SENJA TERLUKA

SENJA TERLUKA
Jalan Bertiga (A)


__ADS_3

Aurel ragu dengan ajakan kedua sahabatnya yang ingin jalan-jalan ke Mall untuk berbelanja sedikit.


"Kalian yakin ngajak Aku?" Aurel menunjuk dirinya tidak percaya diri. Ia takut merusak suasana mereka nanti, lagipula sebenarnya tidak pa-pa kalau dirinya tidak diajak.


Nabila pasang wajah memelas, "Ayo dong, kita udah lama gak jalan bertiga lagi. Gue mau mengenang jalan sama lo juga."


Aurel menoleh ke Bintang, "Turutin aja kenapa sih, toh kita yang mau."


Aurel menghembuskan nafasnya.


"Mau kan? Nah! Gitu dong!" sahut Nabila lebih dulu sebelum Aurel menjawab. Dia tergagap. "Dah, ayok, lo siap-siap yang cantik biar tambah cantik. Abis itu kita ke Mall. Oke?"


Nabila menarik kedua tangan Aurel untuk bangun dari posisi duduknya. Aurel dengan langkah pasrah menuju ke kamar untuk ganti baju. Tidak lama setelah itu, Alya keluar dari dapur. "Kalian mau keluar ya?"


Mereka mengangguk. "Iya, Bu. Mau nitip apa nih? Nabila beliin," tawar Nabila semangat.


"Gak usah deh. Asal Aurel pulang bahagia aja, Ibu udah senang," ucap Alya sambil tersenyum hangat ke mereka. "baik-baik ya sama Aurel."


"Siap, Bu!" jawab mereka dengan kompak.


Sebelum Alya berbalik, beliau menghadap ke Bintang dan Nabila lagi.


"Kenapa, Bu?" tanya Bintang keheranan.


"Kalian bisa ndak, buat Aurel sama Skala baikan?" tanya Alya penuh harap di sorot matanya. "Ibu gak enak sama Skala, kan dulu sudah mbantu Aurel." Walaupun menurut Alya, kesalahan manusia bisa dimaafkan dan diperbaiki agar tidak merugikan orang lain kedua kali. Aurel tetaplah Aurel. Kecuali ada orang yang mampu mencairkan hatinya.


Nabila berdehem panjang. Masalahnya, harus Skala yang bilang sendiri ke Aurel untuk minta maaf dan sebagainya. Baru Aurel bisa memutuskan lagi, siapa tahu berubah, kita tidak tahu.


Kalau Nabila jelas tidak bisa, atau bahkan tidak mau membahas Skala lagi. Dia tidak suka dibohongi. Se-kurangajarnya Nabila, dia jarang bohong, apalagi pada sahabatnya sendiri.


Nabila menyenggol tangan Bintang, mengkode jawaban yang pas untuk Alya.


"Saya usahain, Bu."


Alya terdengar lega. "Kesuwun ya, Nabila, Bintang."


Aurel keluar dari kamar dan menghampiri mereka, "Usahain apa?" tanyanya yang tidak sengaja mendengar kalimat terakhir Bintang.


"Usaha jagain lo!" sahut Bintang setelah pinggangnya dicubit Nabila. Mereka senyum-senyum terpaksa walaupun bagi Aurel, mereka senyum tulus.


Aurel tersipu, "Kalian ada-ada aja. Aku gak perlu dijagain lagi." Ia beralih mendekati Alya, "Bu, Aku izin main ya."


"Iya, hati-hati. Pulangnya jangan kemalaman, nanti sakit."

__ADS_1


Bintang dan Nabila ikut menyalami Alya dan mengucap salam sebelum keluar rumah. Nabila menggandeng tangan Aurel belum mau masuk mobil walaupun Bintang sudah membukakan pintu mobil untuk kekasih dan sahabatnya.


Nabila mendesis, "Gue sama Aurel di belakang ya?"


"Lo kira gue taksi online?" sinis Bintang.


"Lo mah. Kasian Aurel di belakang sendiri ntar jadi kacang hangus," kekeh Nabila.


Aurel mengusap dadanya karena disamakan dengan kacang hangus. "Kamu di depan aja, aku gapapa di belakang."


"Lagian lo gaya amat bawa mobil. Biasanya kan dulu pake taksi bareng bertiga di belakang," kesal Nabila.


"Lah lo gimana sih? Kalo pake taksi kan bayar. Kalo pake mobil gue-"


"Sama aja nebok bensin, Jukiyem...!" geram Nabila.


Aurel tertawa karena obrolan mereka. Sedangkan Bintang cengengesan. Ya iya juga sih, bayar bensin.


Bintang menutup pintu yang depan, "Yaudah duduk di belakang sana."


Aurel dan Nabila saling senyum dan masuk satu-satu. Barulah Bintang masuk dan duduk memakai sabuk pengamannya. Baru beberapa meter, Nabila sudah bicara lagi. Memang ciri khasnya, tidak bisa diam.


"Nanti kita belanja apa ya?" Nabila mengetuk-ngetuk dagunya sambil berpikir.


"Ghaisan sama Fina dibeliin juga gak?" tanya Aurel tiba-tiba teringat mereka.


"Oh iya... gimana ya?" Nabila jadi keder.


"Kalo gitu, berarti jam tangan sama sepatu aja yang murah dikit," jawab Bintang.


"Iya, Aku setuju."


"Atau mau ditambah kaos putih polos?"


"Boleh, boleh." Aurel setuju saja.


"Tapi, Rel, kalo uang lo gak cukup pake uang gue juga gapapa."


"Gak usah, gak usah. Dulu aku pernah dikasih ATM sama Skala."


Mata Nabila dan Bintang membulat.


"Serius?!" pekik Nabila terkejut. "berapa isinya?"

__ADS_1


Aurel menggeleng pelan, "Aku gak tau, dulu yang ambilin uangnya Skala. Itu juga 2 juta buat bayar kontrakan Ibu."


"Yaudah, ntar gue yang cek," ujar Bintang.


"Lo dikasih uang cuma-cuma gitu?" tanya Nabila penasaran.


"Kalian gak tau ya, selama aku tinggal di rumah Skala. Aku tuh masak. Terus kalo ke kantor, aku bantu dia rapat sama klien. Pas udah 2 minggu, tiba-tiba dikasih ATM."


"Wih, gila! Kalo gitu gue juga mau kerja sama Skala." Nabila tidak sungguhan kok. Dia kan cuma terkejut Aurel sampai dikasih ATM yang mungkin jumlahnya tidak sedikit.


"Lo udah kayak bininya," ucap Bintang lalu tertawa renyah.


Akhirnya mereka sampai di basement Mall untuk parkir mobil. Sebelum masuk pintu Mall, mereka menuju mesin ATM yang biasa dipajang depan Mall untuk ambil uang tunai.


"Mana ATM-nya?" pinta Bintang.


Aurel mengambilnya dari saku depan tas lalu memberikan pada Bintang. Setelah Aurel masukkan kata sandinya, Bintang memencet Cek Saldo untuk Tabungan. Sambil menunggu, mata Aurel melihat ke penjuru Mall.


Tiba-tiba nafas Nabila tertahan dan Bintang menutup matanya tidak percaya.


"EH INI SERIUS GAK SIH? GILA!" Bintang teriak sambil membuka matanya lagi dan menunjuk-nunjuk layar mesinnya.


"Ini kayaknya salah deh, Tang!" Nabila tidak percaya dengan nominalnya.


"Kalian kenapa?!" panik Aurel. Saat ia lihat layar mesinnya, dia terpekik dengan jumlahnya.


"500 JUTA!!!" pekik mereka berbarengan sampai dilihat pengunjung lain bahkan satpam yang bertugas.


Bintang segera mengeluarkan ATM Aurel dan mengembalikannya. "Lo kaya mendadak, Rel."


"Sumpah, panas. Gue gak biasa liat duit segitu."


Aurel memasukkan ATM-nya buru-buru, "Aku harus minta penjelasan Skala." Masalahnya, banyak sekali. Gaji Skala memangnya berapa sampai berani memberi Aurel uang 500 juta dalam 6 bulan? Pertanyaan besar bagi kita ya.


"Jaga ATM-nya, kalo ilang, lo sama Skala bisa rugi," ujar Nabila masih syok. Bahkan isi ATM Bintang kalah dengan punya Aurel yang kerjaannya jelas sulit Bintang.


"Gila, gue kira mata gue picek." Bintang tertawa jika mengingatnya.


"Udah, udah. Ayo masuk," ajak Aurel.


***


Nunggu selanjutnya ya gaisss😂

__ADS_1


__ADS_2