SENJA TERLUKA

SENJA TERLUKA
Duka Dibalik Acara Penghargaan


__ADS_3

Para mahasiswa kesal karena jam pulang harus diundur sebab ada jadwal lain, katanya sih ada acara penghargaan yang akan diberi pada mahasiswa yang telah membawa nama baik kampus. Namun ini bukan dari prestasi akademik, menurut mereka.


Para mahasiswa disuruh berkumpul di aula dan berbaris memanjang sesuai fakultasnya. Aurel juga tidak tahu soal ini karena Skala bungkam saat di-SMS.


"Gue gampol kalo gak penting," desis Nabila sambil membenarkan tas selempangnya. Begitulah dia, tidak mau repot walaupun baginya kampus adalah rumah kedua. Makanya dia pakai tas selempang atau bahkan tidak bawa tas karena punya loker. Malahan... kadang dia titipkan di ruangan Skala selaku Direktur Utama disini. Amazing, kan?


Kalau saja Skala tidak kenal Nabila, pasti dia sudah ditendang keluar Kampus karena melakukan banyak pelanggaran.


Aurel yang berdiri di sampingnya hanya menghela nafas. "Lama gak ya? Aku ada acara sama Bara."


"Dating?"


"Hiss! Ya gak lah," bantah Aurel.


Nabila terkekeh, "Pasti lo berdua mau belanja terus makan batagor di atap mall kan?"


Aurel mengangguk. "Kamu tau semua."


"Makanya jaga sikap lo di depan gue.." sombongnya sambil sedekap dada. "Kalo gak ntar, misal ada cowok selain Skala mau deketin lo, bakal gue bilang Bara suami lo."


Aurel geleng-geleng kepala. Ya.. mungkin mereka percaya kalau Bara berperan sebagai suaminya karena mereka tinggal satu atap dan lengket.


Para mahasiswa yang sejak tadi berbisik-bisik langsung hening karena Skala beserta Rektor BINA UNIVERSITY 2 naik ke mimbar untuk menyampaikan maksudnya.


"Selamat sore, mohon maaf saya mengadakan acara ini secara mendadak. Langsung saja, saya dan wakil rektor mengadakan pemberian penghargaan kepada mahasiswi yang sudah membawa nama baik Kampus. Penghargaan ini sebagai kiat untuk menumbuhkan rasa empati kita dengan orang lain. Penghargaan ini bersifat adil dan transparan bagi siapa saja yang berbuat kebaikan demi nama baik Kampus," ujar sang Rektor Kampus.


Kini giliran Skala yang bicara, mereka bertukar tempat. "Beberapa hari yang lalu, data Kampus ini terancam diretas oleh pihak yang tidak bertanggung jawab—"


Semua yang ada di aula terkejut sampai menahan nafas.


Aurel menoleh, "Penghargaan buat..."


Nabila mengangguk lemah, "Gue gak berminat padahal."


"Untuk itu, ada dua penghargaan yang akan saya berikan untuk mahasiswa dan mahasiswi yang sudah membantu saya mengembalikan data Kampus dan menangkap pelaku dengan tangan mereka sendiri," lanjutnya tertuju pada dua orang yang baris di barisan berbeda. "Saya tahu kalian sudah bosan disini, jadi saya langsung saja akan memberikan penghargaan kepada Nabila dari Prodi Manajemen dan Bintang dari Prodi Akuntansi."


Mereka semua bertepuk tangan riuh selagi keduanya maju ke mimbar untuk menerima penghargaan berupa piagam dan beasiswa selama 1 tahun ajaran.


Sempat ingin bicara lagi, Skala menerima telepon dari Sekretaris di Kantornya. Maka dari itu ia mempersilahkan Rektor untuk menutup acara ini.


Ia berjalan turun dari mimbar untuk menerima telepon.


"Ada apa?"


"Maaf, Pak. Ini gawat, Kantor kita didatangi banyak Polisi."


"Kenapa?"


"Orang yang waktu itu Bapak tangkap, justru membunuh Pak Damar bagian Cleaning Service. Pak Juli selaku Pimpinan Cabang dari Australia juga terluka karena ditikam."


Tubuh Skala menegang mendengar berita pahit dari Kantornya. Tangannya seperti mati rasa, namun ada hal yang harus ia pastikan. "Dia dimana?"


"Dia... lompat dari atap Kantor anda, Pak."


Mata Skala berair melihat Aurel sedang bertepuk tangan dan tersenyum melihat kedua sahabatnya menerima penghargaan di atas sana. Bagaimana bisa ia sampaikan berita duka pada gadis itu?

__ADS_1


Aurel yang tidak sengaja melihat Skala justru bingung karena raut wajahnya tidak bahagia disaat seperti ini.


Skala bergegas naik lagi dan memberitahu Rektor kalau acara inu harus segera diselesaikan sementara itu ia akan ke Kantor untuk mencari tahu apa yang terjadi, tanpa membawa Aurel lebih dulu.


Semuanya bertanya-tanya mengapa Skala tergesa-gesa sampai berlari ke luar. Tidak ada yang tahu kalau Skala menyesal karena membuat masalah ini serius sampai memakan korban yang tidak bersalah. Bagaimana ini? Apa yang harus ia katakan pada Aurel dan semuanya tentang kejadian ini?


Selesai acara, Nabila memberikan piagamnya begitu saja kepada Bintang. "Pegang nih."


"Kok kasih ke gue?"


"Bokap, Nyokap, palingan heboh sebentar. Terus kalo udah lama tetep masalahin hubungan kita," ujar Nabila.


Setelah ia masukkan dua kertas piagamnya. Bintang merangkul kekasihnya, "Nikah cuma butuh 2 saksi 1 penghulu. Kalo salah satu atau semua gak ada, kita bisa kawin lari. Lo gak usah khawatir."


"Lo error?" tanya Nabila sewot. "Sebelum kawin lari izinin gue cabut bulu kaki lo dulu."


Aurel tersenyum mendengar mereka sebelum akhirnya ia merasa jantungnya berdetak lemah dan amat nyeri sampai tulang rusuk bawah.


Bintang balik arah ketika Aurel tertinggal di belakang, "Aurel?"


Nabila bingung karena banyak orang penasaran dan merubungi Aurel. Ia mendapat telepon dari Bara sebelum langkahnya mendekati mereka.


"Jagain Aurel, sebentar lagi aku kesana."


Nabila menjawab, "Aurel... Dia...—"


"Aurel kenapa, Bil? Dia udah tau Pak Damar meninggal?"


"NGAPAIN NONTONIN ORANG?! MAU NYIKSA AUREL?! PERGI LO SEMUA!" gertak Bintang tersulut emosi.


Nabila tidak tega mengatakan yang sebenarnya. Ia cukup menderita melihat Aurel kesakitan sekarang, lantas apa yang terjadi jika berita ini sampai ke telinganya?


Lama menunggu Nabila, akhirnya Bintang menuntun kedua tangan Aurel agar tubuhnya naik ke punggungnya. Ia langsung berlari kecil menuju Klinik di samping gedung B.


Nabila terduduk lemas dan menangis sesegukan. "Kenapa harus lo yang ngalamin semua ini, Aurel?!!" teriaknya pilu. "KENAPA?! LO UDAH MENDERITA KARENA GUE!" Benar, Bintang bersamanya berkat kerendahan hati Aurel. Bukankah secara logika Aurel berhak bahagia dengan orang yang ia cintai juga? Tapi yang terjadi justru sebaliknya.


Untungnya Bintang pernah diajarkan Bara untuk menggunakan inhaeler. Melihat Aurel menatapnya sendu, ia bertanya, "Lo kenapa?"


"Bara mana? Ini udah lewat 20 menit dari acara penghargaan tadi."


Pantas saja Aurel melihat ke atas, ternyata dia lihat jam dinding.


"Bentar lagi pasti Bara dateng."


Hendak pulang lebih dulu, Nabila gagal lolos karena berpapasan dengan Bara yang berlari menghampirinya.


"Aurel mana?"


Wajah Nabila tertunduk merasa tidak pantas berjalan tegak melihat dunia yang gelap.


Bara menangkup wajahnya dan menyuruh Nabila menjawab pertanyaannya. "Aurel, dimana?"


"Klinik."


Nabila biasa saja mendengar Bara mengumpat walaupun samar. Ia menunggu mereka keluar saja.

__ADS_1


Bara mengatur nafasnya ketika sampai di Unit Kesehatan Kampus, melihat Bintang berusaha membuat Aurel tertawa padahal mereka belum tahu apapun. Bara akan menggunakan kalimat tersirat tanpa menyakiti Aurel langsung.


"Tuh kan, Bara jemput lo."


Aurel duduk dan memakai sepatu sandalnya. "Kamu lama banget, Bar."


"Bapak mau liat kamu, Rel."


Perkataan Bara membuat Aurel heran. "Tiap hari Bapak bilang gitu, aku juga selalu datang tiap hari."


"Bokap lo romantis, Rel." Bintang merasa ada yang ganjil dan berusaha mengikuti alur yang Bara katakan.


Bara membawakan tas Aurel dan mereka berjalan keluar. Bintang yang melihat Nabila dengan wajah aneh langsung menghampirinya.


"Gue kira lo udah pulang," ujar Bintang sembari menarik tangan Nabila.


Namun tangan Nabila gantian mencekal Bintang, "Pak Damar... meninggal."


Waktu seakan terhenti karena Aurel mendengar lirihan sahabatnya walaupun ia sudah berjalan melewati Bintang. Bara menopang bahu Aurel yang berhenti di tempat.


Mereka sempat terdiam beberapa saat sebelum akhirnya Aurel berkata, "Aku mau liat Bapak." Dan mereka bergegas menuju Rumah Sakit.


...ΩΩΩΩ...


Alatas tidak akan memenuhi permintaan polisi untuk mengautopsi Damar sebelum Alya dan Aurel setuju. Ia masih didesak pihak forensik namun jawabannya tetap sama.


Alya terlihat berusaha tegar melihat Damar sudah tertutupi kain putih di bangsal. Isakannya pelan namun terdengar menyakitkan bagi Alatas. Ia membiarkan Alya bersama mantan suaminya di dalam sambil menunggu Aurel dan Bara.


Begitu mereka datang, polisi yang hendak menanyai mereka dihalangi Alatas. "Mereka anaknya yang berhak liat jenazah Ayahnya."


"Masuk aja, Kak." Alatas menyuruh Bara masuk namun mereka berhenti di ambang pintu karena Aurel.


Aurel menahan kakinya agar tidak masuk. "Aku lebih kuat berdiri disini, Bar." Melihat Alya tegar, Aurel yakin dirinya bisa tegar juga.


Alatas melihat semuanya yang tidak ia duga. Damar tadi pagi datang menemui Aurel dan Bara, memberi mereka nasi bungkus untuk sarapan, lalu izin berangkat kerja.


"Dokter, pasien atas nama Julias dinyatakan meninggal pukul 16.20 akibat tusukan mengenai organ dalam dan pendarahan hebat." Satu Perawat menemui Alatas dan ucapannya terdengar oleh semua orang.


"Juli... meninggal..." lirih Aurel meremas bajunya sendiri. Ia berbalik dan Alatas segera menyangga tubuh anaknya untuk duduk di bangku.


Alatas tidak merasa sakit walaupun Aurel menarik snelli di punggungnya, dia menangis namun tidak meraung. "Jangan ditahan..." Aurel menyembunyikan wajahnya di dada Ayahnya karena menangis keras. "Ayah janji, akan cari tau semuanya."


Bintang dapat merasakan cengkraman di lengannya sangat kencang setelah Nabila mendengar bahwa Juli dinyatakan meninggal. Mereka menangis dalam diam. "Gue mohon... Cari tau siapa dibalik semua ini, Tang."


Bintang mengangguk lemah, "Kasih gue waktu 1 minggu buat cari siapa aja yang terlibat. Gue bakal bawa orangnya ke lo."


"Siapapun mereka, apapun jabatannya, gue gak pernah main-main kalo mereka bunuh orang terdekat kita."


Tampaknya, mereka akan mengerjakan banyak tugas satu minggu ini dengan bantuan Ghaisan dan Fina yang diam-diam memiliki kemampuan meretas data pribadi orang yang tinggal di negara ini.


Mereka banyak koneksi hacker karena bergabung dengan komunitas cyber di salah satu perusahaan orangtuanya.


Jadi, rencana selanjutnya keduanya akan mencari tahu siapa dalang dibalik kematian massa ini.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


Gak bisa rasain denger kabar dua orang terdekat meninggal di satu waktu. Klenger kali kalo author jadi Aurel😔


__ADS_2