
Aurel sudah menolak untuk berangkat dengan Skala karena ada Leya. Ia takut merusak suasana mereka. Bahkan Bara rela mengikuti mobilnya sampai Kampus demi memastikan Aurel tidak badmood.
"Leya. Pokoknya kalo ada orang yang mau nyakitin kamu, lawan aja!"
Leya mengangguk, "Makasih."
Skala melepas seatbelt Leya. Aurel pergi tanpa pamit sampai Skala ikut keluar.
"Kamu kenapa pagi-pagi udah ngamuk banting pintu mobil?" tanya Skala tidak paham.
"Besok aku berangkat sama Bara."
"Gak bisa lah."
"Gak bisa kenapa? Dia kan Kakak aku."
"Kan sejak awal kamu janjinya sama aku terus."
"Tapi sekarang aku gak mau!" sahut Aurel lalu meninggalkan mereka di tempat.
Bara yang melewati mereka hanya mampu bersiul melirik Leya. "Spesies buaya darat jangan didengerin."
"Buaya darat?" ulang Skala.
"Iya lah. Pacarnya siapa, deket sama siapa."
"Pacar?" Skala mengingat-ingat. "Saya gak punya pacar."
Bara menunjuk Skala tapi melihat Leya, "Tuh kan! Ini namanya buaya darat kuadrat. Gue gak suka nih, terus lo anggep adek gue apaan? Ibu tiri?"
"Kita gak pernah pacaran."
"Katanya lo mau serius, ya apa lagi? Secara tidak langsung lo anggep Aurel pacar."
"Skala. Dia siapa?" tanya Leya melirik Bara.
Skala menjawab, "Bara. Dosen, Dokter, Kakaknya Aurel juga."
"Berani banget pake bahasa informal ke kamu. Kamu kan atasannya."
Bara berdecih, "Belum tau aja kelakuan orang yang lo bangga-banggain." Dia pergi tanpa izin.
Skala mengendorkan dasinya. Pagi-pagi sudah dibuat jengkel oleh Bara. "Kalo bukan butuh, udah saya lempar." Dia ikut pergi ke arah yang berbeda.
Keadaan yang sama terjadi di kelas. Dimana Nabila mengabaikan Aurel hingga Yuan memperhatikan gelagat mereka. Yuan pun berdiri dan lewat disamping Nabila, "Ketemu di lapangan."
Nabila bangun dan mengikuti Yuan dengan jarak. Mereka saling tatap hingga Yuan yang membuka topik, "Lo nyesel putus sama Bintang?"
"Bukan urusan lo."
"Lo gak harus cuekin Aurel."
__ADS_1
"Lo siapa ngatur gue?"
"Yuan. Gue peduli sama kalian. Kalian bertiga udah sahabatan bertahun-tahun, tapi anehnya, gue gak ngerasain chemistry kalian. Kalo lo putus, lo masih bisa sahabatan kan?"
"Gue gak pernah iyain permintaan putus dari dia." Tiba-tiba Bintang sudah ada di tengah mereka. Tadi ia sempat lihat mereka keluar fakultas, jadi ia ikuti.
Yuan menyunggingkan senyuman, "Malah belum putus ternyata. Jadi lo gak harus bersikap seolah-olah salah Aurel kan?"
Nabila diam saja.
"WOI ITU APAAN?!"
"ITU SIAPA, ANJ*R!? MAU JATOH DIA!"
"SI CUPU NGAPAIN DISANA! EH, TA*. TELPON DOSEN APA DEKAN SANA! BISA MATI DIA!"
"BAWAHNYA KOLAM RENANG, GAK USAH PANIK."
"GAK PANIK PALA LO, ANJ*R! KALO MATI NTAR JADI HOROR INI KAMPUS!"
Mereka bertiga menoleh ke arah yang membuat seisi kampus heboh dengan sahutan yang tidak biasa.
"Leya?" gumam Yuan setelah melihat orang yang berpegangan pembatas rooftop. Dia langsung berlari kencang berusaha menyelamatkannya jika waktu bisa dikompromi.
Sedangkan di atas sana, ada Aurel yang baru masuk dan hendak menarik Leya ke atas.
Sahutan makin banyak ketika Aurel berusaha menyelamatkannya. "Naik, Leya!" Dia menarik salah satu lengan Leya karena tangan kirinya untuk menumpu beban tubuhnya.
"Mana mungkin!"
BRAK'
Datanglah Skala yang langsung membantu Leya sekuat tenaga untuk naik ke atas dengan cucuran keringat.
"Leya. Kamu abis ngapain sampe mau jatuh?!" bentak Skala.
"Aku didorong dia."
"Aku?" beo Aurel. "Aku capek lari naik ke atas pake tangga darurat terus kamu bilang, aku yang dorong kamu? Wah, kamu sama Rumi emang gak ada bedanya ya."
"Minta maaf," suruh Skala pada Aurel.
"Aku gak dorong dia! Tujuan aku ngelakuin itu buat apa?!" sentaknya tidak terima dituduh.
"Apa perlu kamu, aku dorong juga supaya ngerasain apa yang Leya rasain tadi?"
Apa dia bilang?
"Itu lebih baik," jawab Aurel tanpa berpikir.
Lalu datang lagi Yuan berdiri membelakangi Aurel, "Lo gila nyuruh Aurel begitu? Otak lo dimana?" Dia masih ngos-ngosan karena buru-buru kemari.
__ADS_1
"Dia dorong aku begini." Leya mencontohkan bagaimana awalnya namun sebenarnya dia sengaja mendorong Aurel yang memang sudah dekat pinggir hingga terlempar.
Suasana yang tadinya panik bertambah histeris karena Aurel jatuh tidak bertumpu pada apapun.
Yuan ikut melompat dan memeluk Aurel di ambang udara.
"Gue ada disini..."
Bisikan Yuan membuat Aurel memejamkan matanya dengan tenang walaupun ia tahu dibawah sana terdapat kolam renang sedalam 3 meter. Kemungkinan besarnya adalah, Yuan selamat namun Aurel tidak. Karena Aurel tidak bisa bernafas dalam air, dia terlalu bodoh untuk itu.
Skala memarahi Leya, "Kamu kenapa dorong dia!!"
"Aku kesini bukan tanpa tujuan."
"APAPUN ALASANNYA. KAMU KELEWATAN!"
"KAMU LEBIH KELEWATAN! KAKAK CINTA SAMA KAMU! KAMU GAK BISA LIAT CINTA DIA! YANG KAMU LIAT CUMA AUREL, AUREL, AUREL! APASIH BAGUSNYA DIA?!"
"Aku kehilangan Leya yang lemah lembut. Kamu... kalo kamu berniat seperti Rumi, lebih baik kamu juga pergi jauh-jauh dari aku." Ia menelepon Bintang dan Nabila untuk membantu Yuan dan Aurel.
BYURR'
Mereka tercebur dengan posisi Yuan memeluk Aurel. Yuan sudah tertutup matanya, sedangkan Aurel baru kali ini tenang di dalam air.
Tak lama kemudian, Bintang dan Nabila menceburkan diri. Mereka memisahkan keduanya yang masih memeluk supaya mudah dibawa ke atas.
Sambil menunggu Dokter dari Klinik datang. Nabila berusaha melakukan RJP pada Aurel, "Plis, bangun. Gue belum minta maaf ke lo seribu kali." Dia mendengarkan detak jantung Aurel dan merasa lega.
"Detak jantungnya Yuan gak ada, Bil!"
Nabila menghampiri Bintang, "Atau lo kasih nafas buatan ke dia? Eh tapi jangan. Ntar bibir lo bekas dia dong."
"Lo, orang pada panik malah becanda." Bintang masih melakukan resustasi jantung paru pada Yuan hingga akhirnya Yuan sadar namun batuk-batuk diselingi nafas memburu. Perasaan lega menyeruak di hati Bintang.
Tidak berselang lama, Aurel pun bangun dengan jumlah air dari mulutnya yang cukup banyak.
"Beg* lo! Ngapain ikut loncat segala!" hardik Bintang.
Yuan memeluk Aurel lagi, "Syukurlah lo gapapa."
Bintang bilang lagi, "Beruntung lo jatohnya ke kolam. Coba kalo aspal, gak ada harapan lagi."
Aurel tidak membalas pelukan Yuan karena masih lemas. Beban di tubuh Yuan bertambah ketika Aurel tidak sadarkan diri.
"Aurel pingsan," ujar Bintang.
Bersamaan dengan dokter dari Klinik datang yaitu, Bara. Aurel digendong Bara menuju klinik mengabaikan Skala lebih dulu. Setelah urusan Aurel beres, maka ia akan membuat perhitungan dengan Skala dan Leya.
"Bil, lo ambil baju gue di loker."
"Oke." Nabila tahu kalau Bintang sering bawa satu stel baju untuk ganti jika dia aktif PMM sampai malam.
__ADS_1
BERSAMBUNG...