala. Ditambah dia langsung pergi, Aurel sungguh bingung dengan sikap orang lain padanya.
●●
Seperti ucapan Yuan kemarin. Aurel yang tiap sore hari mengantar makanan untuk Skala langsung menyapa Yuan yang datang lengkap dengan tuxedo-nya.
"Hai," sapa Yuan lebih dulu.
Aurel mengangguk sopan, "Mau ketemu Skala kan? Dia ada di ruang kerjanya, pojok sebelah kanan."
"Lo gak ikut?"
"Ikut kemana?"
"Kata Skala, lo sekretarisnya."
Aurel tidak terkejut. Pria songong itu memang suka menyebutkan dirinya pada siapapun seolah ia membanggakan. Padahal, kerjaan Aurel menemani Skala saja. Tapi pria itu selalu menganggapnya 'sekretaris' dan memberi gaji 100 juta per bulan. Tidak masuk akal kan?
Aurel mengangguk ragu, "Yaudah ayo."
"Silahkan duduk."
Yuan dan Aurel duduk berdampingan di bangku terpisah tepat di depan meja Skala.
Skala menurunkan kacamatanya sampai ujung hidung, "Siapa yang nyuruh kamu duduk disitu, Rel? Itu kan buat tamu."
Aurel mengeryit, "Yaudah kamu bangun. Aku duduk di bangku kamu."
"Apa?"
Aurel mengulang ucapan Skala, "Tadi kata kamu, aku gak boleh duduk disini."
"Kamu gak sabar jadi Keluarga Akhza ya?" ledek Skala membuat Aurel langsung berdiri dan pindah duduk di bangku yang memang khusus untuk ia belajar. Melihat Aurel tenang, Skala mengatasi makhluk di depannya. "Pengusaha muda berani investasi saham. Wah, jarang banget."
"Aku juga bisa!" sahut Aurel.
"Eits, khusus kamu cuma boleh investasi hati." Skala kembali menggoda Aurel yang sudah tampak kesal. "Jadi gimana, Yuan Lorridson?"
Yuan hanya tesenyum pertanda setuju.
*
Aurel tidak tahu apa yang terjadi antara Skala dan Yuan selagi ia ke toilet. Saat ia masuk ke ruangan Skala tadi, wajah Skala seperti menahan marah tapi Yuan terlihat santai keluar.
__ADS_1
Skala menyambar kedua bahu Aurel, "Aurel, Aurel. Aku cabut kata-kata yang kemarin. Kamu mending kuliah di Bandung aja, nanti aku juga pegang kantor yang di Bandung. Gimana? Setuju kan?"
Aurel menepis pelan tangan Skala. "Kamu kenapa sih..?" Ia jadi ngeri.
"Yuan itu ternyata mau deketin kamu. Dia udah diterima di BU 2 buat PDKT sama kamu. Ini tuh akal-akalan dia."
"Kamu sensitif banget... aneh."
"Heh, aku khawatir dia nanti manfaatin kamu. Kamu kan kelewat polos." atau mungkin beg*. Lanjutnya dalam hati.
"Aku berteman juga pilih-pilih kali."
Skala tidak tahu lagi harus bicara apa karena Aurel enggan mengubah keputusannya. "Yaudah deh terserah."
"Aku pulang ya. Mau jaga Ibu, hari ini Ayah pulang juga, Bara udah miss-call daritadi."
"Mau aku anterin?"
"Gak usah, kerjaan kamu masih banyak. Aku pakai taksi aja." Setelah Skala mengangguk, Aurel keluar dari ruangannya.
Sampai di rumah, ternyata keluarganya sudah berkumpul di ruang tamu. Aurel menyalami orangtuanya lalu duduk di samping Alya.
"Darimana aja, Rel?" tanya Alatas.
"Abis dari kantornya Skala," jawab Aurel.
"Jadi begini. Bara bilang, selama ini Skala kasih kamu biaya lewat ATM. Betul?"
Aurel melirik Bara sebentar, "Iya. ATM-nya masih ada di aku."
"Berapa saldonya?" tanya Alatas.
"Sekitar 400 juta."
Alatas berdehem. Banyak juga, batin Alatas. Ia melanjutkan pembicaraannya, "Karena sekarang kamu punya saya, Ayah kamu. Lebih baik ATM Skala dikembalikan. Biaya kuliah dan lainnya biar Ayah yang pikirin."
Aurel tidak masalah jika harus mengembalikan ke Skala. Tapi pria itu, pasti memancing perdebatan.
"Iya, aku kembaliin."
"Kecuali kamu sama Skala udah nikah. Sekarang kamu kan masih tanggung jawab Ayah," kata Alatas bercanda.
Aurel hanya tersenyum, "Ayah apaan sih."
"Aku ke kamar, Yah. Mau istirahat." Bara beranjak dan masuk ke kamar.
"Bara kenapa? Tumben." Seumur-umur Alatas baru melihat anaknya tidak semangat saat ia pulang.
"Mungkin capek. Dia kan sebulan ngurus klinik sendirian," ujar Alya masuk akal.
"Kemarin aku liat Bara jemput aku sama cewek. Aku tanya, mereka jawabnya kompak temen." Aurel tidak tahu apakah Bara sudah punya pacar atau belum. Karena yang ia tahu, Bara menyukainya.
"Pacarnya kali," gumam Alatas.
__ADS_1
***
Bersambung...