
Aurel tersenyum kecut saat mengakui dirinya pada Shiren kalau dulu pernah bunuh diri, namun selamat akibat temannya sendiri.
Ia manusia yang tidak luput dari kesalahan, orang-orang selalu menggunjing tentangnya tapi tak pernah ia balas. Bukannya ia tak peduli, tapi kalau dibalas, akan banyak memakan waktu karena orang yang membenci kita tidak butuh cerita kita. Mereka akan terus koar-koar tanpa lelah dan akan berhenti jika ada kesadaran diri.
Nabila dan Bintang. Aurel tidak akan membenci mereka atas apa yang mereka lakukan, tapi Aurel membenci mereka kalau memperlakukan orang lain seperti saat memperlakukannya dulu. Mereka seolah merasa ingin dikenal karena kuat, padahal sebenarnya, merekalah yang memprihatinkan.
Bintang diam karena takut rahasia keluarganya dibocorkan Nabila. Aurel pun dulu begitu. Ia diam karena tidak mau siapapun kenal Damar, ia terlalu malu dan takut. Pada akhirnya, ia menahan itu semua dan berharap masalahnya selesai. Padahal, masalah manusia tidak akan habis selama dia hidup.
Aurel kini punya tugas untuk menyadarkan mereka. Iya, dia punya mimpi untuk terus berteman dengan mereka.
Aurel sudah bilang ke dr. Alatas, ia memohon agar tidak ada yang tahu kalau ingatannya sudah kembali. dr. Alatas mau membantunya, walaupun dia tidak janji ini akan bertahan sampai kapan. Bagaimanapun juga ia tak bisa berjalan sendiri.
Duduknya Aurel diam sebab melihat Skala dan dr. Alatas bolak-balik menaruh makanan diatas meja makan padahal makan malam masih 30 menit lagi. Nabila, Bintang, Shiren, Juli, Ghaisan, dan Fina juga belum datang. Tapi Skala ingin terlihat perfect dihadapan mereka.
"Skala, jangan banyak-banyak. Mubazir kalo gak habis," ujar Aurel serius. Dari ujung bertemu ujung meja, sampai penuh karena piring dan lauk pauk.
"Kamu gak mau ganti baju?" tanya Skala sambil mengusap wajahnya.
"Nggak, kan aku mau tidur," jawabnya polos.
Skala melirik kanan dan kirinya, "Ehh, iya juga. Yaudah gapapa."
Aurel mengangguk, "Dokter Alatas diundang Skala ya?"
"Iya." Seperti biasa dia tersenyum lebar.
"Emang gak capek habis pulang kerja?"
"Kalo udah cinta, gak bakal capek."
"Iya sih..."
Aurel menoleh ke pintu saat ada yang memencet bel. "Bentar, aku yang bukain." Ia berlari kecil untuk membuka pintu. "Ghaisan sama Fina udah dateng!!" teriaknya supaya Skala dengar. "masuk, masuk."
Disusul Shiren yang nampak cantik dengan jeans abu-abu dan jaket kulit hitam melapisi kaos putihnya. Aurel sampai pangling, "Wahh, masuk yuk."
"Yang lain udah dateng ya?" Shiren membenarkan kacamatanya yang melorot.
"Baru Ghaisan sama Fina." Aurel menarik tangan Shiren duduk di sebelahnya.
Skala sibuk main HP, biasanya dia memeriksa jadwal besok atau membalas pesan klien.
dr. Alatas tampak memperhatikan kawan-kawan Aurel. Tak lama, Bintang dan Nabila datang bersama pakai motor.
Jadi urutan duduknya adalah, Ghaisan disebelah Fina, diseberang mereka Bintang dan Nabila. Skala dan Aurel berseberangan. Disamping dr. Alatas ada Shiren dan sebelahnya lagi masih kosong karena Juli belum datang.
"Coba Juli di chat," suruh Fina ke Ghaisan.
Ghaisan pun mengeluarkan ponsel dari saku celananya untuk mengirim pesan ke Juli.
Iya, sori, gue dateng telat.
"Katanya dateng telat," ucap Ghaisan pada semuanya.
Skala tampak mengangguk paham, "Sambil nunggu Juli, silahkan dimakan." Ia tersenyum ramah.
Mereka sudah dikasih wejangan agar tidak malu-malu di rumah Skala.
"By the way, kalian udah kenal lama?" tanya Nabila ditujukan untuk Skala dan Aurel.
Skala mendongak beberapa detik, "Ada apa ya?" Ia sungguh tidak nyaman takut Aurel marah.
Shiren memotong sarden pelan-pelan dan mencicipi dagingnya. Matanya membulat, "Ikannya enak banget, lembut."
Skala dan dr. Alatas melempar senyum.
"Kita buat sendiri," ujar dr. Alatas dengan bangga.
__ADS_1
"Syukurlah kalo suka," ujar Skala.
Akhirnya Juli datang dan langsung disuruh bergabung oleh Skala. "Maaf telat, Pak."
"Santai aja..." Skala memang jiwa santuy.
"Sebenernya aku ngundang yang lain buat tanya sedikit. Boleh?" Aurel berdehem diakhir kata.
Aurel menaruh sendoknya diatas meja, "Nabila bisa jangan marahin Shiren lagi?"
Semuanya menoleh ke arah Nabila.
"Gue? Ya tergantung." Nabila dengan gaya modisnya tetap memotong steak, ia nampak tidak punya rasa salah atas perbuatannya selama ini.
Aurel menyunggingkan senyuman. "Aku denger, ada yang bunuh diri karna ditindas kamu." Ia tak kalah santai sedangkan yang lain berhenti aktivitas dan saling lirik.
Aurel melihat tatapan mereka, "Santai aja kali... aku cuma bilang." Mereka bergeming di tempat. "kalo dia masih hidup... pasti dendam sama kamu."
dr. Alatas diam saja mendengarkan Aurel bicara. Iyap! Kini gilirannya yang bicara sesuai prosedur sebelumnya.
"Dia masih hidup kok, Rel," ujarnya yakin.
Semuanya menoleh ke dr. Alatas. Aurel menunjuk Bintang dengan sendoknya tanpa disadari, "Kok Dokter bisa tau? Wah, hati-hati ya, Nabila. Bisa aja posisinya terbalik sekarang."
"Kalian ngomongin apa sih?" tanya Bintang mulai gerah.
Aurel menunjuk Nabila dan Bintang bergantian, "Kita ngomongin kalian berdua." Lalu ia mengerjap. "gak nyaman ya?"
"Aurel? Kamu kenapa sih?" Skala mulai melanjutkan dialognya.
Aurel kasihan dengan raut tegang Nabila. "Gapapa. Ayo lanjut makan."
***
"Harusnya kita gak dateng kesini! Lo denger kan tadi Aurel nyudutin gue?" Tentu Nabila malas sekali disini walaupun pemilik rumahnya terhormat.
Nabila mengusap wajahnya frustasi, "Kita pulang sekarang." Begitu tangan Bintang ia raih, ada tangan seseorang yang melepas tangannya.
"Jangan buru-buru."
Itu Skala. Iya, dia rasa... ada yang harus ia tanyakan pada Nabila.
"Kamu gabung sama Aurel aja disana." Skala menunjuk ke dalam karena sekarang ada di tepi kolam renang. Bintang nurut dan langsung pergi.
Skala mengajak Nabila ke suatu ruangan kedap suara. Mungkin nanti akan bertengkar, supaya yang lain tidak dengar, ia siapkan ruangan ini.
Tanpa babibu, Skala melempar buku diary Aurel ke meja dan duduk diatasnya. "Jelasin sekarang."
Nabila menatap Skala sebentar lalu mulai membuka lembar demi lembar bukunya. Semua menceritakan tentangnya dan Bintang. Tanpa ada halaman yang terlewat, semuanya diisi. Apalagi Skala membaca bagian,
*7 Agustus,
Diam sewaktu dikucilkan lebih baik daripada bicara tapi tidak ada yang peduli bahkan seorang sahabat bisa pura-pura tidak melihat padahal tidak buta.
Mereka tidak tuli dan bisu, tapi saat aku dirundung, mereka diam dan tidak membela. Padahal mereka menyebutku sahabat.
8 Agustus,
Aku berulang tahun dan mereka melempariku telur dan terigu, dengan kejam dan tawa jahat. Tapi aku senang, mereka ingat ulang tahunku.
9 Agustus,
Nabil tau semuanya. Dia tau keluargaku dan mengancam akan memberitahukan ke semua anak, kalau Bapak.... suka melecehkan perempuan.
10 Agustus,
Aku bukan anak haram. Tapi kenapa Bapak selalu marah-marah? Ibu juga diam saja. Makanya aku diam, tidak menyalahkan perbuatan salah dari mereka. Karena percuma.
__ADS_1
11 Agustus,
Fisikkukuat, tapi mentalku tidak. Aku dipukul, ditendang, dilempar batu, aku tidak sakit. Tapi aku selalu takut dimana-mana. Aku merasa, lebih baik hilang saja... kalian tidak ingin aku ada*.
12 Agustus,
Bintang, lelaki yang aku kagumi justru ikut diam. Dia diam bukan karena tidak lihat. Tapi dia diam karna diancam juga, dia sama sepertiku, keluarganya hancur semenjak perpisahan itu. Nabila tidak merebutnya, aku yang menyuruh Bintang agar mendekatinya saja. Nabila butuh Bintang, Aku butuh mereka, mereka tidak butuh aku.
13 Agustus,
Aku ingin mengakhiri semuanya. Selamat tinggal....
Nabila menutup asal buku itu dan menatap Skala yang matanya memanas.
"Kamu kan?"
Nabila menggeleng cepat karena merasa dipojokkan dan tidak bisa kemana-mana. "Aurel itu punya segalanya. Dia punya orangtua, Dia punya Bintang, Dia berprestasi di sekolah—"
"Jadi kamu iri dan mau jatuhin Aurel?"
Tepat sekali.
"Gue gak suka! Gue gak suka dia punya semuanya!"
"Iya kamu iri."
"Gue kira dia udah mati karna bunuh diri. Lo kenapa selametin dia!! Harusnya biarin aja dia mati!"
Skala memegang telinganya, "Jangan keras-keras.. kita ada didalam ruangan."
"Dia juga punya lo! Disaat gue udah milikin Bintang, berprestasi di kelas, lo ada disini ngebuat gue kalah lagi dari Aurel!"
"Aurel punya mimpi. Kalian bersahabat lagi. Kenapa justru kamu yang patahin mimpinya?" tanya Skala. "Saya kira dia bunuh diri karena apa. Ternyata karena kamu doang."
Nabila diam.
"Kamu harusnya hidup sendiri. Kalo banyak yang berteman sama kamu, nanti Bintang bunuh diri juga dong?" Skala meledeknya.
"Gue gak suka Aurel."
Skala mendekati Nabila. "Kamu juga kan yang udah mukul dia sebelum akhirnya dia bunuh diri?" tanyanya menelisik.
Nabila terkejut dan perlahan mundur karena tatapan Skala.
"Kamu yang mukul dia. Kamu yang berbuat semuanya sama temen-temen kamu itu."
Nabila menyunggingkan senyuman licik. "Iya. Kenapa? Lo marah?" Dia justru tidak merasa bersalah. "sebenernya gue mau bunuh dia hari itu. Tapi karna dia bunuh diri, baguslah. Gue gak perlu capek-capek."
Skala berdecih, "Harusnya orang kayak kamu dimasukin ke rumah sakit jiwa, bukan ke sekolah."
"Apa lo bilang?"
"Rehabilitasi Mental emang lebih baik. Ayo, ikut, ke rumah sakit jiwa."
"Gue gak gila."
"Ada dokter disini. Ayo ikut, daripada nanti ada korban lagi." Skala terus menekannya.
"Gue gak gila!"
"Saya sayang Aurel. Saya gak akan biarin kamu pergi mulai saat ini, Nabila. Gak akan," ujarnya penuh tekanan.
Nabila menatapnya remeh, "Coba aja. Udah terlambat, saya nyuruh Juli buat Aurel celaka. Mungkin sebentar lagi Dokternya yang nelfon ambulan."
Skala terbelalak.
***
__ADS_1