SENJA TERLUKA

SENJA TERLUKA
Maaf sebelum menyesal


__ADS_3

Selesai diperiksa Bara, Aurel mengajak Juli untuk mendatangi Shiren dengan alasan "temenku dirawat". Juli nurut saja.


Tapi saat Juli tahu siapa yang Aurel maksud jenguk hanya terdiam mengikutinya. Malah justru Shiren yang terkejut.


"Ini Juli. Kamu katanya mau ngomong sesuatu sama dia kan?" Aurel mempersilahkan Shiren untuk bicara.


"Masih hidup lo?" sarkas Juli. "katanya lo gak mau nyusahin gue. Tapi kenapa malah gini?"


Aurel tidak mengerti. "Juli. Kamu kok nanya gitu?"


"Iya dia gak ngomong, gue aja yang ngomong," balas Juli.


"Dia loncat dari jembatan karena kamu, Juli," ujar Aurel sedikit kesal.


"Lah siapa yang nyuruh? Gue gak pernah nyuruh dia loncat."


"Kan gara-gara kamu mau misahin dia sama Ayah kamu. Kamu juga ngancam Shiren kan? Emangnya aku gak tau," balas Aurel.


"Dia kebanyakan tingkah juga. Ngapain diem doang di-bully Dina? Bikin gue emosi aja."


Shiren yang geram melihat mereka adu mulut pun menjawab, "Aku diam karena percuma ngelawan, Kak."


Aurel pernah ada di posisi Shiren. Memang benar, percuma melawan Dina. Dina itu picik seperti ular. Bisa mematuk kapan saja dan siapa saja.


"Juli. Kamu minta maaf sekarang. Walaupun Shiren adik tiri kamu, anggap dia kayak adik kandung kamu. Aku gak suka ya kamu beda-bedain status begitu," ujar Aurel.


Juli ogah-ogahan. "Kalo aja dia ngelawan, gue juga gak ribet ngeladenin Dina. Pake bunuh diri segala, untung aja lo masih idup. Kalo mati, tambah ngerepotin gue tau gak."


Aurel menutup mulut Juli, "Aku nyuruh kamu minta maaf. Bukan nyerocos."

__ADS_1


Juli menyingkirkan tangan Aurel, "Iya, iya. Gue minta maaf nih. Tapi awas lo kalo banyak tingkah lagi."


Shiren mengangguk, "Iya, Kak. Gapapa."


Aurel menarik tangan Juli dan membawanya keluar Rumah Sakit. Dia tidak sabar memukul mulut Juli dengan pohon kaktus.


"Juli. Kamu sebagai kakak harusnya mengayomi, nyemangatin, Shiren. Bukan malah jatuhin semangatnya."


"Lagian gak ada yang nyuruh dia loncat. Dia inisiatif sendiri."


"Emang gak ada yang nyuruh dia bunuh diri. Tapi ada yang dorong dia untuk bunuh diri. Kamu sama Dina. Kalian yang dorong Shiren secara gak langsung."


"Sok tau lo."


"Aku pernah ada di posisi Shiren, Jul!" teriak Aurel terlanjur kesal.


Juli baru ingat. Iya ya. Aurel kan juga pernah bunuh diri dan selamat. Dia mendadak jadi merasa bersalah karena bicara seperti tadi.


Juli tertohok dan bungkam.


"Nanti kamu bakal ngerasain apa yang Skala rasain. Penyesalan dari ujung kepala sampai ujung kaki," tukas Aurel. "kalo kamu gak memperbaiki hubungan kamu sama Shiren. Kamu bukan cuma kehilangan orang sebaik Shiren. Tapi kamu juga kehilangan aku, sama kayak Skala."


"Rel. Lo jangan ngomong gitu." Dia makin tidak tega saat melihat mata Aurel memerah dan berkaca-kaca.


"Aku gak bercanda untuk hal seserius ini, Jul. Kamu pikir bunuh diri itu lucu?"


"Ya gak gitu."


"Perbaiki hubungan kalian. Sebelum kamu menyesal. Aku pulang dulu." Aurel melangkah pergi sambil menghirup nafas dalam-dalam. Dia terlalu kesal menghadapi Juli yang persis seperti Skala. Bayangkan kalau mereka ada spesiesnya. Orang sesabar Aurel saja terpikir untuk bunuh diri. Apalagi yang tidak sabar.

__ADS_1


Juli menghela nafas.


"Perbaiki hubungan kalian."


"Sebelum kamu menyesal."


"Penyesalan dari ujung kepala sampai ujung kaki."


"Aku pernah diposisi Shiren, Jul!"


"Kamu juga bakal kehilangan aku, Jul."


Aurel benar. Juli bahkan pernah pusing memikirkan Skala yang tiap hari uring-uringan sejak Aurel tahu kedok pria itu karena berdampak pada penerbitan novelnya.


Skala pernah ada di situasi serba salah untuk hidup karena menyelamatkan Aurel, namun niatnya melenceng untuk menggantikan Dina dan sebagai alasan kenapa dia sulit dihubungi.


Dari kejauhan Alatas tersenyum miris. Apa yang Aurel memang benar. Bukan hanya Skala yang menyesal saat Aurel tahu semuanya. Dia pun dulu menyesal karena menjadi alasan anaknya, Bara untuk bunuh diri. Bara menyayat pergelangan tangannya karena Alatas dan Almarhumah Ibunya. Dan itu menjadi alasan kenapa Alatas menyesal, bahkan sampai detik ini. Ditambah lagi Bara sukses tanpa bantuan apalagi semangat darinya, Bara melakukan semuanya sendiri, mengadopsi Ranu juga Alatas tidak pernah tahu karena Bara pendiam sekali.


Saat Juli berbalik. Alatas menghampirinya sambil menepuk sebelah pundaknya. "Minta maaf lebih cepat, bisa mengundur rasa bersalah. Kamu akan bernasib sama seperti Saya dan Skala. Menyesal seumur hidup karena terlambat minta maaf."


Juli mengangguk, "Iya, Dok. Makasih."


"Aurel itu spesial, Juli. Kamu gak bisa sembarang nyakitin dia. Karena banyak sayap yang melindungi."


Juli melangkah masuk lagi.


"Termasuk Saya dan Bara."


***

__ADS_1


So sweet gak sih dr. Alatas sama dr. Bara..


mereka jadi sayapnya Aurel. Enak ya jadi Aurel😩 author mau juga kayak Aurel..


__ADS_2