
Markas yang disediakan Skala untuk berkumpul dengan mereka tidak jauh dari kamarnya, hanya dibatasi tembok. Kursi mereka sudah dinamai dengan baik sesuai selera urutan duduk.
Nabila kini berdiri di depan untuk menjelaskan. "Dua hari yang lalu, kita dimintain tolong sama A buat nangkep Pelaku di Komplek L. Ternyata, si A sebelumnya didatengin Juli yang panik. A bilang, Juli lapor ada yang ngikutin dia. Kemarin, kita berdua kerjasama sama A buat tangkep dia, akhirnya berhasil. Tapi ada satu yang gue gak ngerti dan mau tanya dia kalo jenguk."
"Apa?" beo Bintang.
"Apa hubungan Juli sama Pelaku? Sedangkan yang kita liat, Pelaku ambil data perusahaan Bapak Skala yang terhormat--"
"Jangan pakai Bapak," komen Sang CEO.
"Oh, oke, maaf. Gue mau denger simpulan versi kalian. Gimana?"
Ghaisan angkat tangan kanan. "Ini sesuai pemikiran gue ya. Mungkin aja, Juli berusaha lindungin Skala karena dia tahu orang yang sama berusaha merusak citra kalian."
Fina punya simpulan sendiri, "Atau mungkin.. ada suara lain yang terpotong?" Ia dan Ghaisan memang mengkonfirmasi ada sedikit editan berupa durasi waktu yang hilang di penyadap dekat CCTV.
"Menurut gue mau kepotong atau gak, itu gak terlalu penting." Bintang menjadi sorotan semua orang. "Menurut deduksi gue, L itu memang berusaha menjatuhkan Skala lewat pencurian data. Kenapa Juli sama Pak Damar jadi korban?" Mereka menunggu jawaban dari pertanyaan interogatifnya. "Jangan lupa kalo Juli kerja di Perusahaan Bokapnya Shiren."
Fina menyahut. "OHH! Gue paham!"
"Smart girl," puji Bintang. "Begini, bisa jadi pas Juli berusaha menguak identitas orang dibalik semua ini. Pelaku pertama, P yang kita tangkap di jalan itu telfonan sama seseorang setelah bunuh Juli dan Pak Damar. Disaat yang bersamaan, situasi pertama Pak Damar masuk ke ruangan Skala karena suara gaduh akibat pertengkaran Juli sama P. Nah, maksud gue, Polisi menyebut kalau pisau yang di TKP ada DNA-nya Juli dan ngira dia pelakunya."
Ghaisan melanjutkan, "Bintang menyimpulkan kalo DNA-nya Juli ada disitu karena P mau bunuh Pak Damar yang liat mereka ribut. Gitu, maksud lo?"
Aurel menghela nafas panjang. "Mereka gak seharusnya bunuh orang yang bersalah. Lagian Ayahnya Shiren kan dekat sama Juli, tega banget."
"Juli gak pernah kasih tau kita dia kerja di perusahaan mana. Bener gak?" tanya Fina membuat mereka menoleh serempak.
"Ternyata di ChandIT, Pusatnya ada di luar negeri." Ghaisan sudah tahu sejak awal, namun tidak tahu kalau perusahaan itu dengan perusahaan Skala punya koneksi buruk.
BRAK!
Nabila yang menyimak di depan langsung menggebrak meja. "PANTESAN!"
Semuanya memegangi dada kiri tepat jantung berada karena terlonjak.
"Bisa gak usah gebrak meja, gak?" Pertanyaan Bintang membuat suasana serius pecah.
__ADS_1
Nabila tertawa singkat. "Sori, sori. Gue refleks gebrak meja." Ia melihat Aurel bengong. "Gak salah mereka saling cinta. Gue hampir nangis pas denger fakta, kalo Juli udah tau ini bakal terjadi."
Semuanya menyorot Aurel, kecuali Skala. Ya bayangkan saja selama ini dia salah paham karena Aurel baik padanya. Ternyata jatuh cinta dengan Juli, orang yang dekat dengan Aurel setelah dirinya. Tapi, tidak berhak dia marah. Itu sudah terjadi.
"Jadi masalah ini udah clear, ya. Gue harap, jangan ada yang ngungkit masalah ini ke siapapun. Tiap orang punya luka sendiri," ujar Nabila sambil berjalan untuk duduk di kursinya.
"Saya ada rapat lain," izin Skala.
"Makasih ya, udah luangin waktu!" sahut Nabila.
"Sama-sama," jawab Skala. Dia beranjak keluar dari ruang rapat untuk ke kamar sebentar, ganti baju formal karena mau ke Kantor.
Sisanya juga mulai beranjak.
"Kita duluan ya, ada acara." Bintang menghampiri Nabila.
"Acara apa nih? Jangan-jangan udah mau sebar undangan.." ledek Fina.
"Jangan iri, Fin." Ghaisan menimpali.
"Acara jalan bareng. Gue ngajak Aurel juga, gak berdua doang," ujar Nabila sambil melihat Aurel.
"Ohh, oke." Kebetulan kalau dia tidak ikut. Jadi Bintang dan Nabila bisa kencan.
"Gue sama Ghaisan juga banyak acara. Acaranya ribut tiap hari," canda Fina.
"Gak usah direncanain juga ribut, Fin." Ghaisan tertawa garing.
"Gue lupa tanya apa surat yang dikasih Abram dari Juli, Tang. Tapi dia udah pergi," ujar Nabila.
"Nanti kita tanyain," ujar Bintang.
●●●
Aurel meremas kertas di dalam taksi menuju rumah. Semalam dia sudah baca isinya.
Hai, Aurel-Ku.
__ADS_1
Gue yakin. Lo baca ini karena gue udah pergi. Jangan berlarut dalam kesedihan... gue ngelakuin ini semua buat melindungi semua sahabat gue. Lo udah baca semua novel gue, kan?
Aurel. Berhenti cinta sama gue mungkin gak sepenuhnya bisa lepas beban lo. Terus gue harus apa? Gue gak bisa berdiri di depan lo sekarang.
Jangan lupa, Rel. Gue pernah bilang, kalo gue pergi jangan sisain sedikitpun perasaan lo buat gue. Tapi mungkin lo gak dengerin kata gue sekarang.
Gue selalu liat senja dimana pun. Jadi mulai sekarang... lo bisa jadi senja, tapi jangan pernah terluka lagi. Perasaan lo lebih penting buat gue.
Lo udah kasih tau hubungan kita belum ke yang lain? Gimana reaksi Skala? Gue mau liat muka ngenesnya.
Jangan lupain gue, sedetik pun.
...←→...
Tentu Aurel belum bisa melupakan Juli. Ia tidak marah karena Juli pergi, tapi ia marah kenapa surat ini sampai saat penulisnya sudah pergi.
Akan sulit baginya melupakan Juli beserta kenangannnya. Selama ini, banyak yang mereka lalui tanpa sepengetahuan sahabat yang lain. Dan hubungan diam-diam mereka diketahui oleh Shiren--perempuan yang menyukai Juli. Itu merupakan petaka pertama bagi mereka. Sejak itu, hubungan mereka jadi sulit diartikan karena banyak kasus mengikutinya. Mungkin Shiren masih dendam dan merasa dikhianati mendiang Juli.
Namun perasaan, tidak bisa ditahan apalagi disemukan untuk menyukai orang lain. Juli mencintai Aurel, mana mungkin pura-pura mencintai Shiren.
"Liat nih, gue bisa bakar daging."
"Itu gosong, Jul." Tawa Aurel meledak seketika. Saat itu mereka makan di Restoran yang bisa bakar daging sendiri.
"Kok iya sih?"
"Sini-sini, coba aku yang bakar." Aurel mencoba agar dagingnya tidak sehitam bakaran Juli. Setelah dirasa cukup, Aurel mengambil daging tersebut dengan sumpit dan menyuapi Juli. "Cobain.."
Juli mengunyah pelan untuk merasakan. "Enak..."
"Iya lah."
Sudahlah, itu hanya menjadi kenangan. Baginya, Juli dan Damar hidup di hatinya, tidak bisa tergantikan.
"Terus bahagia, Aurel. Gue ada disini."
Suara itu seperti sangat jelas di telinganya saat mata terpejam. Saat matanya terbuka, tidak ada Juli disampingnya. Seringkali saat tidur, Juli datang ke mimpinya sambil tersenyum tulus diantara hamparan padang rumput. Senyum bahagia.
__ADS_1
...Tbc....